Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 108. Rapat Mencurigakan


__ADS_3

TEET!


BEEP BEEP!


BROOM!


TELOLET TELOLET!


Gemeruduk suara lintas raya yang berada di atas kami mengacaukan ketenangan di tempat kami berdiri. Suara kerasnya lalu lintas mengacaukan pendengaranku yang polos.


Haran membawaku ke sini dengan membawa mobilnya yang bisa kubilang cukup mewah.


Mobilnya yang hanya berpintu dua dan bisa diangkat ke atas itu diparkirkan di tempat yang jas terlihat mata oleh mereka.


Ini kedua kalinya, aku menaiki mobil sebagai penumpang, dan distirkan oleh wanita.


"Jadi, Kak Haran... Kenapa kita ada di bawah flyover?!" Aku berteriak ke seniorku.


Aku tahu berteriak pada orang yang kumintai tolong itu adalah hal yang tidak sopan, namun hal itu jadi sebaliknya dan akan sangatlah lumrah bila kita... NGOBROLNYA DI SINI!


Mendengar itu, Haran hanya membuat sebuah senyuman iblis dan berkata. "Padahal kamu yang minta bantuan, tapi kamu berani sekali memarahiku?"


"A-aku tidak memarahimu, hanya saja, bila aku tidak berteriak, kau nanti malah tidak akan mendengar apa yang kukatakan!"


"Apakah benar? Tapi kenapa aku tidak merasa begitu?"


"Apakah Kak Haran bu-" Tunggu dulu, apakah dia sengaja dan mencoba mempermainkanku? "... Kak Haran..." Aku memasang wajah datar dan bodoh. "Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?"


Punggung tangan kirinya memegangi dagunya dengan sedikit digesek-gesekkan. "Ahahahaha... Kau rupanya bisa berlagak bodoh, rupanya?"


'Senior, aku tidak berakting saat ini!'


Ah, sudahlah, biarkan saja...


Nafasku yang berada di dalam hidungku kubuang karena menanggapi kepasrahan diriku pada wanita yang sadis ini.


"Tenang saja, juniorku... Di sini, tepat di bawah fly over ini, kau akan menemukan jawabanmu!" Saat mengatakan itu, Haran membawaku ke balik sebuah tiang penyangga flyover.


Menemukan sesuatu?


Tepat saat aku memikirkan itu, beberapa rombong mobil muncul dan diparkirkan sampai membentuk sebuah lingkaran.


"Siapa mereka?"


"Nanti kau akan tahu..."


Mataku tiba-tiba menyipit dan mengunci ke perkumpulan tersembunyi itu.


Bila dilihat-lihat sekitar bawah fly over ini, memang aku tidak melihat, bahkan satupun orang di sini selain mereka dan kami yang ada di sini.


Salah satu pintu mobil terbuka dan menampakkan wajahnya. Bila kuperhatikan, orang itu menggunakan jas hitam dan berdasi layaknya seorang pejabat.


Namun, aku yang dulunya seorang pesuruh dari Nova jelas akan tahu setiap nama pejabat di Nusantara ini, dan dari sumber pengetahuanku, aku tidak mengenalinya.


"Kau pasti tidak tahu siapa itu..."


Wanita ini membaca pikiranku?


Ini sudah ke berapa kalinya dia tahu isi hatiku?


"Tidak, tidak sama sekali." Kepalaku kugelengkan.


Aku tidak akam menyinggung masalah pembaca pikirannya. Aku diam saja soal itu, ada masalah yang seharusnya lebih kuutamakan timbang mempermasalahkan itu.


Sudut mulut Haran muncul dan mengatakan: "Jelas saja, kau yang pasti tahu setiap nama pejabat saja tidak akan tahu siapa dia..."


"Emangnya siapa dia?"


Aku menjadi penasaran, sehebat apa pejabat itu sampai bisa lolos dari nama Nova?


Bukannya menjawab, sebuah tawa kecil malah terpampang di wajah wanita itu. "Dia bukanlah pejabat hebat..."

__ADS_1


Lagi?!


"...Dia hanyalah orang yang menyamar..."


"Menyamar?"


"Hmm(mengangguk)... Dia gadungan."


"Ah---"


Jadi seperti itu?


Kupikir dia adalah orang yang unik atau menarik.


"Tapi, mungkin kau akan terkejut dengan orang yang satu ini..."


Mobil sedan merah yang terlihat nyentrik dengan modifikasi sayap dibelakangnya tiba-tiba pintunya terbuka dan memperlihatkan sebuah wajah yang bisa dibilang, manis, anggun, dan bersahaja.


"..." Eh.


"Kenapa kau diam saja, mana ekspresi woah-mu?"


"..."


"Apa kau mau berakting lagi?"


"Sebenarnya... Dia siapa?"


Aku tidak bohong soal ini, aku bahkan lupa siapa wanita itu.


"Geh---"


Seketika Haran malah mengeraskan suaranya, namun beruntungnya suara keras dari lalu lintas yang ada di atas kami menutupi teriakak itu.


"Kenapa malah Kak Haran yang terkejut?"


"Bukan..." Kedua pipinya memerah karena malu.


Sambil memijat-mijat bagian di antara dia matanya, dia berkata: "Kau yang seharusnya kusebut aneh... Apa kau lupa siapa dia?"


"Siapa?"


Dari tatapan matanya yang memelas ke arahku, sepertinya dia sudah sadar kalau-. "Kau... apakah dari tadi tidak berakting sama sekali?"


*Mengangguk.


"Ah(menghela nafas)... Aku sepertinya menilaimu terlalu tinggi. Biar kuingatkan kau padanya... Kau jelas-jelas akan dibanting oleh si besar itu(Bahar) bila kau tidak mengingatnya."


"Kenapa?"


"Kenapa endasmu, dia itu Putri Tyas Anjani! Orang yang dulu pernah kumintakan padamu untuk mencuri batu akik, orang yang menjadi tamu istimewa saat ujian saat itu, dan orang yang saat itu harus kau lindungi saat menjadi ketua regu pengawal VIP."


"Benarkah? Tapi aku tidak merasa begitu..."


Meskipun Haran mengatakannya begitu, tapi aku tetap tidak mengingat orang itu sebagai Putri Tyas Anjani. Kode dirinya sangat berbeda dari yang kurasakan pada saat itu.


Haran menoleh ke arahku dengan wajah yang kebingungan. "Hah, apa maksudmu? Apakah dia bukan Putri Tyas?"


Dari cara bicaranya, aku bisa memastikan satu hal yang pasti.


Perlahan aku menoleh ke arahnya, kami saling menatap dengan wajah yang tampak bodoh.


"Jangan bilang kau tidak tahu kebenaran identitas orang yang menyamar itu?"


"Eh..." Matanya mengalihkan dari pandanganku.


Itu berarti...


"Bukankah kau bisa mendeteksi seseorang?"


Bila kuingat, dia bisa langsung menyadari keberadaan diriku dan langsung mengetahui siapa aku hanya dengan kemampuan sensornya.

__ADS_1


"Sihir itu hanya bisa dipakai untuk mendeteksi, bukan mengidentifikasi lawan."


"Oh."


Berarti ini aku yang salah menafsirkan...


"Sudah... " Wajahnya kembali memerah karena malu. "Kita lupakan soal tadi, kita fokus saja ke apa yang ada di depan kita." Dia mengalihkan pembicaraan semudah membalikkan telapak tangan.


"Yang pasti, dia adalah gadungan, bukan?"


"Hmm(mengangguk)..."


"Berarti... Seluruh orang yang ada di sini..."


Tepat saat Haran mengatakan itu, ketiga pintu mobil lainnya terbuka dan memperlihatkan wajah pemiliknya.


Mereka semua berpenampilan seperti orang-orang penting di Nusantara. Dari yang berpakaian jas hitam diberi dasi layaknya pejabat, bergaun indah layaknya putri, dan berpakaian adat layaknya seorang pangeran.


"Sebenarnya, apa yang mereka rencanakan?" Tanyaku pada si sadis yang terdiam.


Haran berkeringat, dan mulai ragu pada informasi yang dia dapatkan. "Aku sepertinya salah informasi..."


"Hah?"


Saat wanita itu mengatakan 'informasi', kepalaku seketika menoleh dan melihati wajahnya yang dipenuhi keringat itu.


"Aku membeli informasi dari perusahaan SANGKUNI, kudengar-dengar informasi mereka sangat akurat, jadi aku membelinya... Tapi sepertinya, itu semua hanyalah review palsu."


Sambil menggeramkan giginya, Haran mengepalkan tangannya dan menggebrak tiang yang menjadi tempat kami bersembunyi.


Sudah kuduga, pasti nama itu yang akan keluar dari mulutnya.


"Kau... Membeli informasi dari SANGKUNI?"


Sekarang SANGKUNI berani main terang-terangan? Apa tujuan mereka dengan melakukan itu?


"Kupikir mereka informan terpecaya..." Sambil memaksakan senyumnya, Haran mulai memejamkan matanya dengan pelan dan menarik nafasnya.


Ini aneh, bahkan setingkat Haran saja tidak tahu apa perusahaan SANGKUNI itu sebenarnya.


"Kak Haran..." Aku memasang wajah serius padanya.


"Apa?"


Sebaiknya dia kuberi tahu saja.


Sambil membuat tatapan yang menusuk tepat ke arah bola matanya, aku mengatakan : "Perusahaan SANGKUNI bukan hanya tempat dagang informasi, namun juga, tempat dagang keselematan skema dan nyawa..."


Dari cara dia berkespresi, aku bisa menyimpulkan dia akhirnya mengerti apa yang kukatakan.


Sambil bersenden di balik tiang, Haran segera menerima kesalahannya. "Jadi mereka menyembunyikan sesuatu, ya?"


Tapi tak lama kemudian...


"ANAK MUDA! Kau bilang keselematan skema, bukan?" Haran berteriak keras ke arahku.


Aku tidak tahu kenapa dia sampai seterkejut itu saat mendengarnya.


"Ya, emang kenapa?"


"Ini jebakan!"


"Hah?!"


Saat wanita itu mengatakan itu, tiba-tiba ada puluhan, bahkan ratusan orang yang bersembunyi di sekitar bawah fly over ini. Mereka keluar dari persembunyian mereka dan berakhir mengepung kami.


Seorang laki-laki yang berpakaian jas dan berdasi merah yang tadi keluar pertama kali dari mobil berjalan mendekat dengan menyeringai, kedua tangannya bertepuk 'clap-clap' sambil mendekati kami berdua.


"Seperti yang disangka dari Guru terkuat dari kelas Sihir, Madu Haran..."


Salah informasi bisa berujung membuat Haran sekalipun dalam ujung tanduk.

__ADS_1


__ADS_2