
Masih di tempat yang sama, aku duduk di atas bagian reruntuhan banguan itu bersama wanita ini.
Di dekatku, ada pria dengan badan yang sudah membeku dan tinggal menunggu bagian Nova untuk beraksi.
Angin meniup kami berdua membuat rambut-rambut dan pakaian kami tertiup oleh mereka.
Matahari kini sudah agak turun dan berasa seperti menatap jam dinding yang tertempel di atas lemari.
"Rasyid... Bisa kau beri tahu... Semuanya padaku?" Erika tiba-tiba meminta penjelasan dari ini.
Mengetahui hal ini artinya dia bersiap mati kapan saja karena akan menjadi incaran para pebisnis dan politikus.
"Waktu itu, kau memberi tahu, kan... Bagaimana masa lalumu, dan kenapa kau berakhir seperti itu."
"Namun, kau tidak memberitahu, bagaimana itu terjadi?"
Dia menggempurku dengan banyak pertanyaan, aku tak bisa mengatakan apa-apa, yang kubisa hanyalah menutup mulutku tanpa membukanya.
"Apa kau takut? Bukankah, aku sudah bilang? Aku akan selalu ada dipihakmu meskipun kau melumuri dirimu dengan dosa!"
"Jadi... Kumohon, ucapkanlah!"
"Sudah tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan!"
"Data yang saat di rumah sakit, apa kau juga membacanya? Itu membuatku semakin, bertanya-tanya bagaimana itu bisa terjadi?
Mungkin apa yang ia katakan ada benarnya, tak ada yang bisa kusembunyikan darinya.
Dia mungkin satu-satunya yang tahu soal ini, tapi selama ini dia masih menyembunyikannya, belum lagi data yang kulihay digrup chat para guru membuat kecurigaannya padaku semakin tinggi.
"Ahh(tarik nafas)... uh(keluarkan)..."
"Baiklah, aku akan jawab pertanyaanmu..."
......................
Aku menceritakan bagaimana aku berakhir setelah kejadian mengerikan itu, aku juga memberi tahu wanita ini bahwa aku adalah sumber dari bencana Musim Panas Api yang terjadi pada tahun itu.
Matanya membelalak tidak percaya, tapi dengan cepat dia mengendurkannya dengan memberi senyuman mentari pagi padaku.
"Terima kasih... Karena sudah mau mempercayakan itu padaku!"
"Bukan apa-apa, aku juga punya ketentuan..."
Bila dia melanggat ketentuang itu, maka aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, meskipun melakukan hal itu adalah hal yang berat sekalipun buatku yang saat ini.
"Jadi itu beneran, ya? Kau adalah The Queen of Asassin." Erika menatap ke langit yang biru tanpa adanya awan.
Aku sedikit merinding saat dia langsung mengetahui itu dengan segera, padahal aku tidak memberi tahunya sama sekali.
"Entah kenapa, aku bisa langsung tahu... Mungkin saat kau mau cosplay saat pesta perayaan Juara Penilaian Guru saat itu, kau seketika dengan reflek mengikat rambutmu."
"Aku awalnya berpikir yang tidak-tidak, namun setelah mendengar penjelasanmu saat ini, semuanya masuk akal."
__ADS_1
"Kau hancur, bahkan tidak peduli dengan penampilanmu lagi sampai rambutmu kau biarkan sampai panjang, dan hal itu membuat para korbanmu salah mengira, kalau pembunuh itu adalah wanita."
"Dan soal sihirmu, kau ternyata lebih dari nenek sihir kelas 3 itu, kau bisa menggunakan semuanya, itu menakjubkan! Aku harap, aku bisa melawanmu dengan kekuatan penuhmu!" Dalam kalimat itu, terdapat rasa iri yang mengiringinya.
Erika menatapi kubah listrik yang ada di sekitaran reruntuhan ini, dia menatap kubah itu dengan rasa yang terpukau sekaligus ngeri.
"Kau melakukan semua ini sendirian, dan tak ada yang tahu... Bahkan kau sampai keluar dari sekolah hanya untuk melindungi reputasi sekolah..." Erika menghambarkan bibirnya, terlihat setelah itu kalau dia menggigit bagian-bagin bibirnya.
......................
Aku berdiri dari bata-bata reruntuhan itu, dan berjalan mendekat ke arah orang yang terbaring beku itu.
"Ada banyak hal yang sebaiknya tidak kita beritahukan pada orang lain, bukan?"
Erika ikut berdiri dan berjalan ke sampingku. "Hmm(mengangguk)... Ada hal yang seperti itu, namun kita tidak seharusnya menutupi segalanya! Hal itu hanya akan membuat beban pikiranmu bertambah."
"Ya, jika itu terjadi, maka kita akan bernasib malang!" Ucapku sambil menatap dingin pria dingin itu.
Berbalik badan, aku berjalan ke arah reruntuhan-rentuhan lainnya.
Ini bagaikan surga bagiku, kosong tak ada orang... Tempata dimana diriku benar-benar berdiam diri tanpa ada yang mengganggu.
Tempat seperti ini saja cukup tanpa perlu terbang ke mongolia hanya untuk menikmati savannanya.
Asalkan aku bisa sendiri untuk berpikir...
"Baik... ini adalah tempatku untuk beristirahat..." ucapku lirih.
"Rasyid!" Erika memanggil namaku.
Dengan seketika, aku membalikkan kepalaku dan menatap ke arahnya yang ada di belakangku.
"Apa?"
"Kau bilang, kau tidak mengajar untuk beberapa waktu, kan?"
"Hmm(mengangguk)..."
Dia tiba-tiba menanyai sesuatu yang sudah jelas, tapi dia ingin memperjelas lagi.
"Aku ingin... Kau membantuku... Mencari orang itu!"
Saat mengatakan itu, aku langsung berpikir dengan satu kemungkinan.
"Mohon bantu aku, cari ibuku..." Dia mengatakan itu dengan nada yang tipis dan terlihat sungkan.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Aku hanya pikir... Dengan kekuatanmu... bukan- melainkan dengan kekuatan kita bersama, aku bisa menemukannya!"
"Saat bertemu, apa yang akan kau lakukan?"
Ini adalah pertanyaan penting, bisa saja dia malah emosi dan berakhir hanya untuk menghabisinya.
__ADS_1
Jelas-jelas hal itu akan membuatku merasa kalau yang kulakukan hanyalah buang-buang waktu.
Aku tidak memikirkan hal itu berdasarkan keparnoanku saja, melainkan juga dari ceritanya saat itu.
Ibunya menjual Erika agar bisa melindungi dirinya sendiri, bagiku...
Saat melihat ibu yang seperti itu, aku merasa jengkel...
Dan merasa, kalau orang seperti itu, tidak layak menjadi orang yang berketurunan.
Bagaimanapun kondisinya, aku hanya akan diam saja.
Yang menentukan nasib itu bukanlah aku, melainkan wanita yang ada di depanku, Erika Rahmana.
Erika menundukkan kepalanya, dia sepertinya tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Dia meminta ini atas intuisinya saja.
Maka bila begitu.
"Maaf, aku tidak bisa bila kaunya saja tidak punya tujuan!" Dengan begitu, aku menolehkan kepalaku ke depan dan berjalan pergi.
Tidak ada gunanya mengikuti intuisi tanpa tujuan yang pasti.
"Tunggu!"
Dia menghentikan langkahku lagi, dan bodohnya kenapa aku menghentikan langkahku juga?
"Apa?" Aku menoleh lagi.
Apakah dia mau menyinggungku kalau aku juga tidak pernah punya tujuan?
"Kumohon, aku hanya ingin menenuinya... Setidaknya bila dia membenciku, aku bisa memberi ucapa selamat tinggal yang pantas padanya!"
Mendengar itu, jantungku langsung berdetak kencang, ini bukanlah karena sesuatu karena cinta, tapi karena aku merasa sesuatu seperti itu juga harus kulakukan.
Aku memberi anggukan setuju padanya, tapi itu tidaklah gratis.
"Aku ingin imbalan atas itu..."
"Berapa yang kau inginkan?" Erika langsung pasang harga.
"Bukan, uang... Melainkan sesuatu yang lain."
Mendengar itu, dia langsung tersipu dan menutup bagian dadanya.
"Bukan yang aneh-aneh, kan?!"
"Kau seharusnya sudah tahu aku tidak akan melakukan itu, kan?!" Aku berteriak malu ke arahnya.
"Aku hanya minta, kau juga temani aku... Menemui seseorang yang seharusnya kuucapkan selmat tinggal dengan benar..." Mengatakan itu, kepalaku sedikit tertunduk tak berani mengatakan.
Tapi bila ini adalah jawaban yang benar, maka aku akan melakukannya.
__ADS_1