Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 112. Maaf? Tapi Teknologi Baru?!


__ADS_3

Di dalam mobil pintu dua yang melaju kencang, aku duduk dengan tatapan yang hampa di samping Haran yang sedang fokus menyetir.


Dia jelas marah soal kejadian tadi, aku dengan membabi buta mengacaukan segalanya, bahkan sampai menghancurkan ponsel milik wanita itu.


Diamnya dia sungguh membuat keadaan yang sunyi ini jadi terasa seperti sedang mencabik-cabikku.


"Kau hebat sekali, ya? Bisa menghentikan pertikaian dengan sangat cepat."


Aku mencoba ngobrol untuk mencairkan suasana.


Aku harus bisa untuk menyelesaikan masalah, jika tidak... Maka aku hanya akan terus kehilangan teman atau sekutu.


Namun...


Dia tidak menjawab, matanya masih fokus ke jalan dan menganggap omonganku tadi bagaikan angin yang cuman numpang lewat.


Ini menyakitkan, aku tidak pernah tahu rasanya kalau dicuekin itu sesakit ini.


"Aku tidak tahu kau mendengarkanku atau tidak, tapi aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu..."


Ini harus kukatakan, aku harus berani mengatakannya.


Aku harus berubah!


Meskipun mata dan kuping Haran sekalipun masih menghiraukan keberadaanku sekalipun, tapi aku akan tetap mengatakannya.


"... Aku minta maaf yang sebesar-besarnya..." Aku menundukkan kepalaku sambil memegangi dadaku. "... Terutama soal ponselmu tadi, aku sungguh minta maaf. Jika kau mau, aku bisa menggantinya."


Aku linglung, dan tak tahu apa yang harus kulakukan.


Setidaknya ganti rugi biasanya akan menyelesaikan masalah dasar, namun tidak dengan masalah hati.


Geh... Susah sekali, kenapa ngomongin tentang perasaan itu susah?


"Heh(menghela nafas)..." Haran akhirnya buka suara meskipun wajahnya masih memelas dan fokus ke jalan.


Matanya yang merah merefleksi wajahku diriku yang sekarang terlihat hampa dan penuh rasa bersalah.


"... Aku tidak marah soal itu, dan juga aku tidak butuh ganti rugi..."


Hah? Apa maksudnya?


"Hah?! Kenapa begitu?!"


"Aku bukanlah orang miskin seperti korban-korban yang pernah kau hancurkan, aku ini bisa membeli apapun yang kusuka. Mendapatkan ganti rugi karena hanya masalah ponsel hanya akan merusak citraku sebagai orang kaya, terlebih lagi masyarakat akan menilai jelek diriku bila aku meminta ganti rugi disaat aku punya mobil seperti ini."


Yang dikatakan wanita itu benar, yang paling menakutkan di Nusantara ini bukanlah kekuatan Anitya yang sangat kuat, ataupun Nova sekaligus. Tapi yang paling menakutkan di Nusantara ini adalah pandangan masyarakat tentang diri seseorang.


Semakin terkenal dan tinggi jabatan orang itu, maka setiap gerakan sekecik apapun itu akan dinilai oleh mereka.


Sekali melakukan kesalahan sekecil apapun, meskipun kau benar satu juta kali sekalipun, maka seseorang tetap akan hancur karena pandangan masyarakat tentang dirinya.


Internet menyebar terlalu cepat, bahkan tak terkendali. Terlebih dengan adanya meme, maka semua berita yang benar atau hoax tetap akan dipercaya karena itu hanyalah dianggap sebagai candaan oleh mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan untuk sebagai permintaan maaf? Tidak mungkin aku diam saja dan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi."


Meskipun Haran menolak untuk diberikan ganti rugi, setidaknya aku tetap ingin melakukan sesuatu sebagai permintaan maaf.


Sudut mulutnya muncul... Dia tersenyum menyeringai dan menatap jalanan yang ramai itu dengan hina.


"Melakukan, ya? Apakah kau mau melakukan apa saja untukku?"


"Asalkan tidak yang aneh-aneh..."


Aku segera menepis jika dia meminta sesuatu yang diluar nalar.


Aku terkadang tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran wanita ini, bahkan dia bisa memikirkan sesuatu yang lebih aneh daripada pikiran anehku sekalipun.


"Oh... Kalau begitu, ikut ke rumahku, aku menginginkan sesuatu darimu..."


"Ru-rumah? Maksud Kak Haran, rumah Kak Haran?!"


Oy, oy, yang benar saja... Apa yang ada dalam pikirannya?


Apakah dia akan menjadikan aku budak dari kesadisannya?


Tunggu, kenapa pikiran itu menjadi yang pertama kali muncul dalam pikiranku?


Pikirkan sesuatu yang lebih logis...


Lebih logis!


Entah kenapa, setelah mencoba memikirkan sesuatu yang logis, tubuhku malah menjadi panas dan seperti menggebu-gebu...


"Tenang saja, aku hanya memintamu untuk mengekstrak semua elemen Anitya dalam uji cobaku."


"Eh..."


Oalah cuman gituan doang... Tapi buat apa ekstram elemen itu?


"Apa, apa tadi kau berpikiran mesum?" Haran tersenyum jahil ke arahku, wajahnya yang masih fokus ke jalan semakin miring dan mendekat ke arahku.


"Tentu saja bukan, aku hanya berpikir kalau Kak Haran akan menyiksaku saja-"


Jah, kelepasan!


Bodoh, bodoh, bodoh.


Kenapa aku mengatakannya?!


Sial....


"Wah... Rupanya itu yang kau pikirkan, aku saja bahkan tidak kepikiran sampai situ... Sungguh, punya junior yang masokis terkadang memberikan banyak kejutan aneh... Hahahaha"


Sudahlah, harga diriku sudah hancur di depan wanita ini. Kudiam saja dan meratapi kebodohan diriku ini.


Ngomong-ngomong, soal permintaannya tadi...

__ADS_1


"Kak Haran, buat apa ekstrak elemen anitya itu?"


"Mau tahu?"


"Te-tentu saja, mana bisa aku memberikan hal seperti itu karena secara harfiah apa yang Kak Haran lakukan sangatlah mencurigakan..."


"Tenang saja, ini cuman eksperimen untuk menguji teknologi baru..."


"Teknologi baru?!"


Kejutan apalagi yang akan datang di dekade ini?


Jika tahun 2030-an adalah kejutan Anitya, tahun 2040-an adalah kejuatan dari teknologi pageblug, maka kejutan 2050-an akan berupa bentuk apa?


"Aslinya ini dokumen rahasia, namun karena itu adalah kau, orang yang bisa menjaga informasi, maka aku akan memberi tahunua secara gratis..."


Woah, wanita ini serius?!


"Teknolgi terbaru, Hover Wings dan Hover Shoes... Seperti namanya, kedua teknologi ini akan membuat penggunanya bisa terbang di langit tanpa harus berpaku pada elemen angin."


"Konsumen tinggal memilih, apakah mereka mau yang berbentuk sayap yang akan digunakan di punggung mereka atau yang berbentuk berupa sepatu yang akan digunakan di kaki mereka.


"Yang menjadi masalah dalam teknologi ini adalah bagaimana cara benda ini bisa terbang dengan mengubah kekuatan elemen Anitya menjadi angin..."


"Kurang lebih ini seperti teknologi-teknologi pada masa lampau... Dimana tenaga angin, air, ataupun surya bisa diubah menjadi energi listrik. Energi listrik bisa ubah menjadi panas, energi listrik diubah menjadi angin, dan penemuan-penemuan lainnya yang mengandalkan formula seperti ini."


"Apa kau mengerti?"


Untuk dasaranya, aku sedikit paham, tapi untuk cara pengubahannya, itu adalah hal yang sulit. Bahkan dengan patch dari Anitya yang terjadi saat Penilaian Guru saat itu, Haran jelas akan mengulang dari awal uji cobanya.


"Kak Haran, apakah saat patch baru dari Anitya, kakak harus mengulang dari awal penelitiannya?"


Senyumannya yang menyeringai langsung hilang bagai dicuri oleh maling besi. "Ya, gara-gara patch itu, aku terpaksa mengulangi percobaanku dan membenarkan setiap bug yang muncul karena pengkodean Anitya yang juga berubah." Sepertinya dugaanku benar.


"Mau bagaimana lagi, percobaan kakak tidak seperti Pageblug yang hanya berupa senjata yang bisa memasukkan energi Anitya, melainkan mengubahnya menjadi elemen tertentu. Satu saja perubahan, maka kakak akan butuh banyak nge-fix bug-bug yang muncul. Apakah itu tidak apa-apa?"


"Mau bagaimana lagi, ini adalah pekerjaanku, bukan hanya sebagai guru, namun juga pengubah teknologi dunia."


Dia menatap tajam bagaikan menusuk dan mengkocar-kacirkan semua yang ada di depan matanya.


Dia bersiap untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar.


Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya, namun dia pasti akan bersiap menghadapinya bahkan tidak takut kehilangan nyawanya.


CRIITTT!


Mobil berhenti tepat di depan rumah yang terlihat sederhana.


"Kita sampai!" Haran memperlihatkan rumahnya yang terlihat sederhana kepadaku. "Ucapkan halo pada rumah yang terlihat seperti orang miskin ini."


Aku menebalkan dan memiringkan kalimat itu karena dia jelas-jelas menipu semua orang di sekitarnya.


Mana ada orang dengan mobil sport dan lab eksperimen yang luas memiliki rumah sekecil ini.

__ADS_1


Pasti ada ruangan tersembunyi di dalamnya.


Dan aku tidak mengada-ngada soal itu...


__ADS_2