
Pagi buta, seorang pemuda bangun untuk segera bersiap. Dia memakai baju pelayan seperti hendak menghadiri sebuah acara. Wajahnya menatap serius cermin rumahnya.
"Kakak..." Suara gadis kecil memanggilnya dan mengalihkan padangannya. "Kak Hakam mau kemana?"
"Cuman pergi ke suatu upacara."
"Kenapa harus pagi sekali..."
"Karena Tuan kakak suka molor, jadinya kakak harus berangkat agak pagi biar waktunya pas."
"Hmm..." Gadis kecil itu menggembungkan pipinya. "Dasar, tuan kakak orangnya pemalas. Masak dia membuat orang lain kesusahan sih!"
"Tenanglah, ini sudah jadi kebiasaan..." Hakam mengelus-elus rambut adiknya. "Suatu hari Lily akan mengerti betapa biasanya hal seperti ini."
"Lily tidak akan jadi pemalas, lihat saja!"
Senda gurau dibuat oleh Hakam untuk membohongi adiknya. Ini adalah hal yang tidak terpuji, namun untuk saat ini dia merasa kalau dia harus melakukannya.
Dia sebenarnya hanya merasa tidak enak. Dirinya dipenuhi rasa sedih, dan berdiam di rumah tidak membuatnya merasa baikan. Maka, dengan pergi ke rumah tuannya lebih awal dia gunakan sebagai pelarian untuk kesedihannya.
......................
Kring~!
alarm dari sebuah ponsel berbunyi untuk membangunkan pangeran tidur.
*Ctak!
"Aku bangun, tidak perlu berisiki!" Pangeran itu mematikan ponselnya dengan lemas.
Bagaiamana tidak, hari ini adalah hari yang kelam.
Saat ini waktu sudah berjalan 24 jam setelah kejadian itu. Semua kembali normal tanpa ada yang merasakan beban dalam hidupnya. Ini mengerikan, namun juga menakjubkan. Sesuatu seperti ini jarang sekali terjadi, event ini mungkin juga akan mengingatkan mereka kalau kematian adalah hal yang mungkin terjadi di era ini.
Sang pangeran bergegas keluar dan mengganti bajunya lalu bersiap berangkat ke sekolah.
"Tuan Stevent, persiapan sudah selesai. Katakanlah bila anda siap pergi." Seorang pelayan yang merupakan teman kelasnya datang di belakangnya.
Wujud pemuda itu bisa dilihatnya dari cermin lemari yang dia kenakan.
Stevent merasa berat saat mengingat apa yang akan terjadi hari ini. Hari ini adalah upacara mengenang mereka yang sudah meninggal di peristiwa kemarin. Ini adalah hari yang berat, bukan hanya untuk Stevent namun juga pelayannya. Mereka tidak menyangka hal seperti ini akan mereka datangi, bahkan pesertanya adalah orang yang mereka kenal.
Stevent menundukkan kepalanya dan menutup kedua matanya. Nafasnya diatur untuk mempersiapkan diri.
"Ya, ayo kita pergi, Hakam," ucapnya sambil berbalik menghadap pelayannya.
......................
Di suatu rumah, seorang wanita berambut pirang dengan gaya twintail sedang duduk bersama keluarganya. Wajahnya terasa lesu dan tidak nafsu makan.
"Tasya..." Salah satu saudaranya mencoba memanggilnya, namun mereka tidak kuasa untuk meneruskan kalimatnya.
Kemarin adalah hari yang mengerikan terjadi padanya. Melihat seluruh rekan-rekannya berkurang satu demi satu adalah hal yang tidak biasa.
Sebuah tepukan pundak yang pelan dan halus terasa di pundak wanita itu. Dia tidak pernah merasakan tepukan ini sejak lama.
"Tasya..." Ibunya memanggil dengan nada sedih. "...Kamu berharga bagi kami. Jadi ibu mohon, jangan buat dirimu menderita lebih lama lagi."
Ibunya langsung memeluk anaknya dari belakang. "Kamu hanya membuat dirimu semakin sakit."
Pelukan itu menghancurkan dam yang menahan seluruh air matanya.
"Argghh...." Tasya menangis tak kuasa melihat kejadian kemarin.
Wajahnya yang imut menghantam meja makan dan membasahinya dengan air mata.
Itu hanyalah mimpi buruk baginya tidak lebih. Begitulah yang dia pikirkan, namun itu semua adalah nyata bukan mimpi. Dia dipaksa harus menerimanya.
__ADS_1
Seluruh saudaranya menatapinya dengan kasihan.
"Tasya... Kamu harus mengucapkan dengan benar..." Ibunya memaksa tersenyum. "Tidak boleh ada air mata. Ucapkanlah selamat tinggal dengan benar... Ini adalah satu-satunya waktu untuk mengucapkannya."
Dengan nasihat ibunya, Tasya pergi ke sekolah dan menghadiri upacara itu.
......................
Di sekolah, sebuah tumpukan bunga berbaris dan membuat sebuah pola segitiga piramid. Di setiap sisinya terdapat foto-foto mereka yang menjadi korban peristiwa itu. Ini adalah memorial buat mereka yang kehilangan nyawa di insiden itu.
Di depan memorial itu, seorang pria dengan topi koboi dan kacamata hitam menatap tinggi foto-foto itu. Dia tidak mengatakan apapun meskipun di sebelahnya ada seorang pria dengan kumis dan janggut yang besar dan bertubuh gendut.
"Ini yang kau inginkan, bukan?" Bahar mendangak ke atas melihat ke puncak hamparan bunga. "Kau mengirim mereka hanya untuk mengekusi mereka yang bersalah, namun malah berakhir membunuh mereka yang tidak bersalah juga."
Meskipun mendengar kalimat semenyakitkan itu, Widodo masih tidak berkata-kata, dia tidak bisa mengelak kalau ini semua adalah perbuatannya. Bila saja dia tidak membuat para guru terlibat, mungkin mereka yang ada di foto ini masih berada bersamanya saat ini.
Widodo terlalu meremehkan nenek itu hanya karena dia pernah bekerja di bawahnya.
Penyesalan ini harus dia bawa terus-terusan, dan tidak boleh dia lupakan begitu saja.
Ini semua adalah karena salahnya.
......................
Di sisi lain memorial, seorang pemuda dengan emblem OSIS di bahunya menatap sedih salah satu foto di hamparan bunga itu.
Foto itu adalah foto Dahlia Puspita, orang yang sangat disayangi Astra sejak awal. Dia tidak bisa menyalahkan pacar Dahlia atas kematiannya. Bagaimanapun, orang itu juga sudah mati demi membalaskan dendamnya. Mayatnya lenyap begitu saja setelah membunuh orang itu. Sungguh sebuah pertukaran yang sepadan hanya untuk melenyapkan sebuah sosok yang abadi.
Astra menatap ke ujung puncak hamparan bunga, di sana ada sebuah foto yang hanya bisa dilihat dari sisinya. Foto itu merupakan foto dari guru yang telah mencuri Dahlia darinya, Rasyid Londerik.
Astra hanya bisa merasa iri dan dengki. Pria yang tidak tahu asal-usulnya bisa tiba-tiba mendapatkan hati orang yang dicintainya.
...
"Menyalahkan siapapun saat ini tidak ada gunanya..." Astra mempersiapkan diri demi masa depan.
Karena dia sudah tidak ada, pikirnya dalam hati.
......................
Berada jauh dari memorial, Haran berdiri dengan bersenden di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya. Matanya tertutup dan mengingat-ingat perkataan pria itu kemarin malam.
"Aku akan membuat kalian semua mengira kalau aku mati saat membunuh Nova."
"Kau... Apa kau mencoba kabur dari dosamu?!"
"Ya bisa dibilang begitu... Tapi ini lebih ke penghapusan dosa bagiku. Aku akan membayar semua kesedihan mereka dengan mengambil semua rasa sakit mereka padaku. Dengan begitu, mereka hanya perlu mengatakan selamat tinggal dan menjalani hidup mereka dengan normal."
"Bodoh, itu tidak semudah itu tahu!"
"Aku tahu... Tapi, apakah ada yang lebih baik dari itu?"
Haran terdiam dan tidak bisa menjawab.
"Kau menggunakan Hover Shoes, jadi kupikir efek sang Pangeran tidak akan berpengaruh padamu."
"Lalu kenapa kau masih ingin melakukannya, bukankah ada aku yang akan membocorkan semua hal itu."
"Itu... Jika mereka percaya padamu." Pria itu tersenyum sinis penuh dengan kelicikan. "Mereka pasti hanya menganggap semua ucapanmu hanya sebagai kegilaan."
Haran terdiam dan menatapi tanah reruntuhan dengan sedih. Dia tidak berkuasa sama sekali saat ini. Tubuhnya dikendalikan oleh sihir pemikat, dan dia masih belum siap kalau hanya dialah satu-satunya yang mengingat pria itu.
Kembali ke masa ini, Haran membuka matanya dan pergi dari sana. Baginya ini hanyalah buang-buang waktu. Karena... Semua memori mereka adalah kepalsuan... Karena yang asli sudah dilupakan oleh mereka.
......................
Ryan berjalan berdampingan dengan Linda mendekat ke memorial. Di tengah mereka, terdapat seorang pria dengan rambut panjang sampai punggung sedang berjalan pincang. Pria itu tidak meregenerasikan tubuhnya yang terluka, dia menganggap ini adalah sebagai tanda kalau dia ingat akan sesuatu yang lenyap darinya. Dia masih tidak tahu apa itu, tapi dia akan segera menemukannya.
__ADS_1
"Ryan... Terima kasih karena sudah membawaku ke sini..."
"Tenanglah, ini bukan apa-apa. Lagipula anda jugalah sepupuku, Rizki."
"Kau tidak pernah berubah..."
"Hey, itu sakit tahu(dalam artian mental)..."
"Tapi memang kenyataanya begitu, kan? Tidak ada yang berubah kecuali kedewasaanmu."
Mendengar pujian itu, Ryan memalingkan wajahnya dan malah berakhir menatap Linda yang juga sedang menuntun Rizki di sisi lain.
Linda langsung merona dan membuang muka je arah lain. Rizki yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum bodoh.
"Geh!" Namun sayangnya senyum bodoh itu berubah menjadi ketakutan.
Dia melihat seorang wanita berambut pirang sedang duduk di sana dan menatapi foto seorang wanita.
"Fredrica?" Ryan memanggil nama wanita itu.
Rizki yang dalam masalah langsung mencoba menunduk untuk menutup wajahnya. Dia tidak mungkin memperlihatkan wajahnya di saat seperti ini.
"Oh, Ryan..." Wajahnya sangat lesu, bahkan lebih ke arah memprihatinkan. "Ke sini untuk hal yang sama?"
"Hmm(mengangguk)..."
"Dan anda pasti adalah Rizki, bukan." Saat menyebut nama pria itu, ada sebuah volume suara yang tiba-tiba naik.
Meskipun begitu, Fredrica tidak mau membuat suasana ini semakin kacau. Dia kembali menatap ke arah foto yang berada di bagian paling bawah hamparan bunga.
Itu adalah foto Erika. Teman yang dia anggap rival.
"Kita semua kehilangan seseorang yang kita cintai di sini." Rizki yang menyadari kecanggungan itu langsung berjalan ke samping Fredrica dan ikut menatap ke arah foto Erika. "Ini adalah perisitwa yang tidak boleh kita kacaukan."
Suara itu membuat semua yang ada di sana tenang.
Ini adalah satu-satunya waktu buat mereka untuk mengucapkan selamat tinggal.
Bahkan mereka yang tidak pernah terlihat sekalipun datang ke tempat ini. 'Mereka' yang dimaksud adalah orang tua Sophia, mereka berlutut dengan berlinang air mata di pipi mereka. Mereka tidak menyangka kalau putri mereka akan berakhir seperti ini. Penyesalan mereka karena mengabaikan putrinya kini telah berada pada ujung. Sudah tidak bisa diperbaiki, sang putri telah pergi meninggalkan mereka.
Kembali ke Rizki dan Ryan, mereka menundukkan kepala mereka di depan memorial itu. Berdoa untuk yang terbaik pada sang roh yang telah pergi. Rizki dan Ryan yang kehilangan keluarga mereka. Fredrica yang kehilangan temannya, dan Linda yang tahu betapa sedihnya Ryan saat ini. Mereka menatapi memorial itu dengan hormat sebagai ucapan selamat tinggal kepada mereka.
Tak lama setelah itu, semua orang berkumpul di sekolah itu. Mereka semua dengan hikmat dan diam memberikan penghormatan terakhir pada mereka yang meninggal.
......................
Sementara itu, di tempat lain.
*Tok! *Tok! *Tok!
Ini adalah hari pertamaku sebagai seorang guru.
Aku sengaja bekerja dengan profesi yang sama seperti sebelumnya karena ini adalah hal yang menyenangkan. Dan terlebih, aku bisa bertemu banyak orang hanya dari profesi ini.
"Masuk!" Saat aku membuka pintu, aku mendengar suara murid-murid yang menungguku, sang guru baru.
Mereka menatapiku yang sedang berjalan ke depan meja seperti melihat artis yang baru naik daun. Ini sudah biasa! tidak perlu takut. Ucapku dalam hati untuk memperkuat mentalku.
Aku berdiri di belakang meja dengan wajah tersenyum, dadaku kupengang lembut dengan tanganku. Dengan begitu, aku siap memperkenalkan diriku.
"Perkenalkan, nama bapak adalah Randy. Randy Saja."
Hariku sebagai orang baru dimulai hari ini.
Kehidupan egoisku saat ini sudah dimulai.
~Selesai~
__ADS_1