Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 170.


__ADS_3

Aku tidak menyangka ini akan berhasil. Ini bahkan di luar ekspetasiku.


Nova sang Pangeran terkena sihir pemikatku. Dia kini berada di ujung tanduk. Sebuah jarum dari tanah dia pegang dan siap ditusukkan ke lehernya sendiri bagaikan harakiri.


Note: Harakiri\=bunuh diri dengan hormat orang jepang.


Aku berada di dekatnya, berlutut kecil agar wajahku sejajar dengan wajahnya.


"Kau tahu Nova? Saat ini akulah yang akan menggantikanmu..." Dengan nada pelan namun menusuk, aku mengintimidasi nenek muda itu.


Aku menembus tubuh Nova dengan tangan kananku dan menarik keluar inti Anitya-nya.


"Berikan kuasa itu padaku!"


Dengan mengangguk pasrah, Nova mengiyakan keinginanku.


Transfer kekuatan dengan KODE kembali terjadi. Tubuhku kembali merasa aneh, sesuatu yang berat seperti sedang dimasukkan secara paksa ke dalam diriku.


Aku ingat perasaan ini. Ini adalah perasaan yang sama seperti saat pertama kali Anitya ditusukkan ke dalam tubuh.


Beberapa detik kemudian, semua perasaan berat itu seketika hilang. Aku merasakan ada sesuatu yang kembali normal pada tubuhku.


Pada titik aku akhirnya menyadarinya, kalau ini adalah hal yang sama.


"Ini...." Firasat yang sama, bahkan seperti sesuatu yang normal telah kembali dalam tubuhku.


Aku kembali memiliki Anitya.


Sementara itu, Nova yang kupaksa transfer kekuatan terbaring lemah di tanah dan kembali menua. Ekspresi wajahnya terlihat mengerikan dan seperti orang yang habis tertimpa beton.


"Dia mati, ya?"


Nova kini telah tidak ada. Semua kekacauan yang telah terjadi seharusnya akan segera meredup.


*Krak! *Tak! *Tak! *Tak!


Aku merasakan adanya langkah kaki yang mendekat di belakangku.


"Kau... Mencuri kekuatannya?"


Haran yang sudah sembuh namun masih trauma mental mencoba menanyaiku dengan tubuh sempoyongannya. Kedua tangannya memegangi lututnya seakan masih terluka parah. Nafasnya masih terengah-engah karena terkejut bukan main.


"Apa yang akan kau rencanakan?" Dia tidak mau menunggu jawabanku dan malah memberiku lebih banyak pertanyaan.


"..." Aku sebenarnya juga tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan kekuatan ini.


Dalam hatiku, aku hanya mau mengambil kekuatan ini karena aku tidak mau kebebesanku dicuri oleh orang lain.


Kini aku telah bebas dari penjara yang mencuri kebebasan itu, namun... Menjadi yang mengawasi kebebasan orang lain adalah sesuatu yang tidak kuinginkan.


"Woi! Aku bertanya padamu, bangsat! Jangan malah diam saj-" Maki-annya kupotong.


"Diamlah!"


Dengan sekali perintah, Haran terdiam dan tidak bisa membuka mulutnya lagi. Wajahnya yang kesal terlihat jelas di sana, mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa. Kedua tangannya mengepal seakan ingin segera menghajarku.

__ADS_1


Aneh sekali. Padahal Haran memakai Hover Shoes-nya, namun kenapa dia bisa terkena efek Pangeran?


Mungkin ini karena sihir pemikat, bukan karena kuasa Pangeran.


Sudahlah, itu tidak terlalu penting buatku. Saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan semua kekacauan ini.


......................


Di suatu tempat, salah satu bagian reruntuhan bangunan, seorang pemuda berusaha berdiri dengan sekuat tenaga.


"Gkhhh!" Dia perlahan berdiri, namun tak bisa berjalan normal. Rasa sakit di seluruh tubuhnya memperlambat seluruh indra penggeraknya.


*Gubrak!


Dia menyendenkan tubuhnya di tembok yang sudah hilang fondasi.


Dia tidak bisa melihat apa-apa, matanya buram dan blur. Semua yang ada di sekitarnya seperti gambar yang disensor. Kacamata yang biasanya dia pakai kini rusak untuk sepersekian kalinya.


"Dimana aku...?"


Dia melihati-lihat sekitar. Namun tidak menangkap apa-apa selain warna hitam dan warna coklat. Bulan yang bersamanya di malam hari tidak terlihat, bintang yang selalu menyinari dunia juga telah redup.


Dia ada di tengah-tengah kegelapan.


"Pak Rasyid? Bu Erika? Sophia?" Dia memanggili satu persatu orang yang tadi bersamanya.


Tapi tetap tidak ada jawaban, semuanya sunyi dan tak bersuara. Dunia ini seperti telah mati.


Aku tidak boleh berada di sini terus. Aku harus maju.


Di perjalanannya dalam jalan lurus, dia mendengar suara-suara mengerikan. Meskipun tidak terlalu jelas, namun dia tahu kalau suara-suara itu berasal dari sesuatu yang sering ia dengar. Yaitu suara dari pertarungan dua orang atau lebih.


Dia mencoba untuk menghiraukan suara-suara itu. Bukan karena dia tidak peduli, namun dia punya tujuan yang lebih penting saat ini. Terlebih lagi, suara pertarungan itu lebih dari satu. Suara itu malah lebih terdengar seperti pertempuran.


Dia terus jalan sedikit demi sedikit menjauh dari titik awalnya.


Kakinya baru berhenti melangkah ketika sampai pada sebuah tempat. Dimana, tempat itu dia melihat dua orang tergeletak dengan banyak bongkahan-bongkahan besi yang berceceran di sekitar mereka.


Pemuda yang beenama Stevent itu langsung terbelalak dan berjalan mendekati salah seoramg yang dia kenal.


"Pak Ryan!" Dia mengecek tubuh guru itu.


Suara detak jantungnya terdengar lemah di rabaan tangan pemuda itu. Dia segera tahu, kalau guru itu sedang dalam kondisi yang sekarat.


"Kenapa ini bisa terjadi?!"


Stevent mengeceki tubuh pria itu, sampai pada titik punggungnya. Dia melihat sebuah batu akik panca warna yang tajam sedang menancap di sana.


*Sret!


Stevent seketika mencabut benda itu.


Bila ini jaman dulu, mencabut benda tajam dari luka malah akan membuat pendarahan hebat. Namun untuk jaman sekarang, hal ini adalah hal yang harus segera dilakukan. Batu akik itu merusak sistem Anitya dan harus segera dilepas.


Anitya yang sudah terbebas dari batu akik akan segera kembali menyembuhkan insangnya selagi dia masih bernyawa.

__ADS_1


"Syukurlah!" Dia menghela nafas karena semua usahanya terbayarkan meskipun harus dilakukan dengan panik.


Sambil menunggu guru itu beregenerasi. Stevent menatap langit yang gelap dan buram. Merasa tidak nyaman dengan penglihatannya, dia mengeluarkan sebuah lensa dari sakunya.


"Ini lebih baik."


Langit kembali jelas meskipun tetap gelap.


Dalam gelap itu, dia memikirkan bagaimana nasib yang lain. Apakah mereka masih selamat atau tidak. Namun matanya seketika berair saat mengingat takdir yang sudah dia lihat. Dia tahu satu hal, meskipun dia adalah yang pertama kali terkena serang, dia masih sadar dan bisa melihat bagaimana Ibu Erika dan Sophia mati. Dia juga melihat bagaimana Pak Rasyid sangat menderita karena tubuhnya terpotong-potong dan tak bisa kembali.


"Apa yang sudah terjadi..." Dia menunduk dan tak berani lagi melihat kegelapan. "... Ini sudah seperti hukuman buatku."


Saat di tengah kesedihan, sebuah tangan keras namun pelan menyentuh pundaknya.


Stevent menatap kebelakang dan melihat sesosok Ryan sudah siuman dari tidurnya.


"Ini bukan hukumanmu saja..." Ryan mencoba tersenyum paksa. "Ini hukuman kita semua. Kita yang hidup penuh kejahataan karena tidak takut lagi akan kematian."


Kalimat itu menakutkan, namun mengenai perasaan Stevent. Tidak, mungkin bukan hanya pemuda itu, namun semua yang ada di sini.


Mereka yang dulunya tidak takut mati, kini kembali melihat apa itu kematian. Dan betapa mengerikannya kematian itu. Mereka ditangisi hanya untuk beberapa hari lalu dilupakan untuk seumur hidup.


Ini juga membuktikan betapa egonya manusia. Hanya untuk memperlihatkan kuasa dan dendamnya, mereka rela masuk ke ladang ranjau.


Guru Podoagung yang tadi berjumlah 27, kini hanya berkisar 15 orang saja. Sungguh sebuah penurunan jumlah yang mengerikan di masa ini.


Nasib mereka masih belum selesai, masih ada satu hal yang belum terselesaikan di sana.


......................


Kelompok Bahar berjalan menuju artilery raksasa yang berada jauh dari titik nol mereka. Namun mereka lebih memilih berlari karena faktor jumlah.


"Apakah sudah dekat?!" (Bahar)


"Kurang lebih...!" (Fredrica)


"Seharusnya ada banyak mobil di sana! Bila kita bisa melihat kumpulan mobil, maka berarti itu adalah tempatnya!" (Rasputra)


"Kumpulan mobil, ya? Mengerti!" (Zarbeth)


Pada akhirnya, perkumpulan mobil yang dimaksud terlihat.


Di sana ada banyak pasukan bersenjata dan siap menyerang siapa saja yang menganggu mereka.


Mereka terhenti karena semua itu.


"Apa yang terjadi?" (Tasya)


"Ini seperti sebuah upacara." (Xander)


"Lihat di sana!" Samuel menunjuku ke arah artilery raksasa. Di sana ada sebuah tiang dan bagian yang ditunjuk Samuel adalah...


"Vrandy terikat di sana!" (Samuel)


Mereka semua seketika terkejut dengan pernyataan itu.

__ADS_1


Apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2