
Aku tak yakin kalau itu yang sebenarnya terjadi hari ini. Pasti ada sesuatu yang salah...
Sambil berbaring di kamar, aku memeriksa isi ponselku. Aku mencari sesuatu apa yang harus kucari, yaitu urutan kelas...
Ini aneh sekali...
Nama kelas yang kuajar tidak muncul sama sekali di 10 besar, bahkan di peringkat dari 27 kelas lainnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sesuatu yang tidak masuk akal telah terjadi di sekolah ini, dan pasti ada pelakunya."
Itu pasti, bukan hanya karena kelasku menghilang dari penilaian, namun juga karena nama peserta didikku juga tidak bisa ditemukan.
Kembali sedikit untuk memutar waktu, tepatnya saat mau pergantian sore dengan malam.
Murid-murid sudah berusaha mencari nama mereka, namun tidak ada satupun yang berhasil menemukannya
"Pak, namaku tidak ada..." Keluh salah satu siswi.
"Nama saya juga, pak!" Seorang siswa mengangkat tangannya dan mengeluhkan hal yang sama.
"Pak~ Kami sudah mencari-cari nama kami, tapi tidak ada yang menemukannya." Moka kini ikut mengeluh.
Jika sampai Moka saja tidak bisa menemukannya, itu berarti ada yang salah dengan ini.
"Sebentar, biar bapak periksa..."
Aku berdiri dari kursiku dan melangkah ke depan papan digital.
Aku menyentuh sebuah tombol putih yang membutuhkan akses sidik jariku untuk menekannya.
Seharusnya, dengan menekan tombol ini saja, nama-nama mereka akan langsung terlihat dan mudah di cari.
TING!
Tapi kenyataannya...
Boro-boro mau mendapat posisi 100 besar, nama mereka saja tidak muncul di papan digital itu.
"Hah?!" Aku dan murid-muridku serentak tersontak dan melihati papan digital itu dengan ketidak percayaan.
Sebuah tulisan, 'NAMA YANG ANDA CARI TIDAK ADA' muncul di depan kami. Itu menandakan kalau nama-nama muridku tidak muncul, dan itu artinya...
Apakah mereka gagal? Atau sesuatu?
"Kenapa nama kami tidak ada?"
"Ini bohongan, kan?"
"Hey, hey, yang benar saja?"
"Nama kami lenyap...?"
Seketika kelas yang tadi damai dan dipenuhi canda tawa berubah menjadi kekacauan dan dipenuhi dengan ketegangan.
Mereka semua terus bertanya-tanya tentang satu hal... Dimana nama mereka?
......................
Kembali ke waktu sekarang dimana aku berbaring di atas kasurku.
aku harus mencari sumber kesalahannya. Bila tidak, maka nasib-nasib anak didikku malah akan tambah kacau.
__ADS_1
Bila tidak masuk 100 besar saja sudah membuat masa depan para siswa terancam, apalagi dengan tidak ada dalam daftar. Mereka pasti akan langsung jatuh kejurang kegelapan dan kepasrahan.
Aku seketika bangkit dari kasurku dan berjalan menuju mejaku.
Laptop yang terlipat kubuka dan kuhidupkan.
"Orang itu pasti tahu..."
Aku yakin dia pasti tahu, bila tidak, kenapa dia malah mengatakan kalau yang aku lakukan sudah benar pada saat itu.
ctak ctak ctak...
Tombol-tombol laptop kutekan-tekan untuk membentuk sebuah tulisan.
Tulisan yang mencoba mencari nama itu.
Aku sebenarnya bisa saja menggunakan ponselku untuk mencarinya, namun entah kenapa penglihatan mataku semakin memburuk perharinya, padahal dengan adanya Anitya sudah akan menangkal kematian, tapi sayang sekali hal seperti ini tidak bisa ditangkal, sungguh penemuan yang aneh.
Kembali ke topik.
Menggunakan laptop akan lebih cepat untuk mencari nomor orang itu.
Scroll.... Scroll...
Nama-nama guru di grupchat itu kutelusuri.
Aku sedang mencari nomor orang itu. Orang yang bilang dia akan senang hati membantu juniornya yang sedang kesusahan.
Entah itu benar atau tidak, tapi yang pasti di harus mencobanya.
"Dapat!"
Aku akhirnya menemukan nomor ponselnya.
BIP... BIP... BIP...
Ponselku terus memanggil orang itu.
Dia lama sekali, apakah dia sedang mandi atau apa?
Mungkin, saja, dia pasti kelelahan karena harus bekerja seharian dan berdampingan dengan Bahar yang memiliki sifat aneh itu.
Bip!
Bip keras terdengar yang menandakan kalau seseorang mengangkat telepon.
"Halo?"
"Permisi kak, apakah aku menganggu?"
Aku mencoba nada sopan.
"Ah... rupanya Rasyid, ada perlu apa kau memanggilku, bahkan sampai menggunakan kata 'kak' untuk memanggilku?" Wanita itu dengan segera mengenal suaraku.
Seperti yang diharapkan dari guru kelas sihir, mereka hebat bukan karena kekuatannya saja.
"Eh, tidak perlu?"
Sedikit bermain-main, buat dia akrab dengan pembicaraan ini.
"Tidak, kau cukup memanggilku Haran saja, tapi jika kau mau memanggilku 'Kak' juga tidak apa-apa, akan lebih bagus lagi jika kau menggabungkan keduanya menjadi Kak Haran..."
Entah kenapa, namun aku merasakan dia sedikit berfantasi yang tidak-tidak di balik telfon ini.
__ADS_1
"Aku akan memanggilmu Kak Haran saja..."
"Oh, ternyatan kau suka yang begituan, ya?"
"Hah?" Aku tidak mengerti, namun arah pembicaraan ini semakin menjauh dari tujuanku. "Lupakan soal bagaimana aku memanggil anda..."
"Apa kau mau membicarakan soal ujian?" Dia tiba-tiba tahu arah pembicaraan ini.
Aku hanya bisa terdiam di antara takjub dan ngeri pada kehebatan orang ini dalam membaca suasana.
"Ya... Aku tidak mengerti sama sekali... Kenapa seluruh kelas yang kuajar menghilang?"
"Tentang kelas yang kau ajar? Sepertinya aku harus memberi tahumu soal apa yang terjadi saat kau dibebaskan tugaskan sebagai guru pada saat itu."
Dia membicarakan waktu aku diliburkan dari tugas karena kejadian yang merenggut dua nyawa muridku.
"Apakah ada yang terjadi saat aku tidak ada?"
"Hehehe(tertawa menyeringai)... Tentu saja ada, seperti yang kau lihat saat pertama kali masuk, bukankah tiba-tiba Fredrica menghalangi jalanmu?" (Haran)
"Terus, di saat itu juga, mereka para guru tidak ada yang berusaha menghentikan tindakan bodoh yang wanita itu lakukan. Bukankah itu sudah menjelaskan keanehan?" (Haran)
"Keanehan apa?"
Aku berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Mudahnya begini saja, kepopuleranmu mengancam karir mereka..." Suaranya yang terdengar seperti tertawa licik terdengar jelas di kupingku.
Mataku tiba-tiba terbelalak lebar, tapi meskipun begitu, aku dengan cepat mengembalikan postur tubuhku ke semula dan mencoba menanyakannya lebih jauh.
"Kenapa begitu, apa hubungannya diriku dan kepopuleranku dengan karir mereka? Kalau boleh tahu, bisakah Kak Haran menjelaskan?"
"Ahahaha(tertawa sinis), aku lupa... Maafkan aku juniorku yang imut, maafkan aku karena lupa kalau kau masuk lewat jalur orang dalam..."
Rasyid seketika terdiam dan memasang wajah bodoh dan datar. Dia tidak akan menyangka kalau dia akan mendengar sebutan itu lagi setelah sekian lama.
"..."
"Ah, diammu menandakan kau sedikit tersinggung, kalau begitu aku minta maaf... Ahahaha."
Bilangnya minta maaf, tapi ketawanya masih dilanjut sampai sekarang.
"Kembali ke mode serius." Nadanya yang tadi penuh gelagak tawa tiba-tiba hilang dan berubah bagaikan suara prajurit militer. "Sebaiknya kita bertemu saja besok... Aku yakin akan lebih mudah menjelaskannya jika kita berbicara dengan empat mata."
BIP
Tanpa menunggu persetujuan dariku, dia langsung seenaknya memutuskan dan mengakhir panggilan.
"Sial..."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Saat mataku melihat ke arah layar ponselku, aku menemukan sebuah pesan singkat.
[Kiat janjian di alun-alun Kota Ningru, kuharap kau datang tepat waktu!]
[Pukul 8 pagi, jangan lupa!]
[Jika kau mencoba-coba telat, maka aku tidak akan segan-segan menindihmu dan menjadikanmu kursi singgahsanaku!]
[Ahahahahhahah!]
Pesan itu terdengar mengerikan.
__ADS_1