Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 128. Manipulasi bertepi dengan Kebohongan


__ADS_3

Pertarungan mereka berdua telah berakhir dengan dimenangkan oleh Widya. Tanpa ada perlawanan sedikitpun, Putri Tyas terbaring lemah di atas tanah kotor reruntuhan sekolah. Dia tidak bisa lagi mengangkat tangannya bahkan menggerakkan matanya saja sudah tidak mungkin.


"Lihatlah! Orang sepertimu bahkan tidak bisa mengalahkanku! Aku tak tersentuh! Aku harus terus seperti itu!"


Dengan berpose mengangkatkan kedua tangan ke atas sambil menyeringai, Widya berteriak keras seperti telah memperlihatkan keuatannya pada dunia. Dia telah membuktikan bahwa tak ada satupun orang tinggi yang bisa menyentuhnya lagi.


"Kau... Sungguh mengerikan, ya?" Aku berdiri di belakangnya sambil melihat Putri Tyas yang sudah tersungkur. "Hanya karena ingin menjadi orang yang tak tersentuh, kau membuat dirimu berada di sebuah dunia ilusi yang kau buat sendiri."


Mendengar kalimatku, Widya seketika menghentikan tawanya dan menoleh ke belakang. Dia tidak terlihat kaget atau terkejut saat aku tiba-tiba berada di belakangnya, justru dia malah semakin senang.


"Akhirnya kau datang juga, Rasyid Londerik! Apa kau ke sini untuk mengunjungi masa lalumu? Atau mau mengunjungi saudaramu? Tapi sayang sekali, sepertinya aku berada di jalanmu."


"Hmm(mengangguk), aku tahu... Sudah dari tadi aku melihatnya... Penyiksaanmu pada putri itu, dan juga alasanmu menjadi seperti ini... Sungguh takdir yang menyedihkan."


"Seperti yang diharapkan dari mantan pembunuh, kau bahkan bisa mendengar apa yang kubicarakan pada wanita ini meskipun dari jauh sekalipun..."


Widya seketika memasang ancang-ancang dan mengaktifkan pageblug-nya yang berbentuk dua buah dadu panjang.


Saat melihat senjatanya, aku menyimpulkan kalau dia adalah orang itu. "Sama seperti aslinya, dadu yang menentukan nasib seseorang, dadu itu adalah milik salah satu tokoh jahat terkenal, Sangkuni."


"Heh, tidak perlu sembunyi-sembunyi bila ada di depanmu, karena melawanmu dengan setengah-setengah jelas akan membawa kekalahan... Oleh karena itu, aku-"


Belum menyelesaikan kalimatnya, Widya langsung melempar dua dadu itu ke atas.


*Ctak


Saat dadu jatuh ke tanah, dadu itu menunjukkan angka 12 yang artinya...


*Jdar!


Kilat menyambar ke arahku, dengan segera aku mencoba menghindar menggunakan sihir cahaya namun karena sihir itu merupakan guntur, maka aku terkena sedikit efeknya meskipun berhasil menghindar.


Jika saja aku terkena, mungkin efeknya akan lebih menakutkan.


Tapi, yang benar saja~ wanita ini lebih gila dari Haran. Dia bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda puas hanya dengan mengalahkan satu lawan.


Jika begini, maka aku harus mengakhirinya.


Mulutku bergerak kecil untuk mengaktifkan sihir KODE. Dia mungkin tahu tentang sihir ini, namun bila aku menggunakan dengan sembunyi-sembunyi mungkin akan berhasil.


Tapi-


"SANGKUNI MEMANGGIL!"


Tepat sebelum kalimatku berhasil, Widya berteriak seakan memberi sebuah aba-aba.


Jangan-jangan orang-orang itu adalah milik Widya?!


Sial, aku salah perkiraan! Kupikir dia adalah bawahannya sang tuan putri.


Gerumbulan orang melompat ke atas di senjanya hari, langit yang sudah berubah jingga seketika berubah menjadi hitam karena tertutupi orang-orang yang melompat itu. Mereka semua bersatu dan bergerombol seperti ingin menerjangku dan menghantamku dengan kekuatan yang keras.


"Apa yang sedang ingin kau lakukan, Widya?!"


"Ntahlah, lihat saja~!"


Orang-orang itu terjun dan mengaktifkan sihir mereka yang beragam.


Air, es, api, tanah, angin, listrik, kegelapan, dan cahaya, semua sihir menyatu menjadi satu dan bersiap menghantam ke satu titik yaitu diriku.


Sebegitu takutnya, kah si Widya padaku?


Tapi tetaplah, "ini semua masih belum cukup untuk membunuhku!"


Aku menyatukan sihir es dan listrik menjadi satu. Sihir itu menyatu sampai membentuk sebuah bola raksasa. Saat bola sudah kuanggap besar, aku melesatkannya ke arah pasukan itu.


"Ya, begitu! Tunjukkan bagaimana caramu membunuh di jaman seperti ini! Praktekkan bagaimana kau biasanya membuat keluarga kehilangan orang tersayangnya! Tunjukkan bagaimana kau biasanya membuat orang menjadi takut pada dirimu, Cike Nuwang!"


Teriakan demi teriakan dia sorakan padaku untuk membuatku mengenang masa lalu kelamku. Masa-masa di mana aku masih belum mengenal dunia yang cerah, juga masa di mana aku belum mempunyai tujuan hidup.


Namun saat ini berbeda, aku punya jalanku sendiri. Masa-masa itu telah berlalu dan saat ini bukanlah menjadi hal yang harus kupikirkan lagi.


Seberapa kelamnya itu, seberapa dangkalnya aku saat itu. Apapun itu, aku hanya harus mencetak goal!


*DUAR! *JDAS!


Potongan-potongan tubuh jatuh berhamburan dan membuat hujan merah di sekitarku. Ini seperti mengulang apa yang sudah kulakukan.


Lagipula, ini memang sering terjadi.


Sama seperti saat penculikan di pabrik roti itu. Aku hanya kembali mengulangi kejadian yang sama, namun bukan berarti semua progres-ku hilang. Progresku, itu semua tersimpan pada diriku. Tidak ada yang bisa mengubahnya, meskipun aku melakukan hal yang sama.


Tubuhku berubah menjadi merah, mataku tertutup cairan kental bewarna merah.


Saat cairan itu hilang dari padanganku, aku menatap tajam Widya. "Tantanganmu kuterima, Widya!"

__ADS_1


Widya tersenyum lebar dan terasa terpuaskan dengan jawabanku.


Tanpa menjawab kalimatku, Widya kembali melempar dadunya ke atas bersamaan dengan mendekatkan jaraknya denganku.


*Ctak!


Dadu jatuh ke tanah dan kembali menunjukkan angka 12.


Sama seperti sebelumnya, setelah mata dadu menunjukkan angka itu, sebuah sihir segera aktif menyusulnya.


Sihir apa sekarang yang akan dia keluarkan?!


Aku mencoba menghindar, namun karena efek setrum kilatan sebelumnya membuatku dalam keadaan sulit untuk bergerak.


Sesuatu harus kulakukan!


Bukan karena dia kuat, namun karena dia jelas tahu bagaimana cara membunuh seseorang.


Jika dia adalah Sangkuni, maka dia juga yang memberi saran pada para pebisnis itu untuk menculik Putri Tyas agar bisa mendapatkan batu akik panca warna itu.


Tunggu, bukankah itu berarti dia sudah memilikinya?!


Saat memikirkan itu, Widya mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya dan siap ditusukkan ke arahku.


Aku mencoba menghindar, namun efek dari kesetrum masih terasa di tubuhku, dan belum lagi habis ini sihirnya akan menyusul.


*Bus!


Asap hitam memenuhi penglihatan dan juga melambatkan siapapun yang berada di sana kecuali sang pemilik.


"Kau pintar juga!" Pujiku padanya.


*Ctang!


Pisau dari batu mulia menghantam cairan padat yang dingin.


Meskipun aku sedikit melambat, namun kalau masalah menangkis serangan itu adalah hal yang gampang.


"Apa kau yakin sihir dan senjata murahan ini bisa menghentikanku?"


"Tentu saja tidak..." Jawabannya menimbulkan penuh kebingungan, dan juga peringatan. "...Tapi bukan berarti kau itu abadi!"


Widya seketika menendang lututku dan membuatku berlutut.


Tak mau melewatkan kesempatan emas, dia langsung menggunakan moment ini untuk mengangkatku lalu membantingku ke tanah.


Aku memujinya karena bisa mengangkat tubuhku.


Saat aku sudah tertidur di atas tanah, dia kembali mencoba menikamku dengan pisau itu.


Namun dengan cepat aku berguling dan menghindari maut untuk sekali lagi.


"Tch!"


Widya melemparkan dadunya sekali lagi.


Kali ini memunculkan angka 3 dan 3.


Sebuah api hitam menyerupai shuriken keluar dari belakangnya dan langsung melesat ke arahku.


Cepat sekali?!


Saat melihat sihir itu, aku seketika mengingat pertarunganku melawan Lodo pada masa itu.


Apakah dia akan melakukan hal yang sama?


Untuk pertama kalinya di pertarungan ini, aku akhirnya mengaktifkan pageblug-ku dan masuk ke dalam mode serius.


Menggunakan sihir KODE di saat lawan agresif tidak berfungsi, maka aku hanya harus menghabisinya dengan kekuatanku.


Aku mengangkat pedangku ke atas dan memfokuskan kekuatan airku di seluruh bagian besi pedang.


Saat kekuatan sudah penuh, aku menebaskannya dan membuat gelombang air yang bisa membelah baja menjadi dua.


"Hih..." Senyuman Widya menunjukkan sesuatu yang lain.


Dia mendekatkan dirinya padaku dengan melangkah pelan sambil berpose seperti 'datanglah kepadaku!'.


*JLES!


Gelombang air itu mengenai Widya dan membuat pemandangan sekitar menjadi buram karena air yang muncrat kemana-mana.


Saat pandanganku telah kembali, aku melihat sepasang dadu yang menunjukkan angka 1 dan 1.


Apa maksudnya dari angka itu?!

__ADS_1


Kemana perginya si Widya?!


Dia tidak mungkin kabur, dia jelas siap menghadapiku dengan rencana yang matang.


Aku mencoba mendeteksi keberadaanya, namun yang kurasakan hanya keberadaan Tyas yang pingsan.


"Menghilang?"


Sambil menoleh ke kanan dan kemari, aku mencari keberadaan yang tak kunjung memperlihatkan diri itu.


Dadu?!


Sesuatu di kepalaku seketika teringat. Sebelum kematiannya, sangkuni mencoba bersembunyi di balik mayat, dan juga jawaban untuk mengetahui di mana dia adalah dadu itu sendiri.


Dengan seketika, aku menembakkan peluru es yang keluar dari tanganku. Peluru itu menghancurkan dadu yang tergeletak tak bertuan itu sampai menjadi 4 bagian.


"Apakah ini berakhir?"


Ini terlalu gampang untuk menjadi kenyataan.


*Tak! *Tak! *Tak!


Aku mencoba berjalan mendekati pecahan dadu itu dengan perlahan.


Dengan ketegangan menyertai setiap gerakanku, aku memberanikan diri untuk menyentuhnya.


Apakah ini salah satu permainanmu, Widya?


*JLASSS!


Saat menyentuh serpihan dadu, kesadaranku seperti tertarik olehnya.


"Tolong!"


"Tolong!"


"Kenapa aku?!"


"Ini belum saatnya!"


"Ada yang harus aku selesaikan sebelum ajal menjemputku!"


Dadu itu membuatku melihat banyak hal, terutama kesedihan wanita itu.


Tadi itu...


Apakah benar-benar suara Widya?


Saat memikirkan itu, aku segera menoleh ke arah Putri Tyas yang sedang terbaring.


Saat mataku melihat ke sana, sebuah wajah yang seperti telah menunggu kesempatan terpampang sedang berlari menuju arahku.


Widya dengan mengenakan pakaian yang dipakai putri itu mencoba menusukku dengan pisaunya.


Jangan-jangan dadu tadi berisi jiwanya Putri Tyas?!


Semengerikan apa dia sampai-sampai bisa melakukan itu?!


Sambil merasakan takut di seluruh tubuhku, aku melihati Widya yang melaju secepat kilat ke arahku dan akan segera menusukku.


Inikah akhirku?


Aku perlahan menutup mataku, bagiku untuk mencetak gol adalah keharusan. Namun, bila aku harus berakhir sebelum melakukannya, maka aku akan menganggap ini sebagai hukumanku.


*JDAR!


Suara senapan seketika terdengar sehingga mengagetkanku dan membuka lebar-lebar mataku yang tertutup.


Saat kulihat, Widya yang ingin menusukku tadi sudah terbaring di tanah.


Dia tewas dengan peluru terbuat dari akik panca warna bersarang di kepalanya.


"Siapa?!" Aku seketika terkejut dan melihat ke arah pintu gerbang.


Saat kepalaku menoleh, aku melihat sesosok pria berkulit hitam memakai pakaian serba putih dengan topi koboi dan juga berkacamata hitam sedang mengacungkan senjata Assault Riffle bertipe M4a1 ke arahku.


Di sampingnya, ada seseorang yang kukenal tapi tidak terlalu kuingat. Bila tidak salah, dia adalah orang yang menikahi ibunya Erika.


"Yo, Rasyid~ Tak kusangka kita akan bertemu, dan tanpa adanya anak itu(Erika) pastinya." Tesi menyapaku dengan senyum lebar, namun aku bisa merasakan aura dingin di balik senyum itu.


"Akhirnya kita bisa bicara, Rasyid Londerik." Orang bertopi koboi itu, bila tidak salah namanya Widodo Surya. Dia menyapaku dan seperti memiliki banyak pertanyaan soal ini.


Dia punya peluru itu?!


Sepertinya yang bisa kulakukan hanyalah mematuhi apa yang dia minta.

__ADS_1


Sial, habis masalah satu selesai, muncul masalah baru!


__ADS_2