
KRAK!
Suara pintu kelas yang terbuka.
Saat kubuka, aku kembali melihat wajah-wajah muridku yang kutinggalkan. Ada sedikit syok saat mereka melihat wajahku. Aku tidak mengatakannya, tapi akan kuanggap ini sebagai kejutan saja.
Mereka menatapiku dengan tidak percaya. Tapi karena waktu sudah terkuras habis oleh ulah Fredrica tadi. Aku jadi tidak bisa mengucapkan 'hai' pada mereka semua.
"Semuanya, kelas kita akan menjadi yang bertarung di ronde awal." Aku menggunakan suara datar. "Cepat bersiap dan ikuti aku!"
Ini kulakukan agar tidak memperlihatkan kegembiraanku saat melihat wajah mereka. Akan rusak harga diriku jika mereka melihatku yang sangat ingin melihat muridnya.
"Ba-baik!" Ucap mereka dengan latah dan segera.
Mereka tidak sempat mengatakan sesuatu. Ada beberapa pertanyaan yang ingin mereka tanyakan padaku, tapi karena aku menyegerakannya. Mereka jadi tidak bisa melakukan itu.
Dengan begini, aku membawa murid-murid kelasku ke tempat ujian.
Tak ada satupun suara yang terdengar keluar dari mulut mereka. Namun raut muka mereka tidak bisa berbohong. Ada kegelisahan yang tertulis di sana.
Apa kira-kira?
Apakah karena melihatku kembali? Jangan ge-er dulu, Rasyid. Ini mungkin adalah sesuatu yang lain.
Apakah karena tertekan saat di bawah pengawasan Fredrica? Itu mungkin, tapi juga tidak.
Lagipula, kenapa Fredrica repot-repot menaikkan nilai kelas yang tidak ia ajar? Itu malah hanya akan menyusahkan dirinya dan kelas yang ia ajar.
Lalu...
Pikiranku masuk ke satu kemungkinan. Apakah Fredrica membuat murid-muridku menjadi down supaya mengurangi jumlah lawan.
I-itu tidak mungkin, kalau ada alasan. Pasti karena dia membenciku, 'kan?
"Anu, Pak?" Moka yang berjalan di sampingku tiba-tiba mengembalikan kesadaranku.
"Eh? Ada apa, Moka?"
"Bapak dari tadi melamun terus, emangnya kenapa?"
Mungkin ini adalah saat yang tepat menanyai hal ini.
"Moka, apakah saat dibawah pengawasan Ibu Fredrica... Kalian merasa tertekan?"
Momen kebenaran akan terungkap, apakah karena dia membenciku? Atau karena ingin mengurangi jumlah lawan di ujian?
"Tentu saja tidak..." Sesuatu yang bertentangan kudengar.
Aku langsung menatap dengan melongo ke arah Moka yang berjalan di sampingku.
"Benarkah?"
Tapi bukannya Moka yang menjawab, melainkan seorang pangeran yang mempunyai dendam kepadaku yang menjawabnya.
"Pak Rasyid, meskipun Ibu Fredrica sangat membencimu. Tapi melakukan hal serendah itu adalah hal yang tidak mungkin." (Stevent)
"Ibu Fredrica masih punya dasar. Dasar itulah yang tidak akan membuatnya melakukan hal sebodoh itu." (Stevent)
Sebuah dasar? Apa itu? Aku tidak pernah tahu dia punya sesuatu yang seperti itu. Tapi kalau apa yang Stevent katakan benar. Maka itu membuatku sedikit lega.
"Hanya saja..." Hakam yang berada di samping Stevent menambahkan. "Dasarnya agak aneh."
Mendengar itu, baik aku maupun yang lainnya melihat ke arah Hakam dengan raut yang terkejut.
Apa yang aneh?
"Apa maksumu, Kam?" Moka bertanya.
"Dia melakukan ini seperti tertekan akan sesuatu. Seperti seseorang selalu mengawasinya..." (Hakam)
__ADS_1
"Mengawasi?" (Stevent)
Hakam mengangguk sekali dan menatap ke langit yang cerah. "Setiap kali selesai melihat salah satu dari kelas kita bertanding di ujian mengambil bendera. Fredrica selalu menatap ke langit. Raut mukanya yang ketakutan seakan mengatakan kalau 'aku melakukannya dengan baik!'."
Apa yang dikatakak Hakam sedikit bertentangan dengan apa yang kupikirkan. Penyebab Fredrica menatap langit mungkin punya maksud lain. Fredrica yang tadi melawanku dalam lomba makan pocky juga terasa berbeda.
Bila aku yang mengambil kesimpulan, apa yang terjadi sekarang adalah...
Fredrica hanya parno!
Jika dipikir-pikir memang kepikiran. Dia terus menatap langit karena itu bagaimana aku sekarang. Jika aku bisa mengalahkan Haran yang punya kemampuan sensor. Maka tidak heran dia akan berpikir kalau aku punya kekuatan yang lebih dari itu.
Fredrica diliputi ketakutan setiap kali memgajar kelasku. Dalam dirinya, dia selalu berpikiran kalau mataku selalu mengawasi gerak-geriknya yang mencurigakan.
Saat di ruang guru juga, dia marah padaku bukan karena masih dendam soal kakakku. Tapi dia dendam karena selalu merasa diawasi.
Astaga, kenapa aku memikirkan sesuatu yang berlebihan begini. Toh ternyata orang yang dibicarakan malah sama parno-nya dengan aku.
"Kira-kira kenapa, ya?" Mereka masoh melanjutkan obrolan tadi.
"Sudah tidak usah dibahas! Semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri, dan yang satu ini adalah pasti!" Sebaiknya aku segera menghentikan mereka sebelum berpikir yang aneh-aneh.
......................
Saat di gerbang sekolah, kami berangkat menggunakan bis listrik dan pergi ke Istana Keluarga Tyas yang berjarak 20 Km hanya dalam 15 menit.
Seperti yang diharapkan dari bis listrik. Soal kecepatan dan kenyamanan, mereka adalah nomor satu.
Saat turun dari bis, kelas kami bertemu dengan Kelas Ryan. Dia masih menatapku dengan murung. Mungkin pembicaraan yang sebelumnya masih terpikirkan olehnya.
-----
Flasback
----
Namun tatapan matanya masih terlihat. Terlihat kalau dia ketakutan saat melihatku.
Hal itu selalu membuatku berpikir, kenapa? Padahal kami adalah sepupu, namun kenapa dia takut padaku.
Pasti ada sesuatu.
"Ryan, kau kenapa?" Tanyaku kalem.
"Kenapa sih payah, bukan sesuatu yang aneh kok..." Dia mencoba menghindar dengan mendahuluiku.
Dia mencoba mengelakku. Itu terlihat jelas dari ucapannya.
Aku harus mengingat sesuatu! Jelas ada sesuatu yang membuatnya seperti ini. Tidak mungkin itu terjadi tanpa sebab.
Dia adalah komunikator yang buruk. Itu biasa terjadi karena semasa kecil dia sering dianiaya oleh seseorang.
Saat memikirkan itu, aku akhirnya ingat.
Ini memalukan...
Tidak kusangka, diriku yang masih kecil melakukan hal serendah itu.
"Ryan!" Aku memanggilnya lagi, tapi kini dengan volume yang keras.
Dia menoleh balik ke arahku. Wajahnya yang terkejut tidak bisa disembunyikan lagi.
Buk!
Aku memukul dadaku dengan keras.
"Kau jadi seperti ini karenaku! Kau jadi orang yang sulit berbicara(Introvert) karenaku! Jadi, selagi aku bisa bertemu denganmu! Tolong, maafkan aku!" Ini adalah sesuatu yang kelihatan sepele bila dilihat. Tapi bila tidak segera diselesaikan, maka akan terus berkelanjutan.
Aku membuang semua harga diriku hanya untuk ini. Dia adalah korban pertamaku. Sejak kecil aku selalu menganiaya. Akan melakukan itu terus dan terus selama kecil karena selalu dianiaya oleh kakak tertuaku. Jadi aku menggunakan Ryan sebagai... Pelampiasan kemarahanku.
__ADS_1
Apapun itu, aku akan melakukannya. Dia hancur karenaku. Dia jadi tidak berguna karenaku. Seberat apapun hukumannya, akan kulayani.
Dia masih terdiam dengan ekspresi tidak paham. Namun tak lama setelah itu, ekspresi itu berubah. Sebuah wajah serius dia pasang.
Perlahan langkah kakinya mendekat ke arahku yang masih wajah bersalah.
"Kau tahu, saat kecil aku selalu dipenuhi ketakutan. Ketakutan akan berbuat salah! Saat kecil pola pikirku selalu mengatakan, bila aku salah maka akan ada bagian tubuhmu yang terluka! Pola pikir itu menghambatku!" Dia memekik keras ke arahku sampai muncrat-muncrat.
"Aku selalu menderita karena tidak bisa berbicara layaknya orang normal! Ketakutan selalu mengitariku!"
"Itu semua karenamu! Tapi apa yang kudapat?! Kau malah menganggap hal itu tidak pernah ada! Lebih tepatnya kau selalu menghindar setiap kali melihatku dalam kesusahan!"
Tak lama kemudian, dia mengambil langkah sedikit mundur, dan...
GUBRAK!
Daguku tertendang sampai membuatku terpental kebelakang.
Aku tepar di atas paving-paving taman sekolah.
Tapi itu belum lah berakhir, Ryan berlari ke arahku.
BRAK! BRAK! BRAK!
Kepalaku diinjak-injak dengan kekuatan yang sangat keras. Isi kepalaku sampai mengucur keluar.
Namun itu adalah jawabannya. Ini semua akibat dari perbuatanku. Cepat atau lambat, hukuman ini pasti akan datang.
Aku menahan rasa sakit dari setiap injakannya. Rasa sakit ini tidak seberapa dengan apa yang sudah kulakukan padanya. Tidak seberapa juga dengan jumlah korban yang sudah kumusnahkan.
"KENAPA KAU BARU MENYADARINYA, DASAR BODOH?!" Kalimat itu menjadi kalimat penutup injakannya.
Tubuhku yang tepar di tanah saat ini masih tidak bisa melihat apapun di sekitarnya. Mungkin karena kedua bola mataku hancur atau kenapa.
Namun, masih ada kuping. Aku bisa mendengarnya. Suara tangisan...
GUBRAK!
Ryan terjatuh ke tanah beriringan dengan irama itu.
"Ke-kenapa kau malah menyerahkan diri seperti ini? Lagipula, aku sudah tidak terlalu menganggap itu ada. Aku sudah bergerak jauh dari masa lalu itu. Namun seperti yang kau katakan, kenangan itu selalu menghantuiku meskipun sudah melangkah sejauh apapun." Ryan menangis.
Tak lama setelah itu, tubuhku kembali normal. Kepalaku yang hancur kembali ke bentuk semula. Dunia terasa kembali bewarna. Daya pikirku juga sudah kembali.
Saat itu juga, aku menatap anak yang menangis itu.
Aku seakan terhempas kembali ke waktu itu.
"Kita ini sepupu, bukan?!" Aku memegang rambutnya.
Namun dia menepis tanganku dengan cepat. "Kau... Terserahlah!" Dia kehabisan kata-kata.
Dia berdiri dan meninggalkanku. Sebelum pergi dia bilang: "Apapun yang kau lakukan. Memaafkanmu soal masalah itu adalah hal yang mustahil bagiku. Aku akan menganggap pernah terjadi, maka karena itu. Aku selalu bisa menilaimu...! Dan satu lagi, bajumu penuh darah. sebaiknya kau segera bersihkan!"
----
Flashback End
----
Kini Ryan dan Aku akan berhadapan di istana ini. Siapa yang akan menang?
Ini bukan masalah kekuatan individu, melainkan kekuatan yang mengandalkan kehebatan kerja sama.
"Payah, tepat di sini! Aku akan memperlihatkanmu, kalau aku sudah berubah!" Dia menunjuk ke arahku.
Senyumanku kutuliskan di mukaku untuk membalas telunjuk itu. "Mari kita lihat saja, cupu!" Pertarungan yang sudah lama tidak terjadi antara kami berdua.
Di sini, apakah Ryan akan membuktikan dia sudah bisa melupakan itu atau tidak.
__ADS_1