Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 158. Menuju Sang Pangeran(Tuhan) Palsu


__ADS_3

Suara baling-baling helikopter yang disetir oleh Ryan menyertai perjalanan kami menuju tempat pemberhentian terakhirku. Di dalam kendaraan ini, aku masih memikirkan banyak hal, terutama memikirkan orang-orang yang bersamaku saat ini.


"Kenapa kalian mau ikut?" Tanyaku dengan bingung. "Bukankah kalian seharusnya tidak terlibat dengan masalah ini?"


Ini aneh, seharusnya mereka setidaknya memilikir perasaan benci padaku meskipun sedikit.


Namun kenapa mereka malah mau ikut ke sana?


"Aku hanya punya firasat... Kalau di sana sepertinya kau membutuhkan beberapa bantuan." Erika menjawab dengan wajah serius dan senyuman tipis yang cerah.


Apa yang Erika katakan ada benarnya, Nova pasti segera sadar kalau aku akan mengincarnya setelah bertemu dengan kakak tertuaku. Bisa dibilang, dia sudah siap melenyapkanku dan mengambil posisi itu sendirian.


Dia tidak terlihat mau ada orang lain yang bisa melenyapkan nyawa orang selain dirinya, oleh karena itu dia ingin segera mematikanku.


"Pak Rasyid, bukankah saya pernah bilang... Setidaknya jangan pernah coba selesaikan masalah besar seperti ini sendirian?" Sophia tersenyum sambil memegangi dadanya.


Aku tidak ingat dia pernah mengatakan itu.


"Aku hanya bisa mengantarmu sampai gerbang, sisanya kuserahkan pada mereka." Stevent memalingkan wajahnya dariku, wajahnya terlihat malu saat mengatakan itu. "I-ingat! Aku hanya membalas kebaikan anda yang dulu! Aku tidak mau melakukan ini secara gratis sebenarnya!"


Aneh sekali dia.


Entahlah, lagipula ini adalah Stevent. Sejak awal dia memang begini.


Aku menaruh telapak tanganku di dadaku sambil tersenyum melas. "Terima kasih... Aku tidak menyangka kalian akan membantuku. Meskipun dengan apa yang sudah aku lakukan pada teman-teman-"


Namun kalimatku segera dipotong.


"Ingat, jangan ungkit masalah itu!" Erika berjalan melewatiku sambil menyilangkan tangannya. Dia sedikit menahan amarah dan gemetarnya. "Anggap saja kami di sini karena ada sesuatu yang lebih berbahaya darimu."


Mendengar penjelasan itu, baik Sophia dan Stevent tidak berani lagi menatapku dan Erika yang bediri berlawanan dan sejajar.


Aku mengangguk pelan sebagai jawaban iya. Jika itu yang terbaik maka aju tidak boleh merusak lebih dalam kepercayaan mereka padaku.


Setelah mendengar penjelasan mereka bertiga, kini aku menoleh ke arah sepupuku yang menyetir benda terbang ini.


"Kenapa kau ikut, cupu?" Aku bertanya. "Bukankah ini kesempatanmu untuk melihat orang yang suka membullymu mati?"


Aku sedikit tersenyum kecut saat mengatakan kalimat itu.


Tapi tanpa diduga, sebuah sebuah tangan melayang ke arahku.


*Bak!


Itu adalah tamparan yang cukup kuat.


"Sudahlah payah, kumohon... Aku memang membencimu, namun kau tetaplah keluargaku, jadi jangan banyak menyalahkan dirimu. Ini tidak seperti dirimu, kau tahu?"


"Ma-maaf..."


Ntah kenapa, sejak selesai pertarungan tadi rasa bersalahku seketika bergejolak dan terus menganggap aku sudah tak termaafkan.


"Lagipula, bukankah permasalahan kita berdua sudah selesai setelah aku bisa menginjak-injak kepalamu sampai hancur saat itu?" Dia membicarakan kejadian di saat ujian sekolah.


Sejujurnya aku sedikit lupa kalau aku pernah diinjak sampai hancur. Saat merasakan injakan itu, entah kanapa aku tidak merasakan nikmat sama sekali, karena perasaan bersalah yang membanjiri di atas kenikmatan sehingga tertutup seluruhnya.


"Kau memaafkanku begitu saja?" Tanyaku ragu.

__ADS_1


"Kau ini emangnya masokis apa?"


Ryan mendekatkan wajahnya padaku dengan memasang ekspresi terkejut dan aneh.


"Ti-tidaklah!"


"Hah, sudahlah..." Dia seketika menjauhkan wajahnya dan sedikit menyesal setelah bertanya.


Saat melihat sekitarku, aku menyadari Sophia yang seketika mencoba tidak mendengarkan apa yang kami berdua katakan.


Sepertinya dia bereaksi saat Ryan menanyakan tentang masokis.


......................


Beberapa menit telah berlalu, dengan cepat sekarang aku bisa melihat gedung tinggi yang merupakan kantor bupati Kota Ningru.


Tempat dimana Nova membuat laboratorium mengerikan yang berkedok tempat kerja pegawai sipil.


"Kau mahir mengendarai helikopter?" Sesuatu seketika terpikirkan di benakku.


Bagaimana dia bisa nyetir benda ini?


Mendengar pertanyaan itu, dia hanya tersenyum tipis. "Mengendarai hal seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit bagi seorang engineer sepertiku," ucapnya sambil mengangkat bangga dadanya.


Dia tidak berubah, masih banyak tingkah.


"Apa kau bisa..." Aku menunjuk ke arah salah satu dinding kaca gedung itu. "...Menghantam kaca itu?" Tanyaku dengan nada yang dingin.


Kami sudah berada di wilayah musuh yang berbahaya. Jika saja aku membuat situasi tetap santai maka akan ada kemungkinan kami tidak akan sadar bila ada serangan mendadak.


Mendengar permintaanku, Ryan menatapku sambil memperlihatkan wajah 'yang benar saja'.


"Benar juga..."


Aku seketika mengingat. Lawanku bukanlah keroco lagi, namun orang yang berada di atasku, berada di atas kakakku, dan berada di atas semua orang. Dia adalah Nova Sana. Orang yang telah berhasil menyelesaikan tujuannya, yaitu menjadi sang Pangeran(Tuhan).


"Ada yang mengawasi kedatangan kita!"


Saat sedang berpikir, Erika yang melihat keluar jendela memberi peringatan bahaya.


Kami semua melihat tanda bahaya itu.


Itu bukanlah sebuah gerombolan musuh ataupun mesin, namun hanyalah seorang pria dengan memanggul kapaknya.


"Doni Kusuma...." Aku menyebut nama pria itu.


Aku lupa kapan aku terakhir melihatnya, namun ini sudah cukup lama sejak terakhir pertemuan kami berdua.


Melihat bagaimana dia menyadari kedatangan kami sejak awal, aku bisa memastikan satu hal. Aku telah masuk ke dalam skema nenek itu.


"Jadi dia benar-benar ingin segera menghapus keberadaanmu, ya?" Erika merengutkan mukanya.


"Sepertinya..."


"Tunggu apalagi, ayo kita sapa dia!" Di belakangku, aku mendengar suara Stevent yang sudah siap mengayunkan pedangnya.


*Bak!

__ADS_1


"ouch!"


Sebuah tangan menampar belakang kepalanya.


"Jangan gegabah, dia pasti sangatlah kuat." Dengan nada datarnya, Sophia mengingatkan siapa dan seberapa tinggi lawan kami saat ini.


"Kita susun rencana saja!" (Erika)


"Rencana?" (Stevent)


"Di sini tidak mungkin hanya ada di saja, pasti ada beberapa penjaga lainnya." (Erika)


"Aku tidak berpikir kalau ada orang lain selain dirinya di gedung ini."


Aku hanya memikirkan bagaimana sifat Nova itu.


"Tidak ada?" (Erika)


"Untuk jaga-jaga, anggap saja ada."


"Hah?"


Aku bukan tidak percaya kalau nenek itu bakal mengeluarkan banyak orang, hanya saja sifat hati-hatiku seperti mengatakan kalau aku harus melakukannya.


"Jadi, yang benar yang mana?" Erika bertanya kembali.


"Untuk sekarang, anggap saja kalau Nova bersiap untuk pertunjukan terakhir."


"Aku mengerti, kalau begitu... Rasyid, bisa kau buat serangan pertama lalu biarkan aku yang menyerangnya dengan serangan gabungan?" (Erika)


"Serangan pertamamu akan dilanjutkan oleh Sophia, Stevent, lalu Ryan. Setelah serangan pertama kalian semua berhasil melewati pria itu, segeralah lari ke dalam bangunan tanpa memikirkanku." (Erika)


"Jadi intinya ibu mencoba melawan orang itu seorang diri?" Sophia menatap guru itu dengan tatapan seram.


Sophia membenci orang yang menganggap tinggi dirinya sendiri.


"Anggap saja karena hobiku menghancurkan orang tinggi sepertinya."


"Tidak, aku tidak mau! Melawan musuh yang kuat seharusnya dilakukan bersama!"


pertengkaran mereka semakin membuat situasi kacau.


*Bak!


Gebrakan dari kursi supir terdengar, kepalan kuat menghantam kendali dan mengagetkan mereka berdua.


Ryan melirikkan matanya ke samping tanpa memutar kepalanya seakan bisa melihat mereka berdua.


"Berhentilah melawak, jika kau tidak tahu bagaimana lawanmu dan hanya tahu dirimu, maka kemungkinan menang hanyalah 50 persen, namun jika kau tahu seberapa kuat lawanmu, maka kemungkinan menang akan meningkat."


"Jadi maksudnya?" (Erika)


"Akulah yang akan melawan!"


"Kenapa?" Tanyaku dengan bingung.


Sejak kapan Ryan punya koneksi dengan Doni?

__ADS_1


"Aku punya urusan yang belum terselesaikan dengannya!" Dia mengatakan itu dengan wajah yang gila bersemangat.


__ADS_2