
Di tempak bekas bangunan yang hancur dan terbengakalai, pria itu berdiri menatap ke langit siang yang ada di atasnya.
Tidak ada rasa sakit akan kebutaan atau apapun saat melihatnya.
Dia menatapi itu, seakan tahu...
Ini adalah hari terakhirnya melihat cerahnya dunia yang keji.
PRAK! PRAK! PRAK!
Pria itu memberi tepuk tangan padaku yang berdiri di belakangnya.
"Sudah kuduga, nenek itu pasti akan segera menemukanku, atau lebih tepatnya aku sudah ketahuan sejak awal?" Ucapnya sambil membalikkan badannya dan menatap tepat ke mataku.
Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan pageblug-ku dan mengarahkan Curved Sword-ku padanya.
"Hoy-hoy, apa kau mau langsung menyelesaikannya?"
"Nanti ceritanya cepat habis bila kau begitu..." ucapnya sambil bernada mengejek dan seperti meniupkan fakta.
Sebaiknya aku dengarkan apa yang pria ini mau katakan dulu, lagipula aku yakin dia tidak akan bisa kabur dari sini.
Karena aku tidak mungkin melakukan kesalahan dua kali.
Lingkungan, atau bahkan seluruh tempat reruntuhan bangunan ini sudah kupasangi sihir KODE dan kubah petir, jadi tak ada sihir maupun manusia yang bisa keluar di tempat ini.
Aku menggerakkan sedikit senjataku ke atas, menandakan kalau aku menyuruhnya meneruskan celatunya.
"Wah... wah... Terima kasih... Terima kasih..."
"Kau adalah orang yang baik hati, ya?"
"Untuk standar seorang eksekutor sepertimu..." Ucapnya sambil melirik pedas ke arahku.
Aku tidak memberi tanggapan apapun saat ini, dia masih dalam batas wajar.
Makhluk ini akan kutebas bila dia sudah kelewatan saja, dan terlebih dia saat ini hanyalah manusia biasa tanpa sihir maupun kekebalan di mataku.
"Kau kuat mental, ya?"
"Baiklah, aku tidak mau berlama-lama, jadi..."
"Tahun 2049, seorang pria memiliki hutang yang besar pada seorang CEO..."
"Bukannya membayar untuk melunasi hutangnya, dia malah mati dengan gantung diri...
"Sebelum kau bertanya, 'kenapa dia bisa mati?' Aku akan menjawab, pria tua itu benci dengan konspirasi Anitya, jadi dia memakia Anitya palsu buatan perusahaan milik CEO itu, namun sayangnya, pria bodoh itu rupanya ditipu, dan memasang harga mahal dengan secarik kertas yang berisi tanda tangan, materai 10 ribu, dan sidik jari pria itu..."
"Sungguh bodoh sekali, bukan? Nasib Pria itu?"
"Sang CEO berakhir sangat marah pada orang itu, dan mengganti targetnya menjadi ke keluarga pria itu."
"Kedua anak laki-lakinya lari terbirit-birit saat mendengar itu, namun naas mereka mati dalam perjalanan kabur... Hihihi!"
Aku merasa pernah dengar cerita ini, tapi apakah ini benar-benar berkaitan?
"Dan bodohnya... Arti dari mengganti dari targetnya menjadi keluarga pria itu adalah..."
__ADS_1
"Istri dan anakku yang punya hubungan darah dengan pria itu malah ikut menjadi korban!"
"Padahal istriku sudah menjadi kakak yang baik buat pria itu, namun kenapa?! Kenapa dia malah membuat kakaknya tersiksa?!"
Dia semakin menggila, tapi aku biarkan saja... Orang yang depresi akan lebih mudah dieksekusi.
"Dan karena itu(mengeluarkan pageblug-nya dan diarahkan ke arahku)... Aku saat mendengar nama sekolah itu menjadi target sasaran para pebisnis itu, aku ikut setuju..."
"Ini seperti, melempar satu batu, mengenai 2 burung, bukan?"
Pageblug miliknya membentuk benda seperti katana namun terbuat sangatlah modern dengan silikon yang mengkilap.
"Kau ingat bukan? Semua keluarga dari pria itu, semuanya mati, kecuali istri dan gadisnya..."
Saat mengungkapkan itu, aku akhirnya sadar...
Latar belakangnya adalah balas dendam, dan dendam itu kepada wanita itu.
Dan dari ceritanya, aku bisa memastikan...
Ini adalah cerita yang sama seperti...
......................
Tepat sebelum aku menyelesaikan pikiranku, tiba-tiba dengan anehnya, Erika muncul menghampiriku.
"RASYID!" Erika datang dengan terengah-engah.
"Akhirnya aku menemukanmu... Tapi kenapa kau ada di sini?"
"Aku mencarimu berkat bantuan Dahlia..."
Dan ini adalah saat yang sangat tidak tepat buat wanita ini keluar.
Saat aku mencoba melirik wajah pria itu, pupilku mengecil dan kelopak mataku melebar.
Jainal Zaka Zaki Mahesa Jinail, membuat sebuah lekukan mulut yang menyeramkan, dia seperti puas, mendapatkan apa yang dia cari.
"Jadi beneran, ya?" Ucapku tidak percaya.
"Apanya yang beneran(melirik ke lawanku)... Oh, Pak Jainal? Kenapa anda di sini? Dan kenapa Rasyid bersama Pak Jainal saling berhadap-hadapan seperti ingin bertarung?!" Erika terlihat masih bingung dengan keadaan sekarang.
Sebelum keadaan semakin kacau, aku sebaiknya segera memberitahu adanya bahaya di sini.
"Erika, disini berbahaya!"
"Kenapa?!"
"Ada alasan yang tidak bisa kukatakan..."
Mendengar itu, Erika segera menyadari alasan itu.
Bagaikan sudah terbiasa dengan tindakanku, dia tahu kalau aku sebentar lagi akan mengotori diriku dengan dosa lagi.
"Apa kau mau menghabisinya?! Kenapa?!" Tanyanya sambil menggetarkan tubuhku.
"Dia... Adalah sang penculik!"
__ADS_1
Aku tanpa basa-basi langsung menjelaskan situasi, bila aku berlama-lama malah akan gagal.
Mendengar itu, dia hanya melepas peganganku dan mundur tak percaya.
"Ini bohongkan?" Sambil terlutut ke tanah.
"BUKAN! INI SUNGGUHAN, DASAR ANAK DARI KELUARGA PENGUTANG!"
Yang memberi jawaban bukanlah aku, melainkan sang Jainal sendiri.
Tepat saat mengatakan kalimat itu, dia menusuk sampai tembus leher wanita itu.
Erika menatap sedih, apa yang ia lihat saat ini.
Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dia rasakan pada tubuhnya dan dalam hatinya.
"Kenapa, Pak Jainal? Padahal, aku sudah menganggapmu seperti keluarga..." Ucap Erika sambil berjuang meskipun cairan merah terus keluar dari mulut maupun puta suaranya.
"Kau hanya ingin menjadi yang terkuat tanpa menyadari sekitarmu! Dan kau minta aku orang lain peka padamu?! Jangan bercanda!"
Jainal melepas tusukan pedangnya di leher wanita malang itu, dan kini akan ditusukkan kembali ke arah jantungnya.
Namun tepat sesaat sebelum itu terjadi, aku menghentikannya lengannya dan mengunci.
"Apa?!"
BRAK!!!
Aku membanting tubuh pria itu ke tanah dan membuatnya tak berdaya.
......................
"Sial! Kau keparat! Dasar babu Nova! Kau sudah mengalahkan semua rekanku! Apa kali ini, kau akan menghabisiku juga?!" Pekik pria terbaring itu sambil menatap ke atas.
Mendengar hal itu, Erika langsung terkejut bukan main dan mencoba memahami situasi.
"Apa maksudnya?" (Erika)
"Sang Eksekutor Anitya, dialah yang akan menghabisi siapapun yang merusak keseimbangan Anitya!"
Mata Erika semakin lebar dan tidak percaya atas apa yang ia dengar. Antara sudah tahu dan kaget bercampur dalam pikirannya.
JESS!
Namun sebelum dia ngerocos lebih lama, aku membekukan tubuhnya dan tak bisa bergerak lagi.
Aku menatap sayu ke arah wanita itu.
"Maaf... Ini adalah tugasku, bukan..." Aku meyakinkan diriku lebih dalam. "Ini kulakukan untuk melindungi mereka."
"Jadi, kumohon... Bisakah, kau tidak memberitahu ini?"
Meskipun agak memalukan untuk mengatakannya, ini adalah satu-satunya caraku agar dia tidak masuk dalam list nenek itu.
"Hmm(mengangguk)..." Dia hanya bisa mengangguk tak paham maksud dari pria itu.
Cairan merah di lehernya kini kian pulih dan membuatnya bisa bernapas lega.
__ADS_1
Setidaknya, atas kedatangan Erika, misi ini jadi jauh lebih mudah dari yang kupikirkan.