
Di dalam sebuah rumah yang luasnya sama seperti ruang kelas, Haran membawaku masuk tanpa menjamuku sekalipun, dia langsung menggiringku ke sebuah tangga tersembunyi di rumahnya.
Sudah kuduga, pasti ada tempat tersembunyi, tapi kenapa ada di sini...?
Yang kumaksud dengan kenapa di tempat seperti ini adalah, tempat yang digunakannya untuk menyamarkan tangga ke ruangan tersembunyi ini cukuplah aneh.
Bagaimana tidak, habisnya tempat itu adalah...
“Kenapa di ******?” Tanyaku dengan wajah yang kosong.
“Hahaha, jika di sini jelas tidak ada yang mencurigainya!”
“Bagaimana bila bau?”
“Tenang saja... Aku sudah memisahkan kedua tempatnya, jadi bau dan wanginya cukup berbeda meskipun cuman bersebelahan...”
“Ahh---”
Aku tak bisa melawan Haran, ternyata orang ini kalau sudah melakukan hal aneh, maka anehnya akan keterusan.
Tingkat anehnya sudah berada di puncak keanehan yang sudah lebih aneh daripada anehnya aneh.
Berapa banyak aku sudah menyebutkan kata aneh?
Astaga... Kenapa aku juga jadi aneh?
Click!
Haran menyentuh sebuah keran air tersembunyi yang terletak di balik pintu toilet.
Lalu...
Sleessh...
Ruangan toilet tadi bergeser ke samping menjadi dua dan membukakan sebuah anak-anak tangga yang mengarah ke dasar tanah yang cukup gelap.
Di ujung anak tangga terdapat pintu besi yang sepertinya hanya bisa dibuka hanya dengan sebuah ID Card milik wanita itu.
“Ayo...!”
“Hmm(mengangguk)...”
Haran mulai berjalan menuruni anak tangga sementara aku mengikutinya dari belakang.
Bukan berarti aku pengecut... Hanya saja, tidak mungkin aku bisa membuka pintu itu bila aku yang berada di depan. Anak tangga yang membawa kami ke pintu itu hanya muat untuk dilewati satu orang saja.
CTACK CTACK CTACK!
Saking kecilnya dan sunyinya ruangan, bahkan kedua langkah kami saja sampai terdengar cukup keras.
Click!
ID Card yang Haran pakai diterima kunci pendeteksi itu, dan pintu besi itu terbuka denga lebar.
__ADS_1
Saat aku masuk ke dalamnya, aku melihat sebuah ruangan yang serba putih dengan dipenuhi peralatan-peralatan yang terbuat dari kaca.
Jika seseorang teledor sedikit saja, mungkin mereka akan membuat Haran menjadi marah besar karena sudah merusak gelas-gelas kaca yang notabenenya berarti mereka juga sudah merusak eksperimen wanita itu.
“Selamat datang di lab Madu Haran, dimana semuanya teroganisir dengan baik...”
Haran merentangkan kedua tangannya ke atas sambil memperlihatkan senyuman menyeringainya pada labnya yang serba putih dan diramaikan oleh peralatan gelas yang tertata rapi.
“Kak Haran sepertinya sangat menyukai warna putih, ya?”
“Hah? Aku suka warna putih? Jangan bodoh, warna putih kupilih agar saat aku menghidupkan lampu maka ruangan akan langsung terang.”
“Oh, ahahaha...”
Aku lupa kalau dia aneh... Jadi cara berpikirku juga harus juga aneh.
“Jadi, dengan peralaan yang rapi ini, apakah anda menyortirnya karena anda adalah pelupa?”
Ini dia, pikiran anehku... Tapi aku yakin, jawabannya pasti akan lebih aneh.
Tidak mungkin dia akan bilang kalau dia itu suka kerapian, apalagi bilang kalau dia itu OCD.
“Juniorku yang lucu, apa kau menghinaku?” Dia menatapku dengan tatapan yang tajam namun tidak memudarkan senyumannya yang menyeringai.
“Lah... Lalu kenapa?”
Apakah aku salah, atau hanya kurang aneh dalam menebak saja?
“Hah(menghela nafas)... Bukankah saat di parkiran bawah flyover tadi kau seharusnya sudah menyadarinya?”
Kejadian yang terjadi sebelumnya membuatku geram, jadi aku kurang memerhatikan sekitarku.
Apakah aku melewatkan sesuatu di sana?
“Oh iya, aku ingat kau melamun saat aku memarkirkan mobil tadi...”
Haran memegang keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apakah ada sesuatu yang terlewat?”
“Langsung saja kujelaskan, a-aku ini(memalingkan matanya dariku)...”
Entah kenapa, aku merasakan hawa yang panas di wajah Haran saat dia ingin mengatakan itu. Wajahnya merah bagaikan sebuah tomat yang segar di sawah.
“Aku ini sebenarnya OCD...” Ucapnya malu-malu sambil memainkan pergelangan tangannya sendiri.
“Hah...”
Aku terdiam dan memaku di tempatku berdiri layaknya orang bodoh yang baru saja digempur oleh pelajaran matematika, kimia, fisika, dan biologi di saat yang bersamaan.
Kenapa malah perkiraan terakhirku yang benar, yang malah kuanggap itu tidaklah akan muncul?
Okeh, apa yang ada dalam pikiranku tidak pernah benar dengan apa yang ada dalam kepala Haran.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, seingatku tadi pagi dia terus menjelaskan sesuatu yang masih berada di dalam pikiranku. Tapi sekarang, sepertinya hal itu sudah tidak... dan malah digantikan dengan fakta kalau semua perkiraan diriku tentangnya adalah salah.
Dia ini pembaca pikiran atau apa?
Tapi untunglah, dia sudah tidak terlihat marah lagi padaku.
Tatapannya yang penuh kesunyian saat di jalan tadi benar-benar membuatku takut.
“Lu-lupakan soal itu! Se-sebaiknya kita langsung ke intinya saja...!”
Haran membawaku ke pipa ukur 100ml ala laboratirium.
Di sana berjajar 8 pipa yang siap untuk diisi dengan sebuah serpihan sihir dari para pengguna Anitya.
Namun karena kini dia sudah menemukan orang yang pas bahkan bisa langsung mengisi semuanya sekaligus, tanpa perlu membayar lebih banyak orang dengan Anitya yang sesuai.
“Nah, juniorku... Sekarang keluarkan setiap elemenmu satu persatu sesuai dengan gambar yang ada di ujung lubang pipa itu.”
Dia menunjuk pada bagian lubang yang akan menjadi tempat aku mengeluarkan sihirku nanti. Di sana ada sebuah simbol dari sebuah elemen, dan aku harus memasukkannya sesuai simbol itu.
Tanpa pikir panjang, aku melakukan apa yang wanita itu inginkan. Meskipun sebenarnya aku sangat tidak ingin melakukan ini, tapi karena ini adalah sebagai permintaan maafku, maka aku mau tidak mau harus melakukannya.
Sebuah simbol api menjadi elemen pertama yang ada di pipa itu.
Simbol air menjadi elemen kedua.
Simbol listrik menjadi elemen ketiga.
Simbol es menjadi elemen keempat.
Simbol tanah menjadi elemen kelima.
Simbol batu hitam (kegelapan) menjadi elemen keenam.
Simbol bola kuning (cahaya) menjadi elemen ketujuh.
Simbol koin emas menjadi elemen kedelepan.
Saat kulihat-lihat, sepertinya Haran tidak membutuhkan elemen angin karena eksperimen ini mengubah berbagai elemen ke angin, jadi elemen angin tidaklah termasuk.
Tunggu, apa itu elemen koin emas?
“Kak Haran, elemen kedelapan itu apa?”
Aku refleks bertanya dan dipenuhi dengan pertanyaan saat melihat itu.
“Itu? Bukankah itu elemen emas? Seperti yang dipakai Xander saat itu...”
Sepertinya serangan kombo yang dilakukan Xander pada saat itu masih membuat pertanyaan bagi banyak orang, tentang apakah serangan gabungan antara cahaya×cahaya yang menjadi emas itu adalah elemen atau bukan.
Bila itu tidak diperdebatkan, maka Haran tidak akan repot-repot memasukkan pipa bersimbol emas ini.
“Apakah kami salah?” Haran langsung memberi tatapan tajam padaku, seakan dia tahu kalau aku tahu jawaban yang dia cari itu.
__ADS_1
“Sepertinya tidak ada yang bisa kusembunyikan dari Kak Haran...” Aku akan berterus terang saja. “Emas bukanlah elemen, melainkan hanyalah reaksi elemental biasa saja...”
Dengan begini, seharusnya dia akan mengerti dan melanjutkan eksperimen sebagaimana mestinya.