
Candra Emi dari Kelas 2 Fisik 2, Ami Salahudin dari Kelas 2 Fisik 3, Matthew Kunto dari Kelas 2 Sihir 1, Malik Abimanyu Sang Pencakar Langit dari kelas 2 Sihir 2, dan yang terakhir Nurdin Jiminten dari kelas 2 Sihir 3. Mereka semua maju ke arahku untuk menantangku secara 5 lawan 1.
Terlihat tidak adil dan berat ke arah mereka berlima bila dilihat dari jumlah, namun akan menjadi berat ke arag Rasyid bila dilihat dari kekuatan.
"Rasyid, pertarungan kita yang sebelumnya masih belum selesai!" Di antara mereka berlima, Abimanyu adalah orang yang memimpin pembicaraan.
"Pertarungan?" Aku sedikit lupa dengan apa yang dia maksud.
Namun dengan segera, aku melancipkan mataku kembali. Ucapannya mengingatkanku dengan kejadian di bawah flyover itu. Aku meningat mereka dengan jelas, wajah-wajah yang bersekongkol untuk menghancurkanku pada waktu saat itu.
"Sepertinya kau sudah sedikit mengingat maksud dari perkataan Tuan Abimanyu, ya?" Matthew dengan memperhatikanku secara jeli menyadari raut wajahku.
"Ntahlah..." Aku malas memberi penjelasan.
"Tenang seperti biasa, seperti yang diharapkan dari Rasyid Londerik." Ami memujiku sambil memperlihatkan dua pedangnya yang bersiap diayunkan.
Suaranya terdengar seperti wanita penggoda. Ini tidak terdengar seperti Ami yang kemarin.
Saat aku melihat ke bagian tangan dan kakinya, aku melihat kedua bagian itu bergemetar secara tidak berhenti. Seakan, nada bicaranya tadi hanya untuk menutupi gemetar di tubuhnya.
Sepertinya pertarunganku dengan Vicky telah benar-benar membuat semangat bertarung mereka turun.
"Ingatlah, meskipun kami tidak berhasil mengalahkanmu saat ini, namun kau tidak bisa menang melawan mereka semua(seluruh divis guru sekolah ini)." Dengan tekad siap mati, Nurdin mengaktifkan serulingnya dan bersiap menembak.
*Duar!
Tanpa memberi aba-aba, sesaat setelah kalimatnya selesai. Nurdin langsung meniupkan serulingnya dan membuat sebuah ledakam besar di dekatku.
"Woah, langsung main nyerobot aja!" Aku menghindar dengan memanfaatkan sihir tanah dengan membuatnya tanah yang kupijak melemparku seperti catapult.
Di saat aku mendarat ke tanah, aku melihat kedua tanganku telah beregenerasi kembali dan kini siap untuk menghadapi mereka secara utuh.
Namun sepertinya sesuatu tidak berjalan begitu mudah, sesaat aku teralihkan oleh tanganku, aku merasakan ada langkah kaki dan mesin dari hoverboard mendekat ke arahku.
Pangeran dan pelayannya?!
Mereka berdua mengepungku dari dua arah.
Bagian kanan ada Matthew, dan di bagian kiri ada Abimanyu.
Apakah mereka mau menggabungkan sihir tanah mereka?
Rencana mereka pasti akan segera terungkap.
Saat jarak mereka denganku semakin dekat, Abimanyu mengangkat tangan kanannya seakan memberi sebuah tanda.
"Sekarang, Matthew!"
"Ya!"
Sebuah angin tornado bergerak ke arahku dari bagian kiri, dan sebuah badai es terbang ke arahku dari bagian kanan.
Apakah mereka ingin membuatku kedinginan?
Angin dan es bertabrakan membuat kekuatan dari sihir es menjadi sangatlah kuat. Ada kemungkinan bila seseorang terkena ini mereka akan tersiksa oleh dinginnya suhu.
"Rasakanlah apa yang mereka rasakan saat ini, Rasyid!" Dari cara bicaranya Abimanyu, aku bisa menyimpulkan kalau mereka ingin membuatku tahu apa yang terjadi di sekolah saat ini.
"Oh..."
__ADS_1
Sekarang aku mengerti, tidak seperti ketiga guru lainnya. Abimanyu, meskipun dia brengsek dan hanya memperdulikan posisinya, namun bila murid yang terkena imbasnya, maka dia adalah orang yang akan berada di paling depan untuk membelanya.
Untuk jawaban sebagai perlawanan untuk pertahanan, aku memasangkan sihir api ke pedangku dan mengayunkan seperti sedang menari.
Dalam sekali ayunan saja, suhu dingin yang ekstem tadi langsung berjalan ke arah lain dan menghantam sebuah bangunan besar di runtuhan itu.
Mereka semua tidak terkejut dengan apa yang barusan kulakukan. Bagi mereka sekarang, segala kelogisan tentang Anitya yang telah mereka pelajari tidak lagi relevan di hadapannya.
Jika begitu...
"CODE NAME: MTTHWKNTC2M1, REMOVE CORE!"
"CODE NAME: MLKBMNYSNGPNCKRLNGTC2M2, REMOVE CORE!"
Tidak mau membuang-buang waktu mereka, aku segera mengakhiri mereka dengan hormat.
Dengan pelan dan elegen, aku mengangkat tanganku yang bersiap untuk menjetikkan jari. "Selamat tinggal, Pangeran Abimanyu, dan pelayannya."
"Tch, tidak bisa, ya?"
"Maafkan aku, tuan... Saya terlalu lemah untuk ini."
Mereka mengatakan kalimat terakhir itu menandakan kalau mereka sudah pasrah dengan takdir. Seberapa kalipun mereka mencoba, mereka akan tetap melihat kekalahan mutlak ini.
*Ctak!
Setelah jentikan itu, mereka berdua tergeletak di tanah dan tidak akan menunjukkan tanda-tanda kalau mereka akan bisa membuka kedua mata mereka kembali untuk selamanya.
"Matthew, Abimanyu!" (Ami)
Mereka yang tersisa kini terdiam setelah dua orang utama di grup itu terbunuh. Mereka hanya bisa menahan tangis dan air mata untuk tidak gegabah dan langsung melakukan pembalasan dendam.
Aku tidak mau memberikan jawaban padanya, rasa senang atau sedih itu saat ini bukanlah urusannya.
[Semuanya, berhati-hatilah! Dia adalah legenda Cike Nuwang!]
Seketika suara misterius seperti radio terdengar di kuping setiap orang yang berada di lokasi(termasuk diriku). Ntahlah siapa, namun orang yang mengatakan ini jelas sudah dalam keadaan berhati-hati kepadaku.
"Apa?!"
Saat mendengar perkataan itu, mereka bertiga semakin gugup untuk maju.
*Prank!
*Krak!
Kedua pedang yang dipegang Ami dengan cengrkraman kuat tadi seketika jatuh ke tanah menandakan kalau dia sudah menyerah.
"Aku tidak kuat lagi..." Dengan berlutut pasrah, Ami mengeluarkan air mata dan terbaring di tanah.
Dia menyadari seberapa kalipun dia berusaha, hasilnya tetaplah akan kekalahan. Di tambah dengan setelah mengetahui identitas asliku, dia menjadi merasa 'bahkan seluruh divisi sekalipun tetap akan kalah melawannya.' masuk ke dalam pikirannya.
Melihat Ami yang pasrah, aku menjadi iba dan mencoba tidak membunuhnya. Namun di lain sisi, aku merasa takut kalau dia mencoba menipuku dengan tangis itu.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah dia sungguhan?
"Ami, yang benar saja?!" Nurdin memaki wanita itu, dia mencengkram kuat serulingnya dan di arahkan ke wanita pengecut itu.
"Habisnya, seberapa kuatpun perjuangan kita...Kita tetaplah akan kalah!"
__ADS_1
"Tenanglah, masih ada aku, dan Candra di sini!"
"Apakah kau pikir Candra masih hidup?!"
"Hah?!"
Mendengar pernyataan itu, Nurdin seketika terdiam dan berubah kaku.
"Apa maksudmu...?"
"Serangan Matthew dan Abimanyu tadi dibelokkan, bukan? Tornado es itu mengenai tempat di mana Candra bersembunyi! Dan sekarang aku tidak bisa mendengar suara darinya lagi!" Ami menjelaskan dengan air mata yang berjatuhan. "Dia mati karena membeku!"
"Tunggu, apa maksudmu?! Bukankah Anitya melindunginya, dan untuk membunuh seseorang, bukannya harus mengenai inti dari Anitya?!"
Mendengar penjelasan Ami, aku yang dari tadi terdiam kini sadar maksudnya.
Aku mencoba berjalan sedikit ke depan dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Tebasan apiku tadi secara tidak sadar menebas tubuh Candra, dan karena tornado es itu datang sebelum Anitya meregenerasi tububnya. Dia mati karena membeku, bukan?"
Mendengar penjelaskanku, Ami menangis semakin keras. Tangisannya mungkin akan sampai tahap mengeluarkan darah.
Jujur saja, aku tidak menyangka kalau seranganku tadi mengenainya. Ini merupakan takdir pahit para pengguna sniper, mereka bisa mati tanpa disengaja.
"Apakah itu artinya, aku juga harus menyerah?" Nurdin semakin bingung dengan keadaan. Dia tidak tahu apa yang harus dia pilih saat ini.
Menyerah dan Meneruskan akan menimbulkan hasil yang berbeda dan akhir yang bertolak belakang.
"A-aku... Menye-"
*WUSSSSHHHHH!
Saat mau mendeklarasikan kekalahannya, seketika badai es menerjang reruntuhan sekolah ini dan membekukan mereka berdua sampai ke dalam-dalamnya(Membeku dengan sangat tebal seperti yang terjadi di Sekolah Podoagung).
Orang normal tidak dapat melakukan sihir ini. Sihir ini pasti dilakukan dengan beberapa orang.
"Tch, mereka sudah datang, kita terlambat..." Widodo yang dari tadi diam melihati jalannya pertempuran mulai mengisi pelurunya.
Dia mau mengakhiri ini semua sebelum hawa keberadaan misterius itu datang sepenuhnya.
"Maafkan aku, Rasyid, tapi kau harus berakhir!"
*Dor!
Peluru batu panca warna itu melesat ke arahku sebelum aku bisa menghindar. Jika terkena saat ini aku pasti akan mati.
Namun situasi telah berganti, kini sudah tidak ada penghalang buatku untuk menggunakan sihir cahaya.
Maka...
Namun, tepat sebelum aku mengaktifkan sihir cahaya itu, seseorang berdiri di depanku dan mencoba melindungiku dengan tubuhnya.
*Jrot!
Peluru itu menusuk tubuh dari orang yang melindungiku.
Saat mataku melihatnya, aku melihat sesosok tubuh pendek sedang tergeletak di depanku. Dia adalah seorang gadis dengan rambut diikat seperti dua bua bola di kepalanya.
Tidak salah lagi, gadis itu adalah Dahlia. Kini dia terbaring tak berdaya di tanah.
__ADS_1
Dia mati sia-sia.