
Aku berjalan ke arah kelas yang kemarin dibuat untuk rapat tersembunyi, saat diperjalanan aku melihat Erika dan lawannya sudab ada di tengah arena. Aku kayaknya bakal kelewatan jika harus ke sana, tapi mau bagaimana lagi. ini sudah jadi tugasku.
Dor
Suara tembakan berbunyi, aku menengok ke arah arena sambil berjalan ke tujuan. Dalam hati aku mendoakan temanku, 'Semoga berhasil.'
Kelas itu sepertinya ditinggalkan oleh muridnya karena diarahkan oleh seseorang. Kelas itu benar-benar kosong dan tertutup rapat. Aku mengetuk pintu dengan ketukan keras.
TOK TOK TOK!
"Masuklah!" Suara seorang nenek terdengar dari dalam.
Aku membuka pintu, terdapat lebih banyak orang dari yang kuperkirakan. Nova bersama anaknya, Halim bersama 2 pengawalnya, dan presiden membawa 1 pengawal yang bersamanya. Meskipun begitu, aku merasakan presiden memiliki lebih dari 1, aku merasakan ada banyak senjata yang siap membidik siapapun yang mencoba menyerang presiden dari jauh.
"Oke mari kita mulaikan."
Halim menepuk tangannya sekali. Wajah mereka semua menajam, seakan tidak percaya satu sama lain. Presiden hanya menatap mereka dengan bosan, seperti sedang disuruh mendapat tugas menjaga anak.
"Kalian berdua...Sebaiknya hilangkan dulu tatapan benci kalian berdua."
Presiden akhirnya menegapkan duduknya dan melerai mereka berdua.
"Ini adalah taruhan kalian, dan di depan kita adalah yang akan jadi penentunya." Dia menatapku.
"Jadi...Bagaimana? Apa yang akan kau lakukan, Rasyid?"
Presiden menanyai pilihanku. Aku menutup mataku sambil memikirkannya. Tapi percuma, karena aku sudah mendapatkan jawabannya sejak pertandingan pertamaku. Aku membuka mataku dan berkata,
"Aku akan menang!"
"Itu sudah menjadi keharusanmu sebagai bawahanku, Rasyid...Aku memujimu."
"Sungguh...Kau punya peliharan yang sangat setia ya, Nona Nova?"
"Kau sebaiknya jangan memanggil bawahan ibuku dengan sebutan peliharaan, kau akan kuhajar! Rasyid adalah bagian penting dari rencana ini!"
Aku hanya bisa diam dan memasang ekspresi datar saat mendengar mereka berseteru. Mataku fokus ke Pak Presiden yang daritadi ingin menahan marah, karena dianggap dilupakan.
"Bisa kalian tenang(Menggebrak meja)?! Kalian tahu ada yang lebih penting dari itu di sini, terutama kau, Nova. Kau harusnya tahu ada hal yang kau lupakan!"
"Apa itu?"
"Hahhhh(memegangi kening)...Kalian berdua tidak lebih dari orang yang punya ambisi kosong. Yang kutanyakan adalah...Apa untungnya Rasyid mengikuti taruhan kalian? Dia ini inti dari taruhan, dan apa kalian tidak mencoba memberi sesuatu?"
"Oh...(menutup mata)Maafkan aku, Pak Presiden. Aku lupa soal itu, seingatku aku pernah menjanjikan bayaran besar padanya."
"Woy woy woy! Kau hanya memberikan bayaran besar pada bawahanmu? Hahahha...Inilah kenapa, aku menganggapnya tidak lebih dari peliharaan...(Menatapku dengan tertawa)Hey Rasyid, kau ditipu oleh nenek tua ini(menunjuk ke Nova)."
__ADS_1
"Ternyata rumor itu benar, kalau kau tidak memberi bawahanmu sesuai tugas. Dalam peraturan baru undang-undang, bawahan tidak boleh hanya dibayar dengan uang. Apalagi orang yang ada di depan kita ini adalah yang menjalankan tugas-tugas busuk darimu. Negara akan menyangsimu, Nova.!"
Wajah kaget Nova tiba-tiba terpampang, sepertinya dia tidak tahu adanya peraturan itu. Kalau aku sebenarnya tahu, tapi aku malas berdebat jadi aku diam saja.
"Baiklah kalau begitu...Apa yang kau inginkan, Rasyid? Selain uang."
"Hey dengar itu bocah, apa yang kau inginkan? Jangan menjadi pekerja kasarnya. Kau bahkan adalah bawahan terpercayanya saat ini."
Keinginan. Aku tidak pernah membayangkan apa yang kuinginkan, hidupku dipenuhi dengan memenuhi tugas sampai lupa apa itu keinginan. Aku menutup mataku sambil memegang daguku, aku harus memikirkan sesuatu.
Sesuatu itu teringat padaku, aku membuka mata dan menegapkan badanku. Aku hanya ingin itu, sesuatu yang menjadi penyesalanku seumur hidup.
"Aku ingin tahu...Detil kejadian insiden tahun 2046!"
Aku mengatakannya dengan tegas, kurasa itu tidak masalah mengatakn itu. Mereka semua, meskipun samar-samar tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Presiden akhirnya duduk dengan santai dan menatap ke arah Nova, begitu pula Halim.
"Rasyid sudah bicara. Bagaimana jawabanmu, Nova?"
"Aku sebenarnya tidak keberatan membicarakan ini, tapi apakah mentalmu siap, Rasyid?"
Aku membungkukkan badanku dan menaruh tangan kananku di dada.
"Aku siap!"
Ketiga orang tersebut setuju dan menyelesaikan rapat. Anak Nova, Doni menepuk pundakku dan mengangkat jempolnya dengan senyuman. Kini kelas sudah ditinggalkan.
Kejadian kemarau yang sangat panas, banyak korban jiwa yang disebabkan olehnya. Aku hanya pernah dengar rumor, kalau kejadian itu punya sangkut pautnya soal insiden yang membuatku sangat ingin lenyap dari dunia ini. Baik Kakakku maupun Nova tidak pernah mengatakan yang sejujurnya, apa yang terjadi pada kakak tertuaku, Nazrul Aji.
Saat aku kembali ke bangku, pertandingan Erika sudah selesai. Aku menatapi Monitor dengan tidak percaya. Tubuhku langsung dipenuhi keringat, sambil berharap kalau yang kulihat adalah kesalahan, tapi nama Erika tercoret di monitor itu. Erika kalah?
Aku mencoba menengok ke bangku Erika dari sini, tapi dia tidak ada disana. Ponselku kubuka dan layar mengeluarkan notifikasi yang banyak.
(Pak Rasyid, anda di mana?, Xander Xander.)
(Your little lady is in sadness, but you gone, Samuel Yucheng.)
(Pak Rasyid, Erika dalam serangan mental, Marika Tasya.)
Kenapa mereka mengontakku saat Erika bersedih? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Aku mencoba berjalan ke arah UKS sekolah sambil berlari kecil.
Keadaan membuatku kebingungan. Pertama, Aku tiba-tiba ditanyai keinginanku oleh 3 orang itu. kedua, Erika kalah pertarungan. Ketiga, mereka malah mengontakku?
Aku masuk ke UKS, seluruh guru kelas 1 fisik berkumpul mengelilingi kasur Erika. Mereka menatapku yang baru saja datang, aku jalan mendekati mereka sambil menanyakan keadaannya.
"Apa yang terjadi? Erika kenapa?"
__ADS_1
"Saat dipertempuran, dia adu cek-cok dengan lawannya."(Xander)
"Aneh sekali...Padahal Erika bukan orang yang seperti itu."(Samuel)
"Aku mendengar apa yang mereka bicarakan...Itu sebabnya aku memanggilmu, Rasyid?"
Kami bertiga terkejut dengan penyampaian Tasya yang datar nan kosong. Dia masih belum sembuh dari pertarungannya.
"Saat melawan Fredrica, Erika terus dikata-katain sebagai lacur. Dia mengatakan itu karena Erika tiba-tiba mendekatimu, orang yang punya koneksi langsung dari wakil bupati." Tasya mengatakan itu dengan wajah datar dengan kesedihan menyelimutinya.
Aku tiba-tiba teringat, salah satu mantan kakakku pernah datang ke rumah. Rambut pirang nya sangat mudah dikenali karena jarang ada orang seperti itu masuk ke rumah. Saat aku melihat Fredrica, aku merasa pernah tahu dia. Ternyata....
Aku menundukkan kepalaku, "Maafkan aku, karena kakakku..."
"Ini salahmu, Fredrica terus menerus mencemooh Erika. Awalnya Erika mengabaikannya, tapi lama kelamaan semangat bertarungnya hancur dan tidak bisa menembak dengan benar. Fredrica yang mendapat kesempatan langsung menusuknya secara membabi buta. Kekesalannya pada kakakmu sangatlah besar, jika saja teknologi Anitya tidak ada, aku masih tidak tahu bagian-bagian tubuh Erika lagi."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Semangat bertarungku hancur, tapi aku harus menang. Aku ingin mengetahui kejadian itu, satu langkahku menuju kebenaran baru saja dimulai.
Seseorang menepuk punggungku, aku melihat ke arahnya. Samuel hanya tersenyum ke arahku sambil mengatakan. "Bisa ikut denganku sebentar?" Aku berjalan keluar mengikutinya. Kami mengobrol di luar ruangan UKs itu.
"Sepertinya kau masih tidak paham ya?"
Samuel tersenyum sambil menyilangkan tangannya, aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepalaku.
"Aku benar-benar tidak tahu sama sekali."
"Erika sebenarnya melihat dirimu pergi saat pertarungannya, dia down sejak awal pertandingan."
"Lalu?"
"Kau ini tidak peka atau bodoh?"
Aku menggaruk rambutku penuh dengan pertanyaan.
"Aku anggap saja itu sebagai tidak peka, dia kalah karena orang yang ingin dia mintai dukungan pergi."
"Bukannya dia mengirim pesan ke semua?"
"Eh...Gimana bilangnya ya?... Begini saja, dia butuh support-mu, tapi kau malah hilang. Erika merasa dihianati olehmu."
Kata-kata Samuel menusukku, aku baru paham saat dia mengatakan soal dihianati. Selama ini Erika bilang kalau dia ingin melampauiku. Sejak kekalahannya, dia merasa kalau dia bukanlah yang terkuat lagi. Dia terus berlatih sampai akhirnya bisa membuatku terpojok seperti waktu latihan saat itu.
Aku meninggalkannya saat dia ingin melihat perkembangannya, meskipun dia adalah guru. Dia juga ingin dilihat perkembangannya.
Xander dan Tasya keluar dari UKS, mereka tidak bisa terus-terusan di sini dan kembali ke bangku mereka. Samuel menepuk pundakku dan membisiku, "Aku serahkan Erika padamu."
Aku menatapi punggunya yang menjauh dariku.
__ADS_1
Mereka salah paham tentang sesuatu.