
"Mau berapa banyak makhluk-makhluk manis yang kau coba keluarkan, itu tidak masalah bagiku, Rasyid!" Haran berputar menghadapku. "Tapi... Menganggu orang lain saat berada di tengah pertarungan adalah sesuatu yang tak sopan." Mulutnya melengkung membentuk senyuman menyeringai.
Aku yang melihatnya merasakan kekesalan yang cukup besar dibalik senyuman itu. Tubuhku langsung bergemetar dan mulai mengganti pandanganku ke arah Nova.
Tapi, sepertinya itu juga pilihan buruk...
Nova menatapku dengan rendah di udara. "Untuk seseorang yang sudah tidak abadi, kau cukup berani." Nadanya cukup datar, namun penuh dengan tekanan.
Mendengar situasiku, Haran seketika melirik kecil ke arah Nova lalu dia berganti menatapku terkejut.
Nova melebarkan semua sayapnya dan bersiap memusnahkanku dengan serangan yang sama seperti sebelum kedatangan Haran. Dia mau melakukannya sekali lagi, dan sudah optimis kalau Haran yang ada di sampingnya juga akan memiliki target yang sama.
Haran yang berada di dekatnya membuat sebuah gelombang angin yang sangat kuat dari Hover Shoes-nya. Angin-angin itu menyembur dahsyat di bagian belakang punggung kakinya. Kekuatan anginnya bagaikan helikopter yang terbang rendah.
"Holy Sit!" Ucapku secara panik.
Aku perlahan mengambil langkah mundur lalu berbalik dan lari.
Apa yang kulakukan saat ini sia-sia, namun naluri tubuhku memaksaku untuk melakukannya.
*Jduar!
Nova menembakkan kedelapan sihir elementalnya ke arahku. Sedangkan Nova melaju terbang secara cepat ke arahku.
Sial, sepertinya aku salah perkiraan!
Aku sudah tamat.
*Grab!
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi.
Bukannya mencoba menyerangku, Haran yang melaju ke arahku justru malah menangkapku lalu membawaku terbang bersamanya.
*Dar!
Delapan sihir elemental meleset dan berkahir menghantan tanah.
Aku melirik ke arah Haran dengan bingung.
"Kenapa kau menolongku?"
"Ntahlah, aku hanya minta penjelasan soal yang dikatakan Nova barusan!"
Aku tidak mengerti sama sekali. Apakah efek pemikatnya masih ada? Tidak, ini tidak seperti karena efek sihir itu. Lagipula sepikirku, efek sihir pemikat padanya sudah semakin tipis. Buktinya saja dia bisa menyerangku.
"Untuk sekarang, kita selesaikan urusan kita!"
"Kita?" Aku tidak mengerti.
"Bukankah target utama kita sama?!"
Seketika aku mengeri maksudnya. Kami berdua mengincar Nova, namun dengan mengandalkan kekuatan sendiri saja tidak akan bisa. Maka dari itu, perlu dilakukan kerja sama yang baik untuk mengalahkannya.
"Jadi? Apa rendana kita?" Tanyaku.
"Kau ini jadi bodoh, ya? Setelah kehilangan keabadianmu kau jadi sangat berhati-hati sekali!"
Itu adalah fakta yang cukup sulit untuk ditelan olehku.
"Gunakan dua makhluk elemental yang kau panggil!" Ucapnya membentak sambil menunjuk ke arah naga petir dan phoenix es yang terbang bebas tanpa perintah.
"Eh, benar juga!"
Aku melupakan banyak strategi bagus. Sepertinya kegugupanku bukan hanya berasal karena keparnoanku, melainkan karena rasa malu ketika digendong layaknya putri oleh Haran.
Tunggu, perasaan badanku berat?
Tidak-tidak! Kenapa aku malah memikirkan hal ini sekarang! Saat ini adalah waktunya beraksi.
Aku mengangkat tanganku dan memberi perintah kepada kedua makhluk panggilanku.
Dengan hanya sekali gerak, mereka berdua tahu apa yang kuinginkan.
__ADS_1
Mata mereka seketika mengunci ke arah Nova yang terbang lebih rendah daripada mereka. Bola mata mereka seperti sudah tidak bisa menatap ke arah lain selain makhluk bersayap yang kutargetkan itu.
"GRAWWW!" Naga listrik melesat dengan meninggalkan sengatan listrik yang cukup kuat di bekas jalurnya.
"KAWROHHH!" Phoenix es membuat sebuah bongkahan es raksasa di cekernya dan melemparnya ke arah nenek itu.
Nova yang menjadi target hanya bisa menghela nafasnya. Dia merasakan bahwa apa yang kulakukan ini tidak lebih dari candaan. Tentu saja dia juga berpikir kalau apa yang kulakukan juga merupakan serangan pengalihan.
Serangan yang sebenarnya pasti ada di setelah ini.
Dia menutup tubuhnya dengan sayap-sayapnya dan bertahan dari tabrakan maut naga listrik dan bongkahan es yang jatuh ke arahnya.
*Slash Zrrrr!
*Krak! Brak!
Kedua seranganku tadi tidak memberikan goresan sedikitpun pada nenek muda itu.
Nova langsung membuka sayapnya dan menatap sekitar dengan gelisah. Dia beneran mengira kalau akan ada serangan lanjutan namun hasilnya mengecewakan dirinya.
"Sepertinya makhluk panggilanmu tidak berguna sama sekali?" Haran menatapku dengan hina. Matanya kehilangan sinarnya karena kecewa yang mendalam.
"Hey, jangan mengatakan hal seperti itu! Sakit tahu kalau didengar langsung oleh orangnya!"
"Yah, tapikan memang fakta."
Aku menyerah, ini terlalu memalukan.
*Buk!
Haran menurunkanku di tanah dengan mulus, meskipun harus dengan cara dilempar seperti barang tidak berguna.
"Hey!"
"Tenang saja, lihatlah bagaimana caraku melakukannya! Saat aku melirikmu, langsung tusuk dia dengan apapun yang kau miliki!" Haran mengangkat jempolnya sambil tersenyum optimis ke arahku.
Kali ini suasana hatinya berbeda lagi. Dia seperti orang yang periang.
Tak butuh waktu lama, Haran terbang ke arah Nova yang sebenarnya juga sudah bersiap menusuknya dengan pedang es-nya.
*Slash!
*Ctang!
Namun, Haran memiliki refleks yang cepat. Dia seketika menangkis tebasan itu dengan chakramnya.
Kedua mata tajam dari senjata saling bertemu dan mendorong satu sama lain. Suara 'krik!' karena gesekan senjata terdengar jelas di atas sana. Bagi orang biasa, suara itu membuat telinga merasa geli.
"Yo, Nova! Kita bertemu lagi!"
"Berhentilah optimis seperti kau yang akan menang!"
Percikan listrik muncul dari pedang yang digunakan Nova. Dia mencoba mengandalkan efek konduktor dari chakram Haran.
Saat melihat kondisi itu. Haran melirik ke arahku dan memberiku isyarat untuk menusuknya.
Aku menjentikkan jariku dan memberi perintah pada sang phoenix untuk menembakkan sebuah jarum es ke arah Nova.
Dengan segera, phoenix langsung membuka mulutnya dan menembakkan benda yang kuminta dari dalam mulutnya.
Nova menyadari datangnya serangan, dia segera membatalkan setrumannya pada Haran dan terbang mundur untuk menghindar dari jarum itu.
*Dar!
Jarum menatap tanah karena akibat dari gagalnya menusuk target.
Namun, itu adalah kesempatan emas.
Haran yang melihat celah langsung menebas tubuh Nova dengan cepat.
*Slash!
*Slash!
__ADS_1
*Slash!
Tubuh Nova tidak henti-hentinya ditebas-tebas bagaikan macan yang terus mencabik-cabik mangsanya.
*Slash!
*Slash!
*Slash!
"Matilah kau, Nova!" Haran berteriak keras dan terus menebas-nebaskan chakramnya ke tubuh muda nenek itu.
*Slash! *Slash! *Slash!
Sampai pada akhirnya inti Anitya-nya terlihat, Haran segera melirik ke arahku dan memberiku isyarat untuk sekali lagi.
Aku kini mengandalkan diriku sendiri dengan membuat sebuah tombak es yang kuberikan kekuatan listrik pada ujungnya.
"Ini!"
Aku melempar tombak es yang berkekuatan listrik itu ke arah inti Anitya Nova.
*Jleb!
Nenek itu seketika membeku dan terdiam. Mulutnya yang menganga karena kesakitan telah membatu dan tidak bisa dikembalikan ke posisi semula.
*Gubrak!
Tubuh Nova jatuh ke tanah dengan hantaman yang cukup keras.
"Huh... Huh...(mengatur nafas) Berhasil?"
Haran yang masih di udara menatap Nova dengan penuh kecurigaan. Apakah kekuatan pangeran hanya sampai sini saja tidak ada yang tahu.
Dengan nekat, Haran mencoba mendarat dan berjalan ke mendekati nenek itu.
Dia dengan senjata yang masih ready mencoba memeriksa kondisi nenek itu.
Saat jarak sudah dekat, mata Nova seketika terbuka dan langsung mengibaskan tangannya ke arah kedua lutut Haran.
Haran seketika terjatuh dan memegangi kedua lututnya yang terpotong. "Gyah!!!" Rasa sakit yang biasa dia rasakan terasa kembali. Kali ini rasa sakitnya berkali-kali lipat.
"Seperti dugaanku, penyebab kau kebal dari sihir KODE adalah karena sepatu itu," ucapnya dengan tersenyum puas.
Kali ini Haran tidak lebih dari semut yang bisa diinjak kapan saja.
"Selamat tinggal, Haran... Aku baru saja mengenalmu, namun sepertinya namamu memang layak dikenang!"
Dua mencoba mengakhiri wanita malang itu dengan segera.
Namun...
Dia seperti sedang berusaha melakukannya. Namun tidak bisa, sesuatu menahannya dari melakukan hal itu.
Jika ditanya kenapa, tentu saja hanya ada satu alasan. Yaitu aku!
"Gekh!" Aku seketika tersenyum meringis meratapi puas waktuku.
Ini adalah waktu yang kutunggu-tunggu.
Baik Haran dan Nova menatapku karena tawaanku barusan. Mereka berdua memasang wajah bingung dan bertanya-tanya apa yang telah kulakukan.
"Rasyid, apa yang kau lakukan?" Nova menatap tajam diriku yang tersenyum menyeringai.
Aku melebarkan kedua tanganku dan memperlihatkan kuasaku. "Saat kupikir aku tidak bisa memikatmu, itu ternyata memang benar. Namun, hal itu akan berbeda bila kau terluka parah."
Nova seketika berlutut di hadapan Haran. Dirinya seketika membuat sebuah benda tajam dari tanah dan di arahkan ke lehernya sendiri.
"Aku saat ini yang berkuasa!" Aku mendekat ke arah mereka berdua. "Nova, mulai sekarang... Matilah! Dan berikan kekuatan pangeran padaku!"
Dengan senyuman puas, aku mengakhiri semua pertarungan yang berlangsung cukup lama ini.
Kegelapan di tengah malam seketika semakin gelap. Bulan yang menyinari malam tertutup oleh artilery raksasa dan tak bisa menerangi tempat ini.
__ADS_1
Siapapun yang ada di dekatku, mereka akan dalam masalah!
Aku tidak mau melakukannya, namun bila terpaksa. Maka aku harus memerintah!