Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 140.


__ADS_3

Reruntuhan yang tadi gersang kini berubah menjadi bersalju, daerah yang penuh dengan kekacauan sekarang tenang tanpa pertarungan, tanah yang tandus berubah menjadi subur karena banyak mayat berjatuhan. Reruntuhan sekolah ini benar-benar telah berubah 180° hanya dalam kurun waktu enam jam.


Kelompok yang masih bertahan hidup menepi di balik sebuah bangunan rusak yang ajaibnya masih kokoh setelah pertarungan dahsyat itu. Dengan dimodalkan oleh api yang diciptakan oleh Tesi, mereka semua duduk melingkar memandangi dua perempuan yang duduk sambil memeluk kakinya itu.


"Jadi begitu, ya?" Haran mendengarkan penjelasan yang diberitahukan oleh Tasya.


Efek dari perubahan sifatnya hilang dalam sekejab dan kini dia bisa berbicaea sesuai dengan sifatnya yang dulu.


Dia tidak sama terkejut dengan apa yang dijelaskan Tasya saat ini. Mungkin lebih ke arah sudah menyadari kalau ini terjadi.


Namun berbeda dengan Haran, Sophia yang terkena efek yang sama hanya terdiam sambil menahan dinginnya cuaca. Dia seperti kembali shock setelah tahu kalau hal seperti ini telah menimpanya.


"Maaf ya, Tasya..." Haran seketika menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.


"Kenapa?"


"Karena aku gagal mencegah terjadinya hal ini."


"Tenanglah, ini semua bukan salahmu... Ini-"


Saat mau mengatakan itu, wanita pendek itu seketika mengingat kalau dia tidak seharusnya menyebut salah siapa kenapa peristiwa ini terjadi.


Meskipun begitu, Tasya tetap tidak ingin melihat Haran merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Kenyataan bahwa dia saat itu sedang dikendalikan menjadi kunci utama kalau dia tidak seharusnya merasa seperti itu.


"Kau tidak berani mengatakannya?" Mata merah Haran mereflekkan wajah mungil guru pendek itu. "Tidak apa, aku tidak keberatan jika kau tidak berani mengatakannya."


"Bu Haran..." Dengan suara yang lemah, Sophia memanggil guru itu tanpa menoleh ke arahnya. "Kenapa ibu masih bisa tersenyum?"


"Hah?"


Pertanyaan itu sederhana, namun sulit untuk dijawab alasannya.


"Kita telah membuat banyak orang lain sengsara... Tapi kenapa-"


"Tersenyumlah, meskipun itu terpaksa. Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain menerima nasib malang ini."


Haran memotong kalimat gadis itu dengan kalimat yang padat dan tak terbantahkan.


"Hmm(mengangguk dengan pelan sambil membawa perasaan sedih)..."


"Sophia, tenanglah... Aku akan berada di sisimu." Dengan tersenyum, Moka yang duduk di dekatnya merangkak ke arah gadis itu untuk mengelap air mata yang membercak di pipinya.


Mendengar itu, "A-aku juga bersamamu, Sophia!" Hakam memberi semangat padanya, meskipun itu hanya dalam artian mengikuti apa yang orang lain lakukan.


"Tidak, kamilah yang bersamamu, Sophia."

__ADS_1


Tidak seperti pelayannya, cara penyampaian Stevent terdengar lebih bermakna dan membantu terhadap mental gadis itu.


"Ngomong-ngomong, bisa kita ganti pembicaraan kita?" Gita menggarut-garut pipinya sambil memasang senyum bodoh.


Saat diberi anggukan oleh Widodo dan Tasya sebagai jawaban 'ya', wajah Gita seketika berubah menjadi serius.


"Di sini ada banyak mayat, apa yang harus kita lakukan pada mereka semua? Terutama pada Dahlia dan guru-guru itu?"


Bagaikan menembak tepat di jiwa mereka semua, Gita membuat suasana yang baru saja berubah ringan menjadi berat kembali.


"Kita bawa orang-orang yang menurut kita penting saja." Haran tidak mau berlama-lama berada dalam kesengsaraan, dia seketika berdiri dan mengambil alih komando kelompok yang diam bagaikan patung ini. "Bila misalnya kalian mengenali salah satu wajah dari mayat yang bukan dari sekolahan, bawa saja bila butuh."


Dengan perintahnya, seketika kelompok yang sunyi itu berdiri dan bergerak seperti yang dia inginkan. Jiwa pemimpin dari dalam dirinya sudah bagaikan bakat alami yang ia miliki.


"Tunggu sebentar, lalu apa yang akan kita lakukan dengan Pak Rasyid?" Stevent memegangi kerah bajunya dengan kuat untuk memperlihatkan betapa khawatirnya dia dengan guru itu.


"Kita tinggalkan saja, ini bukanlah sesuatu yang harus kita singgung!"


"Tapi-"


"Apa kau mau berakhir seperti mereka semua?!" Haran menunjuk ke arah mayat-mayat yang berceceran kemana-mana itu dengan raut muka yang muak. "Kau pikir kita bisa melawannya?"


"Kami para guru sudah melawannya dengan keroyokan, namun hasilnya adalah ini. Dan juga, pasukan dari SANGKUNI sepertinya juga bernasib sama." Menambahkan argumen kuat Haran, Widodo memperkuat lagi argumen itu dan semakin mustahil untuk terbantahkan.


Stevent hanya bisa menggigit bibirnya sendiri, dia terlalu lemah untuk saat ini. Dia pikir dengan mengalahkan guru itu saat latihan akan memperlihatkan siapa yang lebih kuat, namun kenyataan dunia begitu menyakitkan.


"Jika ada yang mau bertemu dengannya, maka ikut aku...!"


Seketika suara misterius terdengar dari pintu tanpa pintu itu. Sesosok wanita dengan rambut kepang yang menjalar ke depan bahu kanannya berdiri sambil tangannya memegang dadanya dengan penuh keyakinan.


"...Karena aku akan menemuinya!"


"Erika, kau datang-datang langsung mencoba menyarankan sesuatu yang gila!" (Haran)


"Itu lebih baik daripada mundur dengan tangan kosong! Lagipula tidak semua orang digrup yang kau pimpin itu waras, bukan?"


Pernyataan Erika terdengar menyakitkan, namun membuat lega yang mendengarnya.


Sebagai jawaban dari pernyataan itu, Stevent maju mendekat ke arah Erika lalu menghadap ke arah kelompok yang dipimpin Haran. "Sejak awal aku sudah tidak bertujuan, jadi aku akan menganggap kalau diriku gila. Jadi aku akan mengikuti yang Bu Erika lakukan." Dengan tersenyum seperti orang jahat yang bodoh, Stevent memperlihatkan tekadnya untuk menemui gurunya.


*Tak *Tak *Tak


Langkah pelan dari seorang gadis berjalan ke arah Erika. Tubuhnya yang tadi kedinginan padahal pengguna elemen es berjalan seperti orang pincang. Dia memegangi kerah bajunya yang dijadikan selimut sambil bergemetaran.


"Sophia?!" (Moka)

__ADS_1


"Aku harus menemuinya... Rasa sakit yang dia derita sama sepertiku, malah mungkin lebih, seseorang harus menenangkannya, meskipun nyawa taruhannya."


"Kau tidak bisa, kau mungkin akan berakhir seperti Dahlia!" Widodo mengangkat tangannya sedada untuk mencoba menghentikan tindakan nekat itu.


"Kenapa bapak berpikir begitu? Bukannya anda tadi bilang kalau Dahlia tadi..." Saat mengatakan itu, semua orang kecuali Erika berubah jadi curiga. "....Hmm(Tersenyum kecil), lupakan saja." Tanpa ada niatan melanjutkan kalimatnya, Sophia kembali berjalan mendekat ke arah Erika.


"Tch, jika itu maumu, maka ya sudah." Tak bisa berbuat banyak, Haran hanya bisa menggaruk-garukkan rambutnya dengan kesal.


Dia sebenarnya tahu bagaimana perasaan Sophia. Dia bahkan juga tahu masa lalu pria itu meskipun tidak sepenuhnya.


Tapi...


Haran tetaplah orang yang memegang teguh harga diri. Bila dia membiarkan empati memakannya, maka dia akan dengan mudah jatuh dalam perangkap yang mungkin saja disiapkan oleh Nova kepadanya sewaktu-waktu.


Terlebih, masalah saat ini langsung berkaitan dengan dua orang penting Nova, mencoba ikut campur hanya akan membawa petaka. Kejadian di sekolah tadi pagi juga mungkin hanyalah petaka kecil yang disiapkan Nova untuk peringatan agar tidak ikut campur.


"Jika Sophia ikut, maka..." Moka hendak berjalan, namun sepasang tangan menahan lengannya.


"Moka, jangan..." Hakam memengang tangan gadis itu dengan menahan wajahnya yang memerah. Dia melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari alasan yang tepat. "Bila kau ikut, maka kami semua para anak didiknya akan ikut juga, lalu... Bila begitu, siapa yang mengurus mayat-mayat ini. Tidak ada kendaraan di sini, dan kita tidak mungkin membiarkan tempat ini seperti ini. Polisi pasti akan segera datang."


Mendengar penjelasan itu, Moka mengurungkan niatnya dan merasa kecewa dan sedih dengan fakta. Dia ingin meluapkan semua kekesalannya ke arah Hakam, namun itu tidak akan berakhir baik bagi semuanya. Yang dia bisa lakukan hanyalah menahan itu semua sampai ini semua berakhir.


"Kalau begitu, ini sudah ditentukan... kelompok akan dipisah menjadi dua. Erika, Sophia, dan Stevent akan menemui Rasyid, sedangkan sisanya bantu mengurus persiapan kepulangan kita!"


"Siap!" (Semuanya)


Seketika mereka semua bergerak keluar dari pintu dan meninggalkan bangunan rusak itu.


Jalan mereka sudah terpisah, dan kini mereka akan menemui takdir mereka masing-masing. Tidak ada yang tahu kemana takdir akan membawa mereka semua. Berakhir buruk atau tidak itu tergantung tindakan mereka selanjutnya.


......................


"Hah... Hah... Akhirnya sampai juga" Xander berlarian terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuhnya.


Saat melihat tempat kejadian, dia melihat beberapa orang yang mencoba meninggalkan tempat ini sambil mengambil beberapa kantong yang berisi benda seukuran manusia.


"Hey, kalian mau kemana?!" (Xander)


"Persiapan pulang." (Tesi)


"Bagaimana dengan-"


"Sudah selesai, kita hanya harus bersiap-siap, kau lebih baik juga ikut membantu, Xander." (Samuel)


Xander terdiam dan tak berkata-kata. Dia ikut membantu kepergian mereka tanpa bertanya lebih jauh.

__ADS_1


Sialnya diriku, kemarin terkena masalah begini sekarang kena masalah begini. (Xander)


__ADS_2