
Sudah berapa lama aku berlatih?
Itulah yang ada di dalam pikiran guru keturunan papua dan china ini. Saat kecil dia selalu mengidolakan seorang atlet tembak, terkhususnya penembak jarak jauh. Atlet itu bernama, Mamang Kasuwara.
Kegemarannya juga membuatnya tertarik untuk mencoba dengan tangannya sendiri bagaimana rasa menembak dengan tepat sasaran.
Pada umur 15 atau bangku smp, dia mencoba membujuk orang tuanya mendaftarkannya ke tempat pelatihan menembak di usianya yang masih belum siap.
"Tidak..., aku ingin itu!" Anak itu memiliki mata yang bersinar teguh.
Kedua orang tuanya yang melihat keyakinan itu mencoba mendaftarkannya di sana, tapi karena umurnya yang masih di bawah umur. Terdapat beberapa persyaratan, pengawasan orang tua adalah hal utama dalam persyaratan itu.
Selama bertahun-tahun bocah itu berlatih sampai lulus bangku SMA. Dia sudah memenangkan banyak lomba sampai akhirnya dia bisa bertemu idolanya.
Perasaan gugup pria yang baru menyelesaikan tingkat sma itu terlihat saat dia pertama kali bertemunya. Idola yang telah lama dia sukai, tapi sebuah kenyataan harus di lihat.
Mamang Kasuwara telah tua, matanya sudah rabun dan tak bisa menembak seperti dahulu kala. Pria itu tidak sedih saat melihat idolanya menua, dia malah langsung salim ke orang itu.
Pak tua itu tersenyum saat melihat pria yang dia lihat tidak hanya memiliki kehebatan dalam menembak, tapi juga sopan santun yang tinggi. Saat pertama kali melihat pria itu, Pak tua ini tak yakin kalau dia adalah orang yang tepat untuk mewarisi ilmunya.
Dia sudah tahu kalau Pria itu adalah orang yang sembrono, tapi sekarang matanya bertemu dengan pria itu. Sifatnya benar-benar bisa berubah sesuai keadaan, pelatihannya pasti sangat ketat sehingga pria itu bisa membedakan waktu serius dan santai.
Mamang menyentuh rambut pria itu. "Kau bukan hanya akan menjadi penembak jitu, tapi juga petarung hebat." Pak tua itu mengatakan dengan pelan sambil memberikan sebuah cairan Anitya. "Ini adalah Anitya khusus untuk sihir bagi yang hanya mendapatkan suntik Anitya keabadian. Kau akan mendapatkan penglihatan yang hebat saat menggunakannya. Benda ini diberikan saat aku sudah pensiun, jadi tidak berguna lagi buatku. Makanya aku akan berikan ini padamu. Aku mempercayaimu, penerusku."
Mata pria itu berbinar lebar, dia menaruh tangan kanannya di depan dadanya sebagai ucapan janji.
Tak lama setelah itu, Kasuwara terduduk di sofa yang sudah disediakan dan menutup matanya untuk selamanya. Dia mati dengan memberi hormat pada penerusnya, tangis pria itu terlihat saat melihatnya.
Kini pria itu berdiri di tengah arena, siap untuk menghadapi lawannya. Saat ini, dia pasti bisa menjadi yang nge-carry kelasnya.
Lawannya adalah guru kelas fisik, dengan keyakinan penuh. Samuel yakin bisa memenangkan pertarungan.
"PERTARUNGAN ANTARA SAMUEL YUCHENG DARI KELAS 1 FISIK 4 MELAWAN GUS NATESH DARI KELAS 3 FISIK 4 AKAN DIMULAI, MARI KITA LIHAT SIAPA YANG AKAN MENANG. TAHUN KEMARIN MEREKA BERDUA KALAH KARENA MUSUH MEREKA ADALAH DARI KELAS SIHIR, TAPI SAAT INI ADALAH KESEMPATAN MEREKA UNTUK MERASAKAN KERASNYA SEMI FINAL...HAHAHAHA!!" Bahar sepertinya tertarik dengan pertarungan mereka berdua.
"BAIKLAH, PERTARUNGAN...DIMULAI!!!" Bahar memberikan aba-aba yang cukup berbeda saat ini.
Samuel mundur dan mencoba membidik musuh dari kejauhan, namun musuhnya terlalu cepat.
Natesh sudah ada di depannya saat di membuka scope-nya dan melakukan jump kick ke arahnya.
"Cepat sekali?!"
Samuel menahan tendangan Natesh dengan senjatanya. Sebuah retakan tanah tercipta dari tekanan tendangan Natesh.
"WOWWW, NATESH MENENDANG SAMUEL DENGAN KEKUATAN YANG LIAR BIASA!!! DIA BENAR-BENAR SUDAH MENINGKATKAN KEKUATANNYA DARI PADA SAAT ITU."
"Aku juga sudah meningkat!"
Samuel melempar senjatanya ke udara dan meninju Natesh dengan tinjuan listriknya.
Dengan kecepatan yang super, Natesh memilih menghindari tinju Samuel.
"Apa?!"
Samuel tidak diberi waktu terkejut. Tepat saat dia mengatakan itu, sebuah tendangan memutar sebanyak 3 kali mengenai perutnya.
Samuel terdorong mundur karena tendangannya.
"Ayo..., segitu saja kemampuanmu?" Natesh menggerak-gerakan telapak tangannya mengisyaratkan untuk menyuruh Samuel maju.
Samuel tidak termakan taunt dari lawannya. Dia memutar badannya dan mundur ke dindin arena.
Natesh yang melihatnya hanya bisa menghela nafas kecewa dan mengejarnya.
Tepat sebelum Natesh berhasil mengejarnya, Samuel lompat ke dinding dan badannya berputar ke atas. Dia menendang Natesh dengan bicycle kick.
Natesh terpental ke udara dan mendarat di lantai arena dengan posisi tidur.
"Apa itu?!" Natesh melihat sesuatu turun ke arahnya.
"Arggghhh!!!" Dia mencoba bangkit dengan elemen cahayanya namun lukanya memperlambatnya.
Ujung sniper riffle milik Samuel menancap di tubuh Natesh.
__ADS_1
"TERNYATA SAMUEL SUDAH MERENCANAKANNYA SEJAK AWAL. DIA MEMBUAT NATESH MASUK KE POLA BERTARUNGNYA SEHINGGA SENJATA YANG IA LEMPARKAN KE UDARA BISA MENGENAI TUBUHNYA DENGAN TEPAT... MARI KITA LIHAT! APAKAH NATESH SUDAH-....OOOOHHH DIA MASIH BERDIRI RUPANYA!!! PERTARUNGAN MASIH BERLANJUT MESKIPUN LUBANG SUDAH ADA DI TUBUH GURU MALANG ITU!!!"
"Apakah latihanku masih kurang? Aku sudah berlatih dengan sekuat tenaga, tapi hasilnya tetaplah kegagalan..." Senyum sedih Natesh terlihat saat di mencabut senjata Samuel yang menancap di tubuhnya.
"Kau bukan kurang latihan!!" Samuel mengangkat tinjunya tanpa diberi elemen.
Tangan Samuel dan Kaki Natesh bertemu dan saling beradu kekuatan.
"Lalu apa?!" Natesh berteriak sambil melepaskan tendangannya dan memberi tendangan lain.
"Tapi lawanmu lah yang berlatih lebih darimu!!!" Samuel menghindari tendangan Natesh dan menyentuh lubang di perut Natesh yang berlubang.
'Aku akan mengakhirinya dengan epik! Lihatlah Pak Mamang, aku akan membuatmu terkesima di atas sana.'
Sebuah sihir listrik akan dia keluarkan di lubang itu.
Aku yang melihatnya langsung panik!
Pyarrrr!!
Suara kaca pecah terdengar dari ruang komentator. Bahar melompat dan berlari ke arah pertarungan mereka berdua. Badannya yang gendut membuat para penonton tidak yakin dengan apa yang mereka lihat. Dia berlari dengan sangat cepat.
Bahar menghentikan tangan Samuel tepat sebelum mengeluarkan sihir.
"Apa?!"
Samuel dan Natesh terkejut karena Bahar menghentikan pertarungan.
Bahar menatap Samuel dengan tajam. "Kau sudah menang..., tidak perlu dilanjutkan." Pertarungan berakhir dengan kemenangan Samuel.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa dia menghentikan pertarungan?"
Para penonton kebingungan.
Ada sesuatu yang sebaiknya tidak boleh diketahui tentang kelemahan Anitya. Anitya punya kelemahan terhadap beberapa serangan elemen. Meskipun mereka bisa beregenerasi, tapi beberapa kekuatan elemen dapat merusak sistem itu.
Kekuatan listrik contohnya, jika elemen listrik tidak sengaja mengenai bagian dalam tubuh yang dekat dengan jantung. Maka jantung yang sebagai tempat inti Anitya bersarang, bisa meledak karena kerusakan sistem. Begitu juga dengan elemen es, es dapat membekukan kerja inti Anitya dan membekukan peredaran Anitya ke seluruh tubuh.
Kedua petarung keluar dari arena dengan raut muka bingung. Bahar yang berdiri di tengah arena mencoba mengalihkannya. "Anitya memang mempunyai kekuatan meregenerasi tubuh kita yang rusak, tapi mereka tidak bisa memperbaiki mental kita. Jika mereka terkena serangan lebih dari itu, maka hal seperti yang terjadi di pertarungan sebelumnya akan terjadi." Suara Bahar sangat keras meskipun tanpa menggunakan mic sekalipun, seluruh alun-alun dapat mendengarnya.
"Aku menang tapi tidak merasa puas sama sekali." Samuel bicara di pinggirku dengan menyilangkan tangannya.
"Kau mengagetkanku," ucapku datar.
"Kau tidak terlihat kaget..., kembali ke masalah. Sepertinya ada yang disembuyikan di sini."
"Memang...," ucapku datar sambil melihat Bahar yang mengoceh di arena.
"Emangnya apa?"
"Semua tidaklah sempurna..., begitu juga Anitya. Kau mencoba menyetrum di bagian yang sudah berlubang, udara sudah tercampur di sana. Seranganmu tadi bisa membunuh lawanmu."
Samuel terkejut setelah mendengar penjelasanku. Dia merasa bersalah setelah apa yang dia perbuat
"Tenanglah, meskipun itu bisa terjadi, tapi sihirmu terlalu lemah untuk membunuhnya, palingan dia cuman mengalami trauma." Aku menenangkannya.
"Benarkah?!"
"Beruntunglah kau, karena kau merupakan petarung yang lebih mengandalkan fisik ketimbang sihir."
"Kau rupanya banyak tahu soal ini ya?" Samuel tersenyum sambil memegang pinggangnya.
"Ngomong-ngomong, tadi kau mau melakukan serangan kombo ya? Sepertinya kau akan memperlihatkan kemampuan menembakmu." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Hehehe...., tadi aku mau mencoba serangan menembak dengan melayang terbalik."
"Aku akan menantikan serangan itu, Samuel. Aku ingin melihat serangan itu." Aku menghiburnya.
"Tenanglah, aku pasti akan memperlihatkannya di pertarungan selanjutnya." Samuel mengusap filtrumnya(area antara hidung dan bibir).
Samuel pergi ke bangkunya. Seseorang terlihat menatapku di belakang tubuh Samuel, dia baru terlihat setelah Samuel pergi.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan, Astra?" Aku menatapnya dengan sipit.
"Astra?!" Sophia terkejut saat mendengar nama itu, wajahnya langsung menoleh ke tempat aku melihat.
"Halo..." Astra yang duduk di bangku seberang yang hanya terpisahkan oleh tangga tersenyum gugup pada kami.
"Apa yang kau inginkan pada Pak Rasyid, Astra...?!" Mata Sophia menajam ke arah laki-laki itu.
"Hey hey hey! Jangan salah paham dulu! Aku kesini cuman ingin bicara!" Astra memundurkan badannya sambil menggoyang-goyangkan kedua telapak tangannya.
"Lalu?!" Sophia terus bertanya membuatku tidak kebagian dialog.
Astra berdiri dari duduknya dan berjalan mendekatku.
"Tolong ajari kami!" Dia berlutut di depanku.
Aku yang tadi memasang wajah datar tiba-tiba terkejut konyol.
"Haaa?!" Aku dan Sophia mengeluarkan ekspresi yang sama.
"Mengalahkan satu dari guru kelas 3 sihir adalah hal yang dianggap mustahil. Tapi anda mengalahkannya seperti bukan sebuah masalah, jadi tolong ajari kami. Kami ada perlombaan OSIS antar sekolah. Kemampuan kami sudah kuat, tapi hampir tidak ada peningkatan!" Dia memohon dengan tulus meskipun nadanya tinggi.
"Hey kenapa kau malah mau mencuri guru kami?!" Moka yang melihat keadaan tiba-tiba maju ke depan Astra.
"Siapa yang bilang mencuri?! Aku cuman minta jadi pengajar saat pulang sekolah!" Astra terpancing kata-kata Moka.
Mereka berdua tiba-tiba adu mulut, aku menahan keningku dan menatap Sophia. Sophia yang paham maksudku langsung melerai mereka. "Kalian berdua bisa diam?!" Teriakan Sophia menghentikan mereka.
"Apa kalian tidak lihat muka mengenaskan Pak Rasyid?!" Sophia menunjuk mukaku yang sekarang terlihat ngenes.
"Hey kenapa jadi begitu?!" Aku menyela.
"Bukannya anda yang bilang seperti itu?!"
"Tapi bukan begitu caranya."
"Eh?" Sophia tersenyum malu, jarinya yang menunjukku tiba-tiba turun melembek.
"Sudahlah lupakan, tapi kalau soal mengajar. Sebenarnya aku sedang sibuk-
"Kami akan melakukan apapun asalkan anda mau!" Astra menepuk kedua tangannya sambil masih berlutut.
"Apa kalian benar-benar ingin diajarnya, kalian kan kuat?" Moka bertanya.
"Seperti yang sudah kubilang, kami kuat, tapi tidak ada kemajuan." Astra menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Apapun ya...?" Aku berpikir.
"Hey pak, jangan memeras murid!" Stevent yang terganggu datang menemui kami.
'Uang? Aku sudah punya banyak. Oh....'
Aku menepuk telapak tanganku.
"Aku mau mengajar kalian, Tapi aku akan tes kalian."
"Tes?" Sophia bertanya.
"Pertama, keluarkan anggota terlemahmu untuk melawan Stevent di arena. Kedua, kelluarkan anggota terkuat kalian.....," Aku menatap Astra yang berlutut dihadapanku dengan rendah. "...untuk melawanku...." Sebuah syarat sudah kukatakan.
"Tunggu kenapa aku? Kenapa tidak Sophia saja?!" Stevent keberatan.
"Sophia kuat dalam kedua bidang, tapi sihirnya lebih mendominasi. Aku akan kesulitan menilai, jadi kau adalah yang terbaik." Aku menatapnya dengan bangga.
Stevent hanya bisa menatap pasrah.
"Terima kasih, Pak! Kami akan segera membawanya sekarang!"
"Jangan sekarang! Lombanya masih 2 bulan lagi itu masih lama, dan sekarang sedang penilaian guru. Dan minggu depan (aku tersenyum jahat), ujian tulis diadakan."
Semua siswa terdiam hampa.
--------------------------
__ADS_1
Sementara itu di ruang komentator, Presiden duduk dengan menyilangkan kakinya. Sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya. "Tadi itu hampir saja ya, Nova." Dia menyebut nama orang yang sedang absen di alun-alun.