
Hari minggu dan satu hari sebelum ujian untuk para murid.
Di sebuah alun-alun, seorang pria muda duduk di sana sendirian.
Sembari memegangi cincin kawin bekas milik istrinya, dia mencoba meremukkan benda itu.
Kekuatannya dikuatkan, namun niatnya tak kuat.
"Tidak mungkin aku bisa melakukannya! Aku melakukan ini karenanya, bukan karena yang lain." Dia menatap ke bawah dengan memasang wajah sedih.
Sebuah dendam ia bawa bersamanya. Yang jadi masalah dalam dendam itu adalah...
Siapa yang harus dia jadikan kambing hitam?
......................
Karena ini hari minggu, berarti aku tidak ada kerjaan.
Dan menganggur adalah kebiasaanku.
Berapa lama aku akan di dalam kamar?
Aku tidak akan tahan bila berbaring di sini terus.
"Aku bosan..." ucapku dengan datar sambil berbaring di kasurku tanpa tujuan yang pasti.
Sesuatu harus kulakukan, tapi apa?
Aku memikirkan sesuatu... Ada satu hal yang seharusnya kuselidiki.
"Oh?!"
Aku mengingatnya.
Insiden penculikan itu masih belum jelas endingnya.
Maka dengan segera, aku membuka laptopku dan mencari informasi tentangnya di internet.
"Mari kulihat, seberapa pandai Sekolah Podoagung menyembunyikan kejadian itu," ucapku sambil menekan-nekan tombol di keyboardku.
CTAK
Tombol enter kutekan dan mesin pencarian bekerja sangat cepat.
Hasil dari pencarian mengejutkanku.
"Ternyata... Ada banyak!" Ketidakenakan tiba-tiba kurasakan.
Kenapa berita ini trending di seluruh platform media social namun seperti tidak terjadi apa-apa di dunia nyata?
Aku terus berpikir maksud dari kejanggalan ini.
Sampai akhirnya aku menemukan titik cerahnya. "Mereka hanya membicarakannya sebagai hiburan, dan dalam kenyataannya, sebenarnya mereka tidak peduli sama sekali."
Itulah salah satu spekulasiku.
Dan untuk; kenapa para orang-orang tinggi tidak bergerak adalah karena kekuatan politik yang dimiliki Bahar.
__ADS_1
Aku dengar sekarang Bahar memiliki pertahanan langsung dari presiden atas nama sekolah itu.
Semua hasrat licik dan kejam para orang-orang tinggi itu mereka tahan karena itu.
Presiden bukanlah orang yang bisa mereka buat main-main.
Kembali ke topik, berita tentang insiden penculikan ini semakin meluas dan beritanya seperti dibesar-besarkan sampai sudah tidak masuk akal.
Ada yang bilang ini adalah ulah Si Nova untuk dijadikan tumbal, dan ada yang bilang kalau ini adalah bentuk ancaman dari negara lain.
Aku tak kuasa menahan beban berat di kepalaku. Mereka(Troller) benar-benar penganggu dalam dunia ini.
KRING KRING.
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan saat kulihat di layar. Nama nenek itu terpampang jelas di sana.
Wajahku menatap jijik layar ponselku. Aku sudah tidak tahan dengan ambisi nenek itu.
Bila punya kesempatan untuk menghabisinya, mungkin aku akan menghabisinya.
"Apa?" Ucapku dengan datar saat mengangkat telepon.
"Datanglah ke kantor!"
"Tidak, aku tidak mau!"
"Cepatlah! Datang saja!"
"Kenapa kau maksa?!"
"Ini semua terjadi karena kau!"
"Bukankah itu sesuai rencanamu?!"
"Be-beraninya kau!"
"Kenapa? Kau kan yang membuatku emosi saat itu agar aku bertindak sendirian pas ada kejadian itu supaya namamu tidak akan kena semprot lagi?!"
"Tch!"
Ada selang lama, nenek itu mencoba menenangkan pikirannya.
"Rasyid, dengarkanlah aku baik-baik! Kejadian ini menyangkut ujian yang akan berlangsung sekolahmu!"
"Aku sudah tahu itu!"
Dia mencoba membujukku namun gagal karena aku sudah mengetahui ini.
Kesunyian kembali mengalir dalam panggilan itu. Dia mencoba memikirkan sesuatu yang lain.
"Masalah kali ini berhubungan dengan luar negeri, sebaiknya kau jangan asal bergerak!" Nova memperingatimu.
"Bila kau bergerak secara asal-asalan... Maka tindakan mu akan mempengaruhi seluruh Nusantara ini, Paham?!" (Nova)
Jarang sekali untuknya buat sangat ngotot menahan tindakan gegabahku.
Bila dia sudah sampai sini, itu artinya ini masalah serius.
__ADS_1
"Jadi, kumohon... Kali ini datanglah ke sini!" Dia memohon kepadaku.
"Baiklah..." ucapku mengiyakan dengan berat hati.
Aku tidak ingin terlibat di sini, tapi karena dia sudah memohon dan masalah ini juga menyangkut tempatku, jadi aku tidak bisa menolaknya.
......................
Atas permintaanya, aku sekarang ada tepat di depannya secara langsung.
"Datang juga kau, ya?" Dia menatap keluar kaca gedung tanpa menatap balik ke arahku.
Masih sama seperti biasa.
"Langsung ke intinya!" Dia berjalan ke mejanya dan membuka sebuah dokumen dengan 6 gambar orang yang merupakan pebisnis.
"Terdapat 5 orang pebisnis asing dan 1 pebisnis lokal yang menjadi dalang dalam kasus ini!" Dia menunjuk ke enam foto orang itu.
"Singh Akash dari India, Norman Colbertstein dari German, Garnt Towel dari Inggris, George Chris dari Kanada, Akida Nozomi dari Jepang, dan Jainal Zaka Zaki Mahesa Jinail dari Indonesia..." Nova menyebutkan nama 6 pebisnis itu dan negara asal mereka.
"Mereka semua berencana mencuri sebuah batu akik dari Putri Tyas... Sayangnya rencana mereka tidak berjalan lancar.
Itu semua bukan hanya karena ulahmu, namun juga ada karena perasaan tidak percaya satu sama lain."
"Daripada mereka bekerja sama untuk mendapatkan tujuan mereka. Mereka malah bergerak sendiri-sendiri dan mengalami saling serang." Nova terlihat mencoba serius, namun terlihat di wajahnya dengan jelas kalau dia sedang menahan tawa.
Mereka memang badut kelas kakap. Bahkan bisa saling menyerang antar teman? Keegoisan mereka menghancurkan diri mereka sendiri.
"Dan untuk Norman Colbertstein, dia sudah mengalami kegagalan sekaligus kerugian besar. Dan itu semua kau tahu penyebabnya, bukan? Monster..." Nova menatapku dengan tatapan dingin.
"3/4 anak buahnya sudah terbunuh dan sisanya mengalami trauma berat karena tersambar petir. Kini lawanmu tersisa 5 orang." Nova mencoret foto wajah Norman Colbertstein dari list orang-orang itu.
"Berhati-hatilah, terutama pada orang ini!" Dia menunjuk ke foto Jainal Zaka Zaki Mahesa Jinail.
"Dia adalah yang paling berbahaya karena tahu semua struktur tempat ini, sedangkan yang lainnya bisa kau hiraukan. Mereka tidak paham sama sekali tentang sekolahmu, terlebih lagi dengan kekuatan aslimu. Yang mereka tahu, kau adalah yang terkuat di sana!"
Dengan begini, Nova mengakhiri ceramah panjangnya. Dan sekarang masuk sesi tanya jawab buatku.
"Apa tujuannya? Aku bukan bertanya tentang para pebisnis asing itu, melainkan sang pebisnis lokal itu. Pasti ada alasan dibalik tindakannya dalam menghianati negaranya sendir" Tanyaku.
Nova tidak membuka mulutnya. Hanyalah gelengan kepala yang dia lakukan untuk menutup mulutnya.
Dia juga tidak tahu alasannya, jadi aku yang harus mencari tahunya sendiri.
"Sepertinya bertanya hal-hal detil pada anda tidak membuahkan hasil sama sekali. Kalau begitu, kirimkan saja aku lokasi persembunyian mereka." Aku langsung ke inti dan tidak mau berlama-lama.
"Untuk apa? Apakah kau mau menyerang mereka dengan membabi buta?!" (Nova)
"Tidak, aku hanya akan memasang bagian terakhir dari rencanaku. Lagipula aku juga tahu betapa bodohnya melakukan itu!"
"Baiklah kalau kau paham... Tapi kumohon, jangan buat namaku kena lagi!" (Nova)
Aku tidak bersuara dan hanya memberi sebuah anggukan.
Sebuah alamat yang berjumlah 5 sudah kudapatkan saat keluar dari gedung itu.
Aku tidak sabar melihat bagaimana ujian dan pesta pora besok berlangsung.
__ADS_1
'Lihatlah kalian! Betapa bodohnya diri kalian sudah mencoba menentangku!' Ujarku dalam hati sambil melengkukkan bibirku yang membentuk senyuman.