Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 121.


__ADS_3

Tiang tinggi yang berada di puncak bukit kini tidak lagi mengikat pangeran muda. Stevent yang tadi ketakutan karena akan dijadikan persembahan akhirnya menghembuskan nafas lega dan melihati tiang itu dengan perasaan sedih.


Tiang itu tidak lagi mengikatnya, namun mengganti posisi dengan seseorang yang sedaeah dengannya. Xander terikat di sana dengan keadaan pingsan, dan kini dia masih belum siuman.


Aku tak paham apa yang baru saja terjadi, tapi aku bisa menyimpulkan Haran bukan sedang menyiapkan perubahan era, namun sesuatu yang lebih besar.


Apakah keinginannya untuk menghancurkan Nova masih sangatlah besar?


Apakah alat ini(Hover shoes) akan digunakan untuk melawan nenek itu?


Apapun jawabannya, aku harus memikirkan apa yang ada di depanku terlebih dahulu.


"Pak..." Dengan nada lemah Stevent memanggilku tanpa mengalihkan pandangannya dari kakaknya yang terikat. "Kenapa kakakku menjadi seperti ini?"


"..."


Saat ditanya seperti itu, aku hanya bisa diam dan tak tahu harus menjawab apa.


Ini terjadi karena posisi kelasnya ada di paling bawah, dan otomatis kini karir dan kelasnya ada di ujung tanduk.


Dari bagaimana Stevent bertanya-tanya soal ini, aku bisa menyimpulkan kalau ranking itu masih belum sampai ke para murid.


"Tidak ada jawaban... Apakah semengerikan itu?"


"....Ya" Berat untuk kukatakan, tapi setidaknya sedikit petunjuk akan meringankannya.


"Tch! Kenapa?! Aku tidak bisa berdiam saja saat sesuatu terjadi pada keluargaku!" Air penyesalan mulai terlihat dari balik kacamatanya yang pecah.


"Tenanglah, Stevent!" Dahlia yang berada di sampingku meneriaki laki-laki itu.


"Ini kakakku yang kita bicarakan! Bagaimana aku bisa tenang?! Sesuatu yang buruk terjadi, dan aku tidak tahu itu! Jika aku tidak tahu, bagaimana aku bisa membantunya?!"


Apakah sebaiknya aku beri tahu?


Tidak, ini malah akan bertambah buruk. Memberinya sedikit petunjuk saja sudah membuatnya emosional, apalagi jika aku memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi.


"Untuk sekarang sebaiknya kita tunggu kakakmu bangun dulu."


Ini adalah saran terbaik yang bisa kuberikan padanya.


......................


Seorang putri berjalan sendirian di balkon istananya saat tengah malam. Langkah kaki dari sepatu high heelsnya terdengar keras di setiap langkahnya berjalan. Istana yang sedikit berantakan karena habis dipakai ujian murid-murid kemarin masih terlihat elegan. Tanpa ada rasa risih sedikitpun, sang ratu berjalan dengan ditemani sebuah kipas yang terbuat dari baja yang kuat akan segala macam serangan yang dihiasi dengan corak ranting-ranting bunga di tangannya.


Di bawah bulan sabit yang bersinar terang di malam hari itu, sang putri melebarkan kedua tangannya dan seperti akan menantang bulan itu.


"Widya! Apakah kamu yang merencanakan ini semua?!"


Bulan itu tidak menjawab sama sekali, dia hanya bisa memberikan cahaya pada putri itu.

__ADS_1


Lagipula tantangan itu memang tidak ditujukan pada benda mati yang bersinar itu, melainkan seseorang yang lain dan bahkan mungkin akan menjadi bahaya kedepannya.


Ranking kelas yang tidak masuk akal, persengkongkolan para guru kelas 2 untuk menyingkirkan Rasyid, dan insiden penculikan sesaat ujian, semua masalah ini bertitik pada satu orang. Kurang lebih begitu yang ada di dalam pikiran sang putri.


......................


Tak Tak Tak


Suara sepatu high heels yang menggprak-geprakkan lantai terdengar konstan di malam hari.


Di sebuah rumah yang sederhana dan penuh debu, seorang wanita berjalan-jalan mengelili meja. Di atas meja itu terdapat sebuah peta dan foto-foto orang. Rata-rata foto itu diisi oleh foto dari guru kelas 2.


"Susah sekali untuk menyingkirkannya, bahkan dengan membuat mantan kekasihku pada tahap emosional pun masih belum cukup." Wanita itu menggigit jarinya dengan membawa perasaan kesal.


"Apa yang bisa membuatnya jatuh?"


Wanita itu terus berpikir, dan menatapi satu persatu foto-foto guru itu. "Bahkan mereka saja tidak bisa!"


"Pebisnis, para rival guru, dan bahkan orang yang ia hormati, kenapa tidak ada satupun yang bisa?!"


Suara teriakannya menggema di gelapnya malam di sebuah rumah kosong seperti tempat uji nyali itu.


"Apakah harus aku sendiri yang turun?" Kedua matanya kini tertuju pada gambar guru itu. "Ya, lagipula aku sudah janji kalau aku akan bertemu langsung dengannya."


Senyuman menyeringai mengubah kekesalannya menjadi kebahagiaan, apa yang dipikirkan wanita itu kini melebihi apa yang seharusnya dia lakukan.


......................


Aku membuat Xander meminum beberapa obat penenang. Dia akan menjadi masalah besar bila langsung berhadapan denganku setelah kalah telak.


Aku meminumkan itu bukan berarti dia sudah tidak waras, hanya saja dia sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil.


Ini mengingatkanku pada kejadian saat itu, agak memalukan namun saat melihatnya dalam kondisi seperti ini, aku hanya bisa menatap sambil merefleksikan diriku yang dulu padanya.


Sungguh memalukan rupanya ketika kita dalam kondisi depresi dilihat oleh orang lain.


"Apakah obat ini manjur?" Stevent bertanya dengan nada khawatir.


"Tenang saja, menurut internet ini benar-benar manjur." Dahlia yang berada di dekatku dengan senyum polosnya menjawab pertanyaan itu.


Tapi bukannya semakin lega, Stevent malah semakin khawatir dengan kakaknya.


"Hei, jangan percaya apa saja yang ada di internet!"


"Tapi apakah ada refrensi lain yang bisa kita temukan saat ini?"


Ucapan datar namun penuh tusukan itu membungkan Stevent sepenuhnya. Dia tidak bisa melawan balik dan hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menggesekkan gusinya.


Menggunakan beberapa tanaman yang ada di sekitar gunung untuk membuat herbal mungkin terdengar aneh sekarang, bahkan bisa terkena masalah bila ketahuan, namun saat ini tidak ada jalan lain selain ini.

__ADS_1


***


Tak lama setelah pertikaian kecil itu.


*uhuk uhuk uhuk


Mata pria itu perlahan membuka dan mulutnya yang pahit secara refleks dimainkan untuk melenyapkan rasa pahit itu.


"Apa ini?!"


Oh, sepertinya obatnya gagal.


"Bukan apa-apa, hanya rasa kekalahan."


"Kau, Rasyid... Apa kau mau mengejekku?" Tanggapannya berbeda daripada yang kubayangkan, namun dari bahasa wajahnya yang memalingkan dariku, aku mencoba mengerti.


Menjawab kegelisahan itu, aku memalingkan wajahku kebelakang dan melihat diantara Stevent dan Dahlia.


"Stevent, Dahlia, bisa beri kami waktu?"


Mereka berdua memberi ekspresi terkejut, namun Dahlia dengan tanggap dan mengerti langsung tahu maksud pembicaraanku.


"Stevent, ayo kita tinggalkan mereka!" Dengan nada lembut Dahlia mencoba memberi kode pada pangeran muda itu.


"Aku kurang mengerti apa maksudnya, namun kumohon Pak Rasyid, jangan apa-apakan kakak!" Matanya yang berkaca-kaca terlihat jelas di balik kacamata itu.


"Tenanglah, dia pasti akan baik-baik saja..."


Aku mengatakan yang sejujurnya, tidak ada hal yang perlu disembunyikan. Terlebih, Xander adalah orang yang kuhormati, melihatnya dalam kondisi seperti ini pasti akan membuatku ingin membalas kebaikannya.


Dengan begitu, Dahlia dan Stevent pergi meninggalkan kami berdua dan masuk ke dalam hutan yang berada di bukit.


Dari arah mereka pergi, aku yakin mereka pergi ke bangunan yang ditinggalkan itu.


Ngomong-ngomong ponselnya sedang kubawa, nanti saja kukembalikan, toh dia masih belum menanyakannya.


Aku menatap kembali ke Xander yang kusut dan sedang terikat di tiang.


Dia memberi tatapan yang mengejek padaku, tapi kubiarkan untuk saat ini.


Karena dia ada dalam kondisiku yang dulu, depresi berat.


"Apa yang kau lihat?" Dia masih kesal.


Aku menarik nafasku, sesuatu seperti ini hanya bisa diselesaikan dengan adanya pendengar.


"Bisakah kau mengeluarkan semua masalahmu? Aku mungkin tidak akan membantu, namun setidaknya kau butuh telinga untuk mengeksprsikan kesedihanmu."


Dengan kalimat itu, Xander memiringkan bola matanya dan melihat ke arah lain tanpa memalingkan kepalanya.

__ADS_1


Sepertinya dia paham.


__ADS_2