
TAK* TAK* TAK* WUSH*!
Aku, Rasyid Londerik, pria yang berawal hanyalah mengeluh karena tidak punya tujuan hidup kini telah menemukan arti dari hidupku. Tepat saat ini, arah jalanku semakin bersinar terang. Langkah demi langkah tujuanku semakin dekat. Dan ini juga pertanda, bahwa perjalanan ini akan menemui akhirnya.
Akhirnya kau akan segera ada di depan mataku, Nazrul Aji!
Keinginan kuat diriku sejak awal, dan akhir. Mulai dari saat aku membaca dan mendengar dokumen api yang diberikan Nova saat itu sampai saat ini, dia adalah orang yang kujadikan target hidupku.
Apakah ini adalah perwujudan balas dendam?
Mungkin saja, tapi di dalam diriku, aku masih merasa ada yang janggal.
Tapi karena aku sudah dimakan oleh emosi, aku tidak merasakan itu dan terus maju.
Aku akan menghancurkan siapapun yang ada di depanku, meskipun itu kakakku sekalipun!
......................
Jalan perkotaan yang sangat ramai dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi dan lorong-lorong gedung bertebaran dimana-mana.
Melewati lorong demi lorong, Rasyid berlari layaknya seseorang yang sedang mengejar pembunuh.
Tawa puas yang terlukis di mulutnya, mata lebar yang mengembangkan wajahnya, dan gerakan ayunan tangan yang begitu cepat membuat pria itu seperti sedang memacu paru-parunya sampai batas maksimal.
Orang-orang yang di sekitarnya melihat dengan gelagak dan raut muka bingung dan jijik, namun tak ada satupun yang berani menoleh atau mengomentari apa yang sedang dilakukan pria itu.
Mereka seakan dibuat tidak bisa menggerakkan leher mereka dan hanya bisa melihat apa yang sedang mereka lihat sebelumnya.
......................
Di tempat lain,
Sekolah Podoagung, upacara pemberian update pada siswa 10 besar telah berlangsung kacau.
Asap dimana-mana, tiang dan bangku berserakan, podium yang tadi berdiri tegak kini sudah rubuh dan ditinggalkan oleh para makhluk hidup yang bersamanya.
Namun, terdapat satu gerakan kecil di dekat reruntuhan pintu ruang guru.
*Brak!
Pintu yang tadi nyangkut terpaksa didobrak sampai terhempas ke luar dan hancur.
"Huh... Huh... Huh...(ambil nafas)" Seorang wanita pendek dengan rambut pirang twintail melihati sekitar dengan wajah tidak percaya. Pakaian yang dia pakai kini compang-camping karena tergores oleh reruntuhan.
Matanya tidak terlalu memperlihat mata terkejut, karena hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya, namun untuk sesuatu yang sedahsyat ini. Ini baru terjadi kali ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Di mana yang lainnya?"
"Di mana Erika?"
Nama temannya menjadi satu-satunya yang teringat di ingatannya saat ini. Ini bukan tanpa alasan, wanita itu adalah yang pertama kali menyadari pemicu kejadian ini, dan dia juga yang mencoba menghentikannya sebelum terlambat.
"Sepertinya dia gagal, tapi seharusnya dia ada sekitar sini..."
__ADS_1
Tasya, dengan seorang diri mencoba mengelilingi sekolah ini sendirian.
.....
Beberapa menit berlalu, bahkan jam...
Namun dia tidak menemukan siapapun di sini. Yang ada hanyalah benda-benda berserakan disana-sini, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali di sini.
"Xander!"
"Samuel!"
"Fredrica!"
Dia mencoba memanggil satu persatu nama orang yang dia kenal, dan hasilnya masih sama. Tidak ada jawaban sama sekali.
"Rasy-"
Sampai dia hampir memanggil nama itu. Nama orang yang bahkan tidak hadir saat ini.
Saat nama itu masuk dalam pikirannya, dia mencoba mengingat-ingat siapa saja yang berubah menjadi kalang-kabut dan menghancurkan segala yang ada di sekitar mereka.
"Dahlia..., Haran..., dan Sophia..."
"Apakah ini sebuah kebetulan?"
Saat mencoba memikirkan itu, sebuah suara kaki yang terdengar seperti berlari mengarah ke arahnya.
*Tak *Tak *Tak
"Hallo, apa ada orang di sana?" Suara itu mencoba memanggil Tasya yang ada di depannya.
Mereka berdua tidak bisa saling melihat, asap putih yang mirip kabut menghalangi penglihatan mereka. Tapi, yang namanya sudah kerja bersama sejak lama (meskipun baru beberapa bulan buat Tasya) pastilah mengerti satu sama lain.
Tasya seketika tahu siapa pemilik suara dan siluet itu.
"Samuel?! Apakah itu kau?!"
"Ya, ini aku! Tasya, apakah itu kau?!"
"Ya!"
Mendapatkan konfirmasi, Samuel mencoba mendekat dan membuat dirinya yang sebelumnya hanyalah sebuah siluet kini benar-benar terlihat seutuhnya.
Badannya yang hitam berotot tapi sipit menjadi seperti jumpscare tersendiri bagi siapapun yang mungkin belum pernah melihatnya.
"Samuel..."
"Ini kacau sekali...!"
"Tenangkan dirimu...! A-apa yang baru saja terjadi setelah kejadian itu?!"
"Kejadiannya kurang lebih begini..."
Samuel menatap kembali ke arah tempatnya muncul. Dia seperti sedang menatap sebuah mimpi buruk yang tak kunjung hilang.
__ADS_1
......................
Kejadian sebelum kekacauan.
*Brak!
Sophia yang tadi berdiri di atas podium bersama 9 siswa lainnya tiba-tiba tumbang dan kejang-kejang. Kaki dan tangannya bergetar, dan matanya terbuka lebar namun seperti tidak melihat apa-apa.
"Gkkrrrhh!" (Sophia)
"Sophia, apa yang terjadi?!" Astra yang tadi berdiri di sampingnya langsung mencoba mengecek keadaan gadis itu.
Para murid dan guru yang berada di sekitar yang tadi memasang wajah sukacita kini berubah bingung.
"Hey, Sophia! Kenapa kau?!" Kini Moka langsung melompat ke atas podium dan ikut mengecek kondisi temannya.
Sambil menepuk-nepuk pipi Sophia, Moka mencoba menyadarkan temannya yang terlihat sekarat itu.
"Hey! Tolong kami! Ada orang kejang-kejang di sini!" Suara dari bawah podium dan dekat dengan teras terdengar keras dari tempat kejadian.
Suara itu berasal dari seorang siswa kelas 2 Sihir, dia datang ke arah podium dengan wajah terengah-engah. "Dahlia tiba-tiba pingsan dan tak-" Namun saat melihat apa yang sedang terjadi di atas podium, siswa itu memutus dan menatap bengong dengan apa yang terjadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Di sisi lain, Samuel yang berada di dekat podium mencoba menoleh ke tempat dua kejadian itu.
"Sepertinya ada orang yang sangat bahagia setelah menemukan mangsanya..." Suara menyeringai, namun terdengar seperti menahan rasa sakit seketika muncul di sampingnya.
"Hah?"
Saat menoleh ke belakang, Haran dan Erika sedang berdiri di sana. Erika memasang wajah serius sedangkan Haran menyeringai sambil memegangi dadanya.
Apa yang sedang dia tahan? Apakah sesakit itu? Bahkan sampai orang setingkat Haran sekalipun masih tak kuat untuk menahan sakit itu?
"Lupakan saja, kita harus bergegas!"
"Bergegas apa?! Untuk apa?!"
Erika menunjuk ke arah Sophia yang tumbang, lalu menunjuk ke arah Dahlia yang juga tumbang.
"Bawa para korban menjauh dari kerumunan, bila kita cepat. Maka hal yang terjadi seperti saat Penilaian Guru mungkin akan terhindari."
Mendengar kata Penilaian Guru, Samuel seketika melancipkan matanya yang sipit, tangannya menyilang dan memperlihatkan urat dan ototnya yang besar di kulitnya yang gelap. Pria itu sadar apa maksud dari kalimat yang diucapkan Erika.
Hanya saja, aku kekurangan info dengan apa yang terjadi dengan kejadian kemarin.
"Apapun yang terjadi sekarang, lebih baik bila kita bertindak sedikit lebih cepat tanpa memikirkan sesuatu yang masih abu-abu."
Di sisi lain, Xander berjalan mendekat dari belakang. Wajahnya yang semalam terlihat gila kini berubah menjadi bercitra seperti biasanya. Soal luka di wajahnya, tak ada satupun yang menanyakannya. Privasi adalah privasi.
"Aku juga! Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi kalau menyelamatkan seseorang! Aku adalah yang akan maju paling depan!" Tasya dengan rambut pirang twintail-nya berjalan mendekat ke arah kerumuman guru-guru itu.
Rambutnya yang bergoyang di setiap langkah bersamaan dengan senyum optimis yang melebar seiring mendekatnya dia dengan yang lainnya.
"Xander... Tasya...?"
Meskipun mereka abu-abu, tapi mereka mencoba untuk tidak memikirkan terlalu berlebih.
__ADS_1
Di sisi lain, Samuel menyadari kalau Xander menyembunyikan sesuatu dan yakin kalau pria itu tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang.