Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 34. Dunia yang berbeda


__ADS_3

Para penonton di alun-alun menyoraki para pemenang dengan meriah. Wajah bangga dan malu dari para pemenang terlihat di atas sana.


Xander sepertinya adalah yang merasa paling tidak enak karena dia berdiri di tempat yang bukan seharusnya. Yang cocok ada di atas sini seharusnya orang yang telah memenangkan pertarungan, bukan dirinya yang bahkan kalah di semi final. Pria itu terpaksa karena semua orang berada di tempat lain. Samuel dan Erika ada di puskesmas, Tasya menolak karena lebih sungkan dari dia, dan pemenang lomba malah hilang keluyuran.


Dengan begini penilaian guru telah selesai.


"Kau kuat seperti biasa, Syid. Dan juga menjadi lebih manusia saat ini." Haniyah menatap langit membayangkan wajah suaminya dan mengatakan itu dari luar alun-alun sambil melihat layar lebar yang berada di luar alun-alun.


"Lihatlah sayang, kerja kerasmu terbayarkan. Meskipun sayang tidak melihatnya, tapi kebaikanmu sudah sedikit demi sedikit terbayarkan. Sayang..., kau benar-benar orang yang baik sekali... sampai tuhan melihat bunga yang indah dan memetiknya di taman." Haniyah mengelap air matanya dan berbalik badan pergi meninggalkan alun-alun sambil membawa anaknya yang sudah ketiduran.


Di tempat lain.


Di depan puskesmas Samuel bertemu dengan Erika yang murung sedang duduk sendirian.


"Kenapa kau, Erika? Bukannya kau seharusnya senang, saat Rasyid menang?"


"Aku senang saat dia menang..., bahkan aku merasa lega dia tidak menutupi dirinya lagi." Erika tersenyum cerah sambil menutup matanya.


Beberapa detik kemudian, wajahnya menjadi sayu dan sedih. "Sebenarnya aku sedang memikirkan Fredrica." Erika menundukkan kepalanya.


"Oh..., guru itu. Kau sudah berteman cukup lama, tapi karena kejadian itu, hubungan kalian menjadi rusak." Samuel menoleh ke pintu puskesmas. "Apa yang dia katakan?" Matanya tajam.


"Dia mengalihkan wajahnya saat aku menjenguknya. Kami bahkan tidak bicara sama sekali."


'Aku tidak paham pikiran wanita, tapi sepertinya Fredrica membenci siapapun yang berhubungan dengan kakakknya Rasyid. Rasyid semoga kau kuat akan semua cobaan.' Wajah konyol Samuel terlukis dan keringat turun di mukanya karena khawatir.


"Oh ya, ngomong-ngomong pertarungan terkahirmu tadi sangatlah hebat. Tapi sayang sekali, kalian berdua malah tereliminasi." Erika mengganti topik.


"Ehehehe..., itu tidak seberapa dengan yang sudah Xander dan Rasyid lawan. Lawannya adalah pengguna sihir tingkat tinggi yang bahkan belum pernah kalah."


"Tapi tetap saja itu membanggakan."


"Ngomong-ngomong, kenapa Rasyid tiba-tiba menjadi sangatlah kuat? Padahal saat itu dia bahkan kalah saat melawanku." Samuel menundukkan kepalanya dengan mata yang sedih dicampur kesal.


Erika terkejut dengan pertanyaan Samuel sehingga refleks menghindari tatapannya.


"Samuel... tolong maafkan Rasyid jika dia sering tidak serius dalam bertarung." Erika berkata dengan lirih.


"Tenanglah, aku tidak menyalahkanmu, hanya saja kenapa dia tidak serius saat melawanku saat itu?" Raut sedih terlihat di mukanya. "Apakah berarti dia menganggapku perlu dikasihani?!" Suara Samuel meninggi.


"Bukan begitu, dia hanya terikat kebiasaannya dulu."


"Maksudmu saat dia menjadi petarung liar?"


Mantan petarung liar adalah bagaimana saat itu Rasyid menulis deskripsi diri saat menuliskan data di hari pertama sekolah. Awalnya Erika kaget tapi dengan sedikit penjelasan, dia akhirnya mengerti.


"Mungkin saja dia tidak terlalu bersemangat karena tidak ada uang taruhan saat itu. Jadinya instingnya melemah dan seiring berjalannya waktu mengubahnya. Dia saat ini menjadi lebih mengerti perasaan orang lain."


Samuel kebingungan dan menggarut rambutnya.


"Jika itu yang kau katakan, aku akan percaya saja. Karena kau adalah orang yang paling dekat dengannya saat ini." Dia tersenyum lebar dan meninggalkan Erika yang duduk sendirian di sana.


"Mungkin karna terlalu sering memikirkannya, aku juga jadi seorang pembohong." Erika menatap langit dengan senyuman yang lemah.


Di tempat murid-murid.

__ADS_1


"Guru kalian hebat sekali, bahkan guru sihir itu sampai kalah!" Astra terkagum oleh kehebatan guru itu.


"Oh jelaslah, dia adalah yang terhebat di sini." Gita mengangkat bahunya dengan bangga.


"Pak Rasyid memang hebat sejak awal. Bukan hanya itu saja, dia bahkan tidak kelihatan kesulitan saat melawan Pak Lodo dan kakaknya Vicky. Dia memanglah yang terhebat!" Sophia mengikuti Gita untuk membanggakan gurunya dengan menyilangkan tangannya.


"Mungkin ini yang disebut kekuatan kebaikan." Hakam tersenyum dengan tangan di dadanya.


"Baik?! Dia cuman suka ikut campur!" Stevent membalas opini Hakam.


"Dendam kesumat apa yang kau miliki pada guru itu?" Moka menatap Stevent dengan risih.


Meskipun begitu, Moka juga memiliki dendam pada guru itu. Amarahnya saat itu masih ada di dalam dirinya, kali ini dia menahannya saja.


"Tapi tetap saja, mengalahkan Madu Haran adalah hal yang menakjubkan. Pelatihan seperti apa yang dia miliki sehingga mempunyai kekuatan seperti itu?" Astra masih memuji guru itu.


"Kudengar dia mantan petarung liar di kota. Dia bertarung untuk uang, kekayaannya dari hasil bertarung itu saat ini bahkan tidak bisa dihitung jari." Stevent menjelaskan dengan muka kesal.


"Petarung liar? Adakah orang bernama Rasyid Londerik di sana? Aku yang dari dulu sampai sekarang bekerja di dekat tempat mereka bertarung belum pernah menemukan melihat nama ataupun wajahnya." Moka menatap bingung.


"Tunggu! Kau bekerja di sana?!" Sophia kaget.


"Hmmm(mengangguk), aku merasa sungkan jika menyusahkan mereka(keluarga) terus, jadi aku bekerja sebagai pelayan kafe di sana."


"Hebat...!"


"Kau memang ketua kelas yang mandiri!"


Sophia dan Gita memuji Moka.


"Aku akan mencoba mengerahkan bawahanku untuk mencari informasi dirinya." Stevent menjawab dengan optimis.


Astra yang sudah tahu apa yang akan terjadi bila mencari jejak guru itu langsung terkejut dan mencoba menghentikan niat pangeran itu.


"Jangan sebaiknya tidak perlu, aku pernah mencoba menyuruh Dahlia untuk menelusuri tentang orang itu. Tapi hasilnya, Dahlia pingsan saat mencoba mengetik nama guru kalian."


"Hah?!"


Mereka berlima terkejut saat mendengar pengalaman yang pernah Astra lakukan. Namun dari mereka berlima hanya ekspresi dari Gita saja yang seperti dibuat-buat.


Di atas alun-alun terdapat kapal besar yang melayang. Kapal ini adalah kapal pribadi milik Presiden Niki Manalagi.


"Jadi bagaimana?" Aku bertanya di depan 3 orang yang duduk berhadapan dengan tatapan yang saling bermusuhan.


Presiden sepertinya sudah menyerah untuk mengurus mereka. Tangannya sampai dia pakai untuk menahan beban berat di kepalanya.


"Baiklah, aku yang mulai dulu. Selamat atas kemenanganmu, Syid. Dan juga sesuai janjiku." Halim memberikan flashdisk ke Nova dengan menseluncurkannya di atas meja. "Ini blueprint yang kau mau."


"Untuk Nona Nova, anda juga perlu memberikan apa yang Rasyid inginkan, bukan."


Presiden yang duduk di antara mereka menunjukkan dengan sopan sambil menatap Nova.


"Hmm(mengangguk)."


PLAK PLAK

__ADS_1


Nova menepukkan tangannya.


Tak lama kemudian, dua orang berpakaian rapi muncul dan memberiku koper hitam.


Aku membukanya.


Di dalamnya terdapat sebuah dokumen-dokumen tentang kejadian saat itu. Di bagian satunya, terdapat satu buah flashdisk menempel di sana seperti sudah disiapkan sejak awal.


Aku menutupnya kembali dengan perasaan sedikit puas.


"Aku sudah menyangka hal ini akan terjadi, tapi promosi versi terbaru dari pageblug juga merupakan keuntungan bagiku. Bisa kubilang ini adalah harga yang harus kubayar untuk mempromosikannya." Halim menatapku dengan bosan.


Aku tidak membalasnya, yang kulakukan saat berada di antara mereka adalah diam. Aku tidak mau terlibat ke dalam masalah mereka. Mereka hanya menguru perut sendiri. Tapi memang begitulah manusia, meskipun rakyat jelata sekalipun, kalau mereka berada di atas sini pasti juga akan melakukan hal yang sama.


"Jadi, aku bisa mengatakan kalau masalah ini sudah selesai. Aku harap kalian tidak membuat masalah lebih runyam." Mata presiden menajam dan bercahaya di gelapnya ruangan. "Jika kalian mencoba macam-macam, kalian akan merasakan sesuatu yang tidak seharusnya kalian rasakan." Presiden berdiri dengan senyum yang dingin.


Dia mempersilahkan untuk kami bertiga pergi dari kapal.


Aku dan Nova berpisah dengan Halim saat keluar dari kapal.


"PAK PRESIDEN SEBENTAR LAGI AKAN MENINGGALKAN ALUN-ALUN. UNTUK SEMUA YANG ADA DI ALUN-ALUN, BERI HORMAT!" Bahar menginstruksikan kepada seluruh pengunjung tanpa terkecuali untuk memberi hormat pada presiden yang sudah bersiap pergi.


Seluruh pengunjung termasuk aku dan Nova memberi hormat pada orang itu.


Wajah presiden terlihat membalas hormat kami dan pergi meninggalkan kami.


"SELESAI!" Bahar mengakhiri.


Semua orang kembali menjalankan aktivitas mereka seperti biasa.


Menghormati Presiden bukanlah keharusan tetapi merupakan bentuk kesopanan. Jika kita dihadapan presiden saja sudah sembrono apalagi di depan yang lain.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Aku membungkuk pada Nova.


Dia menganggukkan dan membiarkanku berjalan menjauh.


Aku harus segera membaca dokumen-dokumen ini di rumah.


Tapi sebelum itu...


Mataku yang datar bertemu dengan mata anak itu yang bersinar terang.


"Pak Rasyid, anda dari mana saja? Para guru kelas 1 fisik dan Murid-murid yang lain menunggu kedatangan anda untuk berpesta atas kemenangan anda." Sophia tersenyum riang ke arahku.


Sekali-sekali berpesta tidak ada salahnya, kan?


Tak lama setelah itu, seorang berbadan kekar datang mendekati nenek itu dari belakang.


"Ada apa Doni?" Nova menyapa tanpa menoleh ke anaknya.


"Sepertinya projek 'Pangeran' tetap aman." Pria itu menyilangkan tangannya dengan raut muka senang.


"Tenanglah, Gubernur itu sebenarnya tidak mengincar itu. Lagipula, dia tidak tahu apa sebenarnya projek 'Pangeran' itu" Nova mengatakannya dengan berjalan berlawanan dengan anaknya.


Tanpa sepatah kata, Doni menyusul jalan ibunya dari belakang dan pergi meninggalkan alun-alun.

__ADS_1


__ADS_2