Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 36. Cìkè Nǚwáng / Queen of Assasin


__ADS_3

Setelah naik ke atas panggung aku kembali ke tempat dudukku yang sepi. Para guru yang lain masih gugup di belakang panggung untuk menarik kertas di toples itu.


Aku yang menunggu sendiri di sini di datangi murid-muridku.


"Kerja bagus, Pak."


"Hahaha, bukan hanya jadi Champion tapi anda juga menjadi King of Beauty."


"Jika itu aku pasti lebih baik memilih minta ganti."


Para murid memujiku dengan opini yang berbeda-beda.


Mereka duduk di sekitarku untuk menemaniku.


"Ngomong-ngomong kenapa Astra dan dia ada di sini?" Aku menatap ke Astra dan Dahlia yang berdiri bersama mereka.


"Aku bilang pada para guru kalau OSIS adalah pendukung anda. Mereka langsung mengijinkanku masuk setelah mendengarnya." Astra memegang kacamatanya dengan bangga.


"Terserahlah, tapi sebaiknya jangan gunakan jabatanmu sebagai senjata."


"Tenanglah, aku profesional. Aku akan memakai jabatan ini sebagai senjata hanya di waktu kepepet." Dia menyentuh dadanya dengan bangga.


Gadis yang di sampingnya hanya terdiam malu.


"Apakah ini disebut kepepet?"


"Tentu saja, aku harus membuat image baik pada anda agar anda mau melatih kami dengan sungguh-sungguh." Matanya sekarang malah berbinar.


Aku menatapnya dengan ekspresi datar. Tatapanku kembali teralihkan dengan Dahlia yang duduk malu dengan diam di sampingnya.


"Matamu melirik ke mana, Pak?..." Moka yang duduk di sampingku membisikiku tepat di kupingku.


Sebuah angin tertiup di kupingku dan mengalihkan pandanganku. Wajah memerah Moka menatapku dengan yang sayu.


Aku reflek menggeser dudukku menjauhi tatapan wanita yang mabuk ini.


"Astaga, Moka!" Sophia terkejut.


"Dia mabuk?! Bagaimana bisa? Bukannya seharusnya mereka menghidangkan minuman biasa pada anak sekolah?!" Hakam langsung dengan segera memeriksa minuman yang diminum Moka.


"Hey, ini minuman beralkohol! Apa mungkin karena ini tempat duduk para guru maka ada minuman-minuman seperti ini?!" Gita melihati komposisi minuman.


"Alkohol? Itu mustahil, buktinya aku tidak mabuk." Stevent mengatakan itu dengan wajah yang merah.


"Sekarang ada dua yang mabuk!" Sophia menoleh ke arah Stevent.


"Sebaiknya kita tenangkan mereka." Aku mengatakan dengan datar.


Orang mabuk sering mengeluarkan kebenaran. Bila saja diteruskan maka Moka akan tidak sengaja menyebutkan kejadian Fajri.


"Ah,.... Pak Rasyid... Aku sangat-


Dahlia menyentuh leher bagian belakang Moka dengan dua jari. Sebuah lingkaran gelombang cahaya keluar dari bekas sentuhannya. Seketika setelah itu Moka tertidur. Dia juga melakukan hal yang sama pada Stevent. Wajah yang sangat berani terlihat di wajahnya.


"A-anu, maaf! Sepertinya aku berlebihan!"


Wajah berani gadis itu tiba-tiba hilang dan menjadi pemalu kembali.


"Tidak apa-apa, kau melakukannya dengan baik." Aku memujinya karena berhasil menghentikan ocehan Moka.


"Tenanglah Dahlia..., Pak Rasyid memuji kesigapanmu." Astra menenangkan Dahlia yang terbata-bata karena malu merasa bersalah.

__ADS_1


"Te-terima kasih a-atas pujiannya!" Dia menundukkan badannya dengan gagap lalu kembali duduk.


Sekarang Stevent dan Moka tertidur di sofa. Kami pindah tempat duduk dan menonton pertunjukan para guru.


Di atas panggung terlihat Samuel yang sedang memamerkan otot-ototnya. "Lihatlah! Ini adalah hasil kerja kerasku!"


Para siswa memalingkan wajah mereka karena malu. Dari malu karena terpukan sampai karena jijik bersatu di sana.


Kembali ke tempatku.


"Dahlia, kau keren sekali tadi!" Sophia memuji Dahlia dengan semangat.


"Eh, i-itu bukan apa-apa."


Gadis ini perasaan saat aku pertama kali melihatnya, dia terlihat dingin. Kenapa jadi seperti ini.


"Tidak usah malu-malu, kau terlihat imut saat seperti itu." Gita merayunya.


Bukannya dapat apa yang dia inginkan. Gadis itu malah mengubah wajahnya yang memerah menjadi wajah jijik.


"Heh..." Dahlia menatap Gita dengan tatapan yang dingin, jijik, dan rendah.


"Ukhhh! Itu menyakitkan." Gita pingsan oleh tatapan jijik gadis itu.


"Ah, dia pingsan." Hakam menatap Gita yang sudah terbaring di lantai.


"Ngomong-ngomong, kenapa dia punya ekspresi yang berbeda?" Hakam bertanya pada Astra.


Astra memasang senyum paksa sambil menggaruk rambutnya. Dalam sepersekian detik, aku melihat mata Astra melirik ke arahku lalu berpindah. "Itu entah tidak tahu apa yang terjadi, tapi hari ini dia tiba-tiba begitu."


Sepertinya kejadian saat aku menyegel tindakannya berdampak pada mental anak perempuan itu. Saat dia menatapku, mukanya jadi merah merona.


Emangnya itu efek samping dari penyegelan? Aku biasanya menggunakan itu tepat sebelum menghabisi target. Jadi apa yang terjadi pada orang yang terkena itu, aku tidak tahu sama sekali.


"Cìkè Nǚwáng? Maksudmu Queen of Assasin? Kudengar dia telah menghabisi para politikus dan orang-orang yang kaya sesuai keinginan klien, memangnya Kenapa?" Sophia bertanya.


"Cerita wanita itu akan dijadikan film!" Astra menggebrak meja dengan perasaan bahagia.


"Apa yang bagus dari wanita itu? Dia cuman pembunuh bayaran yang tidak pernah tertangkap kan?" (Hakam)


"Dia bukan hanya sekedar pembunuh bayaran biasa. Kemampuannya dalam sihir dan fisik sangatlah hebat, sudah banyak keluarga politikus terbantai olehnya. Bahkan dengan bantuan polisi dan tentara sekalipun, dia tidak bisa dikalahkan." Dahlia kembali ke sifat dinginnya.


"Sihir? Maksumud dia ada di era sekarang?" Hakam terkejut setelah mendapat info itu.


"Hmm(mengangguk), dia selalu memakai topeng dan jubah yang menutupi seluruh badannya. Yang terkenal dari wanita itu adalah topengnya yang berbentuk seperti tokoh-tokoh tiga negara. Topeng yang ia pakai selalu berubah-ubah setiap misinya. Tapi yang membuatnya sama adalah kuda air yang selalu ia tunggangi." Dahlia menjelaskan.


"Kuda air? Bukannya insiden di sekolah minggu kemarin juga ada kuda air. Bila kuingat, Pak Bahar mengalahkan kuda itu bersama dengan presiden." Sophia memegangi dagunya.


"Entahlah, aku tidak terlalu ingat pasti bagaimana bentuk kuda dari Queen of Assasin. Tapi mungkin saja kejadian di sekolah itu merupakan ulah dari Queen of Assasin." Dahlia menajamkan matanya.


"Aku sebenarnya awalnya ingin berbincang soal filmnya tapi setelah kau mengatakan seperti itu, aku malah jadi keipikiran. Queen of Assasin tiba-tiba sudah tidak ada kabar lagi dalam bulan ini. Tidak ada keluarga politikus maupun orang-orang kaya terbunuh saat ini. Netizen mengira kalau dia sudah mati atau tertangkap. Tapi kejadian minggu lalu mengubah segalanya..." Astra menutup matanya dan hanyuk dalam pikiran.


"Kalo begiu... , AYO KITA UMPAN DIA KELUAR!" Astra berdiri dan memekik keras untungnya suara salon dari panggung menutupi teriaknya.


Hakam, Sophia, dan Dahlia menatap Astra dengan heran. Tapi Dahlia sepertinya sudah terbiasa dan langsung memalingkan wajahnya.


Wajahku dan Dahlia tidak snegaja bertemu. Mukanya langsung memerah terus mengganti arah dia memaling.


Aku menatapnya dengan datar. 'Apakah ini efeknya? Aku tidak pernah tahu efek apa yang akan terjadi pada korban. Efek yang seperti apa yang sebenarnya terjadi pada Dahlia?!'


Aku kembali menatap Astra yang masih berdiri. "Tidak, kau tidak boleh membuatnya keluar dulu." Aku menghentikan rencana Ketua OSIS sableng ini.

__ADS_1


"Kenapa?" Astra kembali duduk dengan bingung.


"Apa kalian sudah lupa? Test! Ujian! Diadakan minggu depan! Dan Bukankah kau memintaku untuk menjadi pelatihmu!" Aku menegur mereka dengan ekspresi datar tapi bersuara keras.


"Eh he he he, aku OSIS jadi bisa mencari kun- aduduh kakiku!"


Dahlia menginjak kaki Astra sebelum keceplosan.


"Kau apa?!" Sophia dan Hakam bebarangan mengintrogasi Ketua OSIS itu.


Dahlia yang disampingnya memalingkan wajahnya sambil menutup mukanya yang lelah dalam mengatasi tingkah temannya itu.


"Sudah-sudah, saat ini adalah waktu perayaan. Sebaiknya gunakan ini sebagai refreshing sebelum berperang!" Aku menghentikan pertikaian mereka.


Sophia dan Hakam kembali duduk.


"Ujian ya? Aku hanya bisa di arena, tapi jika sudah masuk ke tulisan aku akan sangat payah," eluh Sophia.


"Aku juga banyak kerja karena harus menjadi pelayannya Stevent." Hakam menyendekan badannya sambil menatap langit-langir restoran.


Aku terkejut saat mendengar kata-kata Hakam.


"Kau jadi pelayan full time? Bukannya saat itu hanya hari minggu?!" Tanyaku.


"Aslinya begitu, tapi saat tahu kalau orang yang harus kulayani adalah Stevent. Semangatku langsung hilang tapi Pak Xander langsung mengiming-imingiku bayaran yang lebih besar dan menandatangani sebuah kontrak. Karena aku butuh uang, ya sudah. Sayangnya aku tidak tahu kalau di kertas itu juga tertulis 'di setiap kegiatan sekolah'." Hakam menceritakan dengan wajah melas.


Ternyata dia benar-benar licik, tapi biarlah. Aku sudah menduga kejadian ini akan terjadi. Setidaknya Hakam tidak tersiksa oleh pekerjaannya.


Tanpa kusadari para guru yang lain sudah selesai tampil. 'Sial aku melewatkan aib mereka!' Aku menghela menerima takdir.


Tak lama kemudian, mereka yang pingsan sudah kembali siuman.


"Apa yang terjadi?"


Mereka bertanya tanpa ingatan apapun saat mereka mabuk.


Sepertinya para guru sedang berjalan kembali. Aku akan bergabung dengan mereka nanti.


"Aku ke toilet dulu." Aku pamit pada muridku.


Aku mencuci mukaku di sana. Sebenarnya aku saat ini sedang mengantuk. Berpesta sampai malam dan dikelilingi banyak orang membuatku letih.


Aku menatap cermin dan mengulap mukaku yang basah. Saat di saat yang bersamaan, terdapat gadis dengan rambut diikat seperti bola terpantul di cermin.


Aku terkejut dan menoleh, tapi dalam sekejab gadis itu langsung melangkah ke arahku dan menahanku dengan kedua tangannya.


"Aku tidak tahan lagi..." Dahlia berbicara dengan lirih.


Wajahnya sudah sangat merah dan mendekat ke arahku.


Hanya butuh sekitar 1 cm kami akan berciuman.


"CODE NAME: DAHLIA K2M4, STATUS: BACK TO DEFAULT" Aku mengatakannya dengan lirih.


Muka Dahlia yang memerah tiba-tiba hilang dan pingsan lalu jatuh ke dadaku.


Untunglah aku tetap tenang dan bisa berpikir jernih. Akan gawat kalau dia ditemukan di toilet pria.


Aku melemparnya keluar jendela dan meninggalkannya.


"Dengan begini sudah beres." Aku menepuk-nepuk tanganku dan berjalan keluard untuk bertemu dengan para guru.

__ADS_1


Tenang saja, Dahlia aman selama kodeku ada padanya. Aku sadar, sekali aku merusak kode Anitya maka tidak bisa dikembalikan seperti semula. Satu-satunya cara menghilangkannya adalah melenyapkannya.


__ADS_2