
"Majulah kalian semua!"
Begitulah yang kukatakan untuk memperlihatkan seberapa kuatnya diriku daripada mereka. Bagiku guru-guru di depanku ini hanyalah semut yang mencoba bersatu menjadi satu kesatuan. Tapi semut tetallah semut, sebagaimanapun kerja samanya, kalau api menghantam diri mereka maka mereka akan tamat.
Mungkin diriku terdengar sombong saat ini, namun aku tetap harus mengatakannya. Dengan memilih jalan ini, itu berarti aku sudah meninggalkan semua masa-masa itu dan memilih jalan kekerasan.
Lagipula dari sepersekian wajah familiar yang kulihat saat ini, tak ada satupun orang yang mengenalku dengan baik di antara mereka.
Tidak ada Erika, Samuel, Tasya, dan Xander di antara mereka. Bahkan aku tidak melihat sepupuku Ryan...
Ngomong-ngomong, aku juga tidak melihat wanita yang bersamaku dan Ryan saat aku menjadi pengawas Putri Tyas. Linda Melinda kalau tidak salah namanya, kemana dia?
"Persetan kau, Rasyid!" Dari semua kerumunan guru itu, Vicky menjadi orang pertama yang mendekat ke arahku. Wajah marahnya yang terlukis di wajahnya saat ini menunjukkan betapa murkanya di saat ini kepadaku. Bukan murka karena dendam masa lalu, namun murka karena melibatkan murid-murid dalam kejadian ini.
Semua itu terlihat jelas di wajahnya.
Rupanya kini dia sudah melihat seperti itu?
Vicky sudah tidak melihat muridnya sebagai alat untuk meningkatkan posisinya lagi, dia sudah menganggap mereka seperti anak sendiri.
Ini hanya gagasanku sendiri ngomong-ngomong.
Kembali ke pertarungan,
Sepertinya mereka menggunakan teknik maju satu persatu ketimbang menyerang secara bersamaan. Apakah mereka akan kesulitan bila menyerang secara bersamaan, atau karena ingin mendapatkan sesuatu berupa hadiah dari mengalahkanku?
Lupakan saja, saat ini aku hanya perlu fokus menendang siapapun yang maju ke arahku.
Vicky mengaktifkan pageblugnya dan memperlihatkan 4 buah pedang yang melayang di belakangnya.
Dengan berbekal amarah, dia meluncurkan satu pedang ke arahku.
*Whush!
Pedang biasa, tanpa adanya sihir melesat ke arahku. Ini merupakan serangan awal, jadi menghindarinya bukanlah sebuah masalah.
Namun masalah sebenarnya adalah setelah aku menghindar, serangan jenis apa yang akan dia lakukan.
Dengan berputar ke samping, aku menghindari serangan pertama.
Sesaat kakiku menginjakkan tanah, aku langsung membuat sebuah barikade dari tanah dan es untuk menahan segala jenis serangan.
*Jdar!
Seperti yang di duga, ada 3 pedang yang menyusul setelah pedang pertama, dan kini pedang itu tergabungan dengan sihir air dan listrik di saat yang bersamaan.
Itu merupakan serangan fatal bila terkena.
"Akhirnya! Akhirnya kau memperlihatkan wujud aslimu, Rasyid Londerik!" Dengan wajah puas, Vicky tertawa gila di hadapanku dan para guru lainnya.
Guru-guru yang lain juga ikut terkejut saat melihat kekuatanku yang sebenarnya. Mereka hanya bisa diam dan tak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan saat ini. Beberapa dari mereka juga ada yang kehilangan semangat bertarungnya karena tahu kekuatanku yang sebenarnya.
"Kau sudah melihatku, maka aku juga akan memperlihatkanmu..." Tak senang hanya membiarkan Vicky yang bersenang-senang di pertarungan ini, aku akan sedikit membuat kesenanganku sendiri."...Apa itu kematian."
__ADS_1
Senyum tipis yang menyeringai terlukis di wajahku. Senyum ini tidak pernah keluar dari wajahku sebelumnya saat mencoba mengakhiri targetku, tapi entah kenapa, senyum ini rasanya tidak terbendung.
Aku maju dengan mempersiapkan sihir listrik di tangan kananku dan es sihir di tangan kiriku. Dua sihir kematian itu kugabungkan menjadi satu kesatuan dan membentu sebuah tombak yang bisa kulemparkan.
Tidak mau diam saja melihatku maju, Vicky memanggil kembali keempat pedangnya lalu meninju tanah sampai membuat sebuah semburan air yang mengitarinya.
"Ka-kau-?!" (Vicky)
Dia panik?
Menggunkan sihir air padahal lawanmu adalah sihir es dan petir adalah kesalahan besar. Apakah dia punya rencana? Apakah dia hanya membuatku melakukan ini dan membuatku masuk dalam perangkapnya?
"Argghhh!"
Mencoba berkontak langsung dengannya di saat aku menggunakan sihir petir adalah kesalahan. Maka, aku harus melemparkan tombakku ke arahnya dan menembus perisai air itu.
*Whush!
Tombak melesat ke di udara dan menghantam perisainya.
*Sssttt!
Perisai itu berhasil menahan seranganku. Namun akibat dari kontak langsung dengan es, perisai itu membeku dan karena adanya sihir listrik, perisai itu seketika hancur.
Dan di saat perisai hancur itu pula,
"Aku masih berakal, bodoh!"
Vicky dengan berlari memegang kedua pedangnya mencoba melawanku secara adu senjata.
Pedangku menahan serangan pedang pertamanya, namun pedang keduanya akan segera melanjutkan.
Ayunan ke dua mengincar kaki, namun aku segera melepaskan pertahanan dari ayunan pertama dan langsung melompat mundur.
Di saat itu juga, 2 pedang lainnya yang masih melayang melesat ke arahku dan menusuk kedua bagian bahuku.
Aku seketika terdorong ke belakang dan menahan rasa sakit dari pedang yang menusukku.
Namun Vicky tidak mencoba membuang-buang kesempatan, dia memperkuat tusukan dua pedang yang bersarang di bahuku dan...
*SLASH!
Kedua tanganku terputus dan tergeletak di tanah.
"Sudah kuduga, pasti kau tidak bisa bertarung dengan mengandalkan kemampuan berpedangmu!" Kepuasan di mukanya tidak menjelaskan kalau dia puas 100%, masih ada sedikit kecurigaan padaku.
Tak lama kemudian, kecurigaanya menjadi kenyataan, wajahnya yang tadi menyeringai kini menjadi kosong kebingungan.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin kau tidak bereaksi pada rasa sakit di tanganmu?!" Dia memperlihatkan ekspresi ngeri padaku.
Di sisi lain,
Aku tidak menyangka kalau aku benar-benar akan kenikmatan karena seseorang melepas kedua tanganku.
__ADS_1
Tetaplah berpikir normal, Rasyid Londerik!
Aku mencoba menahan mulutku yang menyeringai. Dalam hatiku aku yakin dia mengira kalau aku tersenyum untuk menghinanya, padahal kenyataannya aku keenakan karena disakiti.
Aku harus segera mengakhiri ini!
Aku tidak mau membuatnya menunggu!
"Vicky."
Aku memanggilnya.
Perpisahan ini berjalan begitu cepat.
Takdir seseorang dipegang oleh mereka yang lebih berkuasa.
Dan itu fakta yang tak terelakkan bagaimanapun kau berusaha mematahkannya.
"Apa?" Dia menjawab dengan wajah penuh tanya dan kesal.
"Hidup ini tidak pernah adil." Aku tersenyum seakan kemenangan dimiliki Vicky.
"Ya, kehidupan memang tidak adil, yang adil di kehidupan hanyalah kematian." Wajah berubah datar penuh akan kemarahan. "Maka dari itu, selamat tinggal, Rasyid!"
Dia mencoba menghunuskan pedangnya yang berada di tangan kanannya.
"Aku mengatakan selamat tinggal buat kau, bodoh!"
Namun aku seketika membelokkan kalimatnya. Dia sepertinya salah paham dengan kalimatku tadi, maka aku hanya harus meluruskannya.
"CODE NAME: VCKY MNDRGNC1M3, REMOVE CORE."
Setelah menyebutkan itu, Vicky yang memasang wajah bingung sambil bersiap menusukku tiba-tiba memiliki mata yang kosong.
*Brak!
Tak lama kemudian, tubuhnya ambruk dan terbaring tidak bernyawa di dekatku.
Melihat Vicky yang sudah mati membuat guru-guru lainnya semakin tidak mau lagi berhadapan denganku.
Banyak dari mereka yang hanya bisa mematung ditempat mereka berdiri.
Mungkin ini waktu yang tepat untuk menakut-nakuti mereka.
Aku membuat senyuman menyeringai yang terlihat menantang mereka kembali, dan kali ini senyum yang sama itu jauh lebih mengintimidasi ketimbang sebelumnya.
"Ayo, siapa yang mau kubawa ke yang kuasa selanjutnya?"
Jika aku harus menghabisi mereka semua demi golku, maka aku tidak peduli. Meskipun awalnya aku tidak mau melibatkan mereka, namun kali ini sudah tidak bisa dihindari lagi.
Aku akan menghancurkan siapapun yang berani maju ke arahku!
Meskipun itu Widodo dengan peluru dari batu akik panca warna itu sekalipun.
__ADS_1
Kini ada satu angkatan yang maju mendekat ke arahku.
Aku akan membuat mereka merasakan perihnya kematian.