Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 102. Pelayan yang Memimpin pt.8


__ADS_3

Point of View: Hakam Surya


"Hwaghhhh!"


Aku terjun bebas dari ketinggian dan.


Gedebug!


Aku mendarat dengan sangat tidak mulus.


Kepalaku terbentur kerasnya keramik dan harus mengalami halusinasi seperti dunia yang kulihat bergetar dan berguncang.


"Apa kamu tidak apa-apa, Hakam?"


Seseorang memanggilku, suara itu terdengar khawatir padaku.


"Ti-tidak apa-apa..."


Sebenarnya orang buta saja tahu, kalau aku tidak baik-baik saja saat ini. Jatuh dari ketinggian lalu kepala mendarat duluan. Orang mana yang akan baik-baik saja saat mengalami itu.


"Ah, bisa aja bercandanya." Suara itu tertawa dan terdengar merdu di kupingku. "Sini biar kubantu!"


Suara itu mengulurkan tangannya padaku.


Saat ini aku masih dalam keadaan pusing, dunia di sekitarku masih berputar.


Layaknya orang mabuk, aku berusaha menangkap tangan yang diulurkan itu dan...


Sret!


Aku terpeleset.


Bukannya memegang tangan dari pemilik suara itu, aku malah berakhir memegang bagian pahanya.


Suara "Huh?!" Tiba-tiba bergema di sekitarku. Aku merasakan ada banyak suara yang berada di sekitarku.


Saat itu juga, penglihatanku mulai kembali dan melihat seorang wanita cantik sedang tersipu.


Mataku menatap dari wajah sampai ke pinggul, sampai akhirnya aku menyadari kalau aku menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya.


"Bu-Bu Fredrica, ma-maaf..." Sambil berlagak bodoh, aku mencoba meminta maaf.


Dari acara-acara yang pernah kulihat, ini adalah adegan di mana sang tokoh utama mendapatkan keberuntungan. Dan sebentar lagi aku pasti akan melesat ke ujung langit ketujuh karena ditendang atau dipukul olehnya.


Setidaknya, sebelum aku terbang. Aku bisa merasakannya.


Keempukan sesuatu yang ingin kupegang...


...


....


....


Tunggu, kenapa aku tiba-tiba menjadi orang yang mesum? Apakah ini kekuatan dari memegang sesuatu yang terlarang, atau merasakan keberuntungan protagonis sebuah acara?


Luruskan pikiranmu, Hakam! Aku ini pelayan berpengalaman, bukan seorang pemuda mesum.


Dengan menarik nafas dalam-dalam, aku berharap sifat itu segera hilang.


Namun, itu tidak terjadi. Aku masih merasakannya.


"Hakam..." Suara wanita itu terdengar kesal.


"Apa, bu?"


"Bisa lepas tanganmu dari paha, ibu?"


"E-eh... Bisa kok..." Aku melepas tanganku yang memegang paha guru itu. "Lihat! Gampangkan?"


Saat itu juga, aku menyadari. Kalau sifatku tadi tidak hilang karena aku tidak melepas tanganku yang tadi memegang pahanya.


Sial...


Aku malu setengah mati, belum lagi ada orang-orang yang melihat.


Tunggu?! Orang-orang?!


Aku seketika melihat sekitarku. Mataku mengamati sekitarnya dan kudapatkan ada banyak siswa dari kelas 2 Fisik 5 dan kelas 2 Fisik 4.


Kenapa mereka di sini?


Lalu kemana teman kelasku yang tadi Knock Out?


"Sudah selesai melihat-lihat sekitarnya?" Ibu Fredrica tiba-tiba bertanya padaku, di saat dia bertanya, dia memasang sebuah senyuman yang sangat kecut bahkan dari senyumannya saja aku bisa merasakan kalau dia ingin segera membuang senyuman itu dan mengubahnya menjadi tatapan wajah yang mengerikan.

__ADS_1


"I-iya... Ngomong-ngomong, kemana yang lainnya?" Aku mencoba bertanya, bukan karena peduli atau penasaran, namun ingin dengan segera kabur dari situasi memalukan ini.


"Mungkin sudah meninggalkanmu di belakang, atau lebih tepatnya. Sistem mesin mengalami malfungsi dan kamu salah teleport ke sini."


"Eh, eh...."


Aku ingin segera pergi.


"Ngomong-ngomong, kamu murid dari kelasnya Pak Rasyid, kan?"


Ibu Fredrica tiba-tiba bertanya padaku? Dan dia bertanya asal kelasku menggunakan nama Pak Rasyid.


Aku sudah tahu arah pembicaraan ini. Dia sepertinya sangat membenci Pak Rasyid sampai-sampai tatapannya semengerikan ini padaku.


Jujur saja, Bu Fredrica saat ini tersenyum padaku, tapi aku bisa merasakan aura yang sangat menakutkan tersembunyi di balik senyuman itu.


"I-iya..."


Iyakan sajalah, paling yang kena masalah juga Pak Rasyid.


"Mesum..." Dia tersenyum.


"Eh..."


"Kamu mesum, sama seperti Pak Rasyid."


"Hah?!"


Apa-apaan ini, ini penghinaan yang sangat menyakitkan bagiku.


"Bisa berdiri?"


"I-iya." Aku berdiri menurutinya, meskipun tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Berbalik."


"(Berbalik)"


Aku merasakan akan adanya serangan yang akan datang.


Aku merasakan sebuah elemen angin yang terkumpul di belakangku.


Dan sepertinya bukan hanya itu saja, ada juga asap hitam yang mengepul keluar dan melewati kepalaku.


"DASAR MURID DARI GURU MESUM! TERNYATA ANAK DIDIKNYA JUGA IKUT MESUM!"


GUBRAK!


Aku terlempar sampai ke langit ke tujuh.


Sepertinya aku akan membutuhkan waktu untuk mendarat. Dan itu pasti bukanlah pendaratan yang mulus.


......................


Point of View: Moka Mahama


Aku, Stevent, dan 4 regu lainnya sedang bersiap di tempat.


Jika dilihat dari arah menghadap singgahsana itu, aku dan 2 reguku berada di kanannya, dan Stevent dan 2 regunya ada di kirinya.


Kami semua menunggu kedatangan Hakam dan yang lainnya.


Tapi...


Ini sudah cukup lama, aku bahkan tidak bisa merasakan adanya tanda-tanda mereka akan sampai ke sini.


Kemana mereka?


Bahkan aku tidak bisa merasakan adanya gebrakan-gebrakan kaki yang berjalan kemari.


TAK...


TAK......


TAK..........


Aku mendengarnya!


Suara langkah kemari yang datang ke ruang tahta, tapi kenapa aku merasa sungguh aneh.


Langkah kaki itu berjalan tanpa adanya suara kaki lain yang menyertainya. Suara itu seperti sendirian.


Apakah jangan-jangan?!


Dalam diriku, aku langsung memikirkan banyak hal buruk yang menimpa mereka saat kemari.

__ADS_1


Seseorang berjalan dan memperlihatkan bayangannya yang menutupi cahaya luar. Bayangan itu semakin membesar dan membesar sampai memperlihatkan wujud aslinya.


Seorang siswi berdiri sendirian di sana.


Siswi?! Itu Sophia!


Apa yang dia lakukan sendirian di ruang tahta?! Kemana yang lainnya.


Aku langsung menatapi seluruh murid-murid dari kelas lawan. Ekspresi mereka yang tadi takut berubah menjadi menyengir bahagia.


Ternyata, begitu...


Aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi.


Tapi aku harus mengatakannya.


Mereka masuk dalam perangkap dan hanya menyisakan Sophia seorang di-


Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mengejar ke dalam ruangan tahta itu.


Rizal?!


Dia datang dengan wajah yang tergesa-gesa dan dimandikan keringat. Nafasnya menjadi tidak teratur, dan matanya menatap tajam ke arah Sophia. Dia ingin memaki, menegur, bahkam berteriak ke arahnya. Namun keberaniannya seakan ciut karena sesuatu.


Ternyata begini, ya akhirnya?


Aku tidak tahu langkah apa yang harus kulakukan selanjutnya.


Sekarang komando terpecah setelah Hakam mengalami Knock Out.


Antara aku, Stevent, dan Sophia...


Siapa yang akan mengambil langkah awal untuk menyerang?


Tunggu, kemana Gita?


......................


Point of View: Luna Gita Lestari


Aku berjalan berkeliling di atap istana.


Bukan berarti aku bolos ujian atau lain-lainnya.


Aku hanya harus menyelesaikan misiku saja.


Saat ini ada sebuah panggilan masuk ke alat komunikasiku. Jadi aku terpaksa mengangkatnya.


"Yare-yare... Tak kusangka hal seperti ini akan terjadi." Aku menatap ke langit, tepat ke arah ruangan transparan yang dipakai lawanku untuk mendeteksi setiap gerakan kami di gerbang taman istana tadi.


"******"


"Siap akan kukerjakan!"


Aku menjawab permintaan pimpinanku dengan tegas dan lirih.


Dengan segera, aku mengaktifkan pageblug-ku dan membidik assault rifle-ku ke arah ruangan transparan itu.


DOR DOR DOR!


Tiga tembakan keluar hanya dalam satu kali tekan dari pelatuknya.


CKRAK!


CKRAK!


CKRAK!


Tiga tembakan peluru tadi mengenai bagian inti dari ruangan transparan itu. Tak lama setelah itu, jago merah muncul dari dalam ruangan dan membakar seisi ruangan.


"Tidak lama lagi benda itu akan jatuh, sebaiknya aku segera bergegas kembali ke timku." Aku berbalik dan berjalan santai ke arah tempatku yang seharusnya.


"Semoga saja tidak ada yang Knock Out saat ini, karena sistem pasti sedang malfungsi untuk sementara."


Karena kalau ada yang Knock Out sekarang, mereka pasti bertelportasi ke tempat yang tidak seharusnya.


Minimal, 5 menit setelah tembakan. Jika ada yang Knock Out kurang dari itu, maka mereka akan terbawa seperti yang kukatan tadi.


JDAR!


Tiba-tiba aku melihat sesuatu melesat ke udara bagaikan roket.


"Apa itu?! Entahlah, palingan cuman orang beradu kekuatan Anitya."


Jangan pikirkan sesuatu, terus saja jalan dan kembali ke tujuanku.

__ADS_1


__ADS_2