Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 95. Pelayan yang Memimpin pt.1


__ADS_3

Di depan gerbang istana Tyas. Para kami berdiri dan sedang menunggu aba-aba mulai ujian. Tepat di depan kami saat ini ada sebuah istana yang harus kami kuasai.


Ya meskipun gak benar-benar dikuasai. Kami hanya harus mengalahkan pemimpin kelas lawan dan menang.


Menjadi komandan, ya? Aku tidak pernah berpikir aku bisa. Posisiku yang hanya sebagai pelayan dan seorang pekerja mungkin akan menghambatku.


Tapi karena pak Rasyid yang menginginkannya. Maka aku akan berusaha semaksimal mungkin. Dia sudah memberi kepercayaan ini padaku, jadi aku tidak akan mengecewakannya.


"Komandan, apa yang harus kita lakukan?" Beberapa teman kelasku mendekatiku.


"Untuk awalan, kita ikuti saran Pak Rasyid saja dulu..." ucapanku masih lirih dan gemetaran.


Habisnya ini pertama kalinya aku melakukan ini. Menjadi pemimpin rupanya adalah pekerjaan yang menguras mental. Kukira Stevent menganggap enteng hal seperti ini, tapi setelah mencoba. Ternyata berat juga.


"Heh, apa kita mau mengikuti rencana guru kita?" (Siswa 1)


"Dia tidak kelihatan meyakinkan saat memberi penjelasan tadi!" (Siswi 1)


"Iya, pikirannya seperti terbang ke tempat lain..." (Siswi 2)


"Lagipula entah kenapa sifatnya sedikit berubah dari pertama kali dia masuk? Sifatnya yang sekarang lebih terlihat, tidak bisa diandalkan." (Siswi 1)


"Bagaimana kalau kita buat rencana sendiri saja?" (Siswa 1)


"Ha, itu ide bagus! Kita kan sekolah yang dituntut untuk mandiri!" (Siswi 2)


"Tapi, apakah kita harus mengikutinya saja? Bukankah Pak Rasyid pernah bilang: 'Sekolah ini juga menilai moral kalian!' Bukankah kita yang tidak menurut padanya berarti sedang mengurangi nilai moral kita?" (Siswi 1)


"Tapi, kalau rencana yang diberikan guru itu tidak meyakinkan sama sekali! Terlebih lagi, apa itu Ram?! Apakah sebuah komponen komputer?! Kenapa dia tidak mengatakan sesuatu yang mudah dimengerti?!" (Siswi 2)


"Sungguh, bukankah itu lebih tidak masuk akal kalau kau yang tidak paham maksud ram itu?" Siswa itu menatapi siswi 2 dengan mata yang mengecil layaknya mata ikan.


Aku yang hilang terbawa arus tidak bisa menyampaikan apa-apa. Diriku bagaikan komando hantu yang ada hanya buat ada.


Tidak, ini tidak akan terjadi! Mereka yang belum pernah merasakan susahnya hidup tidak akan paham artinya mengikuti aturan dan harus bergerak tanpa petunjuk.


Aku yakin baik Rizal(Siswa 1), Manila(Siswi 1), dan Yama(Siswi 2) sekarang hanyalah bermain ego. Strategi yang saat ini mereka keluarkanpun adalah nol dan tak berdasar.


"Jadi, ayo komandan. Kita buat strategi kita sendiri saja!" Rizal memberi tatapan yang rendah padaku.


Mendengar caranya bicara saja sudah buatku kesal. Apalagi setelah melihat 2 siswi yang dibelakangnya.


'Dasar anak ganteng, mudah sekali menggaet cewek!' Tunggu, pikiranku jadi ikut kemana-mana. Ini tidak bisa dibiarkan. Fokus!


"Ehm..." Aku berdehem kuat dan membuat mereka bertiga menatapku dengan serius. "Jika begitu, apakah kau punya rencana yang lebih baik dari ini, Rizal?" Tanyaku dengan tatapan rendah.


Melihatku yang membalas tatapan rendahnya, Rizal berbunyi: "Oh..." Dan sedikit melangkah ke belakang dan berdiri di antara Manila dan Yama.


Cih, buat iri saja.


"Kita hanya perlu menghancurkan gerbang ini, bukan? Kalau begitu, kita bakar saja!" Ucapnya sambil menunjuk ke arah dinding baja itu.

__ADS_1


Menggunakan sihir api untuk melelehkan baja? Dia bodoh atau apa? Memang baja itu bisa meleleh, tapi karena gerbang itu menjadi tempat kita berpijak. Maka itu artinya kita akan jelas menginjaknya.


"Ditolak! Strategimu masuk akal, tapi akan membahayakan teman-teman kita?"


"Kenapa?! Bukankah itu lebih masuk akal ketimbang menggunakan ram?! Emangnya ini era kerajaan, harus make hal begituan?!"


"Pikirkan baik-baik! Baja yang meleleh butuh waktu untuk didinginkan!"


"Kalau begitu, kenapa kita tidak pakai bantuan sihir air untuk mendinginkan bajanya?!" Manila membela si Rizal.


Kenapa ini? Kenapa aku benci sekali ini...


"Eh..." Sial, aku tidak bisa jawab.


Tapi entah kenapa, aku ingin sekali menang debat dengan dia.


"Tidak bisa jawab, ya? Kalau begitu sudah ditentukan! Kita akan melelehkan gerbang utama dan masuk tanpa menggunakan ram!" Rizal berbalik sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku.


Dua gadis yang bersamanya mengikuti di belakangnya.


"Gyah! Bikin kesal!" Emosiku tak tertahankan.


Buk buk buk!


Meluapkan segalanya pada tanah yang tak bersalah juga tidak membuahkan hasil.


Pak!


Sebuah tangan menyentuh bahuku dengan keras. Jika kurasakan, bukan hanya ada satu orang yang memegang bahuku sekarang.


"Moka... Stevent...?" Mereka berdua melihatiku dengan rasa kasihan.


"Tenanglah, bila kau tidak bisa. Aku sebagai temanmu akan membantu!"


"Dan aku sebagai ketua kelas juga akan membantu!"


Melihat kedua orang itu, mataku terpancar dan mengalirkan air mata yang kutahan. Sudah tak kuat kutahan rasa mental ini.


Tidak bisa berkata apa-apa saat debat memanglah menyakitkan. Aku benci ini!


"Jadi, apa rencana kita?" (Stevent)


"Apakah kita akan mengikuti rencana mereka?" (Moka)


Tangan mereka yang ada di bahuku kulepas. Sambil menatapi mereka dengan rasa terima kasih. Aku melukiskan senyuman tidak apa pada mereka.


"Untuk awalan, kita ikuti rencana mereka. Tapi..." Aku sedikit menelan kalimatku.


Ada hal yang harus kucurigai.


"Tapi?" (Stevent)

__ADS_1


Sepertinya bertanya ke mereka berdua akan membuahkan sedikit hasil.


"Jika kita melelehkan baja itu. Menurut kalian berdua, seberapa cepat benda itu akan meleleh?"


Aku sejak awal bingung soal ini. Jika proses pelelehan terlalu lama. Maka pihak lawan akan mendapat keuntungan. Mereka masih bisa menembaki kami bahkan menembus kami lewat sela-sela gerbang yang meleleh.


"Bila dijumlahkan, seluruh dari kelas 1 Fisik 1 yang memiliki elemen api hanyalah 8 orang. Gita adalah salah satunya." (Moka)


Sungguh tak terduga, tak kusangka sesedikit ini.


"Ha?! Cuman segitu?! Bukankah seharusnya pengguna elemen api itu ada banyak?!"


Bila yang dikatakan Pak Rasyid saat itu benar, maka setidaknya 50% siswa di kelas ini berelemen api. Tapi kenapa?


Seperti apa yang dia katakan tidaklah benar dan hanya asal. Apakah Rizal benar jika guru itu bahkan hanya berakting pintar saja?


Kepercayaanku padanya semakin turun karena ini.


"Mau bagaimana lagi, kita ini adalah sekolah bergengsi! Itu artinya, murid-murid di sini punya cara berpikir yang lebih ketimbang murid pada umumnya. Meskipun aku tidak yakin itu..." ucapan Stevent mengembalikan kepercayaanku.


Tapi kalimat terakhirnya menghentikanku dari meraih kepercayaanku kembali. Tidak semua murid di sini punya cara berpikir yang baik. Beberapa dari mereka bisa menginjakkan kaki di sekolah itu karena kekuatan uang dan informasi.


"Oh oh oh... Sepertinya ada yang kesusahan nih..." Gita datang entah darimana.


"Gita?" (Moka)


"Jadi, apa kau mendengar semua pembicaraan kami?" (Stevent)


"Ya, kurang lebih..." (Gita)


Anak ini misterius seperti biasa. Dari caranya bicara mungkin orang-orang akan berpikir kalau dia orang yang mudah bergaul. Tapi saat sudah mengenalnya, mereka akan sadar. Kalau Gita punya sesuatu yang lebih dari itu. Bahaya, itu adalah satu-satunya yang bisa dideskripsikan darinya.


"Apa yang harus kita lakukan oada gerbang itu?" Setidaknya bertanya padanya mungkin akan memberi jalan.


Jika dia mengelak ya sudah. Dia hanya cukup bertarung seperti biasa dan tak menghalangi rencanaku.


Sebelum bicara, Gita mengebaskan rambutnya ke atas dan bergaya keren. "Kau ingin menghancurkan gerbang itu, 'kan?"


Aku tak tahu apa yanh ada di dalam pikirannya. Tapi untuk sekarang, aku akan mengikuti arus saja.


"Hmm(mengangguk)..."


Anggukanku diikuti 2 temanku yang lainnya.


"Jika itu yang kau mau, maka aku sebaiknya menyarankan kau mengikuti apa yang guru itu katakan..." lagi-lagi dia mengatakan semua kalimatnya dengan percaya diri yang tinggi.


Tapi agak mengejutkan, Gita tiba-tiba menyarankanku untuk mengikuti guru itu ketimbang Rizal.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Stevent mengangkat genggamnya dan di arahkan ke Gita.


"Kau tidak tahu? Gurumu itu sudah expert, bukan hanya dalam tarung satu lawan satu, ataupun satu lawan banyak..." Tiba-tiba mata Gita melotot. "... Tapi juga segala hal yang berhubungan dengan hal-hal seperti ini!" Suaranya bagaikan pegulat yang tak pernah kalah.

__ADS_1


Dia kemudian mengembalikan postur wajahnya dan kembali menjadi Gita yang kami kenal. "Aku bantu kalian karena dia lupa hutangnya!" Dia tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.


Aku semakin tidak mengerti.


__ADS_2