Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 66. Bergerak


__ADS_3

Di sebuah tempat.


Layaknya arena lingkaran dari batu.


Lantainya bermotif abstrak.


Terlebih lagi, arena itu terlihat seperti mengapung di atas awan.


Disekitarana arena terdapat 6 pilar tinggi terbuat dari batu.


Setiap pilarnya ada ukiran-ukiran yang melambangkan sebuah raut muka dari emosi manusia.


Pilar pertama, penuh dengan emosi marah.


Pilar kedua, penuh dengan emosi jijik.


Pilar ketiga, penuh dengan emosi takut.


Pilar keempat, penuh dengan emosi bahagia.


Pilar kelima, penuh dengan emosi sedih.


Pilar keenam, penuh dengan emosi terkejut.


Dari ke enam pilar itu, hanya pilar keempat yang terbakar hebat oleh api.


Di tengah-tengah arena linhkaran itu, terdapat pria dewasa sedang dikrangkeng paksa. Kedua tangannya terbuka lebar karena rantai di pergelangannya. Kedua kakinya dirantai dan di tahan ke lantai arena.


Orang itu sudah seperti tahanan kelas kakap.


BRAK BRAK BRAK BRAK BRAK.


Sebuah suara langkah kaki mendekati pria itu.


Sampai akhirnya, sumber suara itu menunduk kepalanya untuk menatap wajah menyedihkan pria itu.


"Sepertinya masih lama untukmu untuk melihat hari pengadilanmu!" Sebuah suara yang dingin ia kebaskan pada wajah pria yang tertahan itu.


"Masih ada 5 pilar lagi untuk bisa sampai ke sini, sebaiknya kau persiapkan mentalmu... ahahaha ha ha!"


"Ini semua karenamu! Karenamu!" Sebuah teriakan sampai muncrat di arahkan.


"Ini karena kau..."


Orang yang mendatangi sang tahanan menahan kata-katanya dan menundukkan kepalanya.


Matanya tidak mencerminkan apa yang ada di depannya. Otot-otot di pelipisnya bergema seakan mengingat sesuatu yang mengerikan.


"Tenanglah, dia berjalan sangat lambat... Dan terlebih lagi, aku masih sama seperti dulu kala."


"Aku bisa berbicara dengan orang-orang lain layaknya sebuah sahabat atau partner... Tapi, saat berbincang dengan orang yang berhubungan darah denganku, aku malah langsung mengacaukannya."


"Kenapa itu terjadi ya?"


"Kenapa aku tidak bisa?"


"Padahal orang itu adalah yang bersama kita sejak lahir!"


"Hoy... Kenapa itu terjadi?"


"Aku pikir... bila aku maju dan mencoba menggaet tangannya, maka dia bisa menjadi lebih baik."


"Tapi nyatanya, bahkan tanpa bantuan uluran tanganku sekalipun, dia tetap bisa berjalan ke atas."


"Dia memang benar-benar berbeda dari kita berdua... Dia seperti sudah mengerti apa yang harus dilakukan di setiap situasi dan kondisi."


"Dia bisa mengubah-ubah emosinya layaknya mengubah playlist lagu!"


"Tapi, emosinya yang sebenarnya hanya terkumpul satu."


"Dan pilar ini adalah pembuktinya!"


Pengunjung itu berdiri dan merentangkan tangannya ke arah pilar-pilar itu.


"Itu... tidak... benar..." Pria tahanan itu akhirnya membuka suaranya meskipun terdengar lemah.


"Dia... bisa... bergerak... dan berubah... karena... tendangan awal... -mu..." Kepalanya memaksa dengan loyo untuk dihadapkan ke arah pengunjung yang membelakanginya itu.


"Tanpa dorongan awalmu... mungkin dia tidak akan bergerak se sentipun.... uhuk uhuk uhuk!"


Pria itu batuk beberapa kali, dia seperti sedang sakit.


Kira-kira berapa lama dia sudah di sini?


Sampai-sampai seluruh kulitnya berdebu dan kotor. Pakaian jubah putihnya robek-robek dan compang camping tak terurus.


Rambutnya gondrong ke belakang sampai menyentuh ujung arena.


Mendengar pujian dari tahanan itu, sang pengunjung memutarkan badannya dan menatap gelap sang tahanan.


"Wah wah wah... Lihat siapa yang memuji di sini?"


"Kau yang membuatnya jadi iblis seperti dengan nurani yang nihil, tiba-tiba bicara topik seperti itu?!"


Pengunjung mendekati tahanan itu.


Kini jarak mereka hanyalah sejengkal.


GRAK!


Suara tulang yang patah bahkan remuk.

__ADS_1


Pengunjung itu menendang dagu sang tahanan sampai menembus ke titik awal sistem pencernaannya.


Darah bercucuran dari lubang itu, tapi ada keanehan dari reaksi sang tahanan.


Dia seakan tidak merasakan sakit sama sekali meskipun sistem pencernaannya rusak.


Bagaikan, ini sudah terjadi selama berkali-kali.


"TCH! Lagipula, dia juga begini karena almarhum temannya!" Sang pengunjung menatap darah yang bercucuran ke lantai layaknya dengan emosi yang menggebu-gebu.


Tak lama setelah itu, kekuatan Anitya meregenerasi mulut dan dagunya yang hancur karena tendangan tadi.


"Lihat saja... Dia... bukan... Tapi... Adikku dan kau, Rasyid Londerik... Bisa mengetahui tempat ini... Dan saat dia tahu... Kau juga akan jadi korbannya!" Suara sang tahanan tiba-tiba terlihat fit dan mengeras sampai meniup rambut panjang sang pengunjung.


BRAK!


Sang pengunjung tidak membalas apa-apa selain menendang dagu sang tahanan lagi.


Tanpa pikir panjang, sang pengunjung berbalik dan meninggalkan tahanan itu sendirian lagi di sana.


Beberapa saat setelah pengunjung itu pergi, luka di dagu tahanan itu kembali meregenerasi.


Mulutnya perlahan membuka di kesunyian dunia awan itu.


"Kau hanya tidak suka menerima kenyataan, Rizki..."


Dia perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh ke pilar yang terbakar itu.


"Rasyid bisa mendapatkan emosinya kembali karena orang-orang disekitarnya."


"Dan karena itu, sebentar lagi dia akan dengan segera membakar pilar yang lain..."


"Sebuah drama besar akan terjadi padanya..."


"Kira-kira... Pilar mana yang akan menyala?"


"Pilar pertama, penuh dengan emosi marah?" Sambil menatap ke pilar pertama yang ada di kanan depannya.


"Pilar kedua, penuh dengan emosi jijik?" Sambil menatap ke pilar kedua yang ada kanannya.


"Pilar ketiga, penuh dengan emosi takut?" Sambil menatap ke pilar ketiga yang ada di kanan belakangnya.


"Pilar kelima, penuh dengan emosi sedih?" Sambil menatap ke pilar kelima yang ada di kirinya.


"Atau... Pilar keenam, penuh dengan emosi terkejut?" Sambil menatap ke pilar terakhir yang ada di belakang kirinya.


"Semua tergantung bagaimana caramu mengambil keputusan, Syid!"


Sebuah pidato yang cukup aneh ia sampaikan.


Namun, pidato-pidato itu akan membawa sang tokoh utama menuju tujuannya.


......................


Tu Tu TUU TU TU TUU TUTUTUTU


Suara bel masuk saat ujian terdengar berbeda dari biasanya.


Aku yang baru saja kembali dari jalan-jalan di sekeliling sekolah sekarang sudah kembali ke posku.


Dan untuk para penculik, mereka sudah mulai bersiap dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksi mereka.


"Pak Rasyid?" Suara seorang wanita memanggilku.


"Ada apa, Linda?"


"Anda dari mana saja?"


"Cuman jalan-jalan." Aku jujur.


Untuk tentang aku yang menguping pembicaraan pasangan politik itu, lebih baik diam saja.


"Memang enak, ya jalan-jalan di kelas-kelas?" Ryan bertanya di sampingku.


"Tidak... Tapi lebih baik ketimbang menunggu di pos yang tinggi ini."


"Tinggi?"


Tiba-tiba mulut Linda melengkung dan membentuk bulan sabit.


"Apakah anda takut ketinggian?" Ejeknya.


"Kenapa?"


"Bukankah kata-kata anda tadi adalah alasan yang sering dipakai oleh mereka yang takut akan ketinggian?"


"Benarkah?!" (Ryan)


"Tidak... Tidak sama sekali." (Aku)


Mulut Linda langsung miring dan cemberut.


"Kalau begitu..." Mulutnya normal kembali dan matanya melebar karena penasaran.


"Lihat!" Kepalaku didorong paksa untuk melihat ke bawah.


Sebuah ketinggian ini, bila tanpa Anitya, mungkin mereka akan mati.


Tapi sekarang, bila ada orang yang jatuh sekalipun dari ketinggian ini, mereka hanya mengalami trauma.


Aku menatap datar dasar lantai itu.

__ADS_1


"Eh, ternyata memang tidak takut, ya?" Linda akhirnya mengakuinya.


"Maaf ya pak..." Dia memasang senyum berkeringat sambil menepuk kedua tangannya.


"Tidak apa-apa..."


"Sasuga... Pak Rasyid, anda benar-benar berbeda sekali dari yang dulu!" (Ryan)


Kalimatnya tadi agak membuatku bertanya-tanya. Tapi sebaiknya sekarang aku menghiraukannya saja.


"Dulu?" Linda memegang pipinya dengan telunjuk.


"O-oh... Bukan apa-apa... Pak Rasyid hanyalah satu desa denganku saja. Makanya aku tahu, ahahahaha!" Ryan sepertinya tadi keceplosan.


"Oh satu desa?! Heh..." (Linda)


Aku tidak ingat siapa dia, atau memang aku yang melupakan sesuatu?


TIT TIT TIT


Suara ponselku tiba-tiba berbunyi.


Saatku angkat, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal tampil di layar ponselku.


Bip.


Aku menjawab panggilan itu.


"....."


"...."


"Kau... Adalah yang akan membayar ini semua..."


"Semua kebahagiaanmu... Akan kuhancurkan!"


"Jadi... Datanglah ke sini, dan hadapi aku..."


Ini pasti jebakan, suaranya yang seperti berbisik digunakan untuk menyamarkan suaranya.


Dia adalah orang yang paham dengan bagaimana sistem kerja Anitya.


BIP


Aku memutus paksa panggilan itu.


Tidak ada hal yang berguna bila aku ke sana. Aku bukanlah orang yang akan datang meskipun mereka membawa sandra sekalipun.


"Siapa?"


Ryan dan Linda dengan bersamaan bertanya padaku soal panggilan itu.


"Bukan siapa-siapa... Cuman mama minta pulsa."


Aku menipu mereka supaya tidak tegang.


NINGNUNG!


Lagi-lagi, ponselku berbunyi, kini bukan sebuah panggilan telepon melainkan sebuah chat.


Nama Saiful Baharuddin terpampang di layar itu.


"Pak Bahar?"


"Heh Pak Saiful?!" Mereka berdua terkaget dengan nama itu.


[Rasyid, muridmu diculik!]


"Heh?!" Aku memiringkan kepalaku.


Ini pesan singkat yang aneh.


Kenapa hanya muridku saja?


Dilihat dari reaksi kedua orang di sampingku, sepertinya mereka tidak mendapat pesan itu.


Berarti, para penculik itu benar-benar menantangku.


"Mu-murid anda dicu-(aku menutup mulut Ryan)"


"Sepertinya, para penculik benar-benar menantangku!"


"Pak Rasyid, apakah anda butuh bantuan kami?" Linda khawatir padaku.


"Tidak apa-apa, aku malah lebih baik bertarung sendirian." Aku menatap wanita itu dengan sayu.


Dengan kejadian ini, aku berjalan pergi meninggalkan pos ini.


"Bila anda butuh bantuan! Panggi kami! Ingat, anda tidaklah sendirian!" Ryan tiba-tiba meneriaki sebuah kata-kata yang membuatku nostalgia.


Mendengar kata-kata itu, aku menatap wajah pemuda itu dengan menundukkan kepalaku sekali.


"Ya, aku akan mengingatnya!" Ucapku padanya.


BAK BAK BAK BAK!


Aku berlari menuju ke tempat itu.


Tanpa diberitahupun, aku bisa tahu di mana mereka berada.


Kira-kira, jebakan apa yang akan datang padaku?

__ADS_1


__ADS_2