
DUAR!
Sebuah ledakan yang cukup keras terdengar dari belakang mereka. Meskipun begitu, mereka semua tidak menyempatkan diri mereka untuk melihat ke belakang. Rencana yang mereka semua buat telah gagal karena Haran telah gagal untuk menahan kuasa kekuatan dari sihir itu, dan mengharuskan merka untuk mundur sekarang juga.
"Hey, kita sudah lari terlalu jauh!" Tasya mengingatkan para guru dan membawa mereka kembali sadar.
Saat ini mereka sudah berada di parkiran guru yang berada di bagian paling depan di sekolah ini.
"Be-benar juga, aku sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai berada di sini..." Nafas Samuel terpacu dan mulai memegangi dengkulnya.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi?! Apakah Haran gagal menahan sihir itu?!" Erika bertanya bersamaan dengan goresan di lehernya yang menghilang.
"Kurang lebih seperti itu..." Zarbeth yang lari bersama mereka menjawab kebingungan Erika.
Dia tidak terlihat sedang kelelahan meskipun habis lari jauh dari UKS. Bahkan dia tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kalau dia habis lari.
"Hah?" (Erika)
"Sihir KODE, sihir yang tidak terpaku pada Anitya, dan juga sihir yang hanya bisa dimiliki orang yang dipercaya pencipta Anitya, Nova Rena."
"No-Nova?!" Baik Samuel dan Tasya memperlihatkan wajah yang terkejut, namun Erika dan Xander di sisi lain mereka sudah tahu, baik karena mereka orang penting maupun karena diberitahu seseorang.
"Sepertinya kau sudah tahu?" Samuel kini menoleh ke arah Xander. "Akhirnya aku tahu rahasia yang kau sembunyikan sejak insiden ledakan di sekolah saat itu."
"Maaf kalau aku menyembunyikan ini, tapi itu adalah hal yang krusial untuk diberi tahu." Xander memegangi tangannya yang perlahan mulai sembuh, matanya sedikit menutup untuk memperlihatkan rasa bersalahnya pada temannya itu.
"Tenanglah, itu bukan madalah. Lagipula kau adalah seorang Pangeran, jadi punya rahasia itu adalah keharusan."
"Bisa kulanjutkan tentang sihir Kode?" Zarbeth membawa kembali pembicaraan. "Sihir Kode adalah sihir yang mempengaruhi bukan Anitya sang pengguna, melainkan mempengaruhi Anitya target mereka."
Saat mendengar penjelasan itu, para guru kembali teringat dengan kejadian Dahlia.
"Kejadian pada Dahlia, apakah Rasyid yang menyebabkannya?" (Samuel)
"Hmm(menggelengkan kepala), dari apa yang kutahu. Sihir KODE hanya merusak saraf Anitya targetnya, bukan mempengaruhi atau mengendalikan targetnya. Aku tidak tahu apakah Nova yang membuatnya seperti itu, tapi bila itu benar, maka berhati-hatilah bila kau bertemu pria itu!" Wajahnya yang keriput terlihat bergetar-getar setiap kali mengucapkan sepatah-kata tentang pria itu.
"Dari apa yang kutahu selama ini, hanya ada 3 orang yang memiliki kekuatan itu yaitu sang Bupati, Nova Rena, wakilnya Rizki Kamil, dan yang baru saja kuketahui, Rasyid Londerik." (Zarbeth)
Mereka semua terkejut dan shock setelah mengetahui kenyataan itu. Xander dan Erika adalah orang yang paling terkejut saat mendengarnya. Bagaimana tidak, yang memiliki kekuatan dari Sihir KODE adalah kakak-adik dan majikannya.
Ini seperti sebuah konspirasi yang sengaja disembunyikan. Seakan nenek itu seperti ingin sekali memiliki mereka berdua sampai-sampai dia rela memberikan sihir semengerikan itu pada kedua orang yang mungkin akan berkhianat kepadanya.
"Kenapa kakak- maksudku Rasyid dan Rizki memilikinya?" Erika bertanya dengan mencoba mengganti subjeknya karena baik Samuel dan Tasya belum mengetahui wujud asli pria itu.
__ADS_1
"Apakah ada alasan tertentu?" Xander menambahkan.
"Itu karena-"
*DUAR!
Saat ingin menjelaskan lebih detil, sebuah bola api raksasa melesat ke udara dengan sangat cepat.
Beberapa detik kemudian, kubah es, tanah gersang, dan cuaca penuh listrik menyatu di satu tempat.
Dari bagaimana mereka mengenal dan melihat, pemilik bola api yang dilemparkan itu adalah Bahar. Kemungkinan dia bersama guru lainnya sedang bertarung bersama melawan Haran yang merupakan guru terkuat di sekolah ini.
"Apa yang terjadi?!" (Samuel)
"Apakah Haran menjadi segila itu?!"(Erika)
"Kasihan sekali~" (Tasya)
"Tunggu, ada sesuatu yang lain di sekitar tembakan pertarungan!" (Xander)
Peringatan Xander membuat para guru yang bersamanya melihat lebih jeli pertarungan itu. Saat mata mereka benar-benar terkunci ke sana, sesosok siluet dua gadis yang beraura es terlihat sedang terbang di langit.
"Itu Dahlia, bukan? Dia seperti membawa Sophia terbang bersamanya." (Erika)
"Tidak ada waktu lagi! Ayo kita berkumpul bersama guru yang lain, kita harus-" Zarbeth mencoba memimpin gerombolan itu, namun dia seperti tak kuasa menahan rasa takut.
"Harus apa?" (Tasya)
"Apakah kita harus menghabisinya?" Samuel mencoba menyimpulkan keraguan nenek itu. "Tapi bagaimana?" Namun dia tetaplah bukan orang yang tahu bagaimana menghabisi nyawa seseorang di era ini.
"Lupakan saja! Yang penting saat ini kita harus berkumpul terlebih dahulu!" Zarbeth berlari meninggalkan mereka dan lari menuju pertempuran.
Tak bisa membantah seorang senior(sepuh), mereka mengikuti arah gerak nenek itu.
Namun...
Duar!
Sebuah bola api dan bola air raksasa bagaikan nuklir melaju sangat cepat dan saling berlawan menyebabkan sebuah ledakan yang cukup membakar kulit manusia.
"Gyahhh!"
Semua menjadi putih, Samuel dan Tasya tidak tahu lagi apa yang terjadi pada yang lain. Mereka bahkan tidak sempat mengecek kondisi murid-murid yang ada di kejadian.
__ADS_1
Satu-satunya yang bisa mereka simpulkan saat ini adalah Haran, Sophia, dan Dahlia telah berhasil mengalahkan seisu sekolah dan berjalan ke suatu tempat.
Mungkinkah itu tempatnya Rasyid? (Samuel)
......................
Kembali ke waktu di mana Samuel dan Tasya bertemu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" (Tasya)
"Ntahlah, aku tidak tahu... Satu-satunya petunjuk kita adalah pria itu."
"Kita bahkan mengecek kondisi murid-murid kita."
Bagi para guru, keselamatan murid adalah nomor 1. Namun kali ini berbeda, mereka bahkan tidak sempat berpikir melakukannya. Kegelisahan dan panik menggerogoti hati mereka sampai kehilangan cara berpikir.
"Tch! Kenapa aku baru tahu sekarang?!"
*Bak!
Samuel menendang dinding runtuh yang berada di dekatnya.
Dinding itu sampai hancur berkeping-keping dibuatnya. Amarahnya yang tak terkendali karena merasa paling bodoh di antara mereka tidak bisa dia sembunyikan.
"Samuel!"
Tasya seketika berteriak ke arah pria itu.
Namun, saat Samuel melihat wajah Tasya. Wanita itu bukan berteriak karena kesal dengan ceomohannya, wajah wanita itu seperti keterkejutan, shock, dan sedih di waktu yang bersamaan.
"A-apa?"
Tasya menunjuk ke tempat bekas Samuel menendang puing-puing bangunan itu.
"Hah?!"
Keterkejutannya membuat dia melompat dan merinding di saat yang bersamaan.
Apa yang mereka lihat saat ini bukanlah hanya seorang, melainkan gerombolan badan yang memohon untuk dikeluarkan. Mereka adalah murid-murid sekolah ini.
Mereka semua membeku dan mematung di sana.Wajah takut mereka menjelaskan ketika mereka dibekukan, mereka mencoba sekuat tenaga untuk keluar dari sekolah ini.
Samuel dengan wajah yang suram langsung kembali menghadap ke arah Tasya. Tangannya mengepal kuat sampai memperlihatkan otot-ototnya, giginya menggerigi sampai ke titik maksimum, matanya menajam seperti ingin membelah sebuah badan dengan hanya ketajaman matanya.
__ADS_1
"Tasya, ayo kita cari orang bernama RASYID LONDERIK ITU!"