Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 145.


__ADS_3

*Ctak!


Dengan satu jentikan jari saja, aku mengirimkan puluhan tanah padat terbang ke arahnya.


Saat ini aku tidak mau menahan diriku lagi. semakin aku melakukan itu, semakin tidak sadar pula aku pada kekuatanku sendiri. Terkadang aku sering lupa kalau kekuatanku ini cukup mengerikan.


...


Kakakku yang melihat arahnya serangan langsung menghindar menggunakan sihir cahaya.


Kesempatan!


Di saat dia melakukan itu, aku ikut mengaktifkan sihir cahayaku dan berjalan ke tempat dimana dia akan berhenti.


*Ctang!


Pedangku mengayun dan menghantam sebuah kayu yang cukup keras.


"Sial, peti itu melindungimu!" Ujarku secara berteriak.


Peti itu sudah mulai bergerak untuk melindungi tuannya, itu berarti dia sudah mulai bertarung secara serius.


Seketika, cahaya keluar dari sela-sela pintu peti itu.


Cahaya?! Apakah mau meledak?!


Melihat apa yang akan terjadi, aku seketika mundur dan membuat dinding dari tanah.


*Duar!


Ledakan keras membuat teras di lantai dua ini semakin tak berbentuk, dan arena semakin mengecil akibat dari ledakan itu.


"Meledakkan tempat ini?! Apa kau sudah gila?!" Aku berteriak di balik dinding kokoh yang kubuat.


"Jika itu membuatmu ingin membunuhku, maka tidak apa buatku!" Suara dari langit terdengar semakin lama semakin dekat di atasku.


Mendengar keanehan dari arah datangnya suara itu, aku seketika membuat perisai dari tanah dan memegangnya erat-erat untuk menahan sebuah serangan.


*Grak!


Seperti yang diduga, sebuah kaki raksasa dari sebuah tanah menendang perisai yang kupakai sampai aku terdorong beberapa meter.


Dengan cepat aku membuat pedangku mengeluarkan aura air dan menebas kaki raksasa itu menjadi berkeping-keping.


Di saat aku sudah berada bagian paling atas kaki itu, kakakku melayang di udara menatapku dari atas dan siap dengan serangan lanjutannya.


"Aku memegang tempat tertinggi, Rasyid!"


Sebuah paus api seukuran aslinya terjun ke arahku dan mencoba membakarku hidup-hidup.


Aku seketika membuat sebuah tombak raksasa dari air lalu kulemparkan ke arah paus itu. "Apa kau lupa kalau kita ada di tingkatan yang sama?!"


Tombak air raksasa itu menusuk paus sampai menembus bagian belakangnya dan bersarang di perutnya. Dalam hanya waktu sepersekian detik, ledakan besar terjadi akibat air dan api yang bertabrakan itu.


Cuaca arena pertarungan seketika berubah menjadi hujan air panas yang sangat deras.


"Gyah!" (Rizki)


"Harghhh! Sialan, aku tidak memikirkan hal seperti ini akan terjadi!" (Aku)


Baik aku dan kakakku terguyur oleh panasnya air itu dan merasakan mati rasa layaknya makanan yang direbus.


*Brak!

__ADS_1


Kami berdua terjatuh dan mendarat dengan keras di lantai teras itu. Kuatnya hantaman membuat lantai yang kami hantam ambruk dan hancur.


Pertarungan yang tadi disaksikan oleh matahari dan bulan, kini berubah menjadi pertarungan yang disaksikan oleh barang-barang rusak yang berada di dalam sekolah ini.


Pencahayaan di tempat ini sangatlah kecil, bahkan mata telanjangku tidak bisa melihat apapun di sekitarku.


"Hari mulai gelap, dan pertarungan masih belum kunjung berakhir juga. Yang benar saja..." Aku menyesali keterlambatanku untuk segera menghabisinya saat itu.


Bila saja aku tahu dia tidak mau hidup lagi sejak awal, mungkin pertarungan sudah berakhir sebelum Ryan tiba di sini.


Api tiba-tiba berkobar menerangi ruangan yang gelap gulita. Api itu menyala satu persatu bagaikan memberikan jalan padaku.


"Hah? Apa maksudnya ini?" Aku kebingungan, namun tetap mengikuti jalan yang dibuat dari api itu.


Api itu menuntunku sampai pada sebuah pojok ruangan dekat jendela dan meja guru.


Saat api itu menerangk pojokan itu, sebuah meja dan kursi bertumpuk berantakan di sana sampai membentuk sebuah piramid.


"Ka-kau...?!"


Di ujung paling atas, aku melihat tubuh kakakku sudah tak berdaya dan terlihat sangat membiru karena air panas yang sebelumnya. Dia tidak menyerang ataupun melihat keberadaanku saat ini. Matanya terkunci di antara menutup dan terbuka. Dia seperti sudah merelakan nyawanya untuk kuambil.


"Kenapa Anitya tidak melindungimu?" Aku bertanya padanya.


Namun dia tidak menjawab apa-apa. Satu-satunya petunjukku adalah api-api yang menuntunku ke arahnya.


"Kau ingin mati?!"


Tidak ada jawaban, namun aku sudah tahu jawabannya pastilah 'iya'.


Rekorder suara yang saat itu sudah menjelaskan semuanya.


Melihat bagaimana situasinya. Aku mengambil nafasku dalam-dalam dan bersiap untuk sesuatu yang besar.


Sejak awal pertarungan ini bukanlah tentang siapa yang kuat. Pertarungan ini hanyalah ucapan selamat tinggalnya kepadaku, ini bisa dilihat dari bagaimana aku tidak kalah sejak awal pertarungan. Bila saja dia serius sedikit, aku mungkin sudah mati.


Terlebih lagi, peti yang dia bawa tidak terlihat selalu melindunginya. Padahal peti itu adalah tameng bagi tuannya.


Atau... Ada maksud lain?


Aku seketika merendahkan mataku untuk menahan rasa sedih.


Aku ingat... Aku ingat kalau peti itu terbuat dari kulit kedua orang tuaku. Maka seharusnya mereka mencoba melindungi kakakku dari segala macam bahaya, namun seperti yang dilihat dari pertarungan tadi.


Baik kakakku dan petinya seperti bertikai, peti itu hanya menyelamatkannya sekali dariku. Saat aku mengingat-ingat pertarungan tadi, peti itu seperti menangis dan ingin melerai kami. Namun usahanya gagal, dan berakhir hanya menjadi penonton. Penonton dari acara kematian salah satu anak mereka.


"~Tenang saja, aku hanya harus menusuknya seperti tadi dan menghancurkan inti Anityanya dengan sihir KODE~," ucapku pada diri sendiri.


Aku menguatkan tekadku, dan berjalan sambil mengacungkan ujung pedangku ke arahnya.


"Hyargggh!"


*Ctang!


Seseorang melempar pedangku sampai menatap besi dari kaki meja ruangan kelas itu.


......................


Kembali beberapa menit di saat Rasyid dan Rizki bertarung di udara dan sedang beradu sihir air dan api mereka.


Ryan dan Linda yang pergelangan tangannya di tahan oleh sihir lemental milik Rizki berbisik satu sama lain.


"Linda, apa kau bisa menggunakan airmu untuk menghancurkan tanah yang menahanku?!" Bisiknya pada pacarnya.

__ADS_1


"A-aku sedang mencoba, namun sulit sekali..." Linda memperlihatkan bagaimana dia berjuang mengarahkan pergelangan tangannya ke arah Ryan, namun selalu gagal.


"Apakah kita akan terus dalam kondisi seperti ini? Padahal kita datang untuk melerai mereka, namun malah berakhir seperti ini."


"Kita seharusnya menunggu momen yang tepat."


"Apa maksudmu momen tepat itu?" Ryan terbelalak.


"Bodoh seperti biasa, apa kau tidak lihat kalau saat ini mereka sedang beradu sihir. Berdoa saja kalau salah satu dari mereka menggunakan sihir api atau air dan tidak sengaja menyasar ke salah satu dari kita. Saat itulah, gunakan sihir anginmu untuk membelokkan serangan nyasar itu ke borgol yang menahan kita."


"Idemu pintar juga, hehehe." Ryan menampakkan giginya yang putih kepada sang bulan yang baru bangun.


"Tapi ingat! Api untuk menghancurkan borgolku, dan air untuk menghancurkan borgolmu! Jangan sampai terbalik, atau borgol yang menahan kita malah akan semakin keras!"


Meskipun mereka berpacaran, namun kepercayaan Linda pada otak yang dimiliki Ryan masihlah kecil, atau memang dia tidak bisa diandalkan?


"Ya, ya, aku mengerti." Senyumannya seketika berubah dan menjadi penyesalan.


Dalam raut wajahnya terlihat seperti dia mengatakan, ("Kenapa aku berpacaran dengan wanita cerewet ini?")


Dia sungguh berbeda kalau berada di depan orang lain dan diriku.


Saat mau bersiap untuk mengeksekusi rencana mereka. Sesuatu yang tak terduga terjadi dan mengenai mereka berdua.


"Gyahh!!" (Ryan dan Linda)


Air panas mengenai mereka bedua dan menghancurkan kedua borgol itu.


"Apa yang terjadi?!" Ryan seketika berdiri dan berjalan mendekat ke arah Linda.


Saat sudah berdekatan dengannya, Ryan seketika membuat sebuah putaran angin untuk melindungi mereka bedua dari hujan panas itu.


"Sesuatu terjatuh dari atas bagaikan meteor!" Linda menunjuk ke benda jatuh dari langit.


*Duar!


Sesuatu menghantam lantai dan mengambrukkan lantai yang mereka pijak.


Mereka berdua jatuh dan masuk ke dalam salah satu ruangan sekolah itu.


Kedua punggung mereka berada dalam kondisi patah yang sangat fatal, tapi beruntungnya mereka adalah petarung, orang yang sudah terbiasa mengalami hal seperti itu.


"Apa kau tidak apa-apa?!" Tanya Ryan pada Linda.


Dia memeluk erat pacarnya dari amukan ambrukan lantai itu. Namun sepertinya sia-sia karena mereka berdua terluka berat.


Di saat kegelapan menghantui mereka berdua, sebuah cahaya muncul dari sebuah kotak.


"Kotak apa itu?!" Saat melihat dengan seksama, Ryan seketika melotot karena terkejut. "I-itu peti mati!"


Dia langsung berlari ke arah peti milik Rizki dan saat memegangi tekstur peti itu.


*Kring!!!


Sebuah cahaya seperti menyilaukan penglihatannya dan terpaksa membuatnya harus menutupnya.


Namun, saat dia membuka matanya kembali. Dia berada di tempat antah beranta dan hanya ada warna putih.


"Ryan..." Seseorang memanggilnya dengan nada pelan dan halus.


Ryan menoleh dan melihat ada seorang pria dan wanita berdiri berjejeran. Wajah itu terlihat familiar di ingatan Ryan, tapi dia sedikit lupa siapa.


Namun, hanya dalam hitungan detik, Ryan mengingat siapa mereka.

__ADS_1


"Kalian berdua, orang tuanya Rizki dan Rasyid, bukan?!" Ryan terlihat terkejut dan tidak percaya sampai mengambil langkah mundru secara pelan.


__ADS_2