Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 43. Hati yang Membeku


__ADS_3

Erika dan aku sedang berhadapan di waktu pulang sekolah. Wajahnya terlihat canggung karena sesuatu. Dia ingin bertanya padaku tapi tidak berani mengatakannya.


"Ada apa..., Erika..." tanyaku tenang.


Erika yang terdiam langsung menatapku dengan memelas. "Aku dengar kalau anda kemarin berjalan-jalan dengan siswi di sekolah ini, apa itu benar?" Dia bertanya dengan gugup.


Informasi menyebar sangat cepat. Aku tidak berpikir kalau hal ini akan menjadi rumor hanya dalam 1 hari. Tapi tadi saat bersama Haran, dia tidak menyinggung soal ini sama sekali. Mungkin dia tidak peduli dengan hal-hal percintaan.


Aku menundukkan kepalaku dengan perlahan dan masih memasang wajah datar yang meyakinkan.


"Ya, kenapa?" Aku bertanya kembali.


"Apakah anda dan dia berpacaran?" Erika bertanya dengan menggaruk pipinya dengan tangannya.


Pipinya yang tersipu dan terlihat malu-malu menghilangkan ciri-ciri tsundere-nya. Dia sekarang malah terlihat seperti dandere yang baru sadar kalau dia adalah tim yang kalah seperti yang ada di manga.


"Aku menolaknya..." Aku masih belum selesai, namun wajah Erika tiba-tiba terbelalak penuh harap. "...Dia yang memaksaku... Aku hanya menuruti kemauannya saja..." Wajah penuh harap Erika menghilang setelah aku melanjutkan perkataanku.


Dia mengalihkan pandangannya dari.


Aku akan berpura-pura tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Kesakitan dalam dirinya tidak bisa diobati hanya dengan kata-kataku.


"Kenapa kau menerimanya?!" Erika mengangkat kedua bahunya sambil bernada tinggi


Wajahnya yang putus asa membuatku takut. Saat ini wajahnya terlihat sangatlah buruk, bahkan aku tidak berani menatapnya.


"Dia bilang padaku, ayo obati trauma kita bersama." Aku memberikan alasan singkat tanpa rasa bersalah ataupun tersipu.


Erika berjalan mundur 3 langkah kebelakang dengan memasang wajah yang sedih. Tangannya mengepal dengan memegang dadanya sambil menahan tangis.


"Bodoh!" Erika tiba-tiba memberiku tinjuan keras ke arah pipi.


Aku yang melihat arahnya pukulan hanya bisa sedikit menepis serangannya. Perasaan bersalahku muncul setelah sekian lama, sayangnya aku belum tebiasa dengan perasaan itu.


Raut mukanya seakan tak percaya dengan apa yang telah kulakukan. Dia yang mencoba memukul ke arahku malah terjatuh ke lantai karena serangannya meleset. Matanya terlihat hampa, bahkan mungkin tidak sadar apa yang ada di depannya.


"Bodoh..." Di lantai itu, Erika mengeluarkan air matanya.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan disaat seperti ini. Biasanya yang kulihat hanyalah mereka yang bersimbah darah sambil menangis seperti posisi Erika saat ini.


Getar ditanganku tiba-tiba terjadi. Aku melihat tanganku yang bergetar seperti sedang kedinginan. 'Apa ini, kenapa terjadi? Padahal sekarang itu sore yang panas,' pikirku saat ini.


Entah apa yang terjadi, tapi aku menyadari getaran itu bukan berasal dari dinginnya suhu ataupun yang lainnya. Melainkan berasal dari hatiku yang merasa bersalah.


Aku berjalan perhalan ke arah Erika yang terbaring. Dia yang sadar akan kehadiranku yang mendekat mencoba bangkit dari baringnya dan berdiri. Telapak tangannya diarahkan ke arahku untuk memintaku menghentikan niatku.

__ADS_1


Akupun terdiam setelah dia menandakan untuk berhenti.


"Kenapa?" Ucapku kebingungan.


"Tidak, bagiku ini terlalu cepat untuk bersedih." Erika mengelap air matanya dan memaksakan untuk tersenyum "Anda masih belum merasakannya... perasaan dari hati anda yang sebenarnya.... Jadi, aku harap suatu hari... yang membuka celah itu bukanlah anak itu ataupun Sophia..." Dia menunjukkan tangannya ke arahku dengan nada yang terbata-bata.


Matanya menatap tajam wajahku yang masih melongo. "...Yang akan membuka celah dihatimu adalah aku!" Erika melanjutkan kalimatnya dengan wajah yang serius dan menunjuk ke dirinya sendiri.


'Eh?!' Ucapku dalam hati karena bingung melihat Erika.


Aku belum melakukan apa-apa tapi dia sudah mengembalikan emosinya dengan sangat cepat. Perasaan iri mendatangiku setelah melihatnya bisa melakukan itu.


"Selagi hatimu belum terbuka, aku akan menganggap pertarungan kami belum berakhir." Wajahnya tersenyum percaya diri. "Karena ini adalah pertarungan dari kami bertiga, ini masih berlanjut."


Wajahku yang melongo tidak paham secara tidak sadar mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan masa laluku. "Perang tiga negara..." ucapku lirih secara tidak sengaja.


Erika yang mendengar itu langsung terkejut kecil. Namun bibirnya yang tersenyum pede belum hilang, malah dia menambahkan kata-kataku.


"Ya, ini adalah pertarungan 3 negara dengan absennya pihak ke-4(Jin). Bila pihak itu muncul, maka aku akan menghancurkannya," meskipun terlihat mengerikan, dia tidak punya maksud jahat dalam kata-katanya.


Bagiku yang sudah mencoba menganalisis ini, ini hanyalah kompetisi biasa para manusia. Aku tidak akan membawanya serius.


Masalah berakhir tanpa adanya diriku yang membantu.


Setelah itu, aku langsung bergegas ke tempat kepala sekolah.


Janjiku memang harus kuselesaikan, tapi menyelesaikan misi bagiku adalah yang terpenting. Itu merupakan prinsip hidupku.


"Permisi, boleh aku masuk?" Aku mengetuk pintu kepala sekolah.


Lampu ruangan sudah dinyalakan. Saat ini sudah malam, waktuku banyak tersita karena tadi. Pertemuan yang seharusnya dilakukan sepulang sekolah pukul 3 sore malah menjadi jam 6 malam.


"Masuklah, kau lama sekali!" Bahar mengijinkanku sambil menegur kesalahanku yang telat datang.


Setelah mendapat ijin masuk, aku membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Wajah kesal Bahar terlihat di mukanya yang sedang duduk di kursinya.


Tapi keinginannya untuk terus memarahiku segera ia hilangkan dan lebih memfokuskan ke tugasnya.


"Minggu depan... seperti yang kau tahu, itu adalah hari ujian buat para siswa. Kita akan kedatangan tamu dari keluarga kerajaan. Jika tidak salah, mereka dari keluarga Tyas. Mereka akan mengirim putrinya untuk berkunjung ke sini." Bahar berkata sambil menghisap rokoknya.


Mendengar nama Tyas pikiranku langsung mengingat sesuatu. Tapi dimana? Biarkan saja, nanti juga ingat sendiri.


"Lalu...?" tanyaku bingung.


"Tidak seperti presiden yang pasti punya pengawal, putri Tyas hanya akan datang menggunakan mobil sedan mewahnya dengan diantar oleh supir pribadinya." Bahar menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Maka dari itu, kita membutuhkan beberapa guru untuk menjadi pengawalnya saat berkunjung." Bahar menambahkan.


"Jadi...?" Aku menambah tanyaku.


"Hah..., kau ini tidak pernah banyak bicara tapi kalau bertanya tidak pernah paham," keluhnya padaku."Aku awalnya ingin 10 besar yang ada pada saat tes guru yang kemarin menjadi pengawas, tapi saat kulihat, rata-rata mereka berasal dari kelasmu dan kelas 3. Jadi aku mau menunjuk wajah baru untuk menjadi pengawas, aku yakin tamu akan bosan jika aku terus menunjuk orang-orang yang sama berkali-kali." Bahar mengangkat daftar nama guru di Sekolah Petarung Podoagung.


"Aku ingin kau memilih nama-nama guru yang kau anggap pantas menjadi pengawal tamu kita saat ujian nanti." Senyumnya terlihat saat mengangkat nama-nama itu.


Aku terkejut dengan keinginan Bahar. "Kenapa kau memilihku?" Tanyaku.


Wajahnya mengkerut setelah mendengarku bertanya lagi. Tangannya memegangi keningnya.


"Hah..., apa kau perlu tanya kenapa, Champion?" Dia menyebut gelarku yang kudapat dari penilaian guru.


Sejujurnya aku tidak tahu darimana asalnya title itu. Padahal mereka tidak pernah mengatakan kalau bakal ada pemberian title juga.


Mataku sedikit melebar lalu mengangguk paham yang dikatakann Bahar. Mataku kembali melihati kertas yang berisi nama dan daftar kekuatan para guru di sini.


Ada nama yang digaris biru di sana.


"Kenapa nama Xander digarisi?" Tanyaku sambil mendekatkan wajah ke kertas yang masih ia pegang.


Bahar terkejut setelah mendengarku bertanya lagi. Kali ini ekspresinya seperti tidak percaya.


"Apa kau tidak tahu?!"


"Apa?"


"Ah sudahlah, nanti kau tahu sendiri pas ujian berlangsung. Pokoknya nama Xander akan otomatis masuk dan kau juga termasuk dalam itu, jadi pilih 8 orang saja, mengert!"


Teka-teki lagi, aku sedang malas dengan itu. Terserahlah, itu tidak akan berdampak juga padaku.


"Baiklah, aku akan memilihnya. Lalu apa yang anda lakukan? Menungguku?" Tanyaku lagi sambil mengambil kertas yang dipegangnya.


Bahar mengambil koper dan peralatannya untuk segera berkemas. Wajahnya tersenyum ke arahku sambil memegang satu bahuku.


"Tentu saja pulang! Ini sudah malam," dengan senyum yang mengejek dia berangkat pulang meninggakanku.


Aku menghela nafasku, ini terjadi karena aku terlalu larut datang. Dia yang menungguku selama ini menjadi bukti kalau dia benar-benar ingin aku menyelesaikan ini sendirian.


Aku berjalan keluar ruangan itu. Sekolah sudah gelap dan lampu-lampu mulai dimatikan.


Aku duduk sendirian di gedung sekolah itu. Satu lampu ruangan kuhidupkan untuk menerangi kertas yang diberikannya. Nama-nama guru di sekolah itu kulihati satu persatu.


Ini akan menjadi malam yang panjang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


KARENA EPISODE SELANJUTNYA BAKAL BANYAK TEKS BERISI INFORMASI 27 GURU SEKOLAH INI, JADI BAKAL KEPANJANGAN KALAU DI TARUH SINI.


__ADS_2