
Point of View: Kanda Sophia
DUAR!
Gerbang pertama telah di buka, para murid yang berada di bawah perintah Hakam masuk dan melewati gerbang itu.
"Maju! Jangan lupa untuk berhati-hati saat masuk!"
Anak itu memberi arahan dengan sangat baik. Tak kusangka, dia dengan cepat mengganti rencana dan memutuskan rencana yang benar-benar efektif untuk saat ini.
Aku sangat iri sekali dengannya, dia diberi kesempatan untuk bersinar dan memimpin kelas ini.
Sedangkan aku.
Aku bahkan dilupakan oleh teman-teman sekelasku. Untungnya, murid-murid dari bawahan Pak Rasyid masih mengingatku.
Cukup dengan itu saja...
Cukup dengan itu saja aku masih bisa hidup di sekolah ini.
"Hey, Sophia!" Sebuah suara tiba-tiba mengembalikanku ke dalam medan tempur ini.
Saat kutoleh dan kulihat, rupanya hanyalah seorang laki-laki berkacamata yang hidup dalam kemewahan keluarga kerajaan.
"A-apa..."
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku sekarang, tapi aku merasa kalau suaraku sangat pelan dan tak bertenaga.
"Cepatlah! Kau tertinggal di belakang!"
Saat mendengarkan pernyataan itu, mataku membuka lebar-lebar, mulutku terbuka dan menganga. Seketika aku reflek melihat sekitar dan tidak menjumpa siapapun selain aku dan Stevent di sini.
"Eh?! O-oke... Ayo maju...!" Aku mengatakan kalimat perintah, namun aku tidak merasa cara pengucapanku benar. Suaraku tadi terdengar lemas.
Dengan begitu, aku dan Stevent berjalan dan memasuki gerbang.
Saat melewatinya, kami langsung disambut dengan sebuah peperangan yang tidak diduga-duga.
"Hyaghh!"
"Rasakan ini!"
"Makan pedangku!"
Ada sekitar 10 siswa dari kelas lawan yang berada di sana dan sedang bertarung melawan kelas kami.
Meskipun jumlah mereka kalah banyak, namun mereka tetap bisa membuat kelas kami dalam keadaan terjungkal.
JLASSS!
Di saat itu juga, aku menyadari ada sebuah anak panah yang melesat ke arahku, namun semangat dan kehendakku terlalu lemah. Aku terlalu lemah untuk hanya menghindari anak panah itu.
"Sophia!"
Slash!
Tepat saat anak panah itu mau menusukku tepat di kepala, sebuah pedang tiba-tiba membelah dan menghentikan anak panah itu. Posisiku yang akan tereliminasi berhasil dicegah.
"Woy, kau ini kenapa?! Kalau kau tidak punya kehendak bertarung, maka sebaiknya kau jangan masuk dalam pertarungan ini!" Laki-laki itu mencaciku.
Aku tidak marah padanya, itu adalah hal yang normal. Terlebih lagi aku sudah membuatnya menjadi pengawal pribadiku.
Tapi...
Keluar dari medan tempur bukanlah jalan yang selalu kupilih.
Sejak kejadian itu, aku tidak mau kabur. Bila aku melakukannya, maka aku akan dicap rendahan, bukan hanya pada mereka yang di sini, melainkan juga mereka yang ada di bawah tanah.
"Baik, aku akan melakukan apa yang kubisa..."
Mungkin ini adalah awal dimana aku harus membuat diriku terlihat. Bukan untuk Stevent, Hakam, Moka, atau teman-teman kelasku, apalagi un-untuk guru itu, ini semua demi diriku sendiri.
Saat itu juga, aku melihat ke arah teman-temanku yang sedang berjuang.
Sudah ada sekitar 6 murid yang sudah tereliminasi dari sisi kelas ini, namun aku tidak melihat satupun dari kelas lawan yang hilang.
Aku merasakan sesuatu yang menganggu pikiran, mungkin saja.
Hanya mungkin, ingat itu!
__ADS_1
Mereka menggunakan trik itu...
Seketika, aku menyiapkan sebuah sihir es yang sangat besar dan berbentuk seperti jarum ke arah atas.
Bukan ke balkon istana ataupun mereka(lawanku).
Tapi ke udara!
"Apa yang akan kau lakukan, Sophia?!" Stevent berteriak ke arahku. Dia tidak tahu apa yang sedang kurencanakan, tapi dia sadar kalau aku sudah mulai serius.
......................
Point of View: Hakam Surya
Musuh melawan dengan sangat hebat, satu persatu timku mulai kelelahan dan tumbang.
Kekuatan mereka bahkan harus membuatku langsung mundur untuk beberapa saat.
Jika aku mengandalkan kekuatan Anitya, maka butuh sekitar beberapa menit untuk pulih.
"Tch, apa yang membuat mereka kuat seperti ini?! Padahal kalau main jumlah, kamilah yang menang!"
Pasti ada yang aneh, tidak mungkin tidak.
Mereka bertarung layaknya tahu setiap lawannya.
Mereka bertarung layaknya sudah tahu dimana lawannya.
Mereka bertarung... Layaknya mereka sudah bisa melihay segalany, bahkan masa depan sekalipun.
"Tidak, aku tidak boleh berpikir lebih... Ini pasti cuman pikiranku saja yang tidak normal."
Ya itu pasti, itu cuman pikiranku saja.
Dengan pemikiran itu, aku maju sekali lagi dan masuk ke dalam medan pertempuran. Luka yang ada dalam pada diriku masihlah belum sembuh, tapi aku ingin sekali lagi saja memastikan apa yang sedamg terjadi saat ini.
"HYAGH!"
Slash!
Aku menebaskan lawanku yang sedang bertarung melawan salah satu temanku dari belakang dengan halberd-ku, namun bagaikan punya mata dari belakang.
Keadaan diperparah dengan aku yang gagal menghentikan seranganku.
SLASH!
Aku yang gagal menghentikan halberd-ku berakhir menebas tim ku sendiri.
Namun...
Pang!
Teman kelasku yang hampir kutebas mengambil posisi bertahan dan memantulkan seranganku.
"Maaf...!"
Aku tidak bisa mengatakan hal lain selain itu.
Aku sudha terlalu ceroboh bahkan hampir membuat timku celaka.
"Cih, dasar anak bodoh! Untung aku cepat bertindak!"
Suara makian itu?!
Aku tahu siapa pemilik suara itu.
Saat kutengok wajahnya. Dia memang orang itu, atau lebih tepantnya gadis itu.
Manila.
Salah satu gadis yang bersama Rizal dan Yama, atau bisa kubilang, dia adalah salah satu haremnya laki-laki itu.
Ah, bikin iri saja setiap kali mengingat nama laki-laki itu.
"Ma-maaf..." (Aku)
"Cuman maaf?! Kau tahu kita ada di tengah-tengah pertarungan, jika kau tidak menghormati tim mu maka kau akan-" (Sebuah anak panah menancap ke lehernya)
Gadis itu seketika pingsan dan K.O dari pertarungan.
__ADS_1
"Bodoh, justru kaulah yang melakukan apa yang kau sendiri larang!"
Aku tak kuasa melihati kebodohan siswi ini, aku bahkan setengah tertawa melihat keancritan ini.
Tapi tetap saja...
Dia membuat sisa kelas menjadi tersisa 19 siswa!
Bagaimana caranya?!
10 lawan 19.
Sungguh menyusahkan saja.
Aku harus segera memikirkannya, sesuatu yang mungkin bisa atau ampuh untuk sekarang.
Tim kami sudah kewalahan padahal baru melawan bagian tamannya saja. Belum lagi masih ada 17 siswa lagi di dalam kastil.
Tapi, tiba-tiba sesuatu yang di luar kepala terjadi...
DUAR!
Sebuah jarum es melesat ke udara dan menghantam sesuatu yang ada di atas.
Menghantam?
Bukankah itu artinya ada sesuatu di sana?
Tunggu, jika memang begitu, maka...
Krak!
Sebuah retakan muncul di langit.
KRAK!
Retakan semakin besar dan memperlihatkan dalamnya.
Ada seperti sebuah ruangan bulat di udara, dan ada orang di dalamnya.
Saat retakan semakin besar dan besar.
"Gyah!"
Orang itu terjun bebas tanpa adanya pengaman atau apapun di tubuhnya.
GUBRAK!
Jatuh dari ketinggian segitu, tidak mungkin dia selamat.
Seketika, laki-laki itu K.O dan dinyatakan tereliminiasi.
Terkejut, itu adalah yang kurasakan sekarang.
Mataku langsung menoleh ke arah pemilik jarum es itu, dan menatapnya seperti ketakutan.
Sophia menatap laki-laki yang baru saja dia buat K.O dengan tatapan pernuh kepercayaan.
"Oracle kalian sudah kalah, kini kalian bukanlah siapa-siapa selain murid lemah," ucap Sophia sambil perlahan melengkukan mulutnya.
Senyuman itu diarahkan ke lawannya, tapi kenapa aku juga merasakan dampaknya?
Apakah ini karena aku terlalu mengasihani lawanku?
Bukan!
Ini terjadi karena aku dan yang lainnya baru saja melihat Sophia dengan cara yang berbeda, Sophia yang sebelumnya pendiam seketika ikut andil dalam peperangan tanpa disuruh.
Hal itu memberikan sumber ketakutan pada kami, namun...
Aku adalah temannya, dan juga orang yang sama paham tentang guru itu.
Aku harus percaya pada Sophia!
Perlahan aku ambil nafas dalam-dalam, dan langsung kukeluarkan semua dari tenggorokan.
"MUSUH SUDAH MELEMAH! SAATNYA MENYERANG BALIK!"
Aku memberi perintah dengan suara yang sangat keras.
__ADS_1
Ini adalah kesempatan emas bagi kami.