
Kerusakan di ruangan ini membuat kesan seperti tidak pernah terurus. Alat-alat canggih berserakan dimana-mana. Kaca dan dinding berlubang seperti habis ditabrak sesuatu. Ketiga tubuh temanku terpencar kemana-mana. Api berkobar di mana-mana. Kini hanya ada aku yang menginjak di atas lantai dan Nova muda yang terbang di tempat.
"Sepertinya kau sudah berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, Nova?" Aku bertanya, nada bicaraku datar namun penuh dengan tusukan yang dapat melubangi kegentaran seseorang.
"Apakah kau berpikir begitu?" Nova mendarat di dekatku. "Ini masih belum sepenuhnya berhasil..."
"Aku mengerti apa yang kau maksud Nova..." Aku mengangguk pelan dan mulai mengambil langkah mundur.
Jika apa yang kakakku katakan tentang Pangeran adalah benar, maka dia butuh satu lagi mangsa.
Atau mungkin 2?
Tapi menurutku kekuatan itu tidak terlalu penting bila kau bisa langsung membunuh lawanmu dari jauh.
Yang kumaksud saat ini adalah Nova perlu membunuhku dan mencuri kekuatanku.
Mengambil dua sihir murni dari satu orang itu memanglah hal yang tidak mungkin, namun itu hanyalah dulu.
Saat ini teknologi sudah berkembang, mengambil sihir murni yang terlempar sudah bagaikan menggring mobil masuk ke parkiran.
"Sayang sekali... Tapi aku tidak akan mati secepat itu!" Ucapku dengan mulut lembut dan tajam bersamaan.
Aku mengambil ancang-ancang dan mengaktifkan pageblugku. Perasaanku tidak boleh goyah sedikitpun. Lawanku saat ini bukanlah kakakku atau keroco lagi. Dia ada di tingkat terkuat dari seluruh umat manusia. Sedikit saja aku bengong, maka nyawaku akan terancam.
Sambil menguatkan cekraman senjataku, aku menatap Nova dengan tatapan tajam. Mataku tidak pernah menatap lawanku setajam ini sebelumnya. Instingku bergerak tajam hanya untuk memperingatkan kalau ini adalah pertarungan terakhirku.
"Klasik dari Rasyid... Tak suka banyak omong dan langsung to the point. Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita selesaikan ini dengan segera."
Nova mengaktifkan pageblugnya, dan memutar-mutarkan tongkat sihirnya seperti sedang menari.
Jujur saja, melihat Nova yang sekarang sangat memberi kesan berbeda dariku. Nova yang biasanya lesu dan tak berdaya karena umur sekarang terlihat energik dan penuh gerak.
"Kau bersemangat sekali, Nova. Aku sampai tidak bisa berharap kalau akan bisa mengalahkanmu di situasi ini."
"Aku tahu pujian itu hanya untuk menghinaku, bukan?!" Nova mengangkat tongkat sihirnya ke atas dan membuat ujung tongkat itu bersinar terang. "Kau tahu, memiliki tubuh muda akan membuatku tidak dianggap remeh lagi! Sungguh mengesalkan saat aku harus digendong anakku saat staminaku terkuras habis."
"Aku tidak mengerti apa yang kau coba katakan, namun itu pasti sangat memalukan, bukan?" Aku menebas udara dan membuat barikade sihir es dan tanah yang bersatu.
Aku tahu dinding yang kubuat tidak akan bisa menahan serangan yang akan datang, namun aku ingin sekali menguji kekuatan nenek itu.
Tunggu, apakah aku harus menyebutnya nenek atau bibi? Atau wanita...?
Sudahlah itu tidak perlu!
Aku sudah berada sejauh ini berkat semua yang ada di belakangku. Orang-orang yang memberikan arti hidup sebenarnya. Tidak perlu lagi bertanya mana diriku yang asli, asalkan aku melakukannya, maka itu adalah diriku!
Jauhari, lihatlah aku dari atas sana! Lihatlah aku yang bertarung dengan emosiku!
*Ckrak!
Sesuatu yang tak terduga menyerang tubuhku. Suara 'krak' tadi memberitahukan ada yang tidak beres dengan tulangku.
"Pangeran(Tuhan)... Jadi ini adalah salah satu sihirnya? Mirip sekali dengan sihir KODE, namun tak perlu dilafalkan."
Tangan kananku mengalami patah tulang, dan senjata yang kupegang seketika jatuh karena tak kuasa menahan beban.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau suka dengan kekuatan ini?" Suara dari luar barikade terdengar jelas sedang menghinaku.
"Jadi ini alasanmu kenapa tidak langsung membunuhku seperti yang lainnya? Kau ingin menyiksaku terlebih dahulu!"
Aku memegangi tanganku yang patah. Rasa sakit karena nyeri saraf sangat terasa di sana, namun beruntungnya aku sudah terbiasa menahan rasa sakit ini.
Aneh sekali... Anitya tidak segera meregenerasi lenganku yang patah?
Aku melihati lenganku dengan bingung.
Sampai pada sebuah kesimpulan, aku menyadari satu kemungkinan.
"Apakah ini juga perbuatan dari sihir Pangeran?" Aku bertanya dari dalam barikade.
"Hihihi(Suara cekikikan), ntahlah... Aku tak perlu menjawab bila kau sudah tahu jawabannya."
Jika dia tidak mau membantu, maka semua perkiraanku tadi benar.
Sekali terkena sihirnya, maka bagian tubuhku tidak akan kembali seperti semula lagi. Dan jika terkena terlalu banyak serangan, aku akan langsung terluka parah dan mati.
Kalau begitu...
Aku membuat sebuah tombak dari es dan kulempar keluar menembus barikade dan mengarah ke arah nenek muda itu.
*Ctang!
Suara perlawanan terdengar, menandakan tombakku tadi ditangkis menggunakan tongkat sihirnya.
Tak lama setelah itu, barikade hancur dan membuat diriku yang berlindung di dalamnya kehilangan sumber pertahanan.
Aku mengangkat pedangku ke atas dan mencoba membidik seperti memainkan lempar pisau.
Saat sudah kuanggap presisi, aku melemparkan pedangku ke arahnya dan membuat pedangku terbang di udara.
"Percuma!"
Nova membiarkan perutnya tertusuk oleh pedang yang kulemparkan.
*Thrust!
Pedang itu menancap dan menembus perut nenek muda itu.
Namun, nenek muda itu hanya tertawa geli sambil merentangkan kedua tangannya seperti mengatakan, 'lihatlah!' padaku saat pedang yang kulemparkan tidak memberikannya rasa sakit sama sekali.
Apakah saraf sakitnya sudah hilang?!
Lalu, bagaimana caraku mengalahkannya? Pasti ada satu atau dua cara untuk mengalahkannya. Seseorang pernah mengatakan, selalu ada setiap kelemahan di setiap entitas.
Ayo langsung berlari memutarinya dengan membawa harapan mungkins saja aku bisa menemukan kelemahan itu.
Namun, aku yang memutarinya malah semakin curiga dan gelisah. Nova seperti membiarkan aku memutarinya. Dia tidak sama sekali menutupi sesuatu di baliknya. Dia sangat percaya diri dengan dirinya yang sekarang.
Sejujurnya aku merasa kesal saat lawanku hanya tersenyum menghina sedangkan aku-nya sedang kesulitan seperti ini.
Jadi ini bagaimana rasanya semua orang melawanku. Mereka pasti sangatlah gelisah bahkan mungkin panik saat melawan lawan yang tak mungkin bisa dikalahkan.
__ADS_1
Tak tahan dengan emosi yang bergejolak dalam diriku, aku mencoba melepaskannya dengan melakukan serangan kecil.
Aku membuat tombak dari es yang bersatu dengan percikan listrik dengan seketika. Tombak itu kulemparkan ke arahnya.
*Thrust!
Tombak melesat dan terbang menuju ke arahnya.
Namun, dia menghindar dengan sangat mudah seperti itu bukanlah ancaman baginya.
Di saat yang bersamaan setelah aku melesatkan tombak itu, tiba-tiba...
*Duar!
"Hah?!"
Tangan kiriku yang kupakai untuk melempar tombak meledak dan membuat banyak darah keluar dari sana.
"Ugh!"
Aku hanya bisa berlutut sambil menahan rasa sakit yang berada di kedua tanganku.
Aneh sekali, biasanya di saat seperti ini aku merasakan kenikmatan, namun kali ini aku tidak merasakannya sama sekali. Rasa panik dan takut menyebar ke seluruh sarafku.
*Tak... *Tak... *Tak...
Suara hentakan kaki berjalan secara pelan ke arahku.
"Jadi, bagaimana rasanya saat berada di posisi korban-korbanmu?" Nova yang mengatakannya dengan nada dingin dan menakutkan.
Kedua tangannya ditaruh di belakang punggungnya sambil terus berjalan bolak-balik di depanku.
"Aneh sekali saat kau mengatakan itu, seperti kau ingin membuat dirimu sebagai seorang pahlawan yang membuat sang penjahat merasakan balasan dari tindakannya."
Aku tahu aku takut, panik, dan gemetaran. Namun, ini bukan berarti aku harus diam dan membiarkan semua perasaan itu melahapku utuh-utuh.
"Mungkin itu ide bagus." Nova tersenyum menyeringai sambil menyilangkan kedua tangannya.
Kali ini dia berhenti dan menatapku secara rendah. Dia sudah tidak melihatku sebagai ancaman yang berarti lagi.
Apakah ini akhir dari pertarungan?
Mungkin tidak... Karena...
*Duar!
Tembakan dari artilery raksasa seketika menembak ke dalam gedung dan membuat Nova terlempar ke samping.
Dia terkena serangan bukan karena serangan itu efektif, namun karena itu serangan kejutan. Jika ada serangan yang sama sekali lagi, maka Nova jelas akan dengan mudah menghancurkannya.
Gedung seketika rubuh dan terbakar membuat tempat itu seketika menjadi seperti sebuah neraka kecil.
Aku hanya bisa menghela nafas dengan kecewa, karena bagaimanapun saat ini aku tetap akan mati. Dengan adanya serangan dadakan ini hanya akan membuat kematianku melambat dan penderitaanku diperpanjang.
Jadi mereka datang?
__ADS_1
Aku tahu siapa mereka. Artilery itu hanya bisa dibuat oleh orang itu.