Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 55. Pangeran dalam Kurungan pt.9


__ADS_3

Aku menatapi 3 muridku yang berdiri di depanku.


Tidak ada dari mereka yang dapat mengalahkanku.


Namun, mereka punya kepercayaan, kalau kerja sama mereka bertiga bisa mengalahkanku.


Kita lihat saja, apakah itu sungguhan atau hanya bualan.


'Melawan mereka dengan senjata sepertinya akan sulit. Sebaiknya aku pakai sihirku saja,' ucapku dalam hati.


Aku mengeluarkan sihir air tingkat rendah dan kuarahkan ke arah mereka.


CPLAS!


Air itu melesat ke arah mereka bertiga.


Namun saat tembakan sudah mendekati mereka. Air itu membeku dan jatuh ke tanah.


'Aku lupa kalau Sophia dan Dahlia merupakan pengguna es!' Aku kaget sungguhan.


Tapi tak lama setelah itu, mereka bertiga berpencar.


Mereka semua terlihat mencoba menyerangku dari segala sisi.


Stevent dari depan, Sophia dari samping kiriku, dan Dahlia dari samping kananku.


Serangan apa yang akan mereka gunakan?


Point of View: Orang ketiga


Rasyid sepertinya tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun dia sudah mengantisipasi segala macam serangan.


Serangan apapun akan dia layani dengan pukulan yang kuat.


Sementara itu, Stevent yang berlari ke arah Rasyid mencoba menusuk guru itu dengan pedangnya.


Menusuk menggunakan pedang dua mata merupakan keputusan yang buruk.


Itulah yang dilihat dan dipikir dalam guru itu.


Tapi tepat setelah itu, saat Stevent sudah berjarak sekitar 1 meter darinya.


Langkah anak itu terhenti seketika dan membuat Rasyid terkejut.


"Kenapa?" Ucap Rasyid kepada siswanya yang ada di depannya.


"Eh hehehe." Tanpa memberi alasan yang jelas, Stevent tertawa di depannya.


Serangan dari samping sudah semakin dekat dan mengalihkan pandangan guru itu ke arah mereka berdua.


Sophia dan Dahlia bersiap menyerang guru itu dari dua arah sekaligus dengan senjata mereka masing-masing.


"Tangkap!"


Saat jarak sudah dekat kedua senjata mereka saling dilemparkan satu sama lain menyebabkan Rasyid yang ada berada di antara mereka menghindarinya hanya dengan membelokkan sedikit badannya.


Saat kedua senjata sudah melewatinya, mereka berdua tidak menangkap senjata yang dilemparkan. Melainkan mengangakat kedua tangan mereka setinggi dada dan menampakkan telapak tangan mereka ke arah guru itu.


"Heh?" Guru itu tercengang.


Matanya mencoba menoleh ke arah Stevent yang tadi terdiam.


Saat dilihat, pedangnya sudah ia nonaktifkan. Tangannya juga mengikuti seperti mereka berdua.


"Inilah bentuk dari kerja sama kami!" Ucap Stevent yang sombong.


Stevent seharusnya sadar akan satu hal saat pertarungan.


Musuhnya menggunakan zirah dari tanah, dan bukan hanya itu saja.


Dari tadi lawannya hanya diam saja.


Wajah tidak keberatan terlihat dari wajah guru itu.


Point of View: Rasyid Londerik


'Jadi itu rencana mereka? Kupikir mereka akan mengeluarkan serangan fisik secara bersamaan... Ternyata hanya serangan kombo sampah ini!' Aku menatap mereka bertiga dengan tatapan yang agak kesal karna dibuat kecewa.


Di bawahku terlihat ada lingkaran air yang membentuk sebuah pola.


Aku yang menginjak itu dari tadi hanya terdiam menatapinya.


Sihir itu merupakan dari orang yang ada di depanku, Stevent.


BLASSS!


Lingkaran itu tiba-tiba muncrat keatas dan membuat diriku seakan dalam penjara air.


Apakah ini saatnya untuk sedikit berakting? Mungkin aku bisa lihat ekspresi puas mereka.


Aku perlahan membuat wajah terkejut dan panik.

__ADS_1


"A-apa?!" Suara terkejut palsu.


Aku melihati sekitaranku namun tidak terlihat aku punya jalan keluar.


Lingkaran penjara ini juga sangatlah kecil dan membuatku sesak.


Tak lama setelah air lingkaran muncrat, Sophia dan Dahlia membuat puluhan jarum es dan siap dilesatkan ke arahku.


"Eh?!" Ini diluar eskpetasiku.


Ekspresi terkejutku saat ini bukanlah akting belaka. Sekarang aku benar-benar ketakutan.


"Maaf kalau agak kasar, namun ini perintah anda, kan?!" Dahlia mengatakan itu sambil menahan tangannya dari melesatkan sihirnya.


"Entah kenapa, menusuk anda serasa membuatku senang... Anda tidak akan mempermasalahkannya, kan, Tuan Masokis?!" Sophia dengan gamblangnya tersenyum licik ke arahku.


Aku memang kuat akan terkena serangan ini, namun hanya bila terkena satu tusukan saja, bukan puluhan yang bahkan lebih dari 20 ini.


'Dari mana mereka berdua dapat sihir sebanyak ini?!' Ada yang aneh, itu pasti.


Lupakan saja, yang harus kulakukan saat ini adalah keluar.


Aku tidak mau menjadi ultra triple SSS masokis tingkat dewa hanya karena terkena tusukan-tusukan ini.


Aku harus cepat menghancurkan penjara ini.


Namun untuk menghancurkannya butuh sihir es.


Aku harus bisa mengecoh mereka... Tapi bagaimana?


Aku yang beneran gugup menatapi sekitar tempat untuk mencari cara.


Mataku tertuju ke arah jarum-jarum es yang kelihatannya sulit mereka atur keseimbangannya saat diudara.


Senyum licik terlihat di wajahku. 'Begini seharusnya bisa!'


Aku mengeluarkan sihir angin yang notabene-nya tidak terlihat oleh mereka.


Sihir itu kugunakan untuk menyeret satu jarum es untuk kutabrakkan ke dinding sel air ini.


"Eh-eh kenapa ini?! Aku tiba-tiba kesulitan menahannya!" Sophia terkejut akan salah satu sifat dari jarum es-nya.


Benda itu perlahan bergerak ke arahku dan semakin dekat untuk menabrakkan diri ke lingkaran ini.


"Woy Sophia! Tahanlah, jika kau tidak bisa menahannya nanti benda itu akan membekukan- (Terpotong oleh suara tabrakan es dan air)


CTARR!


Sel yang memenjaraku berubah menjadi beku dan memberi kesempatan padaku untuk kabur.


"Ah!" Suara mereka semua terkejut dan sedih.


Sophia dan Dahlia yang terkejut membuat mereka membatalkan sihir mereka.


Rencana mereka berhasil kugagalkan, meskipun dengan trik kotor.


Itu lebih baik daripada aku menjadi lebih masokis.


Senyum lebarku terlihat saat menatap mereka bertiga.


"Yo anak-anak, Let's party begins!" Ucapku sok Inggris.


Aku maju dan mencoba menebas Sophia yang tidak membawa senjata.


CTANG!


Namun dengan cepat Stevent berlari ke arahku menggunakan sihir cahayanya dan menahan seranganku.


Saat ini pedang kami saling bergesekan.


"Berani-beraninya kau menyerang orang tanpa senjata, terlebih lagi cewek!" Stevent menceramahiku.


Aku tidak merasa menyesal, karena aku tahu hal ini akan terjadi. Dan terlebih lagi, ini adalah ujian untuk Stevent.


"Tidak, aku melakukan ini karena tahu kau akan melakukannya... Stevent!" Aku menguatkan tenaga dan mendorongnya.


Pedangku berhasil mengalahkan pedang Stevent dalam adu gesek.


BRAK!


Aku tidak akan memberinya waktu untuk istirahat.


Tepat setelah itu, aku kembali mencoba menebasnya lagi dan lagi.


CTANG CTANG CTANG.


Semua seranganku berhasil ia tangkis dengan bantuan sihir cahayanya.


"Kau hebat juga, ya?!" Aku memuji anak itu.


Dia malah terlihat kesal saat aku mengatakannya. 'Apakah aku salah dalam pengucapan?'

__ADS_1


"Dipuji olehmu... membuatku kesallll!" Stevent akhirnya menyerangku dengan memegang erat pedangnya.


Pedang itu diayunkan dengan berputar 180° mendatar.


4 Gelombang cahaya terlihat keluar dari bekas tebasannya dan melesat ke arahku.


Aku berlari ke samping untuk menghindarinya namun salah dua dari gelombang itu berhasil menebas bajuku.


Jika saja aku telat sedikit saja, mungkin aku akan kalah.


"Sophia! Dahlia! Blizzard!" Stevent berteriak memanggil mereka.


Mereka yang terdiam sepertinya paham maksudnya.


Mereka menggunakan waktu pertarungan kami untuk mengambil senjata mereka yang terlempar jauh.


"Sophia!"


"Dahlia!"


Mereka sekali lagi melemparkan senjata mereka satu sama lain.


Dan lagi-lagi aku yang ada di antara mereka harus menghindari serangan itu.


Namun saat kedua senjata mereka berada tepat di antaraku.


Ada sesuatu yang aneh, kedua senjata itu sudah diberikan kekuatan elemen.


Partikel dari sihir es ada di kipas yang dilemparkan oleh Dahlia.


Partikel dari sihir angin ada di trisula yang dilemparkan oleh Sophia.


WURLLLL!


Kedua senjata itu meledakan sihir mereka di sana dan terus melesat ke arah tuan mereka.


"Kena kau!"


"Dapat!"


Ucap mereka berdua saat menangkap kembali senjata mereka.


Bekas ledakan tadi membuat sebuah badai es yang melenyapkan badai pasir yang dari tadi terus mengacau.


"Sial!" Ucapku kesal.


Jika begini terus, aku akan ada dalam posisi di bawah 0° dan terkena frostbite.


"Jika kalian kelihatannya sudah seperti ini, maka aku juga akan harus serius!"


Aku menghentakkan kakiku ke tanah dan membuat sebuah elevasi ke atas.


Ketinggian elevasi kubuat sampai melebihi tinggi badai itu.


Saat sudah berada di atas badai itu, aku mengangkat pedangku ke atas dan mengaktifkan sihir air tingkat tinggi.


"Turunlah hujan dari ilahi!" Aku mengatakan itu meskipun tidak ada gunanya.


Hujan turun dan menghentinkan segala jenis badai yang ada dibawahnya.


"Heh! Kalian ini... Kalau sudah membuat orang kesusahan saja baru serius!" Aku menatap mereka dari ketinggian yang mengerikan.


Saat badai hilang, mataku berkeliling untuk melihati area sekitar.


Sampai akhirnya, aku dikejutkan oleh beberapa arah bidikan yang mengarah padaku dari jauh.


DOR! SKRAK!


Suara peluru dan anak panah melesat ke arahku.


Aku yang ada di elevasi kecil itu tidak bisa bergerak untuk menghindari dua serangan sekaligus.


Aku berakhir tertembus oleh peluru dari serangan Gita dan jatuh dari sana.


BRAK!!!


Suaraku mendarat terdengar keras sampai membuat Stevent, Sophia, dan Dahlia khawatir.


"Anda tidak apa-apa?!" Ucap mereka bersama.


Aku mengangkat jempolku untuk menandakan aku baik-baik saja.


Sesaat setelah itu, beberapa langkah kaki mulai berjalan mendekat ke sini.


"Apa dia sudah kalah?!" Ucap Gita yang berlari ke arah pertarungan.


"Aku tidak yakin kalau dia kalah semudah itu!" Astra ketakutan soal itu.


Seperti yang Astra katakan, aku tidak akan kalah semudah itu.


Sesaat setelah dia mengatakan itu, aku berdiri dan mengarahkan pedangku ke arah mereka semua. Tatapanku yang tersenyum mengejek seakan-akan menyuruh mereka untuk menyerangku secara bersama-sama.

__ADS_1


"Ayo! Pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai!" Ucapku sambil membuat pedang yang kupegang terlihat memiliki daya tebas yang tinggi karena kuberi sihir air tingkat tinggi.


Kombinasi 8 dari mereka sudah cukup untuk mengalahkanku. Apalagi sepertinya mereka sudah belajar soal kekompakan meskipun aku tidak yakin soal itu.


__ADS_2