Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 116.


__ADS_3

Kenapa ini bisa terjadi?


Kupikir aku sudah berada di posisi aman... Tapi kenapa?


Kenapa ini tiba-tiba bisa terjadi padaku?


Saat melihat posisi ranking kelas di ujian sekolah ini, aku terbelalak dan mencoba menahan ponselku yang bergetar karena tanganku.


"Kenapa ini bisa terjadi? Siapa dalang dibaliknya?"


Aku terus berdiri sambil terdiam, namun tubuhku tidak bisa berbohong kalau aku sedang panik.


Kedua kaki dan tanganku bergemetar, langkah mundurku mulai bergerak, dan sampai...


Brak!


Aku terbaring di kasurku yang mewah dan diselimuti oleh ornamen-ornamen mewah.


Saat melihati langit-langit ranjangku, aku mulai berhalusinasi yang aneh-aneh.


Gambar ukiran kayu berbentuk wajah wanita itu tiba-tiba berubah menjadi wajahnya.


Wajah dua orang yang mungkin saja salah satunya adalah pelakunya.


Aku yakin itu, salah satunya pasti terlibat saat ini.


"Apakah itu ulahmu, Tyas? Atau ulahnya, Widya?"


Dua nama itu seketika muncul di kepalaku.


Mereka berdua, yang seharusnya ada di sisiku, sekarang malah menjadi lawanku.


Bukan hanya karena aku mencampakkan Tyas demi Widya, namun juga karena aku mengingkari janji Widya denganku.


"Xander..." Aku memijat-mijat bagian di antara kedua mataku. "Apa yang harus kau lakukan sekarang? Bukankah kau adalah orang yang paling bisa diandalkan di antara mereka?"


Beberapa ide kucoba untuk keluar.


Namun... Hasilnya kosong.


Apa yang bisa kulakukan di situasi seperti ini?


"Gyaghhh!"


*gubrak!


Aku membanting ponselku ke dinding kamarku, berharap kalau emosiku bisa hilang, namun sepertinya itu sia-sia.


Emosiku malah bertambah, ponselku sekarang hancur.


"GYAGHHH, KENAPA INI TERJADI?!"


Ini tidak mungkin, kan?


Posisi terakhir?!


Bagaimana nasibku?!


Bukan hanya diriku, tapi juga murid-muridku. Mereka pasti akan dalam masalah besar sekarang.


Tch, persetan dengan nasib mereka, yang kupentingkan sekarang adalah bagaimana cara menyelematkan diriku dulu dari kehancuran.


"Ini gawat, ini gawat!"

__ADS_1


Aku bisa dipecat bila berada dua kali dalam posisi ini.


BRAK!


Pintu kamarku dibuka paksa oleh seseorang, saat dia berdiri di pintu itu, dia melihatku dengan mata yang lebar, dan nafas yang terengah-engah. Kacamata yang dia pakai hampir terjatuh dari tempatnya, namun dengan segera dia benarkan saat melihat kondisiku yang sekarang.


Dia adalah adikku yang tidak tahu harus kuanggap berguna atau tidak, namun dengan adanya dia yang menyerobot masuk ke sini, berarti dia akan kuanggap tidak berguna.


"Kakak, apa yang terjadi padamu?!" Dia bertanya dengan nada yang menyentak, matanya bergemetaran seperti takut kehilangan diriku ini.


Entah kenapa... Entah kenapa... Aku sangat ingin memukul seseorang hari ini.


Kedua tanganku mengepal kuat, aku mencoba bangkit dari kasurku dan berjalan ke arah adikku itu.


"Kakak?! Apa yang akan kau lakukan?!" Dia bertanya pada gelagat anehku.


Sebagai adik dia seharusnya sudah tahu maksudku, tapi dia malah sok bodoh dan terus bertanya hal yang sama berulang-ulang secara terus-menerus.


Bogemku kuangkat dan siap kulesatkan padanya. "Memberi pelajaran padamu, adikku sayang."


Dengan nada suara yang dingin dan penuh kehancuran, aku melayangkan tinjuku pada adikku sendiri.


Terlihat wajah ketakutannya sangat menjijikkan saat sebelum kuhantam dan mendisiplinkannya.


......................


Point of View: Rasyid Londerik


Bip bip bip...


Suara alarm dari ponselku membangunkanku seperti biasa, dia tidak pernah telat dalam urusan merusuhi mimpi indah seseorang.


"Hari minggu?"


Aku sudah sedikit lupa dengan hari, atau mungkin memang tidak terlalu mempedulikannya?


Entahlah, mungkin akunya saja yang parno-an.


Aku turun dari kasurku dan memulai hari dengan seperti biasa.


Mandi, ganti baju, dan lalu makan...


Rutinitas yanh berulang itu tidak pernah berubah sedikitpun, kecuali...


"Benda apa ini?" Aku bertanya-tanya pada kotak paket yang dilakban dengan ketat ini.


Benda itu berdiri tegak di atas meja makan dan terlihat sangat besar.


"Mungkin ini punya Rizki..." Aku mencoba melihat nama pengirim dan penerimanya.


Namun, semua itu seketika hancur dan berubah menjadi kekecewaan.


Nama pengirim: Madu Haran


Nama penerima: Rasyid Londerik


"Ke-kenapa dia mengirimkanku paket sebesar ini?"


"Apakah kakakku juga melihatnya?"


Saat mengatakan itu, aku menoleh ke kamarnya dan ke arah dapur tempat dia biasa memasak, namun tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Itu artinya dia melihatnya, dan tidak peduli dengan isinya..."

__ADS_1


Ya, itu adalah kemungkinan paling tepat yang bisa terjadi sekarang ini.


Seharusnya dia akan sedikit shock, atau kaget saat melihat nama Madu Haran terpampang di nama pengirim itu.


*Pesan masuk


Ponselku berdering dan memperlihatkan sebuah pesan aneh.


"Di-dia benar-benar pembaca pikiran..." Aku semakin takut setiap kali memikirkan namanya.


Dia tiba-tiba mengirim pesan tepat saat aku melihat dan bertanya soal paketnya.


[Yo, juniroku yang imut, tak kusangka eksperimen akan berjalan cepat, bahkan terlalu cepat malah... Eksperimen setengah modal ini berjalan dengan baik, dan telah berhasil.]


[Sekarang ini tinggal masa uji coba, jadi, sebagai honorable mention, aku membiarkanmu mencoba duluan hover shoes ini(>_<)]


[Selamat mencoba, gyaughhh(suara macan bila kau tidak tahu)]


Dia sangat berbeda bila berada di dunia maya, bahkan aku tidak bisa bilang, kalau orang yang baru saja mengirimiku pesan dan orang yang bermata merah kemarin adalah orang yang sama.


[Terimah kasih atas kebaikan anda, Kak Haran (•°_°•)]


[Saya akan segera mencobanya, semoga saja ini tidak membunuhku (T-T)]


*kirim


Aku mencoba sedikit bercanda pada wanita itu, entah kenapa, enak saja bila bercanda dengannya, aku merasa nyaman saat bersamanya.


*pesan masuk


[Tenang saja, jika meledak dan membuatmu jatuh dari ketinggi 30 km di atas permukaan laut pun tetap tidak akan bisa membunuhnu! Ahahahaha (^_^)]


Ini terlalu mengerikan bila beneran terjadi.


***


Dengan perlahan dan hati-hati, aku membuka isi paket itu, aku tidak mau tiba-tiba merusak barang yang baru saja diberikan padaku.


Belum lagi benda ini masihlah prototipe-nya.


"Hati-hati... Sedikit kesalahan, maka aku akan ada dalam masalah..." Aku mengambil nafas dan mengencangkan nafasku dalam-dalam.


Saat sudah kuanggap siap, aku menarik tangan kananku ke atas seperti sedang mengayunkan pedang ke atas.


Slash!


Dengan tebasan angin yang sangat, aku berhasil membelah paket itu menjadi dua.


"Yap, sungguh suatu kehati-hatian yang sangat bagus..."


Memuji diri sendiri bukanlah bentuk dari kesombongan, kan?


Paket yang terbelah menjadi dua itu langsung terbaring menyamping seperti sandwich yang diberdirikan.


Di dalam paket itu terdapat sepasang sepatu yang sama persis seperti yang kulihat kemarin, dan di sisi lainnya terdapat jaket besar mirip seperti yang di pakai pemadam kebakaran.


Jadi ini, semua barang yang akan akan memberi kejutan pada dekade ini?


Bila dilihat-lihat, apa yang Erika katakan tadi malam benar-benar valid, kedua benda ini terlihat seperti mainan anak-anak bila terus dipelototi.


Tunggu, apakah ini adalah barang yang sama seperti yang dibawa Erika kemarin?


Semoga saja bukan...

__ADS_1


Dia bilang padaku untuk mencobanya, maka atas permintaan itu. Aku dengan senang hati akan melakukannya.


__ADS_2