Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 87. Ratu Petarung yang Murung pt.9


__ADS_3

Point of View: Erika Rahmana


Aku saat ini hanya berduaan dengan ibuku, Rasyid yang sudah membantuku ke sini sedang diajak oleh Tesi dan anaknya untuk keluar mencari udara segar.


Kuharap pria itu tidak melakukan hal yang aneh, habisnya sifatnya beberapa hari ini semakin aneh. Dia semakin terlihat lebih terbuka dari pada yang dulu, tapi Rasyid yang normal malah terlihat aneh di mataku.


Lupakan soal pria itu, aku sekarang ada di depan orang yang menghianatiku dan keluargaku.


Seperti yang pria itu katakan, apa yang inginkan kulakukan saat bertemu dengan ibuku?


"E-Erika... Apa kau kesini un... tuk... Balas dendam?!" Suara ibuku gemetaran ketakutan.


Tapi, saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan di depanku. Orang ini hanya terbaring dan tak bisa berbuat lebih semisal aku datang untuk menyakitinya sekalipun.


"Bu-bukan itu, bu... Aku hanya ingin bertemu denganmu..." Sudah kuduga, saat mengatakan itu, mulutku terasa berat dan terengah-engah.


Kalimat simpel, tapi sulit diucapkan itulah yang kualami saat ini.


"Hanya untuk bertemu? Kau naif seperti biasa, Erika..." Orang itu menatap langit-langit kamar ruangannya.


Dia seperti memprovokasiku dan ingin membuatku marah. Ibu, apa yang sebenarnya merasukimu?


"Jika kau ingin membuatku marah, sebaiknya jangan sekarang!" Tanpa sengaja, karena terbawa emosi aku memanggil orang itu dengan sebutan 'kau'.


Mendengar caraku menyebutnya, orang itu tertawa dari hidung dan tersenyum kecut. Dia seperti sudah menduga ini akan terjadi.


"'Kau'... Erika-ku memanggil ibunya sendiri 'kau'?!" Tawanya mungkin terdengar oleh Rasyid dan Tesi yang ada di luar saat ini. "Dari cara bicaramu saja kau jelas-jelas ingin membalaskan dendammu soal masa lalu saat itu!"


"Ti-tidak-(dipotong oleh orang itu)


"Jangan bohong!" Dia mencoba bangkit dari kasurnya. "Aku sudah melihat banyak jenis manusia di dunia ini, dan aku juga sudah menganalisanya satu-persatu, hasilnya..." Wajahnya yang tua itu di dekatkan pada wajahku, nafasnya terasa masuk ke dalam hidungku.


"Cara bicaramu sama seperti anak itu," suara orang itu seperti sedang mengunyah permen karet.


"Anak itu?!" Siapa yang dia maksud.


Tangannya diangkat ke atas seperti sudah menyerah dengan pertanyaanku. "Tentu saja, siapa lagi kalau bukan kedua kakakmu!"


Mendengar itu, mataku melebar dan tulang belakangku seperti merinding akan sesuatu.


"Apa maksudmu-(menarik kata) maksud ibu tiba-tiba membicarakan mereka berdua?" Aku semakin tidak karuhan, orang ini tidak pernah mengatakan apa-apa soal mereka.


"Mereka berdua, memiliki cara pandang yang sama denganmu seperti yang saat ini. Seperti yang diduga dari anak pria itu, virusnya terbawa sampai ke generasi selanjutnya..." Dia kali ini mengatakan sesuatu yang tak bisa dimaafkan.


Bila dia menghinaku, mencaciku, meludahiku, bahkan sampai menamparku-pun aku tidak akan keberatan. Tapi, bila dia menyebut ayah dan saudaraku sebagai sumber bencana, maka, kata maaf saja tidak cukup untuk dimaafkan.


Amarahku menyatu, seperti air yang dimasak untuk membuat kopi, saat ini di dalam diriku ada air yang bisa panas bila terus dibuat menahan panasnya mulut seseorang. Dan saat ini, air itu sudah masuk tahap mendidih.


Tubuhku terasa berat, bahkan akupun tidak bisa mengangkat kepalaku. Yang bisa kulihat saat ini adalah lantai-lantai kamar yang terbuat sederhana dari keramik pasaran.


"Ibu... Kau mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya..."


Ahh... Padahal aku sudah menahannya, tapi ini tak tertahankan lagi. Tubuhku sudah panas dan mendidih.


Tapi....


"Ya, aku tahu itu... Aku mengatakan sesuatu yang mengerikan bahkan untuk anak sedewasamu sekalipun, pasti akan sakit mendengarnya," ucapannya tadi mengalihkan amarahku.


"Heh?" Kini aku tertegun menatapnya.


Dia ingin memberiku sebuah teka-teki, tapi aku tidaklah paham sama sekali dengan itu.


Apa yang dia maksud?


"Jika kau ingin menghabisiku, maka saat ini adalah waktu yang tepat." Orang itu menatap ke selimut yang menutupi tubuhnya saat ini.


"Jika, kau ingin menyiksaku, maka sekarang adalah waktunya."


"Jika kau ingin memakiku, maka sekarang jugalah waktunya."

__ADS_1


"Sekarang tinggal tentukan, apa yang akan kau pilih... Erika."


Orang itu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang rangkap, dan sedikit mudah dimengerti. Tapi, apa maksudnya menghabisi, menyiksa, dan memaki?!


"Ka-kau... Kenapa tiba-tiba seperti itu?!" Ini tidak benar, dia seharusnya membuatku lebih marah seperti tadi.


Terus hina aku, dan biarkan aku mendapatkan tancapan anak panah yang banyak agar kau puas.


Orang itu menatap ke foto yang ada di atas meja sebelah kasur. Foto itu berisi dirinya, Tesi, dan 2 anaknya.


"Bagaimanapun juga, Erika adalah anakku..." Dia mengatakan itu sambil mengelus lemah kaca di foto itu.


"Jika ingin menghinamu bahkan pria itu sekalipun, aku tidak pantas..." Dia menatap balik diriku, tapi kini dia seperti orang yang sangat lemah dan tak berdaya. "Ingat saat itu, aku menjualmu demi menyelamatkan diriku sendiri..."


Dia membicarakan masa-masa kelam saat itu, yang bahkan aku tidak mau mengingat apa-apa lagi dari memori itu.


"Saat kabur, aku terus berlari tanpa arah... Dan berakhir jatuh ke jurang yang dalam."


"Di dalam jurang itu, aku terus membisiki diriku, bahwa ini semua adalah karma."


Note: Jurang yang dimaksud itu sisi gelap kota.


"Karma yang terjadi karena aku meninggalkan keluargaku satu-satunya..."


"Sambil mengisi air keras para tamu... Aku terus memikirkan... Memikirkan nasib seorang putri yang kutinggal dan kini pasti menderita..."


"Saat itu kupikir kau telah menjadi boneka atau mainan pemuas nafsu CEO itu, tapi takdir berkata lain..."


"Namamu... Erika Rahmana, terpampang di layar televisi bar itu..."


"The Queen of Fighter yang tak terkalahkan."


"Tanpa sadar, setelah mendengar berita tentang keberadaanmu, aku mencari artikel-artikel tentangmu dari koran sampai majalah, semua tentangmu kucari..."


"Saat mencari benda-benda itu, aku tertegun satu hal... Aku merindukan putriku."


"Apamah butuh bantuan?" Tanyaku sambil memegangi lengannya.


"Hmm(mengangguk)..."


Kami berdua berjalan bersama ke lemari baju yang cukup tinggi itu.


Langkah ibu sedikit lambat, tapi aku tidak bisa memarahinya, dia sudah selemah ini, bahkan dengan bantuan Anitya sekalipun.


'Mungkin bila tidak ada Anitya, maka ibu...' Tiba-tiba pikiran kotorku masuk, namun aku segera menggelengkan kepalaku.


Apapun yang terjadi, aku harus menahan pemikiran burukku.


Tak TAK TAK TAK...


Suara pelan telapak kaki kami mengiri setiap langkah kami.


Saat berada tepat di lemari itu...


"Lepaskan..." Ibuku melepas tanganku dan memegang kedua gagang pintu lemari kayu yang sudah di makan rayap itu.


KRAK!


Saat dibuka, tidak ada sesuatu yang memukau mataku atau membuatku bergidik merinding.


Yang ada di dalam lemari ini hanyalah baju-baju yang digantung olehnya.


Tapi setelah itu, tangan ibu seperti menggapai sesuatu di sakunya.


Saat dikeluarkan, sebuah kunci kecil muncul dari saku itu. Kunci itu di arahkan ke laci yang ada di dalam lemari itu dan...


CKRAK!


Laci kecil itu terbuka dan memperlihatkan sesuatu.

__ADS_1


Kali ini aku benar-benar membuat punggungku merinding dan bergidik kencang.


Apa yang ada di dalam laci bukanlah sesuatu yang memukau, tapi hanyalah sebuah buku...


Saat aku melihati buku itu, ibuku menunjuk buku itu dengan lima jarinya. Dia mengisyarakan padaku untuk membukanya.


Tanganku seperti lag dalam internet, lambat tapi pasti... Jemariku menggapai benda itu.


Benda itu terasa dingin dan penuh kenangan indah.


SKLAK!


Cover buku itu kubalik, dan memperlihatkan halaman awal buku itu.


Di sana terlihat foto-foto diriku saat menjadi juara di olimpiade saat itu.


Dari aku yang memegang piala, wajahku yang tersenyum bahagia, sampai aku yang bersalaman dengan Fredrica terpampang di buku ini.


Ibuku tidak bohong kalau dia mencariku, bahkan dia merindukan diriku.


Kupikir dia saat ini sudah senanh bersama Tesi, tapi kenyataannya, dia hanya kabur.


Kabur dari masa lalunya.


Tapi, orang yang kabur dari masa lalunya, maka mereka hanya akan lebih dihantui oleh itu...


Sama seperti guru itu, dia mencoba kabur malah berakhir meledakkan sekolah.


Apa yang ibuku alami saat ini sama sepertinya, dia sangat dihantui perasaan bersalah saat meninggalkan diriku di bekukan CEO itu.


Jemariku terus membalik-balik halaman sampai pada halaman terakhir, sebuah foto yang terlihat masih baru tertempel di kertas bergaris-garis itu.


"Ini?" Aku refleks bertanya karena terkejut.


Ibuku tidak menjawab apapun, dia hanya mengangguk dan sedikit sedih.


"Foto ini diambil saat aku menjadi pengawas guru baru." Aku menjelaskan itu pada ibuku.


"Oh begitu rupanya, saat melihat foto itu, ibu merasa senang... Karena dari semua foto-foto di sana... Foto ini memperlihatkan wujud aslimu..." Ibuku tersenyum jahil padaku.


Aku hanya tersenyum kecut saat mendengar komentar ibuku soal foto ini.


"Tapi, foto ini memang punya kenangan tersendiri." Aku menatap balik foto itu.


Foto itu memperlihatkan aku yang sedang cemberut ke arah guru itu. Tapi aku tidak menyangka, kalau guru itu sudah tersenyum sejak awal masuk.


Meskipun senyum yang dia pasang adalah palsu, tapi itu melegakan buatku.


Melihat diriku dan dia berprogres untuk mengubah jati diri, membuatku merasa adem.


"Ehmm(Suara deheman)..." Ibuku mengagetkanku dan membawaku kembali ke dunia.


"Eh?! Maaf, aku kelupaan..." Senyum tipisku kuperlihatkan pada dirinya yang sudah keriput.


Dia menjawab senyum tipisku dengan senyuman lebar. "Dia sepertinya yang mengubahmu... Dia membawa pengaruh baik padamu." Mendengar pujian itu dari ibuku, entah kenapa aku ikut senang.


"Tapi..." Suasana tiba-tiba menjadi dingin dan sunyi. " Sebaiknya kau jangan mencoba mendekatinya..."


Kalimat itu, membekukanku. "Apa maksudnya?!"


"Aku tidak tahu, tapi intuisiku sebagai ibu berkata, kalau dia akan membawa petaka bagimu!" Tatapan melototnya pada pria itu membuatku kehabisan kata-kata.


Apa maksudnya itu?


Tapi, selagi aku sudah berbaikan dengannya(ibuku), itu sudah cukup.


Misiku ke sini hanyalah untuk itu, bukan meminta saran.


Petaka dalam pria itu sudah bukan rahasia lagi bagiku, dia adalah nuklir berjalan di kota ini.

__ADS_1


__ADS_2