
Point of View: Erika Rahmana
Aku dan guru-guru lainnya bersama dengan murid-murid pria itu berdiri di depan ruangan yang sudah kosong itu.
Namun di dalam pikiranku, aku masih bingung beberapa hal, kenapa mereka bisa mati?
Aku memang pernah melihat Rasyid melenyapkan nyawa seseorang, namun aku tidak pernah tahu bagaimana prosesnya.
Sebagai petarung terbaik di nusantara ini, aku merasa bodoh karena tidak tahu hal itu.
Contohnya, kenapa Bahar yang terlihat seperti pecundang itu saja tahu soal itu sementara aku tidak.
Dia pasti sudah tahu akan hal itu, makanya dia menghentikan pertarungan Samuel dan Natesh saat itu.
Tapi apa pelatuknya, aku pernah menusuk jantung seseorang dengan sihir listrikku yang kumasukkan ke anak panah yang kulesatkan.
Namun hasilnya tidak seperti itu, dia tetap bisa meregenerasi tubuhnya dan berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Sebenarnya apa pelatuknya?!
Sambil memikirkan itu, aku tidak sadar kalau aku sedang memukul-mukul keningku.
"Kak Erika, kenapa kakak?" Tasya tiba-tiba menanyaiku yang berpelilaku aneh.
"Bukan apa-apa, hanya sedikit pusing..."
"Kalau pusing sebaiknya Kak Erika pulang saja dulu, lagipula dia sudah siuman, kan?"
"Hmm..."
Apa yang Tasya katakan benar, dia sudah siuman, tapi...
Masih ada beberapa jawaban yang belum kutemukan, dan firasat petarungku mengatakan kalau jawaban itu akan kudapat bila aku menunggu di sini lebih lama.
CKRAK!
Pintu tempat Rasyid dirawat tadi terbuka, saat dilihat ada seorang pria yang terlihat sedang keluar dari ruangan itu.
Bila tidak salah, orang itu adalah...
Agus Ryan Handoko, seorang guru kelas 1 Sihir 4. Aku masih kurang mengenal pria itu, namun dari bagaimana dia bisa masuk ruangan itu, berarti dia ada hubungan dengan orang itu.
Pupil pria itu melirik ke arah Bahar seakan memberitahunya untuk segera memberi tahunya.
"Bahar... Sebaiknya kita segera memberi tahu mereka saja, di sini!" (Ryan)
"Kenapa aku-?!" (Suara Bahar terputus)
"Korban sudah berjatuhan, tidak ada baiknya untuk terus menyembunyikan ini!"
Bahar seperti sudah tersudut dan tak bisa melawan perkataan pria itu.
Apa yang sebenarnya ingin mereka beritahu.
__ADS_1
Tapi...
"Bagaimana bila kita bagikan lewat grup chat saja?" Orang bertopi koboi memberi saran baru pada mereka berdua.
"Hmm(mengangguk)... Itu juga terlihat lebih aman, karena di sini ada banyak kuping yang tidak kita ketahui!" Nenek yang di sebelahnya ikut menyertai dan memperkuat saran itu.
Kepala nenek itu menatapi lorong-lorong rumah sakit untuk menandakan ada banyak orang yang mendengar bila mereka ngerocos di sini.
"Hmm...Baiklah, ini mungkin menjadi yang terbaik untik kita." (Ryan)
......................
Hari kian malam dan jalanan sepertinya juga akan menyepi.
"Baiklah, untuk anak-anak... Kalian sebaiknya pulang saja, besok kalian ada ujian, namun ujian itu akan diundur beberapa jam setelah pemakaman, paham?" (Bahar)
"Kami mengerti..." Ucap Stevent sambil membenarkan kacamatanya yang beruap.
Dengan begitu, para murid berjalan meninggalkan rumah sakit dengan memberi salam selamat tinggal pada kami sebelum pergi.
"Dan jangan lupa beritahu itu pada grup sekolah!" Bahar meneriaki sesuatu yang terlupa.
Sebuah anggukan terlihat di wajah para murid yang sudah terlihat kecil dari mataku.
TING TONG
Tiba-tiba ponselku berbunyi, tidak- bukan hanya ponselku, namun ponsel para guru-guru di sini.
Aku membuka layar ponselku dan menekan isi pesan itu.
Di dalamnya terdapat sebuah file yang berisi penjelasan tentang kelemahan Anitya.
Saat kubuka, terdapat banyak tulisan yang panjang dan lebar, namun dari kehebatanku untuk menyimpulkan isi dokumen itu, maka isi-nya adalah.
'Anitya lemah terhadap tubuh yang berlubang.
Dan bila tubuh yang berlubang berada di dekat jantung, sebaiknya jangan menyerang menggunakan sihir listrik atau es.'
Itu adalah hasil analisisku, namun aku malah semakin bertanya-tanya dengan itu.
Jika seseorang hanya bisa mati dengan dua elemen sihir itu, lalu kenapa?
Lalu kenapa dia bisa melenyapkan orang itu?
Aku malah semakin bingung dengan misteri ini, namun ingatanku terbesit sesuatu.
Wajah nenek itu, wajah bupati Ningru, Nova Sana masuk dalam pikiranku.
Rasyid dulunya bekerja di bawah perintah orang itu, jelas ada sesuatu yang lebih darinya, dan tidak mungkin orang itu mau memiliki seseorang yang berelemen tanah dan air yang notabene-nya elemen lemah.
Jelas-jelas ada yang disembunyikan.
Mataku menatap nenek yang satunya lagi, Zarbeth Paniati, bila tidak salah... Dia adalah peneliti Anitya, dan terlebih lagi, saat ini dia bisa mengendalikan 6 elemen sekaligus.
__ADS_1
Apakah? Jangan-jangan...
Bila situasi yang kupikirkan benar, maka Rasyid adalah...
Iblis itu!
......................
Point of View: Orang ketiga
Di sisi lain, luar rumah sakit.
Stevent menelpon supirnya untuk segera menjemputnya bersama teman-temannya di rumah sakit.
Sambil menunggu, mereka sedikit mengobrol soal kejadian ini.
"Sepertinya, bahkan orang dewasa pun tidak mampu memyelesaikan permasalahan ini..." Stevent menatap ke gelapnya langit malam yang dihiasi cahaya-cahaya putih yang bersinar.
"Hmm(mengangguk)... Pasti ada sesuatu yang bahkan orang dewasa sekalipun, tidak bisa menyelesaikannya!" Dahlia menatapi apa yang dilihat Stevent.
"Aku semakin ngeri melihat kenyataan dunia, namun entah kenapa... Aku juga semakin terbiasa dengan itu?!" Gita menatap takut trotoar jalan itu.
Meskipun Gita adalah orang yang tahu kegelapan dunia sekalipun, dia masih tidak menyangka soal kematian yang bisa diperbuat di dunia saat ini.
"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak yang dibesarkan sejak kecil, biasanya ibunya akan menggi-... Lupakan saja!" Moka memotong kalimatnya sendiri, dan terdiam menatapi langit hitam itu.
"Jika hal itu menimpaku, aku tidak masalah, namun bila hal itu menimpa adikku, maka mungkin aku akan menyiksa orang yang berani melakukan itu padanya!" Hakam menatap ke kosongnya jalan yang ada di depannya.
Kesunyian kembali menghantui mereka yang tidak bisa berkomentar dengan apa yang baru saja terjadi dan mereka dengar.
Ini semacam mimpi buruk yang mungkin akan membuat mereka segera bangun.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa kau tidak bersama Astra, Dahlia?" Hakam mencoba mencairkan suasana.
"Astra? Dia ada urusan di OSIS, entah kenapa... Aku merasa kalau dia hanya ingin sendiri saat ini." Dahlia mengatakan itu dengan intonasi yang lemah dan sedih.
Seakan jarak di antara mereka berdua semakin lebar dikarenakan Dahlia yang berpacaran dengan orang itu.
'Entah kenapa, aku seperti salah bertanya!' Hakam merasa bersalah bertanya hal itu padanya.
"Kalian berdua, bisa tidak, tidak terlalu serius seperti itu, yang kita bisa lakukan saat ini adalah memyerahkan segalanya pada mereka!" Moka merusak suasan sedih itu.
Terlihat di wajahnya kalau dia saat ini memaksakan untuk tersenyum.
"Moka?" (Stevent)
"Moka..." Gita menatap ke dasar trotoar.
"Moka..." Diikuti dengan yang lainnya.
Mereka sadar, kalau saat ini seperti jurang yang dalam.
Tidak ada yanh bisa menyelamatkan selain orang yanh di atas.
__ADS_1