Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 136.


__ADS_3

Di tengah pertempuran yang kacau, arena pertarungan yang merupakan reruntuhan sekolah yang tandus seketika berubah menjadi dihujani salju yang dingin.


Setelah berubahnya cuaca di tempat ini, aku tidak merasakan adanya serangan yang datang ke arahku.


Apakah mereka menyerah, atau karena...


Aku melihat dua perempuan yang baru saja mendarat di depanku. Mereka menatapku dengan kosong seperti sedang menunggu perintah seseorang.


Di dekatku juga tergeletak tubuh gadis yang sudah tidak bernyawa. Gadis yang dulu kusebut pacar.


Saat melihat wajahnya yang sudah tidak bereaksi itu, aku bingung mau bereaksi seperti apa. Dia mati demi melindungiku, namun sebenarnya aku tidak membutuhkan perlindungan itu.


Dari bagaimana dia bergerak dan berdiri di depanku. Aku berkesimpulan kalau dia bergerak bukan atas dasar dari nalurinya, namun atas perintah seseorang.


Apakah ini adalah yang disebut-sebut mereka sejak tadi?


Kalau aku telah mengendalikan Sophia, Dahlia, dan Haran sampai membuat kerusakan parah di sekolah.


"Hey, apa kalian berdua mendengarku?" Aku mencoba memastikan kondisi mereka berdua.


"Hmm..." Mereka berdua mengangguk tanpa berekspresi.


Tch, ternyata yang mereka katakan memang benar.


Tapi apa yang membuat mereka bertiga jadi begini?!


Aku harus segera melepaskan mereka, bila tidak, hal yang terjadi pada Dahlia akan terulang lagi.


Apakah ini efek dari sihir KODE saat itu?


"Kalian berdua, berhentilah! Jangan membuat badai salju yang berketerusan!" Aku mencoba mencairkan suasana dalam artian sungguhan.


Ini akan buruk bila aku terus-terusan mendinginkan semua orang yang ada di sini.


Tak lama setelah kuperintahkan, salju yang terus menghembuskan keluar dari mereka mulai kian mereda sampai berhenti total.


Para guru yang bersembunyi di balik perlindungan sihir mereka mulai mematikan sihir yang mereka aktifkan dan mengintip ke arah tempat di mana aku berdiri.


Mereka semua terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Wajah bertanya 'kenapa aku menghentikan badai salju ini' terlihat di seluruh wajah mereka.


Aku mulai melirik mereka semua satu persatu di saat mereka terdiam tak berbicara melihatku dan kedua perempuan di dekatku.


"Kalian semua!" Aku mengeraskan suaraku sampai semua kuping mereka mendengarnya. "Aku berikan kalian kesempatan untuk mundur dari sini! Aku juga akan berjanji untuk mengampuni nyawa kalian! Jadi, cepat pergilah!"


Aku tidak mau membuat orang-orang mati lagi di tanganku. Sudah cukup di masa lalu saja aku melakukannya. Aku bahkan sudah bersumpah pada seseorang.


Tapi kenapa aku mengulang kesalahan yang sama?!


Aku seketika tersadar pada diriku yang sudah berucap selamat tinggal pada temanku.


Aku tidak mau lagi kembali ke masa laluku yang suram. Masa dimana aku membunuh manusia bagaikan seekor semut.

__ADS_1


Aku bahkan sudah bersedia mati untuk melindungi muridku.


Tapi kenyataannya, sekarang di dekatku terdapat salah satu murid dari sekolahku yang tergeletak tak bernyawa karena ulahku.


Aku membiarkan diriku dimakan oleh api kekesalan. Kekesalan yang berasal dari dalam diriku yang membenci kedua kakakku itu.


Aku membiarkan diriku yang terdalam terbakar dan membuat tiga korban sihir KODE-ku menjadi seperti ini.


Ayolah, pergilah! Aku tidak mau membunuh lebih dari ini!


Perlahan langkah demi langkah mundur dari reruntuhan sekolah ini. Mereka yang masih selamat mulai mempertimbangkan kesempatan yang kuberikan ini.


Mereka tidak mau lagi berurusan denganku. Melihat teman-temannya yang terbunuh secara gampang membuat mereka takut padaku.


Inilah yang seharusnya mereka rasakan, inilah sebagaimana mestinya mereka melihatku... Sebagai iblis yang tak tersentuh oleh mereka.


Reruntuhan sekolah mulai dikosongkan, mobil-mobil yang parkir sembarang mulai berputar balik dan pergi, helikopter-helikopter mulai memutarkan baling-balingnya dan menjauh, pesawat-pesawat yang melayang di udara berputar 180° dan pergi meninggalkanku.


Aku hanya bisa melihat mereka dengan terengah-engah sambil tersenyum kecil.


"Ini sebagaimana seharusnya, aku tidak mau melihat mereka menderita lagi." Aku bersyukur karena aku tidak harus mengotori tanganku lebih dari ini.


Tapi sepertinya yang tadi itu hanyalah bagaikan ronde kedua dari pertarungan boss rush.


*Clap! *Clap!


Suara tepuk tangan terdengar dari dekatku.


Seorang pria berkulit gelap dengan pakaian putih, kacamata hitam, dan topi koboi itu belum meninggalkan reruntuhan ini.


"Kerja bagus karena sudah membuat mereka mundur, Rasyid." Tesi bersama dengan Widodo berjalan ke arahku sambil memujiku secaea sarkas. "Kami tidak menyangka kalau mereka akan mundur hanya dari gertakanmu."


"Bukan dari gertakan, tapi dari aksinya." Widodo dengan mengejek menegaskan yang sebenarnya terjadi.


"Aku tahu... Mereka semua kabur bukan karena aku menggertak mereka, tapi karena mereka semua ketakutan melihatku."


Aku tidak tahu apa yang harus kukatan padanya, apakah kebohongan, atau kebenaran.


Aku sudah lelah untuk memikirkan itu.


Mereka semua kabur karena melihatku membantai teman-temannya, aku sudah tahu itu!


Tidak perlu diulang-ulang lagi!


"Kalau kau sudah tahu, berarti kau tidak merasa bersalah dengan kejadian ini?" (Widodo)


Dia mencoba menyudutkanku.


"Hah, persetan dengan pertanyaanmu! Apa yang kau inginkan? Kau pasti ingin sesuatu dariku, bukan?" Sejak awal aku sudah bisa melihat muslihatnya. "Informasi yang berkaitan dengan Nova."


Saat nama itu kusebut, matanya sedikit melebar dan menandakan kalau tebakanku benar.

__ADS_1


"Oh, kau cepat tanggap juga rupanya..." Dia memujiku dengan mengangkat topinya. "Tapi sayang sekali, aku sudah tidak mungkin bisa mendapatkan informasi itu darimu, bukan?"


"Bagaimanapun, kami berdua akan tetap mati bila mencoba mendekatimu." Tesi melanjutkan kalimat Widodo. "Jadi mencari informasi tentang nenek itu kini sudah tidak penting lagi."


"Hah, lalu apa tujuan kalian tidak pergi dari sini?!" Aku tidak mengerti dengan maksud kedatangan mereka ke sini.


Pertama mereka membawa para guru ke sini, kedua mereka membiarkan guru-guru itu kabur dari sini setelah beberapa dari mereka terbunuh, lalu sekarang mereka mencoba bertatap muka denganmu tanpa adanya tujuan sama sekali.


"Memberi hukuman mati, mungkin?"


"Hah?!"


Aku seketika melongo tidak paham dengan ucapan pria koboi itu.


"Hukuman mati? Maksudmu mereka berlima?" Aku seketika mengingat skema kotor yang mereka rencanakan sesaat di bawah flyover itu.


"Hmm(mengangguk), benar sekali. Mereka adalah orang yang ingin kubersihkan dari daftar nama sekolah." Dengan melepas kacamatanya dan menaruhnya di kerah, Widodo tersenyum menyeringai sambil mengipas-kipaskan tangan kanannya ke arahnya seperti orang kepanasan.


Aku yang mendengar pernyataan itu semakin tidak bisa mencernanya.


Dia rela membuat skenario seperti tadi dengan memanfaatkan kekacauan yang terjadi di sekolah hanya untuk ini.


"Dan apakah Vicky juga salah satunya?!" Sesuatu terbesit di kepalaku.


Jika ini adalah hukuman mati bagi mereka, jadi apakah Vicku juga orang dalam daftar itu?


Saat aku bertanya mengenai pria itu, Widodo memasang wajah suram dan melihat ke arah tubuh Vicky yang sudah tertutup salju dan tak bernyawa itu.


"Sayang sekali, dia bukan... Tapi dia tetlalu percaya diri dan memaksa ingin melawanmu duluan! Dan karena aku tidak mau skemaku terbongkar, maka aku mengiyakan dan menganggap dirinya sebagai penyempurna skema ini."


Dia mengatakan sesuatu yang gila, bahkan tidak manusiawi sama sekali.


Ingin sekali aku mengatakan "Kau gila, dimana rasa kemanusiaanmu itu?!", namun dengan bagaimana kondisiku sekarang, perkataan tadi jadi tidak berbobot sama sekali.


"Ini juga terjadi pada gadismu yang di sana..." Dia melihat ke arah Dahlia yang terbairng tak bernyawa. "... Dia mati sia-sia untuk menyelamatkanmu, padahal kau-nya saja bisa menghindar dengan sangatlah cepat."


"Bisa dibilang, ini adalah beberapa bagian yang disebut improvisasi. Widodo sebenarnya tidak mau ada korban lain selain mereka berlima, namun keadaan seketika berubah, dan ini semua menjadi kacau seperti ini." (Tesi)


Aku hanya bisa menyeringai bodoh saat mendengar penjelasan itu.


Orang ini bukan hanyalah orang lintar biasa, dia bahkan membuat skenario dimana orang melakukan seperti yang dia inginkan.


Dan sebentar lagi...


"CODE NAME: WDDSRY-"


Saat aku mau menggunakan sihir KODE, Widodo memotongnya dengan sedikit mengejek.


"Apa kau mau membunuhku seperti yang lain? Lakukanlah!" Widodo merentangkan kedua tangannya seperti siap untuk disasar kapan saja.


Kenapa dia berserah diri seperti itu?!

__ADS_1


Lalu kenapa Tesi diam saja melihat temannya mau kubunuh?!


Apakah ini memang skenarionya?


__ADS_2