Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 123.


__ADS_3

"Guru yang saat itu ingin kau buat masuk bui kini telah merencanakan sesuatu yang lebih besar dan mengerikan untuk menghancurkanmu."


Informasi adalah hal paling mahal di dunia, ini adalah kenyataan. Semakin penting informasi itu untuk sang peminta, maka semakin mahal juga harganya. Dan informasi ini adalah informasi yang kuanggap mahal bahkan bisa membuatku kembali berada di posisi tertinggi kedua di dunia baginya.


Suasana sunyi di ruangan itu terus berlanjut, sampai ketika...


"Nghhh!" Dia tersenyum kikik.


Sambil menganalisa raut mukanya, aku mencoba memperlihatkan wajah kikukku padanya.


"Kupikir informasi yang menakutkan, rupanya hanya informasi yang seperti ini."


Dia tidak takut sama sekali? Mungkin karena aku belum memberi tahunya detailnya.


"Tapi tidak apalah, informasi itu tetap akan berguna untukku. Maka kali ini akan kumaafkan."


"Informasi ini mungkin lebih penting dari yang anda kira..." Aku mencoba membuatnya lebih tertarik dengan informasi ini.


"Tenang saja, aku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih besar bahkan tak ada satupun yang bisa melawannya."


Dengan raut muka yang seperti meledek Haran dari jauh, Nova membuat statment yang sedikit tidak kuduga.


"Apa yang an-" Aku mencoba bertanya, namun segera kuhentikan karena sadar informasiku tadi tidak cukup untuk membayar informasi yang dia miliki saat ini. "... Anda tidak akan mengatakannya lagipula..." Aku pasrah untuk saat ini.


Melihat aku yang pasrah, Nova memangku pipinya dan tersenyum kesal.


"Mumpung kau di sini, biar aku beri tahu rencanaku."


"Hah?!"


Ini di luar dugaan, dia dengan (senang hati) memberi tahukan hal seperti itu padaku. Apakah ini udang di balik batu? Atau yang lainnya?


"Projek PANGERAN... Adalah projek yang akan dikembangkan oleh perusahaan ini. Dan projek ini akan membuat seseorang akan menjadi Tuhan seutuhnya, bukan karena dia bisa mengubah takdir, tapi karena mereka bisa memegang kendali hidup manusia."


"Siapapun yang berani menentang sang Pangeran akan mati atau lebih parahnya tersiksa oleh kuasanya."


"Selagi Anitya masih mengalir di dalam darah mereka, maka tidak ada yang bisa kabur dari itu."


Pernyataan nenek ini memberikan hal yang mengerikan dan kesempatan di saat yang bersamaan.


Tak tahu mana yang harus kusebut, tapi kesempatan tetaplah kesempatan. Aku harus menyelesaikan ini semua.


"Beruntunglah kalau begitu..." Aku mencoba tenang di antara ketakutan. "... Karena rencana musuhmu... Bisa menghancurkan hukum itu!" Dengan ditambah senyuman licik, aku membuat Nova yang tadi memasang raut sombong menjadi terdiam dan menatapku dengan murung.


"Bisa beritahu, apa yang dia rencanakan?"


Yes, dia kena umpannya.


"Sebelum itu, ada sesuatu yang ingin kuminta dari anda."

__ADS_1


Ini adalah alasanku ke sini, yaitu mengakhiri ini semua.


Nova memberi anggukan kecil untuk menandakan dia setuju dengan permintaanku. "Lanjutkan..."


"Anda pasti tahu soal sebuah ruangan seperti arena yang berada di atas langit bersama 6 pilar, kan?"


"hmm(mengangguk)" Tanpa adanya rasa terkejut dia mengiyakan, dan sepertinya dia sudah tahu kalau aku suatu hari akan menanyakan ini.


"Di mana itu? Dan bagaimana cara aku ke sana?!"


Mendengar permintaanku, Nova berdiri dari tempat duduknya yang nyaman dan berjalan ke arahku.


"Kau mau ke sana? Kau bahkan belum menghidupkan ke enam api itu!"


Ke enam api? Apakah yang dia maksud adalah api di pilar itu?


"Jika kau pergi ke sana sekarang, kau tidak akan menemukan apa-apa!" Nova memaki dengan berjalan berbalik ke arah dinding kaca tempat di mana kita bisa melihat seluruh Kota Ningru dari sana. "Nyalakan ke enam api itu, dan aku akan memberitahumu di mana tempat itu berada- Oh!"


Tiba-tiba Nova terkejut akan sesuatu, kalimatnya terpotong sehingga mengubah ekspresinya menjadi kusam seperti biasa.


"Sepertinya semua syarat memang sudah terpenuhi..." Nova berbalik dan menatapku.


Dengan background pemandangan Kota Ningru, Nova yang berdiri di depanku seakan seperti berubah menjadi seperti dewa yang bisa melakukan apa saja pada wilayahnya.


"Apa maksudnya?" Aku masih tidak paham dengan maksud dari kalimat yang terpotong itu.


Kakak?! Apa hubungannya dengan tempat itu?! Jangan-jangan, apakah dia yang menghabisi Kakak tertuanya?! Lalu, apa maksudnya merampas?! Apa yang harus kuambil darinya?!


"A-apa yang harus kurampas darinya? Nya-nyawanya, atau-(Nova memotongnya)"


"Kau tahu peti mati yang menjadi senjata miliknya saat itu?"


"hmm(mengangguk)" Bila tidak salah, peti mati itu bisa memberikan suplai sihir yang sangat banyak.


"Ambil darinya, dan jika kau sudah mendapatkannya. Buka peti itu lalu masuk ke dalamnya. Pastikan kau di sana saat tidak ada orang yang ingin membunuh, ingat itu..." Raut tersenyum hina itu terlihat seperti mengejekku secara terang-terangan. "Peti itu hanya berfungsi sebagai pintu, dan jika kau ceroboh, maka pintu itu tidak bisa terbuka lagi."


Sebuah harga yang besar untuk masuk ke sana, dan juga harga yang besar pura bila ceroboh di sana.


......................


Suara gemuruh mobil yang mondar-mandir meramaikan sekitar gedung itu. Mobil lalu lalang tanpa ada rasa curiga sedikitpun pada bangunan raksasa yang ada di belakangku ini. Bangunan besar ini malah memberikan sebuah rasa aman bagi mereka. Rasa bahwa bangunan besar ini adalah pencetus keabadian mereka, atau yang disebut sang pencipta keabadian.


"Hah(menghela nafas)~ Sepertinya semua akan segera berakhir."


Apakah semudah ini?


Begitu dalam pikirku, namun naluriku berkata kalau ada sesuatu yang harus kuselesaikan sebelum menyelesaikannya dan sayangnya aku lupa apa itu.


Hari ini seharusnya para murid yang masuk dalam 10 besar akan mendapatkan update pada Anitya mereka, dan kekuatan baru akan mereka dapat.

__ADS_1


Melewatkan hal seperti ini memang sedikit membuat murid dan guru yang lain akan khawatir padaku. Tapi ya sudahlah, toh itu juga hanya untuk formalitas.


Aku tidak yakin semua kekuatan yang dimiliki mereka akan benar-benar dipakai oleh 10 besar murid terbaik di sekolah. Karena kekuatan yang cukup kuat dan latihan yang sangat ekstrem diperlukan hanya untuk menguasai kekuatan baru itu. Cara mudahnya hanyalah dengan menyuntikkan cairan Anitya baru ke dalam mereka, namun itu akan sangat beresiko, dan bisa menyebabkan malfungsi pada Anitya yang lama.


-


"Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghirup udara segar," ucapku bohong.


Udara di sini sungguh menyesakkan, bahkan bila saja Anitya tidak ada, orang-orang di sini sudah pasti jadi tumpukan badan tanpa nyawa.


"Apapun itu, aku harus segera bertindak... Menuju orang itu, dan menyelesaikan ini semua!"


Dengan tekad itu, aku berjalan dari depan gerbang ke tempat yang diberikan oleh Nova sesaat sebelum aku keluar dari ruangannya.


"Ngomong-ngomong, aku masih memegang ponsel muridku(Stevent)."


......................


Di sekolah, saat ini upacara pemberian update Anitya sedang berlangsung.


Dari 10 besar murid, terdapat 3 orang dari kelas 3 Sihir, 2 orang dari kelas 2 Sihir, 2 orang dari kelas 1 Sihir, 2 dari kelas 3 Fisik, dan 1 dari kelas 1 Fisik.


Murid dari kelas 1 Fisik itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kanda Sophia, dia mendapatkan rangking 10 besar karena performanya yang luar biasa saat ujian di istana.


Caranya dalam menghancurkan gerbang dan memusnahkan lawannya di akhir disanjung secara langsung oleh para guru yang berada di balik monitor kantor guru kemarin.


Kini, siswi itu berdiri di atas panggung bersama 9 murid lainnya. Dengan dilihat oleh teman-teman kelasnya, Sophia memasang senyum lebar ke arah mereka. Perasaan bahagia bercampur iri bercampur aduk dalam diri mereka.


"Kau berhasil Sophia!" (Moka)


"Tidak kusangka malah kau yang dapat." (Stevent)


"Mau bagaimana lagi, dia adalah MVP di ujian kemarin." (Hakam)


"Tidak mengejutkan, ini semua sudah jelas akan terjadi." (Gita)


Pujian dan keirian terus berlanjut di antara teman-temannya.


Di sisi lain, tepat di sampingnya.


"Kau berhasil, Sophia... Aku yakin guru itu telah mengajarimu dengan baik sampai bisa di atas sini." Astra sang Ketua OSIS dan juga sang penerima hadiah update memberinya selamat.


"Ti-tidak juga, guruku memang mengajari banyak hal, namun aku tidak akan di atas sini bila tidak dibantu dengan teman-temanku, jadi... Ini semua adalah hasil kerja keras kami sehingga kelas kami mulai bersinar." Senyum bahagia terpancar di raut muka siswi yang kemarin murung itu, air mata kebahagiaan seketika keluar bersamaan ketika matanya menoleh ke arah teman-temannya.


DUG! DUG! DUG!


Tapi, semua itu tidak bertahan lama.


Nyeri di dalam kulitnya terasa seperti menusuknya seratus kali.

__ADS_1


__ADS_2