
Hari ini adalah hari libur setelah penilaian guru. Dalam 2 hari sekolah diliburkan sekaligus untuk jadi waktu buat para siswa untuk mempersiapkan ujian mereka.
Hari ini aku berjalan-jalan di kota karena suatu alasan. Alasan yang masih menyangkut kejadian tadi malam.
Malam itu tepat setelah aku membereskan koper itu, Astra langsung menelponku.
"Pak, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apakah kau menggunakan sihir terlarang pada Dahlia?!" Suara Astra tersengar sangat marah dari telpon itu.
Aku hanya bisa membeku karena gugup. Keringat membasahi wajahku.
"Aku sebenarnya juga tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya menggunakan kemampuan penyegelan padanya. Tidak ada hal lain, beneran!" Ucapku yang sudah gemetaran.
Aku sebenarnya juga tidak mau hal ini terjadi.
"Penyegelan? Emangnya ada sihir seperti itu? Bukannya sihir hanya bergantung pada elemen?" Tanya Astra bingung.
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengalihkan pembicaraannya.
"Kau tidak tahu? Bukannya minggu kemarin ada update Anitya?" Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan meskipun saat ini gigiku sedang bergetar.
"Update Anitya?" Tanya Astra bingung.
"Oi oi, kau adalah OSIS kenapa kau bisa ketinggalan informasi? Bukannya saat pertarunganku dengan Haran, kau juga melihat pageblug yang tidak pernah kau lihat? Begitu juga untuk Anitya, teknologi menjadi satu langkah semakin maju lagi," ucapku menghasutnya.
"Eh benarkah, emangnya apa yang baru di pembaruan Anitya itu?"
Astra sudah benar-benar teralihkan sekarang. Senyum jahat terbentuk di mukaku karena berhasil mengalihkannya.
"Sekarang kekuatan sihir bukan hanya elemental tapi juga sihir yang aneh-aneh seperti teleportasi, gravitasi, penyegelan dan juga masih banyak lagi yang belum teridentifikasi sudah ditambahkan dipengaturan Anitya. Sayangnya jika kau ingin mendapatkan sihir-sihir seperti itu masih sangatlah susah." Aku mengatakan sesuatu yang menggoda.
"Emangnya bagaimana cara mendapatkannya?" Astra tertarik.
"Minggu depan adalah ujian untuk para murid. 10 murid teratas akan mendapatkan satu sihir itu dengan acak. Ngomong-ngomong pembagiannya 10 sihir itu berlaku untuk seluruh murid Podoagung. Jadi hanya 10 murid dari kelas 1-3 yang berhak mendapatkan sihir itu." Aku menggodanya dengan membocorkan hadiah dari ujian yang akan mendatang.
"Benarkah?! Ahh, kenapa cuman 10 murid saja?!" Astra kesal karena kenyataan.
"Tenanglah, aku yakin kau bisa! Kau adalah ketua OSIS paling hebat!" Aku memberinya semangat.
Tapi aku tersadar satu hal, kata-kataku itu adalah pengingat anak itu.
"OSIS? Oh iya, kita kan sedang membicarakan Dahlia?!" Astra berteriak di telpon. "Kenapa malah berubah menjadi ujian sekolah?!"
Keringatku yang tadi mulai mengering sekarang turun kembali.
"Ehe." Aku tertawa kecil.
"Ehe gundulumu! Pokoknya besok anda harus menemani Dahlia pergi jalan-jalan! Bisa kubilang ini adalah kencan terpaksa!"
"Kenapa kau nyebutnyanya kencan paksa?!"
"Karena aku terpaksa membiarkan Dahlia berkencan denganmu!"
Saat mendengar keluhan Astra, aku seketika sadar dia sedang cemburu saat ini. Jadi Astra rupanya...
"Oh... rupanya kau... cem... bu... ru... " Aku mengatakan itu untuk menjahilinya.
"Hey bukan begitu!"
"Lalu apa kalau begitu, kenapa kau sangat berat hati saat mengatakannya?"
Astra tiba-tiba diam.
"Dengar ya, Pak Rasyid. Jika aku beneran menemukan bukti kalau anda adalah yang membuat Dahlia seperti ini. Aku akan menghancurkanmu!" Suara Astra lirih tapi sangat dingin.
Sepertinya dia benar-benar menyukainya, tapi dia juga sadar kalau dia tidak berhak menentukan siapa yang Dahlia suka. Dia bersungguh-sungguh akan membuat siapapun yang membuat Dahlia menangis membayar apa yang telah mereka perbuat.
Dan itulah apa yang terjadi tadi malam. Astra menyuruhku menemui Dahlia di taman kota untuk mengajaknya melakukan sesuatu yang disebut kencan.
Berkat Erika saat itu, sekarang aku tidak terlalu ketakutan saat mendengar kata-kata itu. Jika saja dulu Erika tidak menyadarkanku, kemarin mungkin aku akan meledak di rumahku yang kosong.
Aku berjalan ke alun-alun yang fungsinya sudah kembali normal.
Teknologi sudah terlalu maju. Bahkan alun-alun yang kemarinnya disulap menjadi arena, kembali seperti semula hanya dalam waktu semalam.
Aku melihat Dahlia sedang duduk sendirian di bangku taman sambil memainkan ponselnya.
"Ha-hai." Aku menyapanya dengan gugup.
Dahlia mengalihkan pandangannya ke arahku. Wajahnya langsung berubah menjadi sangat merah setelah melihatku.
__ADS_1
"Pa-pak Rasyid, anda benar-benar datang?!" Nadanya malu.
"Tentu saja, aku ini selalu menepati janji," ucapku bohong sambil tersenyum.
Sebenarnya aku kesini karena dipaksa.
Dahlia yang mendengar itu langsung senang dan memelukku.
"Untunglah! Aku pikir anda akan menjauhiku setelah kejadian saat itu." Dahlia mengatakan itu sambil menggosokan pipinya ke badanku.
Aku melihat ke sekitarku. Perasaan buruk sudah kurasakan di sekelilingku. Para pengunjung yang mendatangi alun-alun melirik ke arahku. Mereka pasti mengira kalau aku adalah predator atau lolicon.
"Dia bersama anak sekolah?"
"Sungguh mengerikan."
"Tak tahu malu!"
"Dasar, penikmat gadis sma!"
Aku bisa mendengar apa yang mereka katakan meskipun cuman berbisik. Ingin rasanya aku pura-pura tidak mendengar apa yang mereka katakan. Tapi keinginan untuk kepo apa yang mereka bicarakan tentangku sangat tinggi.
"Ahh, Dahlia. Kau dekat sekali dengan Pak Rasyid!"
Sebuah suara kesal dari kejauhan mengalihkan perhatianku. Jika kuingat, itu adalah suara dari muridku, Sophia.
'Jadi, ada mata dikencan ini?'
"Ugh..." Aku menghela nafas dan menatap langit.
Mengerikan sekali, sudah dipaksa untuk kencan. Sekarang malah ditambah di mata-matai oleh murid-muridku.
"Astaga, ini akan jadi berita besar jika ketahuan sekolah." (Stevent
"Tuan, sebaiknya jangan melakukan hal yang membuat orang lain celakan." (Hakam)
"Wah, Sophia semakin memiliki banyak saingan." (Moka)
"Berjuanglah, Pak Rasyid!"(Gita)
Suara-suara dari muridku terdengar dengan kekuatan pendengaran jarak jauhku.
Aku memegang dan mengelus rambut Dahlia yang masih menggosokan pipinya kepadaku.
"Sekarang kita mau kemana?" Aku bertanya dengan senyum.
"Hah? Bukannya bapak yang mengatur jadwal?" Dahlia melepaskan peluknya dan kebingungan.
"He?"
Aku kebingungan, bukannya Astra bilang dia akan membuatkan jadwal kencan dan diberikan ke Dahlia?
'Apakah ini salah satu serangan darinya?'
Jika begitu maka aku harus improvisasi.
Aku memasang senyum cerah ke arahnya. Mukanya kembali memerah dan memalingkannya.
"Oh iya, aku lupa. haha... ha, kita pergi berbelanja saja, bagaimana?" Aku memberikan saran.
"Tidak nonton film?" Dahlia memiringkan kepalanya.
Aku menggelengkan kepalaku dengan tersenyum ragu. "Sebenarnya aku tidak suka nonton film."
"Oh... sepertinya prefrensi orang berbeda-beda ya?" Dahlia menatapku dengan senyuman yang manis.
Setelah itu dia berjalan sedikit menjauhiku dan menunjuk ke sebuah pusat perbelanjaan di dekat alun-alun. "Kalau gitu, ayo kita kesana saja!" Wajahnya yang ceria tapi lemas tergambar dimukanya.
"hmm(mengangguk), ayo!" Aku berjalan menyusulnya.
Dahlia langsung merangkul tanganku seolah-olah tidak ingin lepas. Aku terpaksa berjalan seperti itu sampai ke tujuan.
Kami berdua masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang dipilih Dahlia.
Di dalamnya ada kerumunan orang yang mengitari sesuatu.
"Apa yang terjadi di sana?" Ucap Dahlia bingung.
"Mau lihat?" Aku mengajaknya.
__ADS_1
Aku dengan refleks berinisiatif memegang tangannya. Wajahnya merona setelah aku memegangnya. Tapi aku tidak mempedulikannya dan menuntunnya ke kerumunan itu.
"Hah?! Dia bahkan langsung pegangan tangan?!" (Moka)
"Pe-pegangan tangan?!" (Sophia)
"Anda adalah panutanku yang terbaik!" (Gita)
Suara mereka terdengar saat aku menarik Dahlia ke kerumunan itu.
"Halo semua, ini adalah versi baru dari pageblug! Bukan hanya bisa menyimpan satu data senjata saja, tapi DUA DATA SENJATA SEKALIGUS!"
Sales itu mempromosikan pageblugnya sambil melambaik-lambaikan pageblugnya ke atas.
Dia memamerkan pageblug itu dengan mengaktifkannya. Bentuk senjata pertama yang terbuat adalah sebuah pedang biasa, lalu dia menonaktifkannya dan mengaktifkannya kembali. Bentuk senjata kedua yang terbentuk adalah sebuah panah.
Dahlia menatap benda itu dengan mata yang berkilau.
"Apa kau mau?!" Aku berinisiatif saat melihatnya berbinar.
"Eh, bolehkah?" Dia terkejut dan menoleh ke arahku.
Aku melihat ke arah daftar harga dari senjata itu. Benda itu dijual dengan harga yang fantastis mahal. Dari yang termahal seharga 13 juta sampai yang termurah yang dibuat khusus untuk pelajar seharga 1,3 juta.
Mungkin bagi orang biasa itu masihlah sangat mahal. Tapi bagiku, kedua harga dari yang termahal sampai termurah bukanlah apa-apa bagiku. Karena aku punya banyak uang namun tidak tahu mau kugunakan buat apa.
Tapi yang jadi masalahnya saat ini, Dahlia terlihat sungkan jika aku memberi hadiah semahal ini untuk kencan yang bahkan masih belum berhubungan(pacaran) sama sekali.
"Kayaknya tidak usah, pageblug lamaku juga masih berfungsi dengan baik." Dahlia menolak tawaranku dengan senyum malu-malu.
Aku menatapnya dengan perasaan sedikit sedih. Kupikir dia akan benar-benar menurut apa yang kukatakan.
Saat ini, dia berbeda dari yang kemarin di toilet. Dia yang di toilet punya kontrol diri, tapi yang sekarang sepertinya dia masih punya.
"Lagipula, dengan bersama anda saja sudah cukup buatku." Dahlia memalingkan wajahnya yang merona dan malu.
"Panggil saja aku, Rasyid! Tidak enak didengar bila kau pakai kata 'anda' kepadaku." Aku merasa tidak enak saat dia mengatakan 'anda' disituasi yang seperti ini. "Kita di sini untuk berkencan, bukan?" Aku mengulurkan tanganku ke depan.
Dahlia menangkap tanganku dan tersenyum lebar. "hmm(mengangguk)"
Kami berkeliling pusat perbelanjaan itu tanpa membeli apa-apa. Meskipun aku berulang kali melihatnya ingin membeli sesuatu, tapi aku merasa kalau dia akan menolak lagi.
Kencan kami sudah hampir selesai. Senja sudah menemani kami di alun-alun ini. Kami berdua duduk bersebelahan di kursi taman itu.
"Hari ini sangat menyenangkan." Dahlia tersenyum puas dan menyendenkan kepalanya ke diriku.
Kami berdua menatapi terbenamnya matahari dari sana.
Meskipun ada gadis cantik bersenden ke tubuhku, aku tetap tidak merasakan sesuatu yang spesial.
Aku menatap ke depan dengan perasaan hampa. 'Mau sampai kapan aku terus begini?'
Aku terus mencoba keluar dari penjara dalam diriku. Tapi sepertinya aku tidak bisa, tidak ada kemajuan sama sekali tentang perubahan hatiku. Aku masih sama, tetap membeku dan melihat manusia hanya seperti makhluk hidup lainnya yang hidup hanya untuk mati.
"Rasyid, jika saja tiba-tiba aku memelukmu dengan badan yang bergetar karena ketakutan. Apa yang akan kau lakukan?" Dahlia mengatakan itu dengan melas.
Kata-kata Dahlia membuat mataku terbelalak. Kenanganku di masa lalu menghantuiku, tubuhku langsung gugup dan berkeringat.
Tanpa sadar air mata membasahi mukaku.
"Rasyid?" Dahlia menatapku dengan bingung.
Dahlia melihatku yang tiba-tiba menangis. Dia langsung melepas rangkulan tangannya dan berdiri menghadapku.
'Apa yang akan dia lakukan?!' Keparnoan menyerangku.
Tapi sebuah sesuatu tak terduga terjadi. Dia mengelap air mataku dengan sapu tangannya.
"Semuanya baik-baik saja, Rasyid." Dahlia tersenyum ke arahku, rona di pipinya masih terlihat meskipun dia menyembunyikannya.
"Maafkan bapak. Terbawa masa lalu adalah hal yang ditakuti orang dewasa." Aku mengelap air mataku yang terlihat bodoh.
"Ingat, di sini hanya ada kau dan aku. Tidak perlu ada kata pak atau nak, mengerti?!" Dahlia menunjuk ke arahku.
"Hmm(mengangguk)." Aku tersenyum.
"Dan lagi..." Suara Dahlia terdengar mendekat ke wajahku.
Bibir kami saling bersentuhan. Aku mencoba untuk melepaskannya tapi Dahlia menahannya. Sampai beberapa detik kemudian, Dahlia melepasnya dan wajahnya yang sangat merah karena malu terlihat jelas.
__ADS_1
"Aku mencintaimu..."