
"Tujuanku?"
Aku bertanya soal alasannya melakukan ini semua.
Dia terlihat seperti sedang menyiksaku, namun entah kenapa juga, dia juga terlihat seperti sedang membantuku.
"Tidak ada, aku hanya kesal pada orang tua kita. Mereka tidak pernah memuji keberhasilanku, dan selalu berharap banyak padaku. Jadi, saat bertemu dengan Nova saat itu, aku menggunakan kesempatan ini untuk membuat mereka takjub, namun sayang... Setelah apa yang kulakukan, mereka malah menganggapku gila dan tidak menganggapku sebagai anak mereka!"
Wajahnya berubah kesal, tangannya menarik kuat rantai yang menahannya, kepalanya merunduk seakan menahan sedih yang dicampur kesal dan kekecewaan.
"Jika mereka tidak menganggapku sebagai anak mereka... Berarti aku juga bisa melakukan perlakukan yang sama pada mereka..." Seketika mulutnya melengkung membuat senyuman. "Aku dapat pekerjaan kedua, yaitu penciptaan Pageblug, benda yang sering kita jumpai saat ini sebagai senjata di olahraga tarung. Waktu itu, aku menyadari kuasa yang kuat bila menggabung benda itu dengan beberapa benda lainnya, mulai dari batu akik panca warna, dan tubuh manusia. Pageblug itu berubah sempurna dan menjadi lebih dari apa yang kuharapkan."
"Jadi itu alasanmu memakai tubuh orang tua kita sebagai pageblug pertama?" Tanyaku.
"Ya, tapi kurang lebihnya hanyalah karena dendam semata." Dia tersenyum puas.
"Aku sedang tidak mau marah saat ini, namun apa yang kau lakukan sungguh keterlaluan, kak!"
"Kak? Sudah lama tidak mendengar sebutan itu..."
"Sudah cukup basa-basinya, kak. Tadi itu, apakah sudah semua yang ingin kau ceritakan?"
"Kurasa, iya? Kupikir itu sudah semuanya..."
"Baiklah, kalau begitu... Aku minta beberapa pertanyaan untuk dijawab!"
"Tanyakanlah..." Dia tidak terlihat mau merumitkan masalah lebih jauh lagi. "Kau kesini untuk meluruskan semuanya, bukan?"
Aku tidak bisa menepis kalimat itu. Semua yang kulakukan saat ini hanya untuk jawaban itu.
"Siapa sebenarnya Kak Rizki Kamil itu sebenarnya?" Aku bertanya dengan nada yang tegas.
Dari semua potongan puzzle yang harus dipecahkan, hanya dialah yang paling tidak kumengerti.
Kenapa kakak keduaku memiliki kekuatan yang sama denganku? Bukankah seharusnya hanya aku saja yang memiliki kekuatan elemental bila berdasarkan cerita yang dikatakan Kak Nazrul barusan.
Lalu kenapa kakak tertuaku memiliki semuanya? Bukan hanya itu, kenapa Nova juga memiliki kekuatan yang sama.
"Sepertinya harus kujelaskan lagi tentang dasar cerita itu." Kakakku menunduk paham. "Sihir elemental murni berbeda dengan sihir elemental yang muncul dari Anitya. Beberapa orang bisa mengeluarkannya dengan bantuan pageblug yang mereka miliki, namun ada juga yang hanya dengan tangan kosong bisa melakukannya. Karena ada hal seperti itu, maka dibagilah dua umat manusia menjadi dua, yaitu Kelas Fisik dan Kelas Sihir... Dan seharusnya ada yang menjadi penengah di antara dua jenis manusia itu."
Aku masih belum nyambung dengan apa yang dia katakan.
"Jadi intinya, kekuatan Rizki merupakan sebuah hukum itu sendiri. Berbeda dengan sihir KODE dan Anitya, kekuatannya adalah sistem yang mirip seperti network internet yang kuceritakan tadi."
"Hah?!"
Jujur, aku semakin tidak paham.
"Begini saja, apa kau tahu schizophrenia, atau yang biasa disebut penyakit menghayal? Kurang lebih seperti itu..."
"Kak, bisa jelaskan secara sederhana? Aku bukanlah seorang ilmuwan sepertimu. Aku hanyalah orang yang isi kepalanya cuman gelut!"
"Oh maaf, aku lupa kalau kau itu bodoh..." Dia tersenyum tipis.
Apakah dia menghinaku?
Apapun itu, aku kesal dengan reaksinya.
"Akan kuulangi lagi, apa yang kalian lihat bukanlah seperti yang terjadi. Itu semua hanyalah ilusi yang diciptakan oleh mereka yang menggunakan Anitya." Jelasnya. "Yang sebenarnya dia bisa lakukan hanyalah sihir kode dan beberapa sihir seperti manusia pada umumnya."
__ADS_1
"Jadi, semua yang aku lihat saat bertarung melawannya hanyalah ilusi yang dia ciptakan?"
"Aku tidak mau menyebutnya sebagai ilusi, tapi seperti permainan saraf."
Memikirkan perkataannya, aku kembali mengingat-ingat pertarunganku dengannya.
Pertama, burung yang bisa menghancurkan beberapa dinding yang kubuat.
Kedua, batu dan es yang menahan Linda dan Ryan.
Ketiga, paus api seukuran asli....
Baik aku maupun Ryan merasakan sakitnya air panas yang terbentuk akibat dari dua elemen yang berbenturan itu.
Seketika, aku mengingat bagaimana Ryan masih dapat menggunakan sihir anginnya meskipun sedang diborgol, sedangkan Linda tidak.
Aku seketika mengangguk paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Terus, saat dia menggunakan sihir cahayanya, dia berpindah tempat layaknya transportasi. Namun, kenyataannya dia hanyalah menghentikan gerakan saraf semua orang yang berada di sekitarnya.
Ini mengingatkanku pada waktu yang terhenti saat penyerangan 5 pebisnis itu pada Putri Tyas. Dan karena sihir KODE mereka berada di bawahku dan kakakku, mereka tidak bisa menghentikan kami berdua.
Jadi, dari konklusi tadi, level sihir KODE milik kakakku berada setingkat di atasku, dari bagaimana aku bisa melihat dia bisa memperdayaku sejak pertama kali bertarung.
Saat datangnya helikopter, kakakku tidak mengaktifkannya karena meskipun dia melakukannya, helikopter tetap akan bergerak ke arahnya.
Dan untuk dinding-dinding yang kubuat namun berhasil dia hancurkan sebelumnya, itu adalah kekuatan gabungan dari sihir KODE dan sihir Anitya-nya.
Burung api yang dia buat adalah asli, sedangkan bagaimana dinding-dinding itu hancur karena ada campur tangannya sihir KODE miliknya.
Tidak kusangka rupanya sihir ini begitu kompleks.
Aku mengangguk dan mulai mengganti arah pandangku.
Aku melihat ke arah 6 pilar yang terbakar di sekitarnya.
"Apakah ini aku?"
Yang kumaksud adalah tiang-tiang yang terbakar di sini.
"Ya, ini semua adalah kunci untukmu."
"Kunci?"
Apa maksudnya?
"Kunci untuk menandakan bahwa kau sudah tidak bisa lagi jadi Pangeran."
"Oh..."
Aku tidak kesal atau kecewa saat mendengarnya. Perasaanku hambar seperti tidak ada rasa yang masuk ke dalam hatiku.
"Kalau begitu, pertanyaan terakhir. Bagaimana caraku untuk menghancurkan 'Pangeran' itu?"
Aku hanya sekedar bertanya, tidak ada niatan yang sesungguhnya dari pertanyaan itu.
"Mana kutahu, dia adalah Tuhan, mustahil untuk dikalahkan!"
"Sudahlah, ganti saja pertanyaannya, menurutmu eksistensi 'Pangeran' itu, apakah berbahaya?"
__ADS_1
"Kalau aku mau jujur, tentu saja berbahaya, malah sangat! Kebebasanmu akan direnggur darinya."
Jawabanku sudah kudapatkan.
Aku berbalik dan pergi meninggalkannya.
Tanpa ada rasa kesal ataupun murka yang sudah tertanam lama di hatiku, aku mengampuni semua yang dia lakukan.
Atau... sepertinya tidak, berada di sana lebih membuatnya menderita ketimbang mati.
Ntahlah, aku tidak peduli.
"Woy, apa kau mau pergi meninggalkanku begitu saja? Lalu apa jawabanmu tentang 'apa yang akan kau lakukan tadi?'"
Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya yang sudah tidak berdaya itu.
"Mudah saja, jika dia menganggu, maka akn kuhancurkan!"
"Tapi dia adalah Tuhan, lo!"
"Dia hanya menganggap dirinya sebagai Tuhan, bukan Tuhan sesungguhnya, selagi nenek itu memiliki jiwa, maka dia tidak pantas disebut Tuhan."
"Apakah kau mau bermain peran pahlawan setelah apa yang kau lakukan?"
Aku menahan emosiku dan hanya menghela nafasku.
"Masyarakat belum tahu apa yang terjadi, jadi aku tidak akan dapat apa-apa bila menghentikannya sekarang. Lagipula, ini adalah aku... Cike Nuwang! Bawahan yang sering bergerak di dalam bayangan!"
Mengatakan itu, aku kembali menoleh pintu keluar dan melangkahi setiap anak tangga dengan meninggalkan pria itu sendirian di sana.
......................
*Krak!
Pintu peti itu terbuka dan beberapa wajah familiar menyanbut kedatanganku.
"Rasyid?" (Erika)
"Pak Rasyid?" (Sophia dan Stevent)
Mereka menatapiku dengan mata yang lebar.
Tidak seperti yang lainnya, Ryan langsung berjalan ke arahku dan menatapku dengan serius.
"Jadi, apa kau sudah mendapat jawaban yang kau cari-cari selama ini?" Ucapnya sambil memegang kedua bahuku.
Aku mengangguk tanpa menjawab.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?!"
Aku menatap tepat ke matanya, refleksi wajahku terlihat jelas di matanya meskipun sedang gelap sekalipun.
"Tidak ada yang asli dariku, maka aku akan menganggap kepalsuan ini sebagai diriku yang sebenarnya."
"Hah?" Mereka semua tidak mengerti dengan perkataanku.
Itu sudah pasti, karena kalimat tadi seakan menganggap kalau aku masih tidak peduli bila aku hanyalah sebuah alat pembunuh.
"Langsung saja kuberitahu, aku akan menghancurkan Nova sebelum masyarakat mengetahui tirani nenek itu yang sebenarnya!" Ucapku dalam keadaan menakutkan. "Karena aku adalah pembunuh dalam kegelapan, Cike Nuwang!"
__ADS_1