Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 171. Mereka yang Berakal


__ADS_3

Ada sekitar 10 orang yang sedang berdiri dari kejauhan dan sedang menatapi kasihan pria malang yang diikat di sana. Mereka tidak menyangka orang yang memulai perlawanan ini malah berakhir mengenaskan seperti itu.


Saat ini, Vrandy tak berdaya dan hanya bisa diam menatapi nasib malangnya di dalam ikatan tali itu. Dia menatap kosong tanah yang bahkan tidak bisa dia injak. Di depannya, ada seorang pria dengan pakaian bagus sedang menatapi arah bekas gedung dengan mata yang tajam.


Pria itu bernama Halim, sang Gubernur dan jabatannya ada di atas Nova, namun dia tetap tidak kuasa seperti bupati itu.


Apa yang Halim lihat saat ini adalah sebuah warna-warni yang ada di sana. Ada berbagai macam warna elemental yang saling berbenturan dan menyerap satu sama lain. Sesuatu sedang dia lihat dengan seksama.


Namun pertunjukan warna elemental itu bukanlah apa yang dia pentingkan, melainkan dua makhluk terbang yang terbuat dari es dan petir.


Saat melihat kedua makhluk itu, Halim melengkung bibirnya membuat senyuman nyengir. "Jadi kau mengeluarkannya lagi? Dan kali ini tidak mau tanggung-tanggung!"


Entah apa yang ada di pikirannya sampai dia sangat senang melihat dua makhluk itu.


"Tenang saja, kalian yang berada di sana akan segera kubuat lenyap seketika! Tidak peduli seberapa kuat diri kalian!" Dia berbalik menatap Vrandy dengan tatapan tersenyum. "Lihatlat ini! Aku membawa sebuah pengorbanan untuk memperkuat sihir murniku! Sihir yang akan memperkuat kekuatan dari artilery yang kubuat."


Dia mencoba membuat sebuah ritual tari yang dimana orang-orang duduk bersila dengan mengelilingi sang titik tengah. Orang yang menari akan berteriak 'gak!' sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya tinggi ke atas.


Orang yang ada di tengah akan digunakan sebagai pengorbanan.


"Apa yang akan kau lakukan, Halim?! Apakah kau percaya dengan mitos?! Dijaman seperti ini!" Vrandy berteriak sambil menahan gemetarnya.


"Kau tahu... Dulu, ada yang namanya ritual untuk mempersembahkan sesuatu kepada dewa. Ritual itu kini telah ditinggalkan karena sudah tidak ada gunanya dan orang semakin berakal. Namun... Ada satu pertanyaan, ritual itu buat apa sebenarnya?"


Dia mulai berkeliling mengitari Vrandy.


"Aku mencoba mencari informasi demi informasi, namun yang kutemui hanyalah sampah."


"Sampai pada titik aku jenuh, bawahanku bernama Salwa datang dan memberikan sebuah kertas kuno yang tidak dia mengerti dari hasil ekspedisinya."


"Aku mencoba meneliti maksud dari kertas tua itu. Dan akhirnya aku menemukannya!"


"Arti dari ritual ini!"


"Ini adalah ritual untuk memperkuat mereka yang memiliki sihir murni!"


Dia merentangkan kedua tangannya di bawah bintang-bintang malam.


"Saat membaca itu juga, aku merasa sedih..." Dia seketika menjadi murung. "Aku menemukan bahwa yang menulis cerita itu adalah orang yang sangat menderita bernama Anitya..."


Saat mengatakan itu, suara langkah-langkah kaki menyerbunya.


Namun tak butuh waktu lama, suara langkah itu seketika berhenti seakan mereka juga tertarik dengan cerita itu.


"Kalian datang? Kebetulan, kali begitu ayo kita dengarkan sama-sama cerita ini!"


"Cerita apa?" Xander mengeluark rapiernya dan bersiap menusuk pria itu.


Beruntungnya Samuel menahannya untuk beberapa saat.


"Anitya Anjasmara... Seorang anak dengan kemampuan hebat yang selalu dikurung di dalam sebuah kandang sebesar lapangan itu(Dia menunjuk ke arah gedung yang sudah rata)."


"Dia dianggap suci oleh mereka, pengikut sang raja."

__ADS_1


"Dia disembah namun tak diperhatikan. Anak itu tidak lebih dari alat untuk mencari pengikut yang rela mati demi sang raja."


"Dia menulis beberapa keinginan di kertas-kertas yang dia tulis di sana."


"Dia ingin banyak hal yang kekanak-kanakan... Dia ingin merasakan apa itu rasanya jadi manusia normal."


"Tapi dunia itu kejam, sampai akhir dia hanya sebuah alat! Bahkan sampai matipun dia tidak lebih dari senjata sang raja."


"Ritual ini, adalah salah satu ritual yang dipakai untuk membuat jasad sang Anitya memecahkan 5 sihir murninya. Ketika pemilik salah satu dari 5 sihir mati di tangan lawannya, maka sang pelaku akan mengambil kekuatannya."


Apa yang dijelaskan Halim sama seperti yang dijelaskan oleh Nazrul.


"Ini terus berlangsung dari masa kemasa, namun... Apa kalian merasa tidak aneh? Ritual ini mulai ditinggalkan. Dan tiba-tiba ada sebuah teknologi yang menggunakan nama anak itu sebagai nama teknologinya. Menurut kalian kenapa...?"


Mereka yang baru datang seketika terkejut dan bingung, dua perasaan itu bersatu dan tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka.


"Aku... Tidak mengerti maksudmu... Namun, apa yang kau lakukan saat ini sangatlah berbahaya. Aku akan menghentikanmu...!" Widodo yang pura-pura tidak tahu seketika mengangkat senjatanya dan membidik ke arah pria itu.


"Kau tahu... Aku sebenarnya kasihan pada anak itu, namun ingatlah! Ini adalah masa ini! Kita tidak bisa mengubahnya, semua yang ada di masa lalu bisa diubah sesuka kita asalkan kita menyukainya walaupun hanyalah kiasan!" Xander menebaskan rapiernya ke angin untuk memperlihatkan kalau dia siap untuk bertarung.


"Aku tua, tapi aku tahu satu hal... Cerita itu sudah banyak versinya, aku bahkan sampai tidak tahu mana yang benar pada anak itu!" Lodo mengeluarkan kartu-kartunya dan bersiap memulai pertarungan.


Mereka yang bersamanya mengikuti apa yang lainnya lakukan. Senjata mereka aktif dan bersiap menghajar pria itu sendirian.


Halim hanya bisa menghela nafas sambil menggaruk-garuk rambutnya. Dia sudah menyangka kalau cerita tadi tidak ada gunanya, namun dia terlalu excited sampai lupa kalau dia ada di tengah pertempuran.


*Prok! *Prok! *Prok!


"Kau pikir aku ke sini sendirian?" Tanyanya tersenyum.


"Tidak, kami sudah tahu itu, tapi kami tetaplah lebih kuat dari semua bawahanmu!" Zarbeth menghentakkan tongkatnya dan membuat sebuah pola es yang mengerikan di atas tanah.


Mereka semua memperlihatkan keoptimisan mereka. Baik dari sisi Halim maupun Zarbeth, mereka tidak mencoba kalah di saat ini.


"Kalau begitu! Ayo kita selesaikan di sini!" (Halim)


Sebuah pertarungan besar terjadi, semua bawahan Halim maju dan mendekat ke arah para guru yang tersisa.


Guru-guru mengambil ancang-ancang mereka dan siap mengahajar siapapun yang mendekati mereka.


Teriakan demi teriakan dari bawahan Halim terdengar, mereka maju bagaiman prajurit yang terjun ke medan tempur.


Namun di tengah-tengah pertempuran, tepat sebelum ada satupun yang berhasil beradu senjata.


*Jdar!


Sebuah ledakan membuatakan penglihatan mereka.


......................


Aku akan mengakhiri ini semua, begitulah pikirku dalam hati. Semua kekacauan ini hanya ada satu cara untuk meredakannya.


Rencana ini beresiko, namun ini adalah yang terbaik. Lebih baik daripada akan lebih banyak korban yang berjatuhan.

__ADS_1


Aku terbang ke gunung tempat di mana artilery raksasa itu berdiam.


Saat berada di sana, aku melihati semua wajah familiar sedang bertarung melawan musuh yang jumlahnya tidak sepadan dengan jumlah mereka.


Untunglah aku datang tepat sebelum ada yang terluka.


Mereka semua terdiam menatapku dengan wajah yang bingung. Mereka seperti melihat sesosok malaikat yang datang untuk menghakimi perbuatan mereka.


Dilihat-lihat memang seperti itu, namun aku tidak peduli. Aku mengibaskan tangan kananku ke depan dan membuat sebuah permintaan sebagai sang Pangeran.


"Aku, Rasyid Londerik... Meminta kalian mengubah memori kalian tentang peristiwa ini. Semua akan berubah, yang tadinya biang keroknya adalah diriku dan Nova menjadi hanyalah Nova. Aku juga memerintahkan kalian untuk melupakan wujudku yang ini. Kalian harus melupakan apa itu projek Pangeran, apa itu Pangeran. Mereka semua tidak lebih dari ingatan palsu dalam diri kalian."


Inilah yang terbaik.


Bila mereka melupakan peristiwa ini. Maka mereka juga akan melupakan projek Pangeran. Dengan Nova sebagai biang keroknya yang sudah mati, kecurigaan mereka tentang keberadaan Pangeran akan menjadi nol besar.


Untuk diriku sendiri, aku tidak layak mendapatkan kebahagiaan hidup. Sudah banyak yang mati karenaku, sudah banyak yang menderita karenaku.


Akan kuanggap mereka yang melupakan diriku sebagai balasan terakhir dari dosa-dosaku.


Aku bisa jadi siapa saja, akting bukanlah sesuatu yang sulit bagiku. Bukan karena apa...


Karena 'Tidak ada yang asli dalam diriku' adalah sifatku yang sebenarnya.


Kesenanganku sebagai guru telah berakhir.


Kesenanganku sebagai manusia telah berakhir.


Janjiku pada temanku telah kulunasi.


Hantu dari masa lalu yang masih menghantuiku juga akan hanyut dalam diriku. Itu semua malah akan digantikan dengan yang lebih mengerikan, tapi tidak masalah buatku.


Kesanku pada dunia sudah berubah.


Perasaanku saat tidak harus membunuh dan malah memberi kasih sayang sebagai guru adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan di dalam benakku. Ini semua bagaikan fiksi. Ini adalah yang disebut menikmati hidup.


Untuk pertama kalinya aku ingin mengatakan... Aku menikmati hidupku.


"Bukankah ini juga seperti yang kau inginkan, Anitya Anjasmara?"


Sejak menjadi pangeran, aku tahu soal perasaan dari masa lalu itu. Cerita sebenarnya dari anak itu. Anak yang ingin merasakan semua yang kurasakan sebelumnya.


Diriku seperti terkoneksi olehnya.


Dalam dunia putih, aku seperti melihat sesosok pria tua yang tersenyum ke arahku. Dia mengangguk lalu menghilang begitu saja.


Projek Pangeran, sukses... Sepertinya begitulah apa yang harus kukatakan.


Keinginan anak dari 700 tahun yang lalu telah terpenuhi.


Dunia menghitam, dan waktu berjalan beberapa jam...


Semua melupakan diriku dan Pangeran. Semua peristiwa tadi hanyalah bencana yang disebabkan oleh Nova. Tidak ada celah bahkan insiden di reruntuhan sekolah itu sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2