
Kami yang masuk ke dalam gedung terus berlari bagaikan dikejar anjing.
Bukan karena memang dikejar, namun kami hanya merasa sebaiknya melakukan ini secepatnya.
Aku sudah memberitahu mereka semua yang ada di sekitarku, bahwa pertarungan Doni dengan Ryan belumlah usai. Meskipun badannya terpotong-potong sekalipun, Doni akan terus bangkit dan mengayunkan kapaknya lagi dan lagi.
"Ah... Ah... Ah..." Suara kelelahan membuat koridor ruangan berdengung dan bergema kencang.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa aku tidak menemukan seorangpun?" Erika merasakan kejanggalan dalam gedung ini.
Itu merupakan reaksi normal bagiku, dia tidak tahu bisa seberapa gilanya nenek itu dalam melakukan sesuatu. Bahkan apa yang terjadi sekarang bukanlah bagian tergila yang pernah kulihat.
"Beginilah cara main nenek itu... Sudah pasti dia benar-benar menungguku saat ini," ucapku menjelaskan.
"Jadi, gedung kosong ini kenapa sebenarnya?" Stevent bertanya tidak tahu.
"Gedung ini akan menjadi-" Saat mau kujelaskan lebih detil, Sophia seketika memotong dan melanjutkan apa yang ingin kukatakan.
"-Area pertarungan," ucapnya dengan nada tenang.
Aku hanya mengangguk untuk membenarkan ucapannya.
Mereka berdua memasang wajah bingung setelah mendengarkan pernyataan tadi. Mereka sepertinya masih tidak mengerti dengan maksud dari 'arena pertarungan' itu. Terutama Stevent, dia menjadi yang paling belakang dalam mengerti pernyataan itu.
Di sisi lain, Erika yang tadi memasang wajah bingung langsung berubah menjadi serius dan mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Sophia.
"Jadi artinya, tempat ini akan diobrak-abrik sampai lebur menjadi reruntuhan, bukan?" Ucap Erika bertanya sambil memperjelas gagasannya.
"hmm(mengangguk)..." Jawabku tergesa-gesa.
Stevent melebarkan matanya sesaat setelah mendengar penjelasan gurunya itu. Dia seakan dikejutkan oleh setruman listrik yang langsung membangunkan dirinya.
"Jadi kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya?" Tanya anak itu secara pelan dan menyembunyikan kegugupannya.
"Sudah kubilang, bukan? Di depan kita adalah sesuatu yang mengerikan dari apa yang pernah kalian semua pikirkan.... Sesuatu yang melebihi semua akal sehat kita... Kita akan menghadapi Pangeran(Tuhan) Palsu Nova."
Aku menyadari kegugupan anak itu. Bila dia terus berada di sini tanpa bisa mengatasi gugupnya itu, maka bukannya menjadi bantuan dia malah menjadi beban.
Aku tidak mau hal itu terjadi.
"Stevent, jika kau masih gugup. Sebaiknya kau mundur saja," ucapku dengan meledek.
Jika aku tidak meledeknya, dia mungkin malah berakhir gugup terus menerus. Ledekan ini kugunakan untuk mengubah dirinya yang tadi gugup menjadi keras kepala.
Meskipun terdengar buruk, tapi keras kepala lebih baik daripada ragu ataupun gugup di saat genting seperti ini.
"Si-siapa yang gugup?!"
"Kau, Stevent... Jika kau terus begini maka kau hanya akan menjadi beban." Sophia seketika mewakili apa yang kupikirkan, walaupun aku tidak menyangka dia akan mengatakannya secara blak-blakan.
"Hei, kau tahu?! Aku ini sedang mengumpulkan informasi soal lawanku, bukan takut! Makanya aku bertanya tentang nenek itu!"
"Tapi pertanyaan sebelumnya seperti mengatakan kalau kau sedang ketakutan." Sophia memasang wajah datar yang dihiasi dengan lekukan senyum yang menyebalkan.
__ADS_1
Sudah lama aku tidak melihat Sophia bahagia.
Kira-kira kapan aku terakhir melihatnya tersenyum? Kupikir dia tidak akan tersenyum seperti itu lagi setelah kejadian itu.
Tapi tetap saja, habis ini senyuman itu akan sirna lagi.
Bagaimanapun saat ini adalah dimana semua hal buruk akan terjadi, dan sekali lagi mungkin dia akan melihat kematian lagi.
......................
*Tak! *Tak! *Tak!
Suara hentakan kaki kami terus terdengar di seluruh lorong gedung.
Seperti yang diduga, tidak ada siapa-siapa di gedung ini. Di dalamnya kosong tanpa penghuni, seperti memang sengaja ditinggalkan.
Ntah karena Nova memang peduli dengan mereka atau malah sebaliknya. Ada kemungkinan kedua, namun aku sebaiknya tidak menganggap itu benar-benar terjadi.
Semoga saja itu hanyalah pikiran liarku.
Suara hentakan kaki kami berhenti saat kami sudah mencapai sebuah ruangan yang bercahaya. Suara nafas yang terengah-engah dan keringat yang membasahi tubuh kami menjadi sambutan eksklusif ruangan itu. Tempat itu berada di paling ujung dan paling tinggi gedung ini.
Jika ingatanku benar, tempat ini adalah tempat di mana aku dilatih banyak hal sebelum menjadi pembunuh. Ruangan yang serba putih itu seharusnya dipenuhi dengan alat dan mesin medis yang canggih.
Namun, semua yang kulihat berbeda. Tidak ada semua hal yang pernah kuingat di sini. Seakan ruangan ini telah sepenuhnya berubah menjadi tempat pembuangan sampah.
Sebuah mesin seperti kubah bewarna putih yang cukup besar membuat ruangan itu menjadi sesak. Ada sekitar 7 lubang yang bisa dimasuki oleh tubuh dewasa manusia di bagian bawah kubahnya.
Aku berpikir sambil melihati sekitarku dengan cermat.
Bagian lubang yang ada di bawah kubah membuatku berpikir. Buat apa lubang itu?
"Apakah ini pembuangan sampah?" Stevent melihati lubang-lubang itu dengan jijik.
"Gyahhhh! Baunya busuk sekali!" Erika refleks menutup hidungnya.
"Selain itu, aku merasakan hawa dingin di dalamnya." Sophia menyadari asap yang keluar dari lubang itu.
"Apakah kita salah ruangan?!" (Erika)
Mereka semua menatapku dengan mata yang kecewa.
Aku sedikit menyengir bodoh untuk menutupi itu.
Karena, meskipun tidak terasa seperti ada siapa-siapa di sini, namun aku yang sudah biasa dengan sifatnya si Nova dan sudah tahu bagaimana dan dimana akan muncul.
"Aku yakin dia ada di sini, karena saat melewati ruangannya tadi aku tidak melihat adanya keberadaan nenek itu."
Satu-satunya tempat yang menjadi titik terkuat sihir hanyalah tempat ini.
Aku memang ragu saat ini, namun saat indraku mengatakan kalau di sini. Aku hanya bisa mengiyakan saja.
"Jadi~? Dimana beliau- maksudku 'dia' sekarang?!" Erika mengangkat tangannya ke atas penuh tanya dan tak berharap dariku.
__ADS_1
Dia mencoba mengatakan sesuatu secara sopan, namun karena ingat lawannya bukanlah manusia baginya. Maka dia mencoba tidak memasukkan rasa sopan sama sekali, bahkan dia sebenarnyaau menyebutnya dengan julukan kasar.
"Kita sebaiknya menunggu... Pak Rasyid orangnya jarang melakukan kesalahan."
Entah kenapa ucapan dari Sophia terdengar menghina meskipun niatnya mencoba menolongku.
"Eh- Jarang itu bukan berarti tidak per-" Stevent mencoba membalas gagasan itu, namun seketika dia terhenti.
Dia menjadi diam dan melemas bagaikan robot yang baterainya dilepas saat masih menyala. Cahaya di matanya yang tak berkacamata meredup dan menutup sedikit.
"Stevent?" Erika mencoba memanggil anak itu.
Namun tak ada jawaban.
*Brak!
Semua yang ada di sana terkejut dan langsung mengecek tubuhnya.
"Sial, tubuhnya... tidak ada nadi sama sekali!" Erika Panik.
Di sisi lain, aku tidak hanya merasa terkejut namun takut dan sedikit panik. Seluruh sarafku menegang, keringatku yang sudah bercucuran menjadi keluar semakin deras, mataku bergerak ke sana ke mari.
"Dia datang!"
Erika dan Sophia yang mengecek tubuh Stevent seketika menoleh ke arahku dengan memasang wajah tambah terkejut.
Wajah mereka kaku seperti patung, dan melemas.
Apa yang terjadi padanya akan terjadi pada mereka berdua.
Tepat setelah itu, Erika dan Sophia tumbang dengan menindihi tubuh Stevent.
Kini aku tinggal seorang.
Apakah dia sengaja hanya menyisakan diriku seorang?
Tak kusangka mereka bertiga akan mati secepat ini.
......................
*Duar!
Kubah seketika meledak dan menghamburkan semua barang termasuk tubuh ketiga temanku sampai berhamburan kemana-mana. Kubah itu mengeluarkan uap yang terus menyembur dari dalam sana.
Di dalam uap yang membara, terdapat sebuah siluet seorang wanita dengan rambut putih dan panjang sedang melayang di dalamnya.
Wanita itu menatapku seperti memang sudah menungguku sejak tadi.
"Lama juga kau datang, Rasyid!" Wanita itu menyapaku dengan senyuman gila.
Dari perawakannya, dan indraku... Aku sadar satu hal. Wanita yang terlihat berumur 30 tahunan itu adalah orang yang dari tadi kami cari. Dia adalah Nova Sena.
Sepertinya Projek Pangeran membuatnya menjadi muda kembali, meskipun tidak terlalu muda.
__ADS_1