
Musuh sudah kocak-kacir.
Ini adalah saat yang tepat untuk melawan balik!
"Maju!"
Aku mengangkat halberd-ku ke atas untuk memberi arahan. Hal itu juga kulakukan untuk sekaligus memberi mereka semua semangat.
"Hyagghhh!"
Para murid kelas 1 Fisik 1 menyerbu lawan-lawannya yang sudah tak berdaya.
Jdas!
Buk!
Slash!
Berbagai macam jenis sihir dan tebasan dilesatkan ke arah lawan-lawannya.
Ini menjadi semakin menarik saja!
Musuh tidak punya semangat bertarung setelah Sophia menjatuhkan oberserver mereka. Itu artinya, sekarang adalah kemenangan mutlak bagi kelas 1 Fisik 1 di bagian halaman.
Wajahku seketika membuat sebuah senyuman, aku tidak menyangka ini akan menjadi hari dimana aku bisa-bisa merasakan menjadi pemimpin, dan juga mendapat bantuan dari teman-temanku.
Tapi...
Ini terlalu mudah, aku tak yakin itu. Tidak mungkin mereka selemah ini.
Yang kita lawan ini kelas sihir lo! Mana mungkin mereka kocar-kacir cuman gara-gara observer mereka Knock Out.
"BERHENTI!" Seketika aku berteriak tanpa tujuan yang jelas.
Ada sesuatu yang ingin kupastikan terlebih dahulu, ini terlalu aneh buatku.
Semua murid dari kelasku berhenti dari pengejaran dan menahan kaki mereka di tanah tempat mereka berpijat seperti sedang nge-rem.
"Kenapa kita berhenti?" Mereka semua bertanya padaku.
Namun aku tidak tahu jawabannya...
Apa yang harus kulakukan saat ini.
Aku tahu ada yang aneh, namun aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya.
"Oi Hakam! Kenapa kau menyuruh kami berhenti?!" Teriakn si Rizal malah membuatku semakin tersudut untuk diam.
Ini terlalu menakutkan, badanku menggetar dengan sendirinya.
"A-aku..."
Ayolah cuman harus dikatakan!
Tapi kenapa mulutku tidak bisa?!
Buk!
Tiba-tiba seseorang memegang bahuku, bila dari cara tangan itu memegang. Aku bisa pastikan, dia adalah seorang gadis.
"Tenanglah, biar aku yang menanganinya!" Moka tiba-tiba menatap laki-laki itu dengan penuh kepercayaan diri. "Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini, dari gerak-gerik musuh saat ini, kau pasti merasakan jebakan itu, kan?"
__ADS_1
Apa yang Moka katakan mengenai tepat dari maksud yang ingin kukatakan.
Dia hebat sekali, bahkan bisa mengatakan itu dengan mudah. Mau bagaimana lagi, dia adalah seorang ketua kelas. Dia pasti sudah terbiasa dengan ini.
Dari sampingnya, aku melihat Moka yang menghadap ke arah teman-temannya yang sedang kebingungan karena perintahku. Dia mengangkat satu tangannya dan berkata: "Teman-teman, sebaiknya kita sekarang gunakan sihir jarak jauh dan dingin seperti air dan es, angin sebaiknya jangan tapi kalau tidak ada boleh-boleh saja..."
Tunggu, yang dia katakan tadi apa?
Sihir dingin... Es, air, dan angin?
Buat apa?
Aku bahkan tidak berpikir sampai situ!
"Kenapa kita harus menggunakan sihir itu?!" Salah satu murid bertanya.
Itu sudah jelas, perintah ini terlalu tiba-tiba dan terdengar tidak berdasar sama sekali.
Tapi, Moka tidak merasa jatuh atau kesal karena tidak dipercaya, dia malah menepuk dadanya sendiri. Di saat itu juga, dia menatap teman-temannya dengan tatapan yang sipit dan penuh keberanian.
"Apa kalian mau terus-terusan dipanggil kelas rendahan karena selalu melupakan dasar seperti ini?!" Moka berteriak di depan teman-temannya. "Apa kalian mau terus-terusan dipanggil kelas yang menjulang tinggi karena prestasi gurunya saja?!"
Mereka langsung memasang wajah bingung dan saling menatap satu sama lain.
Mereka tahu rasa sakit itu, rasa sakit yang datang karena cemoohan dari murid-murid kelas lain dan guru-guru yang menggosipi mereka.
"Baca gerakan musuhmu, dan lawan mereka jika kalian sudah memahaminya! Apa yang musuh lakukan saat ini terasa sangatlah janggal! Apa kalian tidak pikir kalau ini adalah jebakan?!" Setelah mendengar itu, murid-murid lain mulai membelalakan matanya.
Mereka akhirnya sadar maksud dari Moka yang berbicara di depan mereka.
Dia hebat sekali...
"Sekarang semuanya kembali ke bawah pimpinanmu, Hakam."
Tiba-tiba Moka menatapku dengan senyuman penuh keyakinan itu. Entah kenapa, saat melibat wajah itu, iri dan takjub menjadi satu di dalam diriku.
Dadaku tiba-tiba berdegub kencang saat melihat wajah itu.
Perasaan apa ini?
Perasaan dengki? Tapi bukannya seharusnya aku ketakutan?
Perasaan takut, bukan juga. Karena bila begitu, seharusnya kaki gemetaran sekarang.
Sebuah perasaan aneh aku rasakan sesaat melihat wajah gadis itu.
"Hakam..."
Tiba-tiba Moka kembali memanggilku, aku seketika terkejut dan dibawa kembali ke duniaku yang gelap ini.
"Ah, maaf..."
Astaga, kenapa denganku ini, tadi dadaku berdegup kencang, sekarang kenapa malah wajahku memanas.
"Hakam, ada apa? Kau terlihat pucat..."
Sial, mendengar suaranya saja sudah buat aku terdiam menjadi patung.
"Bu-bukan apa-apa!"
Aku tidak boleh seperti ini, aku harus profesional, bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai pelayan profesional keluarga Xander.
__ADS_1
Saat aku kembali menatap mereka, entah kenapa, aku merasa kalau mereka memberikan tatapan aneh padaku.
Lupakan saja, ini adalah apa yang harus kulakukan. Yaitu memimpin!
"Semuanya, kita akan-"
......................
Point of View: Rasyid Londerik.
Oah, mereka main begitu?
Aku saat ini melihat dibalik monitorku, berdampingan dengan Ryan. Aku melihat setiap rencana dari dua tim.
Di sisi kelas 1 sihir 4, mereka saat ini bersiap menumpahkan cairan panas tepat di bawah gerbang masuk itu.
Mereka akan menggunakan para murid yang berlari ketakutan karena observer mereka yang K.O sebagai umpan.
Rencana yang sederhana, namun sangat ampuh. Bahkan aku saja terkagum dengan rencana itu.
"Tak kusangka, kelas didikanmu akan menggunakan cara yang sangat brutal untuk menghadang lawan."
Aku berkomentar pada strategi yang telah disusun oleh anak didik sepupuku. Firasatku mengatakan kalau yang mengurus dan memimpin kelas saat ini sangat menyukai jaman-jaman medieval sehingga dia tahu bagaimana saja rencana ampuh yang dapat menumbangkan musuh dengan cepat.
"Apalah, aku aja gak nyangka mereka bisa memikirkan itu..." Ryan yang duduk di sampingku tersenyum bodoh. "Aku malah ngeri sekarang."
Ah, ternyata dia bahkan tidak menyadari kalau strategi seperti ini akan dilakukan. Sungguh, dia sudah gagal sebagai guru.
Oh, itu aku juga...
"Daripada kelasku, lihatlah kelasmu, cupu! Hakam yang memimpin mulai memberi arahan pada teman-temannya dan mulai menyerang dengan cara yang seperti kau perintahkan."
Ryan mengganti monitornya menjadi ke kamera yang meliput kelasku. Di sana terlihat ada Hakam yang sedang merencakan beberapa strategi.
"Dengan insiden gerbang pertama saja, mereka pasti akan langsung percaya semua perkataanku."
Awalnya mereka tidak percaya pada ucapanku, tapi tiba-tiba kepercayaan mereka meningkat setelah apa yang kukatakan benar-benar terbukti bekerja dan sangat ampuh.
"Itu sudah pasti, jika kau cupu di awal saja sudah mengatakan sesuatu yang benar. Maka mereka akan menganggapmu selalu benar... Bisa dibilang, ini adalah kekuatan pandangan pertama." Ryan mengalihkan wajahnya dari monitor itu ke arahku. "Dan lihatlah! Sekarang ada beberapa murid yang menaiki kastil dan masuk ke dalam balkon. Mereka melakukan apa yang Hakam katakan, namun..."
"Namun, apa?"
Kenapa Ryan berhenti?
Saat kutanya begitu, Ryan tiba-tiba terkekeh.
"Kenapa?!" Aku tanya lagi, kini dengan nada yang tinggi.
"Tidak, cuman saja. Itu wajah apa tomat? Merah bet..." Ryan tertawa terbahak-bahak.
Saat kulihat kembali ke monitor, aku melihat Hakam yang memerintah teman-temannya dengan wajah yang pucat.
"Apa dia sakit?"
Apakah begitu?
Tapi, bukannya dapat jawaban, Ryan malah menatapku dengan wajah yang datar dan kikuk.
"Dasar, guru gak peka!"
Heh?
__ADS_1