
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tasya berjalan mendekat ke arah tiga murid itu.
Tasya mengalami sedikit kesulitan saat mendekati mereka. Dia tidak tega untuk melangkahi murid-murid yang membeku itu dengan seenaknya. Meskipun mereka tidak menyadarinya, bagi Tasya mereka tetaplah manusia yang memiliki jiwa.
Sedangkan itu, Samuel yang berada di sampingnya berjalan mengikuti guru pendek itu tanpa bersuara sama sekali. Dia bahkan melewati tubuh-tubuh beku itu dengan mudah tanpa menperdulikan moralitas.
"Kami... Sedang melelehkan sesuatu." Stevent menjawab secara ambigu, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang untuk mengecoh dua guru itu.
Jika saja mereka tahu para murid bisa diselamatkan dengan dilelehkan mungkin mereka berdua akan meminta Gita untuk melakukan ini ke seluruh murid. Kepercayaan Stevent pada para guru menjadi semakin lemah sejak kejadian yang menimpa kakaknya.
Di lain sisi, Gita tetap meneruskan tugasnya dengan senjatanya yang masih menyemburkan pai. Dalam waktu dekat, dia berhasil melelehkan tubuh Moka yang membeku dan mengembalikan gadis itu ke kesadarannya.
*Brak!
Moka yang telah meleleh seketika melompat untuk menggapai sesuatu, namun seketika rubuh karena ototnya berkata lain.
"Apa yang terjadi?! Kenapa tiba-tiba dunia menjadi putih?!" Moka melihati sekelilingnya dengan mata yang lebar.
Matanya menangkap kelima orang yang sudah familiar diingatannya, namun mulutnya seketika menggigil hebat. Ini adalah pertanda kalau Anitya mulai meregenerasi tubuhnya.
"Ka-kau~ melelehkannya?" Di samping itu, Tasya yang terkejut dengan apa yang sudah Gita lakukan mencoba bertanya dengan memasang wajah takjub dan bingung secara bersamaan.
"Hmm(mengangguk), Gita melakukannya." (Stevent)
"Tapi kenapa kalian hanya menyelamatkan teman kalian saja, bukankah masih ada murid yang lain harus kalian tolong?!" Tasya terbawa emosi dan kesedihan.
Stevent tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan gurunya yang sedang terbawa arus itu. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa bisa menjawab amarah itu.
"Apakah kalian egois?!"
"Bukan bu, hanya saja-" (Hakam)
"Banyak dari murid di sini tidak tahu apa yang sebenarnya sekarang terjadi. Mereka hanya berpikir kalau sekolah ini hanyalah jadi tempat ajang pamer kekuatan tanpa mengetahui sisi di baliknya." Gita yang memotong kalimat Hakam membuat sebuah argumen yang tak terbantahkan, dia bahkan membuat Bu Tasya terdiam. "Jika saja mereka kita lelehkan sekarang, mereka pasti akan langsung kaget dan shock, orang tua mereka pasti akan langsung terlibat dan mencoba mengambil jalur hukum dengan buta pada apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih, bukan hanya kehidupan sekolah ini saja yang akan terkena efeknya, satu Kota Ningru akan dihancurkan bila Nusantara mengetahuinya!"
Tasya terdiam sepenuhnya, dia tahu siapa yang disinggung oleh Gita saat ini. Air mata di pupilnya hanya bisa mengalir tanpa mendapatkan solusi dari permasalahan ini, tangannya hanya bisa mengepal kesal karena terlalu lemah untuk menyelematkan orang lain, tanah yang dia pijak menjadi satu-satunya tempat yang bisa dia lihat.
"Kau punya argumen yang hebat, Gita. Jarang-jaranh ada murid yang bisa berdebat seperti ini, bahkan sampai membuat lawannya terbungkam." Samuel yang dari tadi diam melihat perdebatan akhirnya memberi selamat pada Gita, namun raut wajah yang ia tunjukkan saat mengatakan itu berkata lain. Dia seperti dipenuhi kecurigaan dengan siapa Gita sebenarnya.
Wajar saja, habis mengetahui rahasia besar dari temannya dan seisi sekolah membuatnya sulit untuk mempercayai siapapun di sekitarnya.
"Tenanglah, aku punya orang yang lebih keras kepala dari Bu Tasya, jadi aku bisa melawannya dengan mudah." Dengan berkacak pinggang, Gita tersenyum lebar menampakkan wajahnya yang penuh kebanggaan.
Dengan melihat bagaimana anak itu menanggapi pertanyaan itu, kecurigaan Samuel mulai menurun, dia tidak yakin orang seperti Gita adalah orang yang punya rahasia.
"Bu Tasya? Pak Samuel? Kalian?"
Moka yang dari tadi terdiam dan tertinggal oleh mereka akhirnya mencoba bersuara, mulutnya yang mengigil tadi telah selesai beregenerasi.
Dia saat ini kesal karena dibiarkan dalam keadaan bingung di antara mereka berlima.
"Oh, Moka! Maaf, kami terlalu sibuk berdebat..." (Tasya)
"Tidak apa-apa... Hanya saja, apa yang sudah terjadi?" Moka berada dalam kondisi sudah tahu namun sulit untuk menerima.
"Ini adalah perbuatan Sophia, Dahlia, dan Haran." Gita memperjelas tanpa melembutkan sedikitpun kalimatnya.
"..." Tak ada jawaban dari gadis itu, dia masih sulit untuk menerimanya.
__ADS_1
"Bukan, ini bukan karena mereka bertiga, tapi karena wali kelas kalian!" (Samuel)
"Samuel?!" Tasya terlihat ingin menyembunyikan fakta.
"Apa maksud anda dari 'pelakunya adalah adalah walikelas kami?'" Mereka berempat dibuat semakin bingung dengan pernyataan barusan.
Baik Stevent dan Gita menyipitkan matanya ke arah Samuel yang kesal karena terbawa emosi. Mereka berdua seperti ingin mengetahu kejelasan dari kalimat itu.
Namun, tidak ada satupun yang berani bersuara setelah Samuel mengatakan itu, tidak para murid, tidak Tasya, bahkan Samuel sekalipun ikut terdiam.
Dia terlihat sedang menahan amarahnya yang tidak sengaja meletup dan menyemburkan fakta menyakitkan itu.
"Lu-lupakan saja, aku akan menganggap yang aku dengar tadi hanyalah omong kosong dari orang yang sedang terbawa emosi." Gita berbalik menghadap ke gerbang dan berjalan tenang dan perlahan menjauhi mereka. "Tapi~ sebaiknya kita berlima berjalan bersama... (Mengambil nafas)mumpung jalan yang kita tuju juga sama."
Senyuman terpaksa terlihat di wajah Gita, dia melakukan ini untuk meningkatkan semangat teman-temannya dan mencairkan suasana yang kaku saat ini.
"hmm(mengangguk)." Samuel setuju dengan kondisi itu, dia tidak bisa berterus-terusan diam hanya karena emosi dan kebingungan.
Meskipun mereka berbeda pendapat sekalipun, tujuan mereka saat ini sama, yaitu menemui guru dan temannya yang bernama Rasyid Londerik.
......................
Point of View: Earl Stevent Xander
Aku berjalan mengikuti Gita yang berjalan ke arah gerbang.
Saat melangkah mengikutinya, aku mulai berpikir...
Dan kalimat yang Pak Samuel ucapkan teringat di kepalaku. Kalimat itu terus mengelilingi kepalaku dan akan semakin bertambah di setiap langkah yang kuambil.
Lalu apa tujuannya?
Bukankah dia hanya orang yang mata duitan?
Eh, julukan itu sudah tidak relevan lagi sekarang.
Progres demi progres aku melihat siapa guru itu sebenarnya, bahkan aku menganggap dia adalah orang yang baik dan bermatabat.
Memang, dia punya sisi lain, yang bahkan bisa kuanggap sangat mengerikan bila diketahui, tapi aku tidak pernah berpikir kalau dia akan sampai seperti ini.
Aku masih ingat bagaimana dia menyukai figur-figur karakter tiga negara itu, dan aku masih mengingat jelas bagaimana sedihnya guru itu saat figurnya hancur, meskipun aku hanya mendengarnya dari Dahlia, namun aku yakin dia benar-benar sedih.
Bukankah itu artinya dia hanyalah manusia biasa? Lalu kenapa dia memiliki rahasia yang besar seperti ini?
Aku harap aku akan mendapat jawabannya saat bertemu dengannya.
......................
Point of View: Hakam Surya
Aku sekarang ada dalam keadaan di mana aku harus memilih.
Saat melihat mereka berdua berseteru, aku menyadari kalau tim ini terbelah menjadi dua bagian, yaitu bagian yang hanya ingin bertemu Pak Rasyid, dan bagian yang ingin menghabisi Pak Rasyid.
Aku bingung mau memilih bagian yang mana.
Aku ingin memihak Pak Rasyid, dia adalah orang yang bersaja pada kehidupanku, dia juga yang membuatku berada di sini sekarang. Namun, aku sekarang adalah pelayannya tuan Stevent, aku tidak mungkin tiba-tiba mengacuhkaj perintahnya.
__ADS_1
Dalam diriku aku yakin dengan sangat yakin kalau Stevent pasti akan memilih bagian yang kedua.
Dia membenci guru itu sampai terus dibawa-bawa disetiap pembicaraan, bila dia memilih opsi maka itu tidak mengejutkan.
Apapun pilihanku nanti, aku sudah bertekad untuk mengakhirinya.
......................
Point of View: Moka Mahama
Sesuatu yang buruk telah terjadi pada Sophia, dan bila yang dikatakan Pak Samuel benar, maka...
Moka mengepalkan tangannya dengan kuat, wajahnya yang tadi penuh kebingungan berubah menjadi merah bersaraf.
Aku pernah membuat Sophia kecewa, maka aku tidak akan mengalami kesalahan kedua. Ini adalah hukuman buatku yang gagal menyelamatkannya pada saat itu.
......................
Point of View: Marika Tasya
Apakah aku harus menghadapi Rasyid?
Bagaimana perasaan Kak Erika bila mengetahuinya?
Apakah dia akan marah?
Apakah akan sedih?
Atau malah... Senang?
Pikiran buruk mulai mengotori otaknya.
Tidak-tidak, ini semua hanyalah ilusi!
Selama berjalan, aku hanya bisa mengigit jariku. Aku hanya perlu memastikan pada Rasyid.
Apakah dia adalah orang yang membutuhkan pertolongan?
Apakah wajah murungnya pada saat Pesta Perayaan Kemenangan Penilaian Guru hanyalah kebohongan semata?
......................
Point of View: Samuel Yu Cheng
Ini semua hanyalah permainan pemerintahan, aku tahu itu.
Tapi tetap saja, saat mengetahui kalau Rasyid adalah titik tengahnya, aku merasa kaget.
Aku tidak menyangka dia melakukan ini tanpa rasa manusiawi sama sekali.
Bila aku bertemu dengannya, dan jawabannya adalah jawaban konyol, maka aku tidak segan-segan melenyapkannya.
'Sihir listrikku pasti akan menghabisinya.'
Aku sudah tahu apa yang kuharuskan untuk menghabisi seseorang, tapi aku tidak yakin dengan kesiapanku.
Setiap kali memikirkannya, tangabku semakin bergemetar dan mungkin tidak sanggup untuk menarik pelatuk.
__ADS_1