
Aku berjalan kembali ke tempat murid-muridku duduk. Di sana aku disambut oleh sorak-sorakan murid-muridku, pujian dan terima kasih diberikan padaku.
Aku tidak bisa berbuat banyak selain berkata, " terima kasih," dengan senyumku.
Suara sorakan mereka tiba-tiba terhenti, mata mereka melihat sesuatu dibalikku. Aku menoleh ke belakang, seorang guru wanita berdiri dibelakangku.
Dia menggenggam tangannya, "Kau hebat, Pak Rasyid. Doakan aku juga akan berhasil!"
Tasya berjalan ke arah arena dengan percaya diri. Dia seperti tertekan oleh sesuatu, tapi aku tidak boleh ikut campur saat ini. Pertarungan ini adalah antar kelompok, tetap saja aku tidak biaa berbuat apa-apa kalau temanku mengalami kekalahan.
"Semoga berhasil, Tasya. Kau berjuang cukup keras."
Tasya memiliki keinginan yang sangat kuat, bila tidak kenapa dia sangat ingin meminta Erika untuk melatihnya dengan memaksa. Apapun tujuanmu, aku harap kau berhasil.
Aku melihat ke papan, nama Tasya dan Nurdin tertulis di monitor besar itu. Lawannya merupakan kelas sihir, aku anggap ini akan jadi keberuntungan buruknya. Tasya masih belum mahir melawan guru tingkat sihir.
Tasya berdiri di tengah arena bersama lawannya, menunggu suara tembakan berbunyi. Mereka berdua sudah menyiapkan pageblug mereka dan bersiap menyerang ketika suara tembakan berbunyi.
Dor!
Tembakan berbunyi, pertanda pertarungan sudah dimulai. Nurdin langsung bergerak layaknya berselancar mengelilingi Tasya, lintasan berselancarnya meninggalkan percikan es. Tasya mengalami kesulitan dalam menyerang, musuhnya terlalu cepat.
Dengan tiba-tiba, Nurdin menembakkan balok-balok es yang runcing ke arah Tasya. Tasya mencoba menahannya menggunakan dinding tanah, namun tanah lemah terhadap es sehingga dinding itu hancur dan mengenai Tasya.
Dari kejauhan, aku melihat raut muka kesal Tasya untuk pertama kalinya, tapi aku langsung kehilangan kepercayaanku kalau Tasya akan memenangkan pertarungan. Ketenangan adalah kunci pertarungan ini. Nurdin mencoba membuat Tasya emosi dan kehilangan pola bertarungnya yang dia latih selama ini.
"Aku tidak akan kalah!"
Tasya mengibaskan cambuknya ke arah lintasan Nurdin. Sengatan listrik membuat lintasan es Nurdin tidak stabil dan hancur. Bongkahan es mencair menjadi air dan memberi kesempatan pada Tasya untuk menyerang. Dia mengeluarkan sihir listrik dan menatapkannya ke air-air yang berdekatan dengan Nurdin.
"Apa hanya itu kekuatanmu?"
Dengan raut muka kesal, Nurdin menahan serangan Tasya. Sebuah barrier api mengelilinginya, air-air yang di dekatnya meleleh dan membuat listrik dari serangan Tasya tidak mengenainya.
"Lemah sekali!"
Senyum merendahkan terpancar dari wajahnya. Kesalahan besar telah dia perbuat, meremehkan lawan adalah sebuah kesalahan di pertarungan.
Tak lama kemudian, sosok Tasya muncul dengan membawa perisai dari tanah dan memaksa masuk ke dalam barrier api milik Nurdin. Nurdin sontak terkejut melihat kenekatan Tasya.
__ADS_1
"Apa?!"
"Rasakan ini!"
Tasya memukulkan perisainya ke kepala Nurdin dan hancur begitu saja. Nurdin yang kesakitan langsung berganti terbawa emosi. Dia mengangkat tangan kanannya, sebuah gabungan es dan api menyatu ditangannya. Sihir air akan dia keluarkan, arena mengalamai ketidakpastian suhu karena es dan api berada di satu tempat.
Tasya nampakanya tidak bisa berjalan mendekatinya, akan sangat beresiko mendekati orang yang sedang meng-charge sihir gabungan. Satu-satunya yang harus dia lakukan adalah menyerang dari kejauhan, tetapi serangan jarak jauh bukan keahliannya.
"Terbelahlah!"
Terlalu lama berpikir, Nurdin selesai meng-charge sihirnya dan melepaskannya. Sebuah mata pedang keluar dari tangan kanannya dan akan mengayun turun ke Tasya.
'Gunakan gabungan petir dan tanah!'
Aku ingin berteriak seperti itu, tapi peraturan tetap peraturan. Aku hanya bisa melihat detik-detik kekalahan Tasya dari sini.
Buaaarrr!
Arena langsung menjadi banjir karena terkena serangan air yang cukup besar, tak ada satupun orang yang bisa bertahan dari serangan itu. Kemungkinannya sangat kecil, itupun bila mereka tahu konsep dasar sihir gabungan.
Tubuh Tasya yang terbaring akan menandakan kekalahannya. Wasit belum menyelesaikan pertarungan karena dia masih melihat Tasya menggerakkan jarinya pertanda kalau dia masih sadar.
Nurdin yang kesal karena lawannya belum menyerah langsung mengaktifkan senjatanya yang dari tadi tak terpakai. Sebuah seruling ia mainkan, bongkahan es kerucut terbuat seiring dia memainkannya. Semakin lama dia memainkannya semain banyak bongkahan es kerucut yang berjajar menunggu untuk ditembakkan ke arah Tasya.
'Menyerahlah bodoh!'
Dalam hatiku kesal, Tasya tidak akan selamat bila dia terus memaksakan diri. Semangatnya harus kuhancurkan, tapi bagaimana? Aku hanya jadi penonton saat ini.
Nurdin selesai memainkan sulingnya dan bersiap menembakkan es-es itu.
"Sampai sini saja!"
Berakhir sudah, aku menutup mataku, tidak berani melihat wajah sedih Tasya. Entah kenapa tapi tiba-tiba dalam diriku aku ingin melihat wanita seperti Tasya menderita.
"Kena kau..."
Senyum kejam Tasya tertulis dimukanya.
"Ini adalah Last Resot-ku!"
__ADS_1
Sebuah kubah dari tanah yang dilapisi listrik ia buat. Semua bongkahan es terpental kemana-mana. Tim keamanan dibuat bergegas melindungi penonton dari serangan-serangan itu.
Nurdin langsung mengerahkan barrier-nya agar tidak terkena serangannya sendiri. Muka terkejutnya tertutup oleh barrier itu.
Sebuah kubah pengaman dibuat oleh tim petugas keamanan agar pantulan es itu tidak kemana-mana dan mengenai penonton, tapi bongkahan es itu terus terpantul di arena.
Aku mengerti sekarang, ini yang Tasya tunggu. Senjata terkahirnya, akan jadi taruhan besar. Bila pantulan yang mengenainya lebih banyak ketimbang Nurdin maka kubah akan hancur dan mengenai Tasya yang sudah lemah.
Tapi keberuntungan buruk menghampirinya lagi. Kubah milik Tasya berkali-kali terkena bongkahan es sedangkan yang terkena barrier milik Nurdin, hancur begitu saja dengan mengecilkan volume dari barrier itu.
"Gyah!"
Akhirnya bongkahan es runcing itu menghancurkan kubah tanah dan menusuk tubuhnya dan Tasya tumbang begitu saja. Nurdin yang kelelahan menghampiri tubuh Tasya dan memberinya hormat.
"Kau hebat sekali... Aku mengakui keberadaanmu."
Nurdin pergi meninggalkan arena dengan badan yang penuh luka, namun tidak usah khawatir. Anitya menyembuhkan luka mereka berdua dengan tanggap.
Perasaan aneh menyelimutiku, aku tersenyum senang saat melihat Tasya terbaring kaku di tengah arena. Melihat kewarasanku yang sudah menurun, aku pamit ke toilet sebentar.
Aku mengamati diriku di depan cermin toilet. "Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi padamu, Rasyid Londerik!" Aku memarahi diriku sendiri. Seketika wajah seorang gadis teringat di pikiranku. 'Jadi itu sebabnya'. Aku mencuci mukamu dan pergi meninggalkan toilet.
Saat aku keluar dari pintu toilet aku melihat Tasya duduk menyendiri di pinggir tembok. Aku ingin menolongnya, namun keadaanku sekarang tidak memungkinkan.
Aku pergi meninggalkannya tanpa memberi tahu keberadaanku yang melihatnya.
"Apa kau melihat Tasya?" Erika tiba-tiba muncul saat aku mau duduk dibangku penonton.
"Tidak, aku belum melihatnya."
Aku harus berbohong, karena meninggalkan teman yang kesulitan akan membuatku dibenci olehnya. Erika yang mempercayaiku langsung melanjutkan pencariannya.
"Kenapa anda berbohong?" Sophia memegang tanganku dengan cengkraman kuat.
"Aku tidak tahu."
"Haaa?"
Sophia hanya bisa melongo melihat tingkahku yang semakin aneh.
__ADS_1
Dalam hati ingin kuucapkan satu kalimat pada diriku sendiri.' Maaf, atas ketidakpedulianku'.