Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 107. Sadis dan Masokis Bertemu


__ADS_3

Buk! Buk! Buk!


Aku merasakan ada sebuah kaki yang menendang-nendang ke arah kepalaku.


Perasaan ini...


Sungguh nikmat...


Ditendang bagaikan seorang sampah.


Kuharap suaranya jugalah seperti suara wanita sadis.


"Hey, bangunlah pemalas! Jangan tidur terus...!" Suara wanita terdengar dikupingku, dan hebatnya aku langsung mengenalinya.


Namun hatiku berkata lain, aku tidak merasakan hawa keberadaanya di dekatku, terlebih lagi. Kenapa dia ada di kamar itu. Itu adalah hal yang tidak mungkin pake banget pokoknya.


BUK! BUK! BUK!


Tendangannya semakin keras, dan kenikmatan yang kurasakan di tubuhku juga semakin menggelegar.


Ah, ini enak sekali.


Sebaiknya kubiarkan saja, nanti dia juga akan menendangku lebih keras, dan membuatku lebih keenakan.


"Kenapa kau tidak bangun-bangun?!" Wanita itu marah, dan hebatnya aku bisa langsung berimajinasi kalau wanita itu membuat tanda pagar di keningnya sambil mengepal kuat tangannya.


"Ah, apa aku harus memanggil kakakmu dulu baru kau bangun?!" Suara itu mengatakan suatu kata yang paling kubenci bila masuk ke dalam kupingku.


Tiba-tiba aku memaksakan diriku untuk bangkit dan menyapa wanita tukang mengadu itu.


Dan disaat itu juga, aku langsung menghadap seseorang yang tak kusangka-sangka akan ada di depanku.


Aku bahkan tidak mengira dia benar-benar langsung nongol di depanku tanpa harus merusak janjiku.


"Ha-Haran, KAK HARAN?! Kenapa kamu ada disini?!"


Kenapa dia ada di sini?!


Kupikir dia akan menunggu layaknya putri cantik di alun-alun.


Namun, sepertinya tebakanku salah. Dan saat ini, wanita itu, dengan rambut panjangnya yang menjulur sampai punggung, matanya yang bewarna merah, gaunnya yang bewarna biru cerah dengan dipadu rok pondek bewarna putih sedang berada di depanku sambil meletakkan kaki kanannya ke kepalaku dengan memasang wajah yang tersenyum jahat.


Dia tidak keberatan kalau aku bisa melihat ****** ********, malahan dia sepertinya tidak peduli karena aku saja tidak bereaksi pada gadis yang mereka sebut sebagai kekasihku itu.


"Yo juniorku yang masokis, sepertinya kau sangat menikmati kakiku?" Dia tersenyum puas meskipun dia sedang memperlihatkan hal yang memalukan padaku.


"Bisa kuulang, kenapa kamu ada disini?" Sekali lagi aku bertanya, namun kini dengan nada yang lebih kalem.


"Kenapa? Tentu saja karena juniorku yang tersayang meminta bantuanku, makanya aku pasti akan datang."


Okeh, dia sudah mengatkan alasannya, namun bagiku itu tidak menutupi segalanya.


"Yang jadi pertanyaanku, kenapa anda ada di kamarku? Bukankah kamu minta saya untuk bertemu di alun-alun?" Aku bertanya sekali lagi, dan tetap dengan sopan.


"Ah, jadi itu yang kau tanyakan?"


Emangnya tadi aku tanya apa?


"Haha..."

__ADS_1


Kenapa malah senyum, dan senyuman itu terdengar mengejekku sampai ke ari-arinya.


"Tidak ada hal yang khusus, aku hanya ingin berkunjung sebelum melihat bagaimana Juniorku berpakaian..."


Berpakain?


"Tunggu, apa yang kau pikirkan datang ke rumahku hanya untuk hal seperti ini?" Aku langsung menutup kedua bagian dadaku meskipun sekarang aku masih memakai bajuku.


"Ah, entahlah... Aku seperti terbawa suasana... Lagipula, kakakmu tadi sudah mengijinkan, jadi aku sudah tidak perlu khawatir lagi," ucapnya sambil menepuk-nepuk bibirnya dengan telunjuknya.


Mendengar kalau kakakku lah yang mengijinkan, aku menjadi agak mengkerut. Setiap kali nama itu masuk ke dalam indra pendengaranku, seketika perasaan benci merangsang dan membuat nadiku mendidih dan ingin segera kulempar keluar.


Tapi untuk saat ini aku harus menahannya, aku saat ini butuh bantuan Haran, jadi tidak mungkin aku bisa tiba-tiba buat drama sekarang ini.


"Rasyid? Kamu ngelamunin apa?" Haran menyadari ketidakhadiranku dalam ragaku.


"Bukan apa-apa... Aku hanya memikirkan betapa indahnya pemandangan yang mataku tangkap saat ini."


Dengan begini, seharusnya Haran akan tersipu dan menyadari kalau dia melakukan sesuatu yang memalukan, dan sebagai bonus, dia akan memberi tendangan tambahan pada wajahku.


Tapi...


"Oh..." Sudut mulutnya muncul dan menyeringai ke arahku. "Kau berani sekali, ya? Mengatakan hal seperti ini tanpa adanya rasa malu sama sekali. Selamat! Aku memujimu, Rasyid."


Kok dia malah muji?


Dan kenapa dia gak malu sama sekali?


"Tidak usah takut, aku memang melakukan ini untuk menguji hawa nafsumu."


"Dan hasilnya?" Meskipun tidak tertarik, aku tetap menanyakannya.


Mendengar jawaban itu, aku hanya bisa mematung dengan masih menikmati kakinya.


"Apa maksudmu dengan tidak terselamatkan?"


Aku sangat penasaran dengan maksud dari perkataan wanita ini.


Bu-bukan berarti aku ingin tahu kalau aku masih punya nafsu atau tidak, hanya saja rasa penasaranku memaksaku untuk menanyainya.


"Oh, kau mau tahu?"


Dia seketika naik ke atas ranjangku dan menindih tubuhku seperti sedang menungganginya. Senyum menyeringai yang menghiasi wajahnya masih belum dia pudarkan, malah senyuman itu semakin tebal dan menebal. Bola matanya yang bewarna merah menyala menjadi tebal dan sekilas terlihat seperti menyala.


"Hihihihi..."


Kenapa dengan tawa itu?


Saat melihat tawa itu, tubuhku tiba-tiba seperti bergerak sendiri dan memaksaku untuk segera mengambil posisi bertahan dan bersiaga pada musuh.


Tapi, buat apa?! Aku bahkan tidak merasakan adanya bahaya darinya.


Atau memang hanya aku-nya saja yang tidak peka?


Pokoknya, apa yang terjadi pada tubuhku saat ini sangatlah tidak normal. Refleks tubuhku memperingatkan diriku kalau ada bahaya yang akan datang, namun sekali lagi aku tidak merasakan adanya hal berbahaya itu.


"Coba kamu rasakan dengan seksama bagaimana rasanya..."


Perlahan, Haran mengelus kedua dadaku dari bagian atas sampai pusar dengan kondisi diriku yang masih tertutup oleh pakaian. Perlahan Perasaan geli dan aneh mulai muncul di sekitaran bagian yang dia sentuh.

__ADS_1


Di tambah lagi dengan Haran yang menindih badanku, entah kenapa rasanya semakin aneh, dan semakin aneh.


"Bagaimana? apa kau merasakannya?" Ucapnya sambil memperlihatkan senyum menggoda.


Namun diriku yang bodoh ini masih tidak paham maksud tersembunyi dari senyuman itu. Atau lebih tepatnya, pura-pura tidak tahu.


Menjawab pertanyaan Haran, aku menggeleng-gelengkan kepalaku menandakan kalau aku...


"Kak Haran..."


"Ya? Apa kamu keenakan?"


"Aku malah... Tidak paham dengan apa yang kamu lakukan."


Bukannya kecewa dengan jawabanku, Haran yang menindihku sekarang malah tertawa geli. Dia seperti tahu ini akan terjadi.


"Seperti yang diharapkan dari sang babu nenek-nenek, bahkan berakting layaknya orang bodoh saja bisa..." ucap Haran sambil turun dari kasurku dan berdiri membelakangiku.


"Ha?"


Aku sama sekali tidak paham...! Paling...


"Jangan bilang juniorku yang perkasa ini benar-benar tidak paham?" Dia menoleh ke belakang tepat ke wajahku yang masih terbaring di atas kasur tanpa harus membalikkan tubuhnya.


Sepertinya aktingku benar-benar mengecohnya?


"Hmmm(mengangguk)..."


"Lupakan saja, ayo kita lanjut ke pembicaraan utama saja. Dan pastinya tidak disini..." Haran mengucapkannitu bersamaan dengan matanya yang tiba-tiba mengunci sebuah objek.


Dari cara bicaranya tadi, dia jelas melihat atau menyadari keberadaan kuping lain yang berada di rumah ini.


"Hey, Rizki..." Haran tiba-tiba memanggil kakakku dan menyapanya dengan senyum menyeringai. "... Aku pinjam adikmu sebentar!" Ucapnya sambil menaruh tangan kanannya di panggulnya seperti dia sedang meledek kakakku itu.


Aku tak mendengar jawaban dari kakakku, tapi aku bisa dengan jelas kalau kakakku tadi mengangguk pada Haran tanpa harus melihatnya secara langsung.


"Hubunganmu, dan hubungannya, sepertinya cukup berantakan..."


Dia ini asal ceplos, atau memang punya dendan pribadi?


Oh, dia memang punya...


Aku lupa soal peristiwa saat Ujian Penilaian Guru saat itu.


Kalau tidak salah ingat, ranking timnya saat itu hancur lebur dan cukup mengenaskan. Siapapun yang melihatnya pastia akan langsung iba pada saat itu juga.


"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur..."


Tanpa sengaja, mulutku bergerak sendiri dan mengatakan itu.


Bodohnya aku! Kenapa aku tiba-tiba keceploaan?!


Haran yang mendengar kalimat intimidasi itu tidak terlihat takut sama sekali. Dia malah menoleh ke arahku dan mengencangkan senyum menyeringainya padaku.


"Oh..." Dia malah jadi penasaran.


Ah, kuharapan aku bisa time skip.


Aku habis mengatakan sesuatu yang tidak patut kuucapkan pada orang yang kumintai tolong.

__ADS_1


__ADS_2