
Pagi hari pukul 8, sebuah acara penilaian guru di mulai di alun-alun kota. Pertandingan antar guru grup kelas yang awalnya dilaksanakan di sekolah dipindah ke sini karena suatu alasan. Kini pertarungan mereka juga akan disaksikan oleh masyarakat umum.
Aku melihat sekitaran arena dari bangku penonton. Sepertinya masyarakat sekitar lebih mendominasi tempat duduk daripada siswa. Di saat seperti ini, tindak kejahatan akan mudah beraksi. Para polisi mengawasi bangku-bangku penonton di antara tangga yang memisahkan bangku itu. CCTV juga sudah disiapkan di setiap sudut, semua gerak gerik para penonton yang ada di arena ini sudah diawasi dengan baik.
"Aku tidak sabar melihat siapa yang akan maju ke babak final." Sophia yang duduk disampingku mengangkat tangannya dengan semangat.
Posisi duduk kami masih sama seperti sebelumnya, guru dan murid dalam satu kelas harus duduk berdekatan sehingga mudah mengelompokkannya.
"Palingan yang masuk final cuman guru kelas 3 lagi." Stevent melemaskan badannya.
"La iya, guru kelas lain tidak pernah masuk final. Paling jauh cuman sampai semi final." Gita mengangkat kedua bahunya sambil tertawa mengingat bagaimana lemahnya guru kelas bawah.
"Penilaian guru semester kemarin, satu-satunya guru kelas bawah yang bisa masuk semi final hanya Pak Xander, Ibu Erika, dan Ibu Fredrica. Rata-rata mereka yang kelas 1 dan 2 dikalahkan oleh guru kelas 3 saat sebelum semi final." Hakam menyilangkan tangannya.
"Aku harap kali ini berbeda. Kekalahan Ibu Erika membuatku semakin khawatir dengan pertandingan ini" Muka Moka muram.
"Tenanglah(tersenyum)..., aku akan memenangkan ini untuk kalian!" Aku mengangkat tanganku yang menggenggam.
Para siswa melihatku dengan kebingungan. Tak lama kemudian mereka tertawa.
"Hahahaha, anda memang cepat, tapi mustahil untuk mengalahkan kelas 3 hanya dengan mengandalkan kecepatan." Stevent tertawa sampai kacamatanya hampir jatuh.
"Mereka, para guru kelas 3 suka main kotor. Jangan harap bisa menang." Hakam seperti lupa balas budi.
"Jangan berakting jadi ksatria kebenaran..., perutku jadi sakit karena candaan anda." Moka tertawa riang melupakan apa yang sudah kulakukan pada keluarganya saat itu.
Ngomong-ngomong dia sekarang masih tinggal bersama orang tua angkatnya atau tinggal ngontrak?
Dari 30 muridku, hanya Sophia dan Gita yang tidak tertawa. Mereka berdua sudah tahu seberapa kuat aku, bahkan mereka tahu kekuatanku yang sebenarnya.
"SELAMAT PAGI SEMUANYA, PARA MASYARAKAT KOTA NINGRU, GURU DAN MURID SEKOLAH PODOAGUNG, PARA TAMU UNDANGAN SEKALIAN, DAN JUGA TIDAK KETINGGALAN HORMAT KITA PADA PAK PRESIDEN KITA, PAK Ir., HJ. NIKI MANALAGI. S.pd." Suara Bahar terdengar dari pengeras suara di arena itu.
Presiden menyapa para penonton dari dalam kapal terbang yang berada tepat di atas alun-alun.
Suara Bahar terus berbunyi sampai sekitar 1 jam, lalu dilanjutkan presiden turun dari kapal dan memberi sambutan.
Aku selalu melupakan apa yang mereka katakan, lebih tepatnya tidak peduli.
Setelah sambutan, pertandingan akhirnya akan dimulai.
"PENGACAKAN PERTARUNGAN AKAN DIMULAI, NAMA PETARUNG KELAS 3 AKAN KAMI PERLIHATKAN SEKARANG."
Nama-nama guru kelas 3 yang akan melawan guru pemenang sebelumnya akhirnya terlihat. Aku melihat di kolom bagianku. Sebuah nama yang seharusnya kujadikan santapan akhir malah menjadi menu pembukaku.
"Nasib anda buruk sekali ya, Pak Rasyid." Stevent memegang kacamatanya dengan senyum mengejek.
Pesan-pesan dari ponselku berdatangan, para guru kelas 1 fisik mencemaskanku. Sepertinya lawanku memang benar-benar kuat, makanya dia ditakuti.
Kasuarta Lodo, bila kuingat-ingat dia adalah guru tua kurus di kelas 3 sihir 2. Bila memang dia kuat, maka aku akan jadi bahan pembicaraan bila mengalahkannya. Di lain sisi, aku juga harus menang untuk menyelesaikan misi dari Nova.
'Aku ingin sekali pergi.'
"MARI KITA ACAK NAMA PETARUNGNYA."
Papan digital mulai mengacak nama. Nama-nama terus berganti-ganti, tapi tidak akan mengubah siapa yang akan kita lawan.
Papan berhenti.
"Astaga..., hari ini menjadi hari keberuntungan burukku"
Aku terkejut, tidak boleh menunggu penonton lebih lama. Aku berdiri, para muridku cuman bisa berdoa kalau aku akan selamat.
"Semoga anda tidak masuk rumah sakit lagi, Pak!" Moka berdoa kepadaku.
Aku membuka ponselku, sebuah pesan muncul di sana.
(Semoga anda berhasil, Rasyid. Erika Rahmana.)
Meskipun hanya sebuah pesan, aku bisa melihat senyum tulusnya dari tulisan itu. Aku merasa senang dan berjalan ke tengah arena dengan semangat yang berkobar.
__ADS_1
Misiku dan janjiku akan kuselesaikan.
"Jadi andalah yang akan menjadi lawanku? Sayang sekali ya harus melawanku, setidaknya bisa melewati babak awal sudah bisa membuatmu aman." Pak tua itu tersenyum dengan tatapan merendahkan.
"Setidaknya aku tidak akan menahan diri," ucapku jujur sambil mengaktifkan pageblug-ku.
"Tentu saja, tidak boleh menahan diri dalam pertarungan. Kau hanya akan mendapat penyesalan, tapi melawanmu tetaplah tidak mungkin." Dia menyombongkan dirinya sambil mengaktifkan pageblug-nya.
Sebuah senjata berbentuk lembaran kartu keluar dari pageblug-nya.
"PARA PETARUNG BERSEDIA....SIAP.....MULAI!!!!" Bahar memberi aba-aba.
"Aku akan sedikit bermain-main denganmu!"
Lodo melemparkan 3 kartunya kedepan. Sebuah gerombolan bola api raksasa berputar di 3 kartu itu, bola-bola berputar dan berjalan menuju arahku.
Aku menguatkan elemen airku ke tangan kananku. Saat bola-bola api sudah kurasa dekat, aku memukulkan bola itu dengan tanganku, sebuah jarum air raksasa menusuk pusaran itu dan menguapkannya.
"Hooh kau hebat juga ya, meskipun seorang petarung tipe fisik tapi kau pintar sihir juga. Jarang sekali itu terjadi. Kalau begitu rasakan ini!" Lodo memujiku dan menyiapkan serangan selanjutnya.
Dia melemparkan 5 kartu ke depan dan berdiri sekitar 5 m dariku. Sebuah asap hitam keluar dari kartu itu, jika terkena akan melambatkan gerakanku.
Aku berdiam diri di tempat, serangan tipe kegelapan tidak terlalu efektif bila musuhnya dapat membaliknya dengan cahaya atau jika mereka tidak menghirupnya.
Sihir air menutupi hidungku. Secara tak terlihat, air itu akan menyaring semua asap yang masuk kehidungku.
Aku maju dan bersiap menebas ke Lodo. Pertarungan ini tak boleh kulama-lamakan, waktu terus berjalan. 1 menit telah berlalu, kini hanya tersisa 4 menit.
Aku berlari melewati kumpulan asap dan menembusnya.
Penonton takjub setelah melihat aksiku.
"Apa?! Bagaimana bisa?!"
Aku keluar dari kumpulan asap hitam yang tebal dan muncul secara tiba-tiba di depannya.
Lodo berhasil menghindari seranganku tapi tidak sempurna. Tangan kirinya terpotong karena telat sepersekian detik.
"Akhhhhhh! Tanganku!!! Dasar pengajar sialan! Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat!! Tidak ada main-main lagi!" Lodo mengerang sakit dan mengeluarkann 30 kartu yang melayang di sekelilingnya.
Kumpulan kartu terbang mengelilingi tubuh Lodo, perlahan kartu-kartu itu mulai terbakar dan membuat sebuah tornado api yang sangat besar disertai tembakan.
"Kau telah salah mencoba menang dariku!" Lodo merengangkan tangannya dan melayang di tengah pusaran api.
Tangannya yang terpotong telah beregenerasi. Dia menambahakan kartu lagi dari tangan kirinya dan membuat tornado itu menjadi tornado api hitam.
Aku berlari menjauh sampai dinding arena. Para penonton tertawa melihatku karena mengira aku telah pasrah.
'Jika jarak segini pasti sampai!'
Aku mencengkram pedangku dengan kedua tanganku, sebuah ancang-ancang untuk menebas kulakukan.
Mataku bersinar biru, sebuah pusaran air muncul di sekelilingku. Pusaran itu membesar dan membuat tornado air yang sangat besar.
Para penonton terkejut dan takjub melihatnya.
"APA ITU?! JURUS APA YANG AKAN DIKELUARKAN OLEH GURU YANG BERNAMA RASYID INI. APAKAH JURUSNYA MAMPU MENGALAHKAN JURUS PAMUNGKAS DARI KASURTA LODO?"
Seluruh arena bergema karena percikan dua tornado.
Tapi tornado itu bukan rencanaku, tornado air itu terserap oleh pedangku dan menyelimutinya.
"HYAAGHHH!
Aku menebaskan pedangku dan sebuah hydrowave berbentuk 'x' melesat ke arah Lodo.
Tornado api hitam dan tebasan air bertubrukan dan meledak. Bekas ledakan menciptakan sebuah asap hasil penguapan yang menutupi seluruh arena.
"APA INI?! SIAPA YANG MENANG?!"
__ADS_1
Di dalam asap aku berlari ke arah Lodo yang tidak bisa melihat. Umur mungkin jadi penyebab kurangnya kemampuan guru itu melihat.
Aku mengayunkan pedangku ke arahnya.
"Ada yang datang!" Lodo menyadari kedatanganku.
Dia melemparkan 3 buah kartu ke arah tanganku yang memegang pedang.
Tanganku langsung putus, tetapi aku dengan cepat mengambil pedangku dengan tanganku yang satunya.
Tanpa delay aku menebaskan pedangku dengan tebasan memutar.
Dia langsung mengeluarkan 1 kartu di setiap telapak tangannya.
Telapak tangannya dan mata pedangku saling bertemu.
"Kenapa kau bisa sekuat ini?!"
"Bukan aku yang kuat. Tapi kau yang tua!"
Pedangku mengeluarkan aliran air yang sangat cepat dan memotong kartunya.
Tubuh Lodo terpental ke dinding.Sebuah bekas tebasan terukir di dinding arena. Lodo berada di tengah-tengah bekas itu dan tumbang.
Arena kembali dikejutkan oleh kemampuanku.
'Padahal aku tidak suka dilirik seperti ini.' Aku merelaksasikan tanganku yang baru saja beregenerasi.
Para penonton terdiam melihat guru yang selalu memenangkan penilaian kalah di awal babak.
"PEMENANGNYA..., RASYID LONDERIK DARI KELAS 1 FISIK 1!!!" Bahar memecahkan kesunyian.
Para guru dan murid bersorak.
"Akhirnya tidak ada penyulit babak!!"
"Kelas kita punya kesempatan untuk menang!!"
"Aku kalah taruhan!!!"
"Semoga dia kalah di babak selanjutnya!!!"
"Kau hebat, Syid!!!"
Berbagai macam sorakan kudengar dari dalam arena.
Aku berjalan menuju Lodo yang masih terbaring pingsan untuk memberinya hormat lalu pergi keluar arena.
Salah satu guru kelas 3 sihir menemuiku di pintu masuk arena.
"Jadi itu kau? Babunya Nova!" Matanya tajam dan menyilangkan tangannya.
Wanita pengguna sensor yang waktu itu meninggalkanku setelah mengatakannya. Dia benar-benar membenci nenek itu. Dia pasti akan senang untuk menghancurkan diriku.
Semenrara itu, aku merasakan seseorang mengawasiku.
Sebuah kumpulan siswa melihatiku dari kejauhan tempat sebelah bangku penonton.
"Jadi guru itu tidak sesuai dengan yang dirumorkan, hehehe... Ini semakin menarik." Siswa itu memegang kacamatanya dan tersenyum senang.
"Sepertinya dia akan berguna untuk jadi umpan." Seorang siswi berambut yang diikat seperti sepasang bola berdiri di belakangnya.
Kumpulan siswa itu pergi dari sana.
"Untunglah aku punya data dari Anitya. Jadi aku bisa mendengar siapapun dari kejauhan." Suaraku lirih.
Aku menatap dengan dingin tempat mereka berdiri.
Kehidupanku sebagai guru sepertinya akan semakin merepotkan. Menghancurkan 1-2 murid tidak apa, kan?
__ADS_1