Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 63. Ujian Sekolah prologue pt.4


__ADS_3

Pertama-tama...


JLASS


Semua bawahan George Chris membeku oleh sihir es.


"Apa... Tujuanmu, George Chris?" Tanyaku dengan nada rata.


"Ke-kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Dia melawan sambil mencoba mencari spot terbaik untuk bernafas.


"Namamu terkenal jelas di Kanada, bukan?" Cekikannya semakin kueratkan.


"Te-terus?! Itu tidak ada hubungannya denganmu!"


"Tentu saja ada..." Mataku melotot tepat di sampingnya. "Kau yang membuatku bergerak seperti ini!" Suara dingin kukenakkan tepat di lubang kupingnya.


Kekesalanku yang kumaksud adalah bagaimana karenanya aku menjadi pembantai seperti dulu kala.


Di mana padahal aku sudah tidak ingin melakukannya. Tapi karena sudah dibuat mendidih oleh mereka, maka aku terbawa suasana dan berakhir memetiki bunga-bunga di taman.


"Mana peduli aku denganmu, Babu!" Erangnya tak tahu kondisi.


"Woy woy... Di sini, lihatlah... Siapa yang dalam posisi terdesak?" Suara dari jakunku terdengar bergema.


"Aku tidak peduli... Selagi aku-(kupotong)"


"Apa? Teman-teman bisnismu yang lain? Singh Akash, Norman Colbertstein, Garnt Towel, Akida Nozomi, dan Jainal Zaka Zaki Mahesa Jinail...


Mereka semua bukanlah apa-apa bagiku!" Aku mengintimidasinya.


"Ka-kau mengetahui nama dari mereka semua?! Seperti yang terduga dari babu nenek itu!" Dia semakin merendahkanku.


Meteran ketidaksabaranku semakin meningkat, ini akan berakhir buruk bila aku terus dibuat adu mulut dengannya.


"Terserah apa katamu! Tapi ingatlah, jika kau tidak mau bernasib sama seperti Norman Colbertstein... Maka menjauhlah dari sini!" Ucapku sambil merobek kulitnya.


SRAT!


Jantungnya kutembus menggunakan pisau es dan kugeledahi.


Sampai pada ujung, aku seperti sedang mengambil undian dengan mengocok kertas lipat.


Aku merasakannya, inti dari sihir kode.


Benda itu kubawa keluar dengan pelan bagaikan menarik undian yang diharapkan bukanlah undian yang buruk.


Ini akan menjijikkan bila dilakukan, tapi misi tetaplah misi.


"GYAHHH!" Erang dari Chris menggema bahkan mengguncang lantai ini.


Sesaat setelah inti sihir kode itu kucabut dari kotak kehidupannya.


Badan Chris tersungkur bagaikan bayi yang merangkak tanpa daya.


Nafas tidak teratur berkali-kali ia tarik dan keluarkan.


Air-air asin mulai mengucur dari kerutannya.


"Mulai sekarang, diamlah!" Ucapku bernada datar sambil perlahan mengambil langkah tenang ke arah sang putri.


Hanya butuh waktu sebentar sampai George Chris dan bawahannya berubah menjadi patung bernyawa seperti yang lainnya.


Sejujurnya, aku tidak tahu mau kuapakan sihir ini.


Sihir kode pengendali waktu yang sekarang ada di telapak tanganku mungkin akan berguna banyak padaku, tapi bila setiap kali aku menggunakannya dan 2 orang itu masih bisa bergerak, maka itu tidak ada bedanya.


Aku menggenggam kuat sihir kode itu sampai terdengar bunyi kretek.

__ADS_1


'Sebaiknya, sihir ini tidak diciptakan saja,' pikirku sambil membuang serpihannya ke lantai


Dengan hancur sihir itu, maka waktu akan kembali berjalan.


Tapi tetap ada yang namanya delay.


Tidak heran terjadi delay, benda itu sudah mengalami bug sejak aku mengeluarkannya secara paksa dari dalam jantung orang itu.


Aku akan menggunakan waktu delay ini untuk mengembalikan segalanya. Meskipun bukan berarti 'segalanya'.


Di depanku, seorang putri terpatung dan tak bergerak sama sekali.


'Semoga saja, dia tidak diapa-apakan.' sambil memeriksa kondisi tubuh putri yang mematung itu.


Ya, sepertinya tidak.


Setelah itu, aku menggotong tubuh ringannya.


"Aku harus cepat!" Tatapku berbalik ke arah jendela yang sudah pecah.


Langkah panjang kuambil, setiap jarak hentakan dengan hentakan lainnya sangat berjauhan.


Dan di saat aku meluncur dari jendela itu, partikel-partikel sihir cahaya di kakiku terlihat menyilaukan.


Dengan begini, aku dapat berlari turun di atas dinding gedung itu.


......................


Beberapa menit kemudian, mereka(para pengawal) semua kembali bergerak dan menatap aneh Putri Tyas itu.


"Kenapa jalan kaki?" (Ryan)


"Bukannya dia tadi naik mobil?" (Tasya)


Sang Putri-pun bahkan tidak tahu apa yang terjadi, tapi karena sesuatu yang disebut keformalan.


Sang Putri Tyas Anjani yang juga terkena yang namanya keformalan, juga ikut melanjutkan dan berjalan melewati di antara kami.


Setiap langkah yang Anjani hentakan selalu memberi kesan elegan.


Bagaikan disetiap langkahnya terdapat bunga-bunga yang mekar, bersamaan dengan harum dari pakaiannnya memberi kesan seperti di tengah pabrik parfum.


Bahkan suara TAK dari gesekan sepatunya dengan tanah selalu terdengar konstan dan tak berubah sama sekali.


Tidak aneh bila dia disebut sebagai Putri...


Cara didikan mereka memang berbeda dari orang biasa.


Satu persatu pengawal yang berada paling dekat dengan gerbang dua kehidupan mulai meninggalakan barisan, dan bergerak menuju pos jaga mereka.


Yang benar-benar menjaga Nona Anjani hanyalah Xander dan Widodo.


Aslinya akulah yang terpilih sebagai penjaganya secara langsung, namun aku menolaknya karena merepotkan gerakku.


Menjaga pos setidaknya lebih enak ketimbang harus mengikuti kemanapun putri itu pergi.


Barisan angka 2 romawi kini sudah bubar, dan aku bergerak menjauh dari lokasinya bersama dengan 2 orang lainnya.


Aku tidak terlalu mengenal mereka, tapi mungkin akan sedikit berguna bila aku bisa mencungkil beberapa informasi dari mereka.


"Anu... Pak Rasyid, kenapa anda kelihatan lelah?" Linda memulai pembicaraan di jalan kami menuju pos.


"I-itu cuman karena pakaian ini ketat saja!" Ucapku berbohong sambil menarik kerah pakain ini.


Pakaian hitam, tebal, dan panas ini terlihat tidak cocok sama sekali di musim panas.


Tapi karena musim ini panas di tropis ini sedang tidak teratur.

__ADS_1


Bahkan musim panas sekalipun terasa sangat dingin.


"Benar juga, ya? Kenapa kita harus pakai-pakaian gelap...? Kenapa gak pilih yang cerah saja!" Linda mengeluh.


"Benar, setidaknya kalau gelap, kainnya tipis saja!" Ryan yang berjalan di sebelahnya ikut mengkonplain.


"Dasar si Bahar! Lagi-lagi potong anggaran!" Bebeapa hentakan kaki ke lantai Linda lakukan.


"Tapi, bukankah itu sebaliknya?" Ryan mengangkat telunjuknya. "Baju tebal itu seharusnya lebih mahal dari pada baju tipis. Jadi perkataanmu tadi bisa menjadi fitnah!" Matanya menyipit seram.


"Fi-fitnah?! Hoy hoy! Kalau bercanda jangan yang gak enak dong! Seharusnya kita masih bisa mengelak!" Gemetar beserta keringat mulai menyerang wanita itu.


"Mengelak?" (Ryan)


"Iya... Kita bisa saja menyerangnya di kejaksaan karena membayar mahal hanya untuk barang berkualitas buruk!" Sebuah bulan sabit terbentuk di lubang kepala Linda.


"Benar juga..." Ryan memegang dagunya. "Alasan itu juga bisa dipakai."


Pembicaraan mereka semakin lama semakin berbahaya.


Aku menyesal memulai pembicaraan soal baju gelap ini bersama mereka.


"Ehm!" Aku berdehem keras.


Bila tidak dihentikan, mereka mungkin akan berakhir dipecat oleh orang itu.


Lebih tepatnya, sekolah ini adalah kupingnya. Asalkan namanya yang agung itu disebut, dia akan mendengarnya.


"Kalian berdua, bisa tidak membicarakan orang itu? Terlebih lagi jangan menyebut namanya!" Ucapku mengintimidasi mereka tanpa mengalihkan pandanganku dari depan.


"Namanya? Kenapa?" Linda kebingungan, dan Ryan juga mulai menyertainya.


Sepertinya tidak ada jalan lain selain membuat mereka ketakutan.


Cerita karangan mungkin akan efektif.


"Ini adalah sekolah di mana orang itu adalah pemilik jabatan tertinggi! Orang itu, asalkan ada yang menyebut namanya... Dia akan mendegarkan apa yang akan mereka bicarakan. Dan bila kalian berbicara hal buruk apalagi mencoba menjatuhkannya, maka takdir naas akan mengunjungi kalian!" Ucapku sambil bersuara layaknya kakek-kakek.


"Hikhh?!" Mereka berdua tersayu karena cerita itu.


Aku tidak menyangka cerita rendahan itu bisa sangat efektif.


Namun...


"Pak Bahar orangnya baik kok!" (Linda)


"Best Headmaster ever!" (Ryan)


Kini malah, aku malah tertanggu oleh pujian mereka pada guru itu.


Hadeh...


......................


Saat sudah di pos penjagaan.


Dari atas sini, kami bisa melihat satu-persatu para murid yang berdatangan ke sekolah dengan wajah yang tidak terlihat ketakutan.


Memang benar, hal seperti tes tulis benar-benar terlihat bagaikan sepotong semut bagi mereka.


Senyumku keluarkan ke arah tempat masuknya mereka ke sekolah itu.


Di saat yang bersamaan, mataku terlirik ke arah lain, sekitar 2 grup dari penculik lainnya muncul.


Ini semakin dan semakin menyusahkan.


"Mari kita mulai, ujian dan pesta poranya!"

__ADS_1


__ADS_2