
TAK TAK TAK TAK
Suara langkah kakiku dengan cepat menyusuri jalan di trotoar depan sekolah.
Ini aneh sekali, kenapa mereka malah menculik mereka yang tidak ada hubungannya dengan ini?
Apakah mereka menggunakan sandra untuk membuat Putri Tyas menyerahkan diri?
Yah, ini tidak masuk akal.
Kematian tidak bisa dilakukan, jadi mengambil sandra-pun tidak ada gunanya.
Putri Tyas akan lebih memilih meninggalkan mereka(sandra) daripada harus menyerahkan diri.
......................
Sekitar 5 menit berlari dari sekolah, aku akhirnya sampai di tempat mereka.
Di depanku, sekarang berdiri sebuah gedung mewah(apartemen) yang mungkin biaya sebulannya mungkin bisa bikin kantong dompet kempes.
Kenapa mereka memilih tempat ini?
TAK TAK TAK
Langkahku mendekat ke arah bangunan itu.
Ada yang aneh dari bangunan ini. Ini tidak seperti dibangun oleh mesin atau tangan manusia. Melainkan...
"Sihir tanah tingkat tinggi..." ucapku sambil memegang dinding bangunan.
Aku bisa langsung menon-aktifkan sihir ini, namun bila murid-muridku benar ada di dalam. Sebaiknya aku tidak gegabah.
......................
Tanganku mengeluarkan pageblug-ku yang ada di saku, lalu dengan segera mengaktifkannya.
Kira-kira, siapa yang bisa melakukan ini semua?
"Eleh... Eleh... Ternyata tamunya sudah tiba sesuai dengan rencana Pak ********." Seorang wanita menyapaku dari belakang, nama seseorang tiba-tiba pudar saat aku mendengar namanya.
Lawanku sekarang jugalah pengguna sihir KODE.
Berapa banyak sihir KODE yang tercuri?
"Apa kau yang menculik murid-muridku?" Tanyaku dengan sia-sia.
"Eleh... Eleh... Gak boleh langsung minta jawabannya dong..." Dia dengan pelan dan lemah memainkan tangannya seperti sedang menari.
"Kalau mau tahu..." Kini sebuah senyum polos ia buat.
JDASSS!
Suara kedua mata pedang saling bergesekan satu sama lain.
Wanita ini dengan cepat memainkan pedangnya meskipun dia terlihat pelan saat menari-nari tadi.
Untungnya aku bisa dengan cepat menahan serangan kejutannya.
Pedang kami saling bergesekan satu sama lain. Wajah kami saling menatap dengan jarak yang cuman sejengkal.
Dari dekat sini, wajah itu tersenyum gemilang padaku. "...Hadapi aku!" Lanjutnya bicara.
Aku mengalah dalam pergesekan pedang itu, dan lebih memilih untuk mundur beberapa meter dari tempat awalku.
"Tch!" Penganggu ini menyusahkanku saja.
Apakah aku harus langsung menyelesaikannya?
"Sial!" Pekikku pada diri sendiri.
"Oh, ya? Kenapa kau?" Alisnya mengangkat, tapi tak lama kemudian, mulutnya melekuk membuat senyuman. "Apakah kau takut... Melawanku, sang Champion?"
Dia berpose aneh membentuk huruf S, dan nada bicara wanita itu terdengar sangat mengejek.
SLASH!
Tapi, aku bukanlah mereka yang membiarkan kesempatan terbuang sia-sia.
Dengan segera, sebuah ayunan menengah ku lancarkan saat dia sedang membuat pose anehnya itu.
Wanita ini, dia kuat, namun teledor sekali.
"Kau kasar sekali, meskipun lawanmu perempuan sekalipun!" Ucapnya sambil menahan perutnya yang hampir terbelah.
Retinaku menurun ke arah perutnya yang robek.
__ADS_1
"Meskipun menggunakan tebasan yang kuat sekalipun, tapi perutmu bahkan tidak terbelah menjadi dua?" (Aku)
"Sebenarnya siapa kau?" (Aku)
Tanyaku pada wanita misterius ini, dia tiba-tiba muncul di depan mataku dan menantangku begitu saja.
Dari pengamatanku, dia bukanlah bawahan para pebisnis itu. Apalagi salah satu dari mereka.
Dia seperti...
"Eleh eleh, apa kau lupa denganku? Ya, memang sih..." Dia menundukkan kepalanya sambil menutup matanya.
"Kalau begitu, elu pasti kaget, pas lihat gue kayak gini, kan?" Dia mengangkat kepalanya sambil membuka pelipisnya dengan pelan.
Nada suaranya berganti dari yang awalnya formal, sekarang malah jadi gaul.
"...." Meskipun sudah dikasih pentunjuk sekalipun, aku masih tidak ingat.
"..." Dia terdiam menatapku.
"..." Ini membuang-buang waktuku.
"..." Dia masih menatapku.
"..." Maunya apa sih dia?
"..." Tatapannya kini menurun.
"Kalau begitu, dada..." Aku berbalik dan berjalan ke arah pintu gedung itu.
"Woi! Bisa-bisanya elu ngelupain gue?!"
Langkahku terhenti di antara luar dan dalam. Kepalaku menoleh ke arahnya tanpa menggerakan anggota badanku yang lainnya.
"... Siapa?"
"Heh?"
Aku sudah bekerja sekitar 5 tahun dengan Nova. Nama-nama temanku dan orang-orang yang kukenal sekarang sedikit blur, bahkan ada yang tidak kuingat sama sekali.
"Kenapa?"
"Elu yang seharusnya kenapa?!"
"Hmm?" Kepalaku miring.
"..." Siapa?
"..." Dia menatapku dengan bahu yang mengendur, mulutnya letoy ke bawah, matanya seperti orang kurang tidur.
"..." Kesal, ya?
"Kuperjelas lagi..." Dia memperlihatkan telapak tangan kanannya padaku. "Gue... Itu... Temen... Kelas... Elu... Pas... SMA..." Ucapnya dengan perlahan dan jelas.
"Teman kelas?" Aku lupa dengan teman sekolahku.
"Jangan bilang... Elu gak inget gue?"
Aku menjelajah dalam lautan ingatanku, tapi sepertinya sudah terlalu banyak pencemaran air di sana. Maka, jika aku menyelam untuk mencarinya, malah hanya akan menemukan ingatan yang tidak jelas.
"Entahlah..." Ucapku.
"Elu ini kenapa sih? Beda kali sama yang dulu..."
Pembicaraan ini semakin jauh dari seharusnya. Sebaiknya aku meninggalkannya, muridku sedang dalam bahaya.
"Da!" Aku dengan cepat masuk ke dalam gedung sihir itu dan mengabaikannya.
"Wo-woi?!"
Suara wanita itu semakin mengecil, namun masih membuatku bertanya-tanya. 'Pertama Ryan, sekarang wanita misterius itu, apakah aku terlalu banyak melupakan hal?'
TAK TAK TAK TAK
Suara langkah kakiku terdengar pelan, meskipun berada di ruangan yang super gelap dan tak berpenghuni itu.
Hebat sekali, dia(sang pengguna sihir) bisa membuat sebuah tempat seperti ini hanya dengan satu malam.
......................
Aku mencoba memelankan kelajuan perpindahanku untuk mencari muridku.
Saat kucari, mereka semua ada di lantai bawah dan jumlahnya hanya 3 orang, dan diletakkan di satu tempat yang sama.
......................
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang luas, terdapat 3 pelajar yang terikat oleh borgol anti sihir. Benda itu akan membuat para pengguna sihir tidak dapat melancarkan sihir mereka.
Sebuah lampu di atas mereka menjadi satu-satunya sumber penerangan mereka semua.
Satu orang dengan berani berdiri di belakang mereka berdua.
Dia bersender ke punggung kursi sang sandra menggunakan tangannya yang mencengkram kuat.
"Apa yang kau cari? Kenapa menculik kami?" Tanya Sophia pada pria itu.
"Bukan apa-apa... Nanti kau akan tahu." Pria itu menegakkan badannya sesaat setelah menjawab pertanyaan itu.
Sebuah langkah kaki terdengar jelas di pintu yang gelap itu.
Seseorang akan datang di sana.
Pria itu berjalan ke depan mereka bertiga dan menatap pintu itu sambil mengangkat kedua tangannya layaknya menantang.
"Datanglah... Aku sedang menunggumu... Rasyid Londerik," ucap pria itu seperti klarinet.
Namun, suara langkah kaki itu tiba-tiba terhenti dan tak terdengar lagi seakan menghilang begitu saja.
Sang Pria menyipitkan matanya dan melengkuk mulutnya. Dia menatap kesal pintu itu.
"Woy! Apa kau takut?!"
Namun tidak ada jawaban dari pintu itu.
"Muridmu sedang dalam bahaya tau!"
Masih tidak ada jawaban.
......................
Di sisi lain, aku melangkah ke arah sumber cahaya di ruangan itu.
Namun...
"Kau... Cìkè Nǚwáng...? Aku kecewa..." Sebuah suara bisikan terdengar di kupingku.
Seketika aku menatap ke arah lorong lain yang gelap di sana.
Sebuah entitas seperi bayangan yang berasap hitam terlihat di sana.
"Tapi... tetap saja, kau menarik perhatianku, sebentar lagi... Kita akan segera bertemu..." Asap itu perlahan mulai lenyap. "...Dan itu pasti..." Kata terakhirnya sebelum benar-benar hilang.
Tiba-tiba, seseorang memegang bahuku.
Aku menoleh ke arah orang yang menyentuhku dan menebaskan sebuah pisau tanah ke arahnya.
BAK
Tapi dengan sigap, wanita itu menahan tanganku yang melesat ke lehernya.
Dia menatapku dengan memelas yang bahkan di dalam dirinya seperti berbicara. 'Ini orang gak apa, tah?'
"Kau tidak berubah... Masih parnoan."
"Maafkan aku, aku melupakan banyak hal, bahkan masa SMA-ku sendiri." Bola mataku yang gelap itu seakan dengan otomatis menggelundung ke samping dan tak berani menatap wajahnya.
"Apakah masalah itu masih-"
Mendengar ucapa itu, mataku yang gelap langsung melotot dan nadi merah muncul di putih-putih mataku.
Suara wanita itu langsung terputus karena takut.
"Baiklah, gue gak bakal ngelanjutin omongan gue, kalau gitu kita ganti topik aja..."
Aku menundukkan kepalaku dengan pelan ke arahnya.
"Sekarang, apa yang sedang elu lakukan?"
"Muridku.... Diculik... Jadi, aku harus menyelamatkannya." Aku bersuara pelan.
"Kenapa gak kepikiran kalau ini perangkap?"
"Kepikiran, tapi tidak menakutkan."
"Huh(menghela nafas), gini aja... Aku akan bantu elu, sebagai open war... Nanti kalau ternyata beneran perangkap, elu selametin gue! Setuju?!"
"Hmm(mengangguk)."
Entah kenapa, aku merasa dia bisa diandalkan. Dia seperti orang yang dulu sering kumintai bantuan.
"Kalau begitu..." Dia menatap ruangan berlampu itu.
__ADS_1
"HIRONIBA!" Wanita itu melangkah dengan cepat dan membuat seluruh area gedung bergema.
Aku... Sebaiknya menyusulnya.