Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 101. Pelayan yang Memimpin pt.7


__ADS_3

Point of View: Rasyid Londerik.


Cklak!


Beberapa koin kumasukkan ke dalam sebuah vending machine yang ada di dalam bis itu.


Jika ditanya aku kenapa?


Aku akan jawab dengan gampang...


Aku haus...


Jalannya pertempuran seketika berubah 180°.


Kelas yang tadi kupikir akan mememangkan peperangan malah berakhir terbantai.


Aku tak tahu bagaimana aku harus berkomentar sekarang.


Sambil menatapi kaleng-kaleng minuman itu, aku melihati refklesi diriku dari kaca mesin itu, diriku menatap diriku, mata menatap mata, saat ini aku benar-benar menatap masuk ke dalam refleksi bola mataku sendiri.


"Kenapa kalian begitu teledor...?"


Mulutku seketika terpeleset, aku tidak sadar kalau aku akan mengatakannya.


Kira-kira, apa yang kurang dari mereka?


Aku sekali lagi mempertanyakan itu.


"Daripada memikirkan apa yang kurang dari murid-muridmu, coba pikirkan... Apa kelebihan lawanmu sehingga mereka bisa masuk ke dalam situasi ini." Ryan menceramahiku.


Diriku sempat sedikit terlompat karena kehadirannya yang tiba-tiba, namun aku dengan cepat menutupinya sehingga tak terlihat kalau aku tadi hampir tetkejut.


"Huh?"


Aku kurang mengerti dengan apa yang dia maksud, namun aku akan segera menangkap maksudnya dengan segera.


Ctak!


Ryan menekan tombol di mesin itu, minuman yang dia pilih adalah minuman kaleng yang merupakan sesuatu yang menjadi harga diri para lelaki, yaitu kopi hitam.


Apa dia tidak apa-apa? Seingatku merek yang dia pilih terkenal dengan kepahitannya.


Buk!


Minuman kaleng yang dia pilih itu jatuh ke bawah lalu diambil oleh sepupuku. Dan dengan segera, Ryan membuka kaleng itu dan meminumnya sampai habis.


Ketahanan pria ini hebat sekali, dia bisa meminum kopi yang pahit tanpa rasa ingin memuntahkanyha sama sekali. Kukira orang kebal pahit itu hanyalah mitos, atau memang akunya saja yang tidak pernah tahu.


"Hhwah... Coba pikirkan itu..." Dia pergi setelah meminum kopi itu dan kembali ke tempatnya duduk.


Masoh di tempat yang sama, aku mencoba merenungkan. Apa yang kurang...


"Kelebihan lawan...?"


Aku tidak mengerti sama sekali dengan ini! Ternyata memang benar, memikirkan sesuatu yang sifatnya berkelompok memang bukanlah keahlianku. Sebaiknya aku segera memilih minuman dan kembali mengawas.


Tapi...


Saat mau menekan mesin itu, aku merasakan sesuatu yang kurang.


Ctak!


Saat kupencet tombol di mesin itu, mesin itu tidak memberikan reaksi apapun.


"Kenapa tidak bi-"


Aku tertampar kembali ke dunia nyata, diriku yang tadi sedang melamun ternyata langsung dimanfaatkan olehnya.


TAK TAK TAK!


Aku melangkah dengan sangat cepat nan konstan.


Saat berada tepat di balik pria itu, aku memberikan cengkraman kuat pada bahunya.

__ADS_1


"Oi Ryan..."


Aku memanggil namanya.


Tepat setelah itu, wajah pria itu seketika dibasahi oleh keringat dingin, bibirnya digigit untuk menahan tawa, dan matanya membuka lebar karena terkejut.


"Kembalikan koinku yang kau pakai tadi!"


Aku langsung menagihnya.


Dia membuatku kesal, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mengambil hak orang dan mengalihkannya dengan sebuah pembicaraan. Dia benar-benar seorang penjilat yang sangat hebat.


Perlahan kepalanya menoleh ke arahku, wajahnya yang terlihat pecundang itu dia pasang.


Dari bagaimana aku melihat wajahnya saat ini, aku bisa melihat kalau dia memohon kepadaku untuk tidak melakukannya. Dia ingin memanfaatkan ketulusan diri dari seorang manusia.


Astaga...


Beruntungnya...


Hihihi.


Aku melengkukan mulutku, mataku menyipit ke arah Ryan, dan cengkramanmu di bahunya semakin kuat.


Aku tidak punya ketulusan hati, aku akan menghancurkannya bila dia tidak mengembalikan uang yang dia curi. Saat ini diriku dipenuhi kegelapan bak raja iblis.


"Kem-ba-li-kan..."


Wajah Ryan seketika menghitam dan langsung bermandikan keringat.


......................


Point of View: Kanda Sophia.


Aku dengan tergesa-gesa berlari ke arah mereka dan membuat sebuah perisai dari es untuk menahan datangnya perangkap.


DUAR! DUAR! DUAR!


Aku tak tahu.


Apakah aku berhasil menyelamatkan mereka atau tidak?


Jantungku berdetak sangat kencang, bukan karena perasaan suka, melainkan karena perasaan tegang.


Aku tidak bisa memastikannya. Asap bekas ledakan terlalu tebal.


Aku hanya bisa melongo sambil menunggu asap itu hilang.


Beberapa detik setelah ledakan, asap mulai menghilang dan...


Mataku menangkap siluet seseroang, apakah itu mereka?


Tapi, semuanya seketika terhianati.


Dan untuk sekali lagi aku merasakan rasanya dihianati.


Hasil menghianati usaha. Itulah yang kurasakan saat ini.


"Sophia~?!"(Dengan nada menghina)


"Sophia?!"


Aku mendengar ada dua orang yang memanggil namaku.


Saty suara itu terdengar familiar di kupingku, dan satunya lagi tidak.


Tapi dari caranya memanggil namaku tadi, aku bisa memastikan kalau anak itu adalah...


Mataku perlahan menoleh tepat ke wajahnya yang terlihat kesal. Dari apa yang kutangkap di sini, dia tidak suka dengan tindakanku yang terlambat.


Ketika asap tebal sudah hilang sepenuhnya, mataku memperlihatkan wajah Hakam dan Rizal yang menjadi satu-satunya yang bisa kuselamatkan.


Mereka berdua menatapku dengan tatapan bodoh.

__ADS_1


"Apa kalian tidak apa-apa?" Tanyaku sambil sedikit bergimik.


Hakam mengangguk kecil menandakan dia baik-baik saja, namun wajahnya jelas-jelas tidak bisa membohonginya. Dia terluka hampir di semua bagian.


"Baik-baik saja?!" Rizal yang berada di sampingnya memberi tatapan kesal ke arahku, matanya melancip dan giginya dia geramkan. "Apa kau tidak lihat sekelilingmu?!"


Sudah kuduga, dia pasti akan mempermasalahkan itu.


Aku ingin segera membalas omongannya, namun aku tak kuat.


Aku masih tak berdaya karena dilupakan.


"Hey, apakah kau budeg?! Lihat sekitarmu! Mereka semua K.O karena kau lambat!"


Kalimatnya sungguh menusuk hatiku, namun akan kutahan. Ini adalah hal yang pantas untuk kudapatkan.


"Rizal, sudah cukup!" Hakam berteriak ke arahnya dan tepat di samping kupingnya.


Rizal langsung diam, tangannya memegang kupingnya yang tadi diteriaki.


"Huh?! Kau menyuruhku diam?! Tidak akan! Ingat, kau adalah yang menyebabkan seluruh teman kelas kita yang ada di sini tereliminasi!" Rizal mengatakan fakta yang tak terelakan.


Kecerobohan Hakam sebagai pemimpin adalah penyebab ini semua. Dia adalah yang memimpin teman-temannya ke dalam perangkap.


Tapi itu bukan berarti dia harus disalahkan sepenuhnya.


"Aku tahu itu! Tapi kenapa kau juga menyalahkan Sophia?! Bukankah dia yang berjuang untuk melindungi kita?!" (Hakam)


"Melindungi?! Tapi kenapa hanya kota berdua yanh tersisa?! Aku yakin dia sengaja meninggalkan orang-orang yang dekat dengan guru itu untuk menyelesaikan ujian ini!" (Rizal)


Mendengar kata-kata tadi, aku sontak terdiam.


Entah kenapa...


Aku ingin sekali menghancurkan orang yang ada di depanku saat ini.


Ketahanan diriku sudah tidak bisa kutahan lebih lama lagi. Tidak masalah bagiku bila dihina, tapi bila nama guru itu yang dihina.


Maka aku akan...


Tanpa sadar, dan karena terbawa emosi.


Aku mengeluarkan pageblugku dan melebarkan kipasku.


SLASH!


Seketika aku menebas laki-laki tak tahu diri itu menjadi dua.


"Haghh!"


Tapi saat mendengar suara korbanku, aku seketika terkejut dan membuka mataku lebar-lebar.


Gedebug!


Tubuh Hakam terlentang di lantai dan bekas sayatan kipasku terlihat di dadanya.


"Kenapa kau malah melindunginya?!" Aku bingung dengan cara berpikirnya.


Kenapa dia malah mengorbankan dirinya demi si brengsek itu?!


"Jika yang dia katakan benar, maka sebaiknya aku harus tereleminasi. Dan(suaranya terpotong-potong), bukankah seorang kapten yang memimpin pasukan akan lebih senang bila dia gugur bersama pasukannya timbang lari dan menjadi satu-satunya yang selamat?"


Dengan begitu, kalimat tadi menjadi kalimat terakhir Hakam sebelum dia tereliminasi.


Dia lenyap dan keluar dari arena pertarungan.


Kini hanya ada aku dan Rizal yang brengsek ini.


Dia menatapku dengan ketakutan, dia membayangkan bagaimana bila saja Hakam tidak melindunginya tadi.


"Sudahlah, lupakan saja..." ucapku sambil berdiri. "Ayo kita ke ruang tahta! Aku sudah mengecek semua sisi, sudah tidak ada lagi jebakan sampai kita kesana."


Aku tidak peduli dia mengikutiku dari belakang atau tidak, yang penting saat ini kami harus segera memberi peringatan pada regu yang ada di balkon untuk segera membubarkan rencana dan bersatu untuk menyerang ruang singgahsana.

__ADS_1


__ADS_2