Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 153.


__ADS_3

Zzzzssssrttttt!


"Arghhh!"


Kaki Astra merasakan setruman yang kuat.


Kakinya seketika lumpuh dan menyebabkan tubuhnya seketika tumbang karena tidak kuat menopang berat badannya.


Kedua lututnya menghantam aspal, matanya terus bergemetar sambil melotot ke bawah, tepat ke arah tubuh Samuel yang tumbang.


Kedua mata mereka saling bertemu dan memberikan ekspresi yang berlawanan. Astra menggeramkan giginya dan berdecak beberapa kali, sedangkan Samuel hanya memberikan senyuman yang terlihat keren dan bodoh di saat yang bersamaan.


"Sialan kau, Pak Samuel...!"


Emosi Astra kelihatan seperti mulai mereda. Cara memanggilnya kembali sopan sebagaimana harusnya. Namun, ini semua belum sepenuhnya reda.


Dengan Samuel yang telah melakukan hal ini, pemuda itu jelas sebenarnya sangat marah padanya.


"Sudah kubilang, bapak akan menghentikanmu dari melakukan tindakan konyol..." Senyuman bodoh itu masih terpasang di wajahnya.


"Apa maksud anda?! Semua yang aku lakukan -"


"Kumohon, sadarlah! Sudah tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi!"


Teriakan Samuel membuat daratan salju yang kosong itu menjadi bergemuruh.


Dia yang memasang senyuman keren seketika menatapi iba pemuda itu. Murid itu tidak bisa menghadapi kenyataan kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, namun amarahnya terus menggerogoti hatinya.


Astra yang cerewet seketika terdiam dan membatu, air mata mulai turun dan membasahi pipinya, mulutnya yang melongo berubah menjadi menggerigi, tangannya yang melebar seketika mengepal kuat.


Kenyataan ini terlalu sulit untuk anak semuda dia bisa hadapi. Belum lagi mereka masih terpaku pada kehidupan yang abadi dan tak takut akan kematian.


Kejadian ini seakan langsung menghancurkan semua pemikiran itu.


......................


Beberapa suara langkah kaki berjalan mendekati kedua orang itu.


Samuel seketika melihat ke arah kerumunan orang yang berada di belakang Astra yang sedang berlutut tak berdaya.


Mereka semua memasang wajah lega dan puas dengan apa yang sudah Samuel lakukan pada ketua OSIS itu. Mereka pikir kalau Samuel adalah yang sudah menenangkan Astra, namun sebenarnya Astra sendirilah yang segera memaksakan dirinya untuk menerima kenyataan ini.


*Tak... *Tak... *Tak...


Para guru yang diam saja terheran dengan murid-murid yang nekat maju mendekati Astra.

__ADS_1


Mereka awalnya mencoba menghentikan para murid itu, namun karena mereka dianggap seumuran dan mengerti perasaan Astra yang sekarang, maka mereka diam saja dan mencoba untuk melihat apa yang akan terjadi.


"Astra~" Moka mencoba memanggil pemuda itu dengan lembut.


Bahunya disentuh secara pelan oleh Moka, namun dalam sekejab dia membuang tangan itu.


"Kumohon, jangan ceramahi aku lebih jauh lagi..." Ucapnya tanpa melihat ke arah mereka dan terus menghadap ke arah aspal jalan. "Ini memalukan... dan menyakitkan..."


Kalimat pendek itu memiliki banyak arti, namun Hakam yang pernah mendapat ceramah dari gurunya seketika paham maksud dari perkataan itu.


Dia seketika menolek ke arah para orang dewasa dan mulai mengambil nafasnya dalam-dalam.


"Pak, bu... Bisa berikan waktu buat kami sebentar? Ada banyak hal yang mungkin akan membuat sesuatu menjadi sensitif bila ada orang dewasa di sekitarnya."


Para guru seketika mengerti maksud dari omongannya, dan mengangguk setuju secara bersamaan.


Tesi berjalan mendekati Samuel untuk membantunya berdiri, sedangkan Widodo berjalan ke samping jalan untuk mengambil tubuh Bahar yang pingsan mengenaskan di sana.


"Kau besar dan berat, sungguh merepot-kan!" Widodo mengangkat badan pria itu dengan sekuat tenaga, bahkan otot-otot di tangannya seperti kempes saat mengangkat tubuh besar itu.


Apakah aku harus menyeretnya seperti yang Astra lakukan? Sampai-sampai hal seperti ini masuk ke dalam pikirannya.


Di saat langkah Widodo sejajar dengan Tesi, Samuel menoleh ke arah pria bertopi koboi itu.


"Apa yang sebenaenya kalian berdua sembunyikan?"


Mendengar pernyataan itu, baik Widodo dan Tesi tidak memberikan respon dan terus berjalan ke arah yang sudah ditentukan.


Ada beberapa hal yang sebaiknya berbohong untuk melindungi ekspetasi seseorang.


"Kau pasti mengerti, bukan? Ada waktunya dimana berbohong malah diperlukan demi kebaikan." (Widodo)


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" (Samuel)


"Kau akan hancur bukan hanya dari bagaimana kau berekspetasi pada kami, tapi dari Rasyid juga. Yang sebenarnya terjadi malah lebih mengecewakan dari semua itu." (Tesi)


"Jika itu yang terjadi, maka sebaiknya kalian tidak usah mengatakannya. Mendengar pernyataan Astra saja sudah membuatku terjatuh, apalagi setelah mendengar pernyataan kalian berdua."


Membiarkan sesuatu yang rahasia sebagai rahasia terkadang ada baiknya. Tidak ada yang tahu akan menjadi seberapa kecewanya mereka yang percaya pada Rasyid saat mendengar kebenaran itu.


......................


Di sisi lain, Tasya berjalan bersampingan dengan Haran yang dari tadi diam saja. Perasaan canggung seketika melanda wanita pendek itu saat bersamanya.


"A-anu... Ha-Haran..." Ucap Tasya terbata-bata.

__ADS_1


"Ya?" Haran menjawab dengan santai dan menghiraukan kecanggungan dalam perkataan Tasya.


"An-anda dari tadi diam saja, apakah ada yang terjadi pada anda?"


"Anda? Kau terlalu sopan... Santai saja."


"Tidak, anda lebih tua dan lebih tinggi daripada saya, jadi saya tidak mungkin sesantai itu!"


"Kalau begitu panggil saja kakak(tertawa tipis)!"


"Baiklah kalau begitu, Kak Haran!"


Tasya seketika hormat kepada wanita itu dengan memasang wajah bodoh.


Perasaan nostalgia merasuki Haran saat melihat Tasya yang memanggilnya kak. Entah itu datang dari Rasyid atau dari adiknya. Perasaan nostalgia itu terus berkecamuk di hatinya saat ini.


"Jadi, apa yang membuatku diam saja?" Haran memegang dagunya sambil memasang senyuman tipis dan bodoh. "Mungkin karena gerogi ada adik seimut ini di sampingku!"


Tasya seketika malu dengan pernyataan itu, pipinya merona dan tak berani menatap wanita itu.


"Ah- Kakak ini!" Meskipun begitu, Tasya tahu ada yang salah dengan Haran. "Saya sudah sering melihat banyak sifat orang, dan selalu mencoba mengikuti arus mereka, namun saat saya mencoba mengikuti arus anda, arus anda seketika berubah."


"Apakah masih ada hubungannya dengan Rasyid?" Tambah Tasya.


Saat menyebut nama itu, Haran seketika menoleh ke arah Samuel dan lainnya yang berada di depan mereka. Wajahnya berubah kusam dan penuh kecemasan saat mendengar nama pria itu.


"Kurang lebih seperti itu, meskipun kontrol penuhnya sudah hilang saat ini, namun aku masih merasakan kalau sihir 'pemikat'-nya masih bersarang di dalamku. Aku tidak bisa diam saat dia berada dalam masalah."


"Apakah kakak merasakan sakit?"


"Bila harus kukatakan, ini berada di tengah-tengahnya, jika aku melawan maka sakitnya masih akan terasa, namun jika aku membiarkan sihir menggerogoti diriku, maka sakitnya akan hilang, namun pikiran seperti diambil darinya."


"Kira-kira, sihir apa yang Rasyid gunakan sampai bisa melakukan hal seperti ini? Apakah ada hubungannya dengan upgrade Anitya?"


"Ntahlah, tapi kakak yakin, mereka bertiga, Nova, Rizki, dan Doni si anak walikota pasti tahu jawabannya."


Suaranya pelan namun penuh dendam pada mereka. Jika saja Haran tidak sengaja bertemu salah satu dari mereka, mungkin dia akan langsung menyerang tanpa pikir panjang.


......................


Kembali ke tempat di mana Moka, Hakam, Gita, dan Astra tinggal.


Mereka bertiga melingkari ketua OSIS yang tak berdaya itu, wajahnya mereka terlihat sangatlah sayu karena tahu betapa sedihnya Astra saat ini.


Saat ini yang mungkin bisa jadi juru bicara hanyalah Moka, sedangkan dua pria lainnya bukanlah orang seperti itu.

__ADS_1


"Astra... menangislah!" Hakam seketika membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang tak terduga.


Bahkan Moka yang mau membuka mulutnya seketika melongo terkejut dengan perintah Hakam itu. Dia tidak menyangka Hakam akan memberikan perintah yang absurd.


__ADS_2