Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 21 Arc 1. Penilaian Guru Bersambung


__ADS_3

Aku duduk dipinggir Erika yang terbaring di kasur UKS. Sekarang sedang masa persiapan babak kedua jadi aku tidak perlu khawatir soal pertarungan. Aku menatapi wajahnya yang terbaring tak sadarkan diri di kasur dengan wajah datar, ada perasaan sedih dan kecewa tertulis di wajahnya.


Beberapa saat kemudian, Erika terbangun dari pingsannya, dia melihati sekelilingnya dengan keadaan bingung. Keberadaanku membuatnya semakin terkejut, mukanya perlahan berubah menjadi merah.


"Ra-Rasyid, kenapa ka-kau di sini?!" Erika bertanya dengan raut bingung.


"Mereka menyuruhku menjagamu." Aku menjawab dengan datar sambil menyilangkan tanganku.


"Hehe...Jadi mereka ya... Mereka selalu saja tidak paham." Erika menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Jika ada masalah...Kau bisa bilang padaku."


"Kenapa aku harus bilang masalahku padamu?"


"Tenanglah, aku tidak terlalu peduli mendengar masalahmu, lagipula pikiran akan tenang bila kau membicarakannya, kan?"


"Jadi maksudmu, kau hanya mendengar tanpa mengerti apa yang kukatakan?"


"Bisa dibilang begitu."


"Hahh(menghela nafas)...Kau ini..." Erika berkata lirih sambil menatap keluar jendela.


"Apa anda pernah dengar cerita tentang dipaksa menikah karena terlilit hutang?"


"Ahh...Cerita sampah yang sering tayang di tv itu?"


"Hmm(mengangguk)...Kurang lebih aku mengalami hal yang sama..."


Point of View: Erika


Ayahku meninggal bunuh diri dengan membawa hutang yang sangat besar. Kedua saudaraku lari dari rumah meninggalkan aku dan ibuku, sayangnya mereka tidak dibiarkan lari meninggalkan hutang.


Besoknya mereka berdua ditemukan tewas karena kecelakaan, tapi bahkan aku yang bodohpun tahu. Mereka disabotase dan disuruh membayar dengan nyawa.


Seminggu kemudian setelah kematian mereka berdua, CEO dari perusahaan yang dihutangi ayahku datang, mereka melihatku dengan penuh gairah.


Aku awalnya berharap ibuku akan menolongku, namun kenyataanya tidak. Ibuku menjualku ke orang-orang itu, dan kabur dengan selamat meninggalkan keluarga terakhirnya.

__ADS_1


Saat diperjalanan, beruntungnya tiba-tiba mobil yang kami tumpangi dihantam oleh mobil lain yang memiliki permusuhan pada perusahaan itu. Mobil terbalik dan semua kaca pecah. CEO dan anak buahnya keluar dari mobil itu.


Aku keluar dari kaca mobil yang sudah pecah mengikuti mereka, di luar sana ada seorang pria yang menggunakan pedang yang kusam dan menusuki para orang-orang yang melecehkanku.


Dia sangat kuat, tak ada satupun bawahan dari mereka yang mampu mengalahkannya. Semua bawahan CEO itu lenyap.


Pria itu mendekati CEO yang sudah terbaring ketakutan. 'Kau tahu siapa aku, kan? Jika kau membunuhku keluargamu akan dapat masalah!' CEO itu mengancam pria itu.


Sayangnya pria itu tidak mendegarkan, dia malah langsung menusuk perut CEO itu sambil mengatakan. 'Kekuatan keluargamu tidak akan berguna jika mereka semua musnah.' Tubuh CEO membeku dan hancur berkeping-keping dan tidak beregenerasi kembali.


Takut dan takjub bercampur dalam diriku. Aku takjub karena dia tidak takut orang-orang kuat, namun takut karena kekuatan Anitya bahkan tidak bisa menghentikan pria itu.


Pria itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. 'Misi sudah selesai, tapi ada satu wanita yang bukan target. Aku apakan dia?' Pria itu menatapku saat membicarakan takdirku.


'Baiklah, aku mengerti.' Pria itu menutup ponselnya dan mendekatiku. Aku menutup mataku ketakutan, bagaimana kalau aku hanya akan bergulir sandra?


Beruntungnya pria itu hanya menatapku dengan tatapan kosongnya, dia memberikanku jaket yang ia pakai saat itu. Sebuah kata-kata sebelum dia menghilang selalu teringat dikepalaku. 'Jika kau kuat, tak ada yang bisa menghentikanmu.'


Karenanya, sejak saat itu aku selalu mencoba menjadi yang terkuat. Baik Pak Xander atau Samuel telah kutantang dalam pertarungan. Guru-guru kelas lain bahkan orang luar sekolah kulawan.


Aku selalu menang, begitulah pikirku. Sampai saat kejadian Pak Fajri dan kedatanganmu mengubah segalanya. Aku hanya berpikir kalau kau hanyalah orang yang mengandalkan orang dalam untuk mendapatkan pekerjaan.


Wajahmu yang selalu lemas membuatku merasa kau tidak bisa apa-apa, dan mencoba membuka matamu pada kenyataan kalau dunia ini butuh perjuangan. Sebaliknya, setelah pertarungan itu, malah mataku yang terbuka lebar.


Aku semakin merasakan ketidakmampuanku, karena telah meninggalkan keharusanku dan membiarkan masalah hilang begitu saja.


Aku takjub pada kehebatanmu yang dapat menyelesaikan masalah Pak Fajri, meskipun kau menggunakan kekerasan. Tetap saja, kau menyelesaikannya. Kau juga berhasil mengembalikan senyum Sophia dan Moka yang hilang.


Sungguh aku iri padamu...dan juga merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan. Saat liburan bersama para guru, aku baru menyadarinya. Ini perasaan membutuhkan, aku ingin kau selalu ada disampingku untuk menutupi kekuranganku.


Point of View: Rasyid Londerik


"Aku ingin kau selalu ada disampingku, aku ingin kau menutupi keuranganku."


Tangan kanan Erika menyentuh tangan kiriku dengan lembut, tatapan melasnya membuat suasana semakin memanas.


Aku menjadi gugup. Apakah ini sebuah pernyataan? Tapi menurutku tidak terdengar seperti itu.


Aku menutup mataku dengan perlahan untuk memikirkannya.


"Rasyid... Apa kau mau merasakannya lagi? Mungkin kali ini kau akan hancur?!" Suara dari dalam diriku mengagetkan dan mengembalikanku ke kenyataan.

__ADS_1


Dengan kaget, aku tiba-tiba melempar tangan Erika yang memegangku dengan cepat.


"Maaf..." Mataku melotot ketakutan.


"Untuk saat ini, aku benar-benar-" Suaraku terputus karena menahan muntah.


Perasaan itu menghantuiku lagi. Aku segera keluar dari UKS dan pergi ke toilet, tanpa sempat melihat ekspresi wajah Erika. Saat diperjalanan, aku bertemu Pak Xander dam Samuel, namun aku mengabaikannya karena mepet.


Aku kembali muntah, semua masa lalu itu keluar. Aku kehilangan kendali, tubuhku secara paksa mengeluarkan berbagai macam jenis sihir.


"Pak Rasyid!" Suara Samuel terdemgar dari pintu.


"Astaga! Kondisi anda buruk sekali!" Pak Xander mengikuti masuk.


Sedikit demi sedikit kesadaranku hilang. Aku hanya bisa terbaring lemas melihat Samuel dan Pak Xander yang mencoba menyadarkanku.


"Hehhh................"


Aku membuka mataku lemas, seorang nenek berusia lebih dari setengah abad duduk di samping kasurku.


"Kau bangun juga, syukurlah." Nova memberiku selamat dengan wajah datar.


"Apa yang terjadi? Sudah berapa lama aku tidur?" Aku mencoba bangun, tapi nenek itu tidak menghentikanku.


"Tenanglah...Penilaian guru terhenti karena kebakaran sekolah dan akan dipindahkan ke alun-alun kota minggu depan."


"Terbakar? Jangan-jangan?"


"Hmm(mengangguk dan menutup mata)... Kekuatanmu lepas, tapi tenang saja. Aku sudah menyuruh Samuel dan Pangeran itu diam. Mungkin ada baiknya kau menjelaskan sesuatu pada mereka nanti."


"Kenapa kau menolongku, Nova?"


"Kau adalah aset penting kami, membiarkanmu dalam masalah akan membuat sahamku turun." Nova membuka matanya dan menatap arah pintu.


Seseorang berdiri di luar sana.


"Sepertinya kau mendapatkan tamu, aku pergi dulu. Jaga kesehatanmu!" Nova menepuk bahuku dan pergi meninggalkanku.


Orang itu masuk setelah Nova keluar, seorang wanita yang seharusnya tidak kuajak bicara malah ada di depanku. Parahnya dia melihatku berbicara dengan orang itu.


"Kenapa kau bisa bicara dengannya layaknya orang normal? Terlebih lagi, Siapa sebenarnya kau, Rasyid?" Erika menanyaiku penuh kebingungan.

__ADS_1


Bagaimana aku akan menjawabnya.


__ADS_2